Cerita Di Akhir Juli



Setelah sekian purnama, *bahasanya jadul banget*, akhirnya aku mau curhat lagi di blog ini. Aku mencoba stress release melalui tulisan ini. Sejujurnya belum sepenuhnya bisa mengendalikan kondisi mentalku saat ini, hanya saja pikiranku lebih rasional untuk saat ini. Enggak sampai berniat untuk mengakhiri semuanya secara instan. Lebih tepatnya, aku mencoba menerima kondisi dan pasrah, meskipun some point aku enggak menerima dan menyalahkan kondisi ini. But, I must say big thanks for myself yang sudah kuat selama ini.

Awal mula ini semua emang karena kerjaan. Bukan karena banyak kerjaan dan tuntutan dari atasan yang besar, tapi hampir enggak ada kerjaan sama sekali. Itulah yang bikin stress. Banyak yang bilang, "kenapa harus stress? Kan enak ga kerja tapi digaji". Big no! Aku bukan orang yang seperti itu. Pada prinsipnya aku ingin menjadi orang yang berguna, no gabut club! Kalo ditanya kenapa ini bisa terjadi, aku tidak tahu. Tapi semenjak terjadi perubahan kepemimpinan, terjadi perubahan juga dalam aktivitasku di kantor. Awalnya sibuk banget sekarang gabut banget. Tentu rasa ingin resign sangat berkecamuk dalam diri, tapi aku sadar di usiaku yang sudah berkepala 3 rasanya sulit sekali mendapatkan pekerjaan baru. Apalagi aku pun merasa ga punya spesialisasi sedangkan tunturtan dunia kerja baru ini rasanya harus bisa segala hal, rasanya mereka nyari orang yang bisa bikin alam semesta. Hahaha. *semoga recruiter yang baca tulisan ini ga ilfeel*

Alhamdulillah wa syukurillah, Allah bener-bener Maha Baik. Ada aja jalan buat mengurangi stress hamba-Nya yang banyak mau ini. Aku dikasih side-job yang bisa menambah produktivitasku ini. Meskipun rasanya sehari 24 jam ini rasanya kurang banget karena aku tetap harus menjaga life balance antara kerjaan utama, side job, olah raga, dan istirahat. Sejauh ini, tubuh ini masih bisa diajak kompromi meskipun batuk pilek muncul lagi padahal baru sebulan lalu kena radang tenggorokan.

Sekarang tuh lebih ke pasrah aja, ga punya tujuan apa-apa. Sepasrah-pasrahanya aku, tetap aja aku overthinking. Rasa cemas takut dipandang jelek sama orang lain masih ada. Se-simple ada orang yang ngomong my body is nothing changed at al after workout since 2 years ago, udah bikin mood ga karuan. Apalagi kalo yang diomongin orang itu terkait kerjaan dan pendidikan. Makin pengen udahan aja sama dunia ini. Orang selalu menduga kalo aku itu orang yang ceria dan bisa menikmati kehidupan ini. Banyak banget yang bilang, enak banget jadi aku yang selalu ceria. Sesungguhnya aku menutupi itu semua, supaya ga bawa mood jelek buat orang-orang di sekitar. Padahal aku sendiri sulit banget ngontrol diri sendiri. Pakai kaca mata kuda aja kadang masih ada yang terlihat.

Tulisan ini ga akan ada konklusinya ya teman-teman karena emang aku juga ga tau mau menyimpulkan apa. Aku hanya berusaha melepaskan penat aja meskipun sebenarnya saat menceritakan hal ini pikiran agak geremet juga, capek, ingin udahan, dan pengen nangis, tapi aku nguatin diri sendiri dan berpikir kalo aku itu kuat sudah sampai sejauh ini dalam menjalani kehidupan. Oh ya, salah satu prinsip yang aku pegang dan aku jalanin adalah untuk selalu melihat ke bawah. Bukan untuk sombong atau ngerasa diri lebih tinggi tapi menyadari bahwa ada yang ujiannya jauh lebih berat dari aku, dan aku aku harus lebih banyak bersyukur dan berterima kasih sama Allah atas segala apa yang diberikan. Aku juga mencoba berhenti melihat ke atas, supaya aku bersyukur dan tidak terus mengejar hal yang sebenarnya tidak dapat dicapai oleh diriku ini. "Pasti bisa!" buatku itu untuk bertahan, bukan untuk mengejar ke atas.

Komentar