Ketinggalan Pesawat



Astagfirullahaladzim.
Astagfirullahaladzim.

Ucapku sambil duduk di pinggiran bandara dengan tatapan kosong. Entah kenapa denganku hari ini. Aku mulai menyalahkan diri aku sendiri. Kenapa aku tidak check-in online semalam? Kenapa aku harus mau berangkat? Kenapa dia menyuruhku berangkat? Kenapa maskapai tersebut on time tidak seperti biasanya? Kenapa petugas check in tidak mau membantu padahal cuma telat beberapa menit?

Kemarin aku disuruh untuk ikut pergi dinas ke Sumba Timur, dengan jadwal keberangkatan tanggal 7 November dan jadwal pulang tanggal 11 November. Aku sempat menolak karena aku sudah ada agenda pribadi di tanggal 11 dan 12. Kenapa aku menolak? Ya karena dinas ini hanya kunjungan saja, bukan sesuatu pekerjaan wajib. Hanya menambah personil saja untuk meningkatkan pengeluaran. Namun, setelah dinego, akhirnya aku mau, tapi pulang tanggal 9. Aku berangkat dengan penerbangan 8.20 tidak bersama rombongan yang lain karena flight mereka sudah full booked.

Malamnya, tentu aku prepare barang-barang yang akan aku bawa. Awalnya aku berencana bawa koper, tapi setelah dipikir-pikir lebih baik bawa ransel aja biar bisa sat-set. Meluangkan waktu 1,5 jam aku rasa sangat cukup karena jarak dari tempat tinggalku ke bandara melewati tol itu menempuh waktu kurang lebih 30 menit. Aku yakin semuanya akan lancar sehingga aku memutuskan untuk check-in online karena yakin masih sempat.

Sayangnya, pada hari itu terjadi kejadian tidak terduga. Mungkin ini pertanda juga karena dari pertama kali aku ditugaskan hingga malam harinya, hatiku benar-benar tidak tenang. Ada rasa tidak ingin berangkat tapi karena tiket sudah dipesan, terpaksa aku pergi menuju bandara. 

Kejadian tidak terduga yang pertama adalah saat aku memesan gocar dari rumah tiba-tiba tidak ada sinyal. Padahal masih terkoneksi di wifi rumah. Kedua, saat itu lift yang beroperasi hanya 2, 1 lift penumpang dan 1 lift barang. Otomatis sangat lama menunggunya. Wifi pun terputus dan mobile data hilang sinyal. Terpaksa aku harus menunggu hingga sampai di lobby. Ketiga, sesampainya di lobby, sinyal sempat hilang beberapa saat, setelahnya aku bisa memesan gocar. Namun, proses pemesanan sangat lama, sekalinya dapat, jauh sekali posisinya. Aku masih optimis karena maskapai yang aku gunakan adalah maskapai yang terkenal ngaret.

Perjalanan beberapa kali tersendat. Saat memasuki tol Kemayoran dan di jalan tol pelabuhan sekitaran Kapuk. Sekitaran Kapuk terjadi kecelakaan sehingga macet cukup lama. Aku tidak ngecek sama sekali kondisi jalan, yang aku pikirkan, apakah benar aku harus berangkat? Aku tidak ngecek jam sama sekali, hampir sepanjang perjalanan aku bengong. Kepikira  online checking aja enggak.

Sesampainya di terminal 2 aku langsung menuju vending machine untuk check in. Tapi tidak bisa karena melebihi waktu 30 menit sebelum boarding. Aku masuk ke counter check in. Counter check in mengantre panjang karena jadi satu dengan penerbangan lain. Sesampainya di depan petugas, petugas bilang aku telat dan disuruh pindah counter. Petugas counter lainnya bilang kalau aku tidak bisa masuk karena belum online check in. Padahal waktu itu masih jam 8 pagi. Aku sedikit berdebat tapi tetap tidak bisa. Aku malah disuruh ikut penerbangan selanjutnya di jam 17. Tentu saja tidak bisa karena aku harus transit dan naik penerbangan kedua di jam 14.

Satu sisi aku lemas, satu sisi aku senang. Mungkin emang ini pertanda aku tidak boleh berangkat. Tapi konsekuensi tidak berangkat adalah mengganti biaya transportasi dan akomodasi yang telah dipesan. Untungnya teman kantorku sangat baik, mereka membantuku maksimal mungkin. Jadi aku tetap berangkat di hari berikutnya agar biaya yang harus aku ganti tidak besar sekali.

Akhirnya aku pulang ke rumah dengan banyak bengong. Aku pun membeli tiket pesawat di hari berikutnya dengan biaya sendiri biar tidak ribet. Aku pun memutuskan untuk mempersiapkan diri lebih baik untuk penerbangan besok. Agar bisa mengantisipasi kejadian tidak terduga saat akan terbang.

Komentar