Sabar

Hari kedua Ramadhan, bertepatan dengan hari pertama masuk kantor di bulan puasa ini. Menjalani puasa dengan menahan lapar dan haus itu adalah hal yang biasa aja buatku. Bahkan di dari pertama puasa pun, tidak ada rasa lapar, haus, dan lelah sekalipun. Saat ini, ujianku mungkin lebih banyak sabar sepertinya. Sabar dari emosi kelakuan orang-orang yang sangat mengganngu aku sebagai orang idealis, sabar dari kondisi kerjaan yang sungguh flat tidak ada semangat karena hampir tidak ada pekerjaan rutin yang bisa aku kerjakan, dan sabar menahan sedih atas kekecewaan yang bertubi-tubi atas kegagalan. Namun memang, rasa sabar ini aku hadapi dengan biasa saja karena memang hal-hal tersebut sudah terjadi cukup lama, dari 2 tahun yang lalu.

Kekurangan aku saat ini mungkin adalah kurang maksimal dalam beribadah. Belum khusyuk, masih memikirkan hal lain. Hal ini seringkali terganggu oleh overthinking yang memang jadi masalah dalam kehidupanku ini. Kadang overthinking ini positif juga, seperti memikirkan langkah-langkah di masa yang akan datang agar tidak terjadi kegagalan tapi tak jarang pula memikirkan hal-hal negatif seperti ketakutan akan hal-hal yang telah dilalui atau akan dihadapi. Bahkan seremeh mau masak apa nanti aja bisa tiba-tiba kepikiran, padahal aku tidak ingin memikirkannya.

Rasanya ingin me-reset otak ini, biar lebih bersih, biar tidak banyak pikiran, bisa lebih berguna, bisa banyak menyerap ilmu, dan tidak memikirkan hal-hal negatif lagi. Semoga aku bisa melakukannya. Semoga ada juga orang yang bisa memberi saran bagaimana hal ini bisa teratasi. Menyibukkan diri dengan memasak, berolahraga, bahkan sampai mendapatkan pekerjaan lain, mulai tidak mempan atas overthinking ini.

bahkan overthinking ini dirasa mulai sangat bertubi-tubi saat ada seseorang yang terlalu mencampuri kehidupan pribadi. Seperti memberikan saran-saran yang akupun sendiri tidak membutuhkannya. Memaksakan sarannya tersebut sebagai sesuatu yang terbaik untuk hidupku tapi tu malah membuat pikiranku semakin ruwet karena saran terebut sangat memengaruhi masa depanku. Sampai aku mengakhiri saran-saran tersebut dengan agak keras agar tak ada lagi yang terlalu mencampuri kehidupanku.

Setia masalah itu tidak harus diselesaikan, tapi setiap masalah itu harus dilalui. Dilalui itu bisaberlalu dengan sendirinya atau memang perlu dipecahkan. Tapi percayalah kita pasti akan melalui itu semua meskipun dengan waktu yang tak tentu. Aku sendiri menyadari sudah berapa sabar yang harus aku kuatkan dalam menghadapi semua ini hingga ada momen ingin menyerah. Tapi ya sudah dilalui saja karena cara menyerahnya mun tidak tahu harus bagaimana dan seperti apa. Ingin sekali tidak memikirkannya tapi seringkali terpikirkan.

Aku berharap dengan menulis ini bisa sedikit melegakan pikiranku, sama seperti cara yang aku lakukan sejak SMA dulu. Hanya saja yang berbeda karena yang dihadapi ini adalah masalah kehidupan dewasa jadi terkadang ketika menulis pun ada saja terpikirkan dan cukup membuat hati serta perasaan ini semakin sakit.

Oke, mungkin ini sudah terlalu panjang. Aku akhiri aja dulu sampai di sini. Terima kasih semuanya.

Komentar