Ketidakberesan Sang Pemilik Kontrakan


Note: Tulisan ini berisi curahan hati sang penyewa rumah kontrakan. Mohon dimaklumi apabila tulisan ini mungkin menyudutkan pihak tertentu atau terkesan membela diri sendiri.

Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul Curhatan Rumah Sewa dan Hasrat Ingin Membeli Rumah, berisi salah satu alasan mengapa saya ingin pindah atau keluar dari kotrakan. Selain itu, ada alasan lain yang menambah hasrat tersebut, yaitu sang pemilik kontrakan.

Sang pemilik kontrakan sendiri adalah seorang single mother berusia sekitar 40 tahun. Dia tinggal di lantai satu rumahnya sedangkan lantai duanya saya sewa. Kami memanggilnya dengan sebutan Bunda. Bunda sendiri tinggal bersama ibunya yang sudah sepuh dan dua orang anaknya. Anak pertama seorang perempuan yang sudah bekerja di salah satu bank yang tidak jauh dari rumahnya dan anak keduanya seorang laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Saya tidak terlalu paham bagaimana keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi dari sedikit cerita yang disampaikan Bunda, bahwa keuangan keluarga bersumber dari uang kontrakan, penghasilan anak pertama, dan Bunda sendiri membantu dengan berjualan makanan ringan di depan rumahnya.

Di awal Maret, terjadi kejadian yang tidak terduga. Sepeda motor milik Bunda hilang dicuri. Kejadiannya dini hari saat semua orang sedang tidur. For your information, karena rumah Bunda itu halaman depannya sempit dan ada gerobak untuk dia berjualan cemilan, maka sepeda motornya diparkir di depan rumahnya, tepatnya di gang buntu untuk ke rumah sekitar. Sebenarnya tidak hanya sepeda motor beliau saja yang diparkir di gang tersebut, sepeda motor tetangga lain, termasuk sepeda motor saya yang persis berada di belakang sepeda motornya. Sepeda motor saya dan Bunda berjenis sama hanya berbeda warna. Apesnya, sepeda motor Bunda yang berhasl dibawa kabur maling. Berdasarkan cerita tetangga, seharusnya sepeda motor saya yang dicuri, namun karena alarmnya berbunyi, si maling beralih ke motor di depannya. Alhamdullillah masih rezeki saya. Tapi beberapa tetangga secara tersirat seakan kecewa kenapa bukan motor saya yang hilang. Setelah kejadian tersebut, tetangga sekitar sepakat untuk membuat pagar di depan gang tersebut. Setiap rumah termasuk saya patungan uang sebesar 150 ribu rupiah.

Setelah kejadian tersebut, munculah COVID-19 yang mana perekonomian berubah drastis, termasuk perekonomian keluarga Bunda. Bunda sudah tidak berjualan lagi seperti biasanya, mungkin dengan alasan lockdown sehingga tidak beraktivitas di luar rumah. Namun pada saat Ramadhan, seharusnya Bunda memanfaatkannya untuk berjualan karena di lingkungan kami, warga sekitar banyak yang memanfaatkan Ramadhan untuk berjualan menambah pundi-pundi agar dapur tetap membara. Maaf, saya merasa si Bunda ini tidak mau berusaha dan mencari penghasilan yang instan. Pasalnya, beliau meminta pekerjaan pada saya, apapun pekerjaannya. Secara berkala dia menghubungi saya, memohon-mohon untuk mendapat pekerjaan. Mohon maaf, bukannya saya tidak mau membantu, saya sendiri bukan pejabat hanya staf biasa, informasi lowongan pekerjaan yang masuk ke saya biasanya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, dan umumnya membutuhkan orang yang masih berusia muda. Ditambah lagi masa pendemi ini membuat kosongya informasi lowongan pekerjaan. Sejujurnya saya cukup terganggu dengan permintaan beliau.

Oh ya, sebelum memasuki bulan puasa, beliau juga pernah meminjam uang pada saya untuk membayar biaya kuliah anak pertamanya. Alasannya karena pada saat itu sudah masa lockdown sehingga kantor Pegadaian tutup sehingga beliau tidak dapat menggadaikan gelang emasnya. Karena kasihan, saya pun meminjamkan uang. Awalnya dia berjanji mengembalikan uang saat Pegadaian buka. Dua minggu kemudian dia berjanji mengembalikan uang saat uang asuransi motor yang hilang turun. Sebulan kemudian dia meyakinkan saya untuk melanjutkan mengontrak rumah agar hutangnya dipotong untuk biaya sewa tahun berikutnya. Bahkan dia meminta saya jika mempunyai uang berlebih, uang kontraknya bisa dibayarkan saat ini supaya jadi pengurang biaya sewa tahun berikutnya. Hal tersebut bersamaan ketika dia bilang bahwa uang listrik naik. Tentu saja saya tolak permintaannya tersebut.

Saya pun berkonsultasi kepada kedua orang tua saya dan beberapa senior berpengalaman. Seluruhnya sepakat bahwa ibu kontrakan tersebut mulai tidak beres. Ketidakberesan itu terlihat dari beberapa hal. Pertama, dia sudah tidak berjualan lagi padahal dia mengaku keuangan keluarganya mengalami kesulitan. Kedua, setelah dia berhasil meminta kenaikan uang listrik yang tidak masuk akal dengan alasan WFH, setelah WFH berakhir seharusnya dia mengembalikan tarif listrik ke perjanjian awal. Namun, dia hanya menurunkan 100 ribu. Artinya saya harus membayar listrik 300 ribu setiap bulannya. Ketiga, dia tetap tidak membayar kewajiban hutangnya saat ini.

Ketidakadilan pembagian pembayaran listrik membuat saya naik darah. Seperti tulisan saya sebelumya, barang-barang elektronik yang saya gunakan tidak terlalu banyak mengkonsumsi listrik. Berbeda dengan barang elektroniknya Bunda yang cukup bayak termasuk ada AC di dalamnya. Jika dia menghitung dari konsusi listrik jetpump pun seharusnya dia menghitungnya secara adil. Kontrakan yang saya sewa hanya berisi dua orang, artinya hanya dipakai mandi saja sedangkan rumah beliau diisi oleh empat orang yang dipakai mandi dan mencuci. 

Sejak awal saya memang merasa biaya listrik yang saya bayar tiap bulannya cukup meng-cover biaya listrik rumahnya. Apalagi saat tarif listrik mengalami kenaikan. Saya pun meminta beliau untuk menunjukkan bukti pembayaran listriknya. Namun, sayangnya dia tidak dapat menunjukkannya. Pada akhirnya, dia kembali menurunkan tarif listrik sesuai dengan perjanjian awal. Mengapa saya dapat berasumsi bahwa tarif listrik yang saya bayar tiap bulannya meng-cover listriknya? Hal ini dikarenakan dia sudah tidak berjualan lagi. Dapat diasumsikan penghasilan dari jualannya terihat tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan uang listrik yang dia dapatkan tentunya tidak berjualanpun tidak masalah. Selain itu, tidak dapat menunjukkan bukti pembayaran listrik, itu mengindikasi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Kemungkinan besar setiap bulannya memang saya yang meng-cover listrik seluruhnya. Setelah dia menyatakan kekalahannya, saya tetap meminta bukti pembayaran listrik. Karena  bukan suatu kemenangan yang ingin saya dapatkan melainkan saya hanya menginginkan keadilan. 

Pada saat yang sama, saya pun meng-ultimatum beliau. Saya tidak akan melanjutkan sewa rumah, menghentikan berlangganan internet, dan menagih hutang untuk cepat dibayarkan. Semua itu saya lakukan agar cepat terbebas dari sang pemilik kos yang tidak beres.

Komentar