Cerita Diklat: Planning and Budgeting



Sungguh aku bahagia ketika diumumkan menjadi peserta pendidikan dan pelatihan planning and budgeting yang diadakan oleh Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana Bappenas. Sebenarnya aku sudah melakukan pendaftaran di Maret 2021, namun baru diumumkan November 2021. Hal yang menambah kebahagiaanku adalah pengampu dari pelatihan ini adalah Magister Perencanaan Wilayah dan Kota UGM yang tentunya adalah dosen-dosenku waktu S1 dulu.

Diklat tersebut dilaksanakan selama dua minggu atau lebih tepatnya selama 10 hari kerja, dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Tentunya ini jadwal yang cukup padat, ditambah lagi diklat dilakukan secara online sehingga mengharuskan aku untuk work from home (WFH) agar tidak diganggu oleh pekerjaan kantor dan bisa fokus dengan kegiatan diklat.

Diklat yang aku ambil adalah planning and budgeting, tujuannya agar aku semakin memahami proses perencanaan dan penganggaran ketika menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam unit kerja. Peserta yang ikut dalam diklat ini hampir seluruhnya dari kementerian/lembaga di pusat. Kebetulan untuk batch-ku ini merupakan batch ke dua yang pesertanya dari pemerintah pusat semua sedangkan untuk batch pertama, pesertanya dari pemerintah daerah.

Di awal materi, kami diajari bagaimana menganalisis rencana nasional. Dalam hal ini adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang kemudian dijabarkan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Setelah memahami rencana nasional, kemudian diturunkan ke Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. Rencana inilah yang menjadi dasar penentuan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing kementerian/lembaga.

Setiap harinya kita dijejali dengan materi dan tugas yang cukup banyak. Tapi untungnya pengampu materi telah menyusun agenda dengan baik sehingga tidak melebihi jam diklat yang telah ditentukan. Secara keseluruhan diklat ini sungguh memberikan wawasan baru terutama dalam hal perencanaan kegiatan. Karena hingga saat ini, dalam perencanaan kegiatan tidak pernah memikirkan output dan outcome yang disesuaikan dengan rencana-rencana di atasnya. Setelah ini, mungkin dalam penentuan kegiatan di unit kerja akan menggunakan kerangka kerja logis agar lebih terarah output dan outcome-nya.

Komentar