Polusi Udara dan Transportasi



Polusi udara yang terjadi di Jabodetabek mulai menjadi isu nasional dan menjadi bahan pembicaraan se-antero dunia. Sebenarnya polusi udara tersebut sudah terjadi cukup lama, hanya baru disadari semenjak berakhirnya pandemi dan kembali pada kondisi normal. Saat lockdown, langit Jakarta pernah sejernih kaca, bahkan Gunung Salak bisa terlihat dari Jakarta Utara. Namun, setelah kembalinya aktivitas masyarakat, tak disadari ternyata langit ibu kota menjadi lebih gelap. Serasa mendung akan hujan, tapi ternyata saat ini musim kemarau.

Kendaraan bermotor memang paling mudah untuk disalahakan sebagai penyebab pulusi udara, mengingat populasi kendaraan bermotor jauh lebih banyak dari jumlah penduduk ibu kota. Belum lagi ditambah dengan para penglaju dari daerah sekaligus dan para perantau yang membawa kendaraan pribadi dari daerah masing-masing. Sudah seringkali juga kita mendengar masyarakat yang disalahkan atas gaya hidup ini, tapi apakah sepenuhnya salah masyarakat? Aku rasa masyarakat cuma dijadikan kambing hitam atas permasalahan yang terjadi. Simple-nya adalah ketika ekonomi lemah, masyarakat diberi kesempatan untuk belanja kendaraan, ketika macet dan polusi udara masyarakat disalahkan atas gaya hidupnya menggunakan kendaraan pribadi.

Jakarta memang menjadi kota terbaik dalam pilihan bertransportasi publik. Moda transportasi dari yang tradisional hingga yang modern ada di Jakarta. Namun, banyaknya pilihan bukan berarti menjadikannya sebagai kota dengan sistem transportasi terbaik. Salah satu hal terpenting dalam sistem transportasi publik adalah jangkauan. Mungkin enggak sampai 50% area Jakarta terjangkau dengan transportasi publik. Selain itu ada aspek kenyamanan dan keamanan. Ya tentu sajalah orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan naik transportasi publik.

Mengambil contoh dari pengalaman pribadi. Dulu aku tinggal di Salemba, Jakarta Pusat yang dekat dengan Halte TransJakarta Salemba UI. Saat itu, aku bekerja di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dekat dengan Halte TransJakarta Masjid Agung. Tentu dengan keterjangkauan tersebut, aku memilih setiap hari naik TransJakarta walau harus berdempetan dan waktu tempuh yang lama. Tidak terpikirkan sama sekali untuk memiliki kendaraan pribadi apalagi akupun seorang perantauan. Namun, ketika aku memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke Pademangan Timur, Jakarta Utara dan bekerja di Pasar Baru, Jakarta Pusat, hal tersebut mau tidak mau aku harus memiliki kendaraan pribadi untuk mobilitas. Jika mengandalkan transportasi publik, tidak ada halte atau stasiun terdekat, jika menggunakan transportasi online sangat membuang-buang uang. Lebih baik spending untuk beli motor dibandingkan buang-buang duit buat biaya transportasi. Intinya, pilihan ini tidak dapat disalahkan kepada masyarakat sebagai bagian dari gaya hidup, malah seharusnya pemerintah bisa menyediakan fasilitas untuk mempermudah aktivitas dan mobilitas masyarakat. Toh, aktivitas masyarakat pun akan memberikan dampak positif pada pendapatan pemerintah ye kan?

Aku yakin juga sih, penyebab polusi udara di Jakarta ini memang karena kendaraan bermotor. Mengingat pabrik-pabrik besar sudah dipindah ke Bekasi dan Karawang serta Jakarta hanya memiliki 1 PLTU saja. Namun, memang bisa saja polutan dari industri dan PLTU bisa terbawa dan berkumpul meghiasi langit ibu kota. Menurutku, hal yang bisa dibenahi dulu adalah transportasi publik. Sudahlah lupakan moda transportasi yang canggih-canggih kaya MRT dan LRT, itu membutuhkan investasi dan pembangunan yang cukup lama. Perbaiki dulu aja TransJakarta, perluas jaringan, pastikan memiliki jalur tersendiri, dan tentunya sedikit demi sedikit konversi ke bus listrik. Enggak perlu lah menghias halte jadi seperti mall, masyarakat enggak terlalu butuh itu kok. Masyarakat cuma butuh pulang cepat dengan kepastian mendapat bus dan bisa turun sedekat mungkin dengan rumah. Kalo halte, jaringan,  bisnya banyak, semua itu dapat memecah kepadatan di halte yang sekarang mewah banget kok.

Komentar