Migrasi ke Perbankan Syariah, Perlahan tapi Pasti

Sesungguhnya setiap manusia ingin memperbaiki diri walau hanya sedikit.


Sebagai seorang yang tidak seratus persen idealis, rasa untuk berjalan di jalan yang ideal tentu selalu ada walau tidak harus sempurna. Salah satu yang aku pikirkan pada akhir tahun 2022 yang lalu adalah terkait masalah finansial. Segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan, ingin aku pindahkan ke syariah. Memang banyak yang bilang sistem keuangan syariah itu sama saja seperti sistem keuangan konvensional. Namun setidaknya, upaya aku menjauhi riba bisa jadi amalan baik buat aku sendiri. Jika dosa riba keuangan konvensional adalah satu, mungkin dosa riba keuangan syariah adalah setengah. Wallahualam, semoga Allah mengampuni segala dosaku.


Saat ini pula, aku mempunyai KPR di salah satu bank konvensional selama 20 tahun. Saat ini memasuki tahun ketiga cicilan dengan bunga flat. Hingga kurang lebih dua setengah tahun ini, aku merasa tidak keberatan dengan cicilan. Namun, aku agak was-was ketika memasuki tahun keempat karena akan memasuki bunga floating yang besarannya tidak menentu. Pahit-pahitnya adalah jika bunganya mencapai maksimal, yaitu sekitar 10-12%. Tentunya itu sangat mencekik penghasilanku. Hal yang sangat membuat sedih adalah uang yang selama ini aku bayarkan kurang lebih sekitar 20% dari hutang, ternyata hanya berkurang 3% dari hutang. Artinya selama ini aku hanya membayar bunga.


Aku melakukan riset kecil-kecilan, baik dari internet maupun bertanya ke teman. Ternyata memang benar, skema kredit di bank konvensional, di awal cicilan memang porsi bunga lebih besar dibandingkan dengan pokok sedangkan di akhir porsi bunga akan lebih kecil dibanding dengan pokok. Namun, dengan bunga floating, tentunya pengeluaran untuk cicilan akan tidak terkontrol. Aku pun mencari tahu skema pembiayaan di perbankan syariah. Cicilan di perbankan syariah itu flat selama tenor. Namun banyak yang bilang, jumlah yang dibayarkan hingga lunas besarannya sama saja seperti perbankan konvensional bahkan bisa lebih besar. Tapi sekali lagi, besaran cicilannya tetap, sehingga kita tahu besaran yang harus kita keluarkan tiap bulannya.


Setelah berpikir panjang, berdiskusi bersama orang tua, dan teman yang paham terkait hal tersebut. Akhirnya aku yakin untuk memindahkan semua urusan keuangan ke perbankan syariah. Langkah pertama yang aku lakukan adalah memindahkan rekening payroll ke bank syariah. Kebetulan kantorku bekerjasama dengan salah satu bank syariah. Setelah melakukan pembukaan rekening, aku langsung mengurus proses mutasi rekening payroll. Memang tidak langsung, pengajuanku di Januari, baru Maret gajiku masuk rekening syariah.


Langkah kedua, aku mengajukan pinjaman ke bank syariah yang bekerjasama dengan kantorku. Keuntungannya adalah kredit yang aku ajukan tanpa agunan, namun konsekuensinya aku terjebak di kantor dalam waktu yang cukup panjang. Proses pinjaman ini tidak terlalu lama dan aku pun tidak buru-buru juga. Langkah ketiga adalah melakukan pelunasan di bank konvensional. Langkah terakhir adalah menutup semua rekening bank konvensional yang sudah tidak dipergunakan lagi.


Untuk kepentingkan keuangan, tentunya aku tidak menutup diri pada bank konvensional. Aku hanya mempersempit perbankan dalam pengelolaan keuanganku. Rencananya aku hanya menggunakan satu rekening bank syariah dan satu rekening bank digital. Untuk lembaga keuangan non-bank, aku menggunakan beberapa layanan dompet digital untuk belanja.


Semoga rencanaku ini bisa berjalan mulus dan niat baikku ini bisa menjadi catatan kebaikan. Aamiin ya robbalalaamiin.


Oh ya, sebagai tambahan, aku juga mau cerita tentang proses kredit di bank syariah dan pelunasan di bank konvensional. Semoga pengalaman ini bisa menjadi masukan buat teman-teman ya.


Kredit di Bank Syariah


Setelah memindahkan rekening payroll ke bank syariah, aku coba cari informasi terkait kredit tanpa agunan yang biasanya ditawarkan ke para pegawai. Akhirnya aku bertemu dengan marketing kredit. Syarat yang ditawarkan cukup mudah dan bisa diurus kurang lebih selama satu minggu.


Sebut saja sisa  pokok hutangku itu 80. Karena khawatir ada biaya-biaya lain dalam proses pelunasan di bank konvensional, aku pinjam 100 di bank syariah. Ini juga merupakan pengalaman pertama take over kredit, maka ketika pinjamannya dibagi dua, aku setuju-setuju saja. Jadi, akadnya nanti dua kali, akad take over kredit sebesar 80 dan akad top up sebesar 20.


Waktu itu, aku dipaksa akad cepat. Jam 6 sore, aku datang ke cabang untuk melakukan akad kredit. Saat akad aku juga dikasih pilihan, untuk pembayaran asuransinya. Aku memilih asuransinya dipotong dari pinjaman.


Selang beberapa hari, pinjamanku cair, 80 dan 20 masuk ke rekening secara berurutan. Tapi mengapa saldo efektifku hanya 78. Setelah melihat rincian rekening ternyata sebesar 22 masuk pada saldo terblokir. Seingatku pada saat akad, yang diblokir itu hanya 1 atau 2 kali cicilan. Setelah dikonfirmasi ternyata pinjaman top-up diblokir. Baru akan dibuka setelah pinjaman di bank konvensional dinyatakan lunas.


Sejujurnya aku agak kecewa dengan aturan ini. Hanya saja aku tidak marah, ya mungkin terlewat saat akad. Tapi ya, akadnya juga dipaksa sore itu juga, lagi ngantuk-ngantuknya. Minta minggu depannya, pihak bank ga mau. Masalahnya, kalo total biaya yang harus dibayar pada bank konvensional itu kurang bagaimana? Ya, akupun masih punya sisa tabungan untuk biaya administrasi bank konvensional. Tapi kan aku minjem uang lebih itu buat antisipasi, kalo ujung-ujungnya pake duit sendiri, ngapain aku top-up?


Pelunasan di Bank Konvensional


Setelah pinjaman di bank syariah cair, aku langsung mengajukan permohonan pelunasan ke bank konvensional.


Pertama, aku menghubungi marketing yang dulu membantu proses KPR. Aku disuruh mengirimkan email surat permohonan ke pusat.


Oh ya, selain surat permohonan pelunasan, aku juga mengirimkan surat permohonan keringanan biaya administrasi dalam pelunasan (PSJT dan lainnya jika ada). Menurut temanku, kita bisa mengajukan keringanan selama catatan kredit kita aman dan selalu bayar tepat waktu.


Sorenya, dari pusat mengirimkan email balasan yang menyuruhku untuk mengirimkan surat permohonan itu ke kantor cabang karena pinjamanku diurus di kantor cabang. Akupun langsung mengirimkan email ke kantor cabang.


Besoknya, emailku dibalas. Isinya menyuruhku untuk mengirimkan surat asli ke kantor cabang. Aku pun mengirimkan berkas tersebut via ojek online.


Sekitar dua atau tiga hari kemudian, pihak kantor cabang menghubungiku. Aku diberikan informasi bahwa pengajuanku sedang diproses. Aku disarankan menunggu hingga dihubungi kembali.


Selang 3 minggu tidak ada konfirmasi sama sekali. Aku semakin tidak sabar setelah membaca keresahan yang sama di internet. Mayoritas menyarankan untuk mendatangi langsung kantor perbankan tersebut karena jika tidak serasa dipersulit. Waktu terus berjalan, cicilan pun terus berjalan.


Akhirnya aku memutuskan untuk memindahkan uang 80 ke bank konvensional terlebih dahulu. Setelah itu, aku berangkat menuju bank. Setelah sampai di bank pun, rasa sedikit emosi cukup berkecamuk dalam diri. Sampai lobby, aku disuruh naik ke lantai 3. Sesampainya di lantai 3, aku disuruh ke lantai 3 selatan tapi harus turun dulu ke lantai 2, jalan di lorong yang panjang, baru naik lagi ke lantai 3. Sesampainya di lantai 3, aku disuruh jalan ke bagian utara. Aku sempat nge-gas sih karena capek, takutnya aku balik lagi ke tempat semula. Ternyata tidak sih, setelah jalan cukup panjang, akhirnya aku menemukan pelayanannya. Aku menulis nama  dan rekening pinjaman dan menunggu beberapa saat.


Kemudian petugas datang dan bilang, "kredit masnya lancar, seharusnya cukup kirim email saja". Sambil menahan emosi aku bilang kalo udah kirim email 3 minggu yang lalu, beserta permohonan keringanannya, tapi belum ada konfirmasi lagi. Terus dia bilang kalo KPR aku kewenangannya ada di cabang, jadi aku harus ke cabang yang ada di lantai 2 gedung tersebut. Aku diantar ke lantai 2, melewati lorong panjang yang sudah aku lewati, sesampainya di lantai 2, tempat aku akad kredit dulu, dan tidak jauh dari lobby pertama aku masuk, aku ditinggal oleh petugas yang sebelumnya, dan aku bertemu dengan orang yang menelpon 3 minggu yang lalu.


Permohonan keringananku belum disetujui. Dia juga bilang lupa menghubungi aku. Aku dikasih pilihan untuk melunasi tanpa keringanan atau dengan keringanan namun harus sabar entah sampai kapan. Akupun diberi kesempatan untuk berpikir, tinggal WA saja jika sudah ada keputusan. Setelah aku berpikir, bertanya pada orang tua, bertanya pada teman, akhirnya aku putuskan untuk melunasi tanpa keringanan. Besoknya aku WA untuk melunasi. Sorenya, saldoku sudah terpotong sebesar sisa pokok ditambah PSJT 2,5%. Tinggal mengambil berkas-berkas penting seperti bukti lunas, sertifikat sementara, dan lainnya.

Komentar