This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Fiksi Seru Supaya Kamu Lebih Bersyukur


Beberapa bulan belakangan ini, aku lagi senang baca fiksi. Dari beberapa yang aku baca, ada lima novel fiksi yang aku suka dan aku jadikan pengingat supaya bisa lebih banyak bersyukur.Pada aat itu aku sedang merasa sendu, memikirkan alur kehidupan yang begitu berliku dan stagnan. Dengan membaca cerita fiksi ini, aku sedkit bisa mengurangi overthinking dan membuat lebih bersyukur bahwa masih ada orang-orang yang mengalami kehidupan yang lebih sulit dari aku meskipun hanya dalam cerita fiksi. Wkwkwkwk.

Kami (Bukan) Sarjana Kertas - J. S. Khairen

Bercerita tentang sebuah remaja yang bernama Ogi yang hidup di keluarga miskin dan tidak mempunyai kemampuan akademik yang baik. Namun, masih punya keinginan untuk kuliah meskipun di kampus antah-berantah yang sangat tidak favorit. Pilihan kuliah di kampus tersebut ya karena biaya kuliahnya sangat murah namun demikian tetap sulit untuk dibayar karena kemiskinan yang dialaminya. Berbagai kesulitan dialami Ogi dan hampir ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Sampai akhirnya Ogi harus di drop out karena kualitas akademiknya selama beberapa semester tidak memenuhi kualifikasi. Namun, semesta berkata lain, Ogi diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan IT dan akhirnya bisa ditarik untuk bekerja di perusahaan IT internasional.

Kami (Bukan) Jongos Berdasi - J. S. Khairen

Masih kelanjutan dari Kami (Bukan) Sarjana Kertas, dalam novel ini lebih fokus ke teman-temannya Ogi setelah lulus dari kampus antah-berantah tersebut. Perjuangan memperoleh pekerjaan harus dihadapi mengingat kualifikasi bekerja bagaikan mau melamar menjadi pahlawan super. Namun, memang rejeki tidak akan kemana, hanya perlu sabar dan ber-ikhtiar.

Sisi Tergelap Surga - Brian Khrisna

Di balik hingar bingar Kota Jakarta, masih ada perkampungan yang isinya orang-orang pinggiran yang bertahan hidup pun masih sangat sulit. Pekerjaan apapun diambil, tanpa mempedulikan halal atau haram, yang penting bisa makan untuk hidup keesokan harinya. Fiksi ini menceritakan kehidupan dari sisi Jakarta lain tersebut. Buat kita yang bisa hidup sederhana pasti akan sangat bersyukur dibandingkan orang-orang yang buat makan besok aja masih berpikir cari uang dari mana.

Romansa Stovia - Sania Rasyid

Mengambil latar belakang di masa Hindia Belanda, novel ini menceritakan perjuangan orang-orang pribumi untuk menjadi seorang dokter yang tentunya butuh waktu, uang, dan perjuangan untuk mendapatkan gelar tersebut. Tidak hanya itu persahabatan dan cinta pun menjadi ujian yang bisa kitya ambil pelajaran dalam kehidupan nyata.

Anak Kos Dodol Kumat Lagi - Dewi 'Dedew' Rieka

Keseruan anak-anak kos yang ajaib tapi kompak juga sangat seru buat dinikmati. Apalagi buat kita yang kulihanya harus merantau. Kenangan tentang masa-masa kos, perkuliahan, dan perjalaan menjadi seorang yang dewasa membuat kita belajar akan rasa syukur.

Masih banyak lagi tentunya fiksi-fiksi yang bisa jadi referensi buat kita untukmenjadi lebih bersyukur. Jika ada rekomendasi fiksi lagi, silahkan tulis di kolomkomentar ya. 

Jangan Angkuh


Kadang manusia tidak sadar kalau dirinya angkuh.

Kadang manusia tidak sadar kalau dirinya merasa paling tahu.

Kadang manusia tidak sadar kalau duniawi itu hanya sementara.

Semakin bertambahnya usia, semakin bertambah pengalaman tentunya akan ada rasa menjadi 'si paling'. Tentu aku juga merasakan hal tersebut ketika merasa berada di fase 'puncak'. Namun untungnya, aku segera tersadar bahwa fase 'puncak' itu bukan apa-apa. Bahkan tidak pantas untuk dibanggakan, bahkan lebih berpotensi takabur. Masih banyak hal yang harus digabai dibanding harus bersukaria atas hal yang belum ada apa-apanya. Sadar tentunya bukan tiba-tiba saja, tetapi dengan diambil fase tersebut dan menjadi sebuah batu hiasan saja yang menjadi pelengkap walau tak jelas fungsinya apa.

Allah Maha Baik. Si batu hiasan ini meskipun tak dianggap di rumah sendiri, namun bisa berguna di tepat lain. Batu ini bisa menjadi komponen yang menggerakkan suatu sistem dan juga bisa menjadi pencerah pada batu-batu muda yang baru tercipta dan akan memasuki dunia baru. Selain itu, aku juga belajar menjadi seorang murid di sebuah kelas pelatihan dan olah raga. Hal ini menyadari bahwa setiap orang punya kemampuan masing-masing, setiap orang punya keahlian masing-masing, setiap orang belajar dari orang lain, setiap orang tidak bisa serakah memiliki berbagai kemampuan, setiap orang bisa menjadi guru maupun bisa menjadi murid. Artinya jangan pernah sombong atas kemampuan yang kita miliki. Berbagi boleh tapi jangan pernah merasa jadi "si paling". Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada lapisan tanah berikutnya. Boleh ambisius tapi jangan pernah merendahkan orang lain, boleh mengagumi orang lain tapi jangan sampai mengagungkan kecuali Rasullullah yang memang teladan bagi seluruh umat.

Memang, hampir semua yang ada di dunia ini tidak bisa kita kontrol, tidak bisa mengikuti sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi ingat kata Filosofi Teras, kita bisa mengontrol apa yang bisa kontrol. Kalau kita ingin menjadi nomor 1, kita bisa berjuang sebaik mungkin, bukan menjatuhkan saingan kita. Kalau kita tidak mau bergunjing, maka jauhilah orang yang bergunjing, bukan berusaha menutup mulut orang lain.

Benar kata orang, banyak belajar dan mencari ilmu kaya padi yang matang. Semakin berisi semakin merunduk, tidak sombong. Aku harus banyak belajar menjadi seperti padi karena pada dasarnya aku seperti padi yang ga matang-matang. Hehe.

Mata Kuliah Studi dalam Prodi PWK

 


Apa itu mata kuliah STUDIO? Mengapa ada mata kuliah STUDIO dalam program studi Perencanaan Wilayah dan Kota? Apa saja yang dipelajari dan dilakukan? Beberapa pertanyaan tersebut mungkin ada dalam benak mahasiswa yang mengambil mata kuliah studio. Penjelasan singkat ini, semoga dapat membantu pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga saat menjalani mata kuliah tersebut, kita bisa memahami esensi dari mata kuliah tersebut.

Samsung Notes yang Tidak Terintegrasi

Waaaw, sudah cukup lama juga aku tidak update blog ini. Hal ini dikarenakan cukup banyak kerjaan yang sulit ditinggalkan. Predikat sebagai full-time blogger patut dipertanyakan nih. But, it's okay, mari kita mulai membahas hal-hal yang ringan terlebih dahulu.

Sebenarnya sih, tulisan ini merupakan bentuk kekecewaan atas suatu produk, yaitu Samsung Notes. Sebagai pengguna Android Samsung sejak 2019, Samsung Notes adalah satu-satunya aplikasi penulis catatan yang aku gunakan. Ketika di pertengahan 2020 aku memutuskan untuk membeli Tablet Samsung, tentunya semua catatan berbasis kertas, termasuk buku-buku hardcopy semuanya aku pindahkan ke Samsung Notes. Integrasi antara smartphone dan tablet tentu sudah jelas ada karena merupakan satu brand. Di sisi lain aku membutuhkan integrasi perangkat portabel tersebut dengan laptop. Pada saat itu, Samsung Notes masih bisa diinstal di perangkat windows. Aku pun tidak kesulitan membuka catatan dicatat di smartphone atau tablet di laptop ataupun sebaliknya. Semenjak itu produktivitasku cukup meningkat.

Sayangnya di pertengahan 2023 kemarin, ketika aku mau membuka Samsung Notes di laptop, catatanku tidak sinkron-sinkron. Sudah ditunggu sekitar 10 menit tetap tidak ada pembaharuan. Hingga terpaksa aku instal ulang dan muncul pop-up pemberitahuan bahwa Samsung Notes sudah tidak dapat diakses lagi di windows kecuali Samsung Galaxy Book. Sungguh kekecewaan yang luar biasa mengingat aku baru saja membeli laptop setahun yang lalu dan Samsung Galaxy Book tidak dijual resmi di Indonesia. Tentunya Samsung nilai Samsung jadi berkurang sedikit dari Apple yang semua produknya sudah dijual resmi di Indonesia. Jika seseorang hanya memiliki satu produk Apple, Apple masih memberikan kemudahan dengan memberikan akses Apple Notes lewat web sedangkan Samsung Notes tidak dapat diakses lewat web, hanya bisa pada aplikasi Samsung Notes yang terinstal di perangkat merk Samsung.

Sempat terpikirkan untuk migrasi semua catatan ke aplikasi lain, seperti Google Keep. Tapi melakukan migrasi dari Samsung Notes ke Google Keep tidak mudah. Perlu proses yang cukup lama karena harus mengkonversi satu per satu ke format PDF. Alhasil, aku tetap bertahan menggunakan Samsung Notes, namun untuk catatan yang dibuat di laptop aku save dalam format txt pada aplikasi Notepad dan disimpan dalam Google Drive yang terkoneksi dengan laptop.

Ya, cukup kecewa sih sebenarnya. Minimal Samsung bisa memberikan akses Samsung Notes atau Samsung Cloud via web. Menjual Samsung Galaxy Book di Indonesia juga mungkin salah satu alternatif, tapi tentu membeli laptop tidak seperti membeli kacang goreng. Mungkin jika laptop lama rusak bisa jadi pilihan tapi tentunya Samsung juga harus bersaing dengan brand lain dalam menjual laptopnya.

Polusi Udara dan Transportasi



Polusi udara yang terjadi di Jabodetabek mulai menjadi isu nasional dan menjadi bahan pembicaraan se-antero dunia. Sebenarnya polusi udara tersebut sudah terjadi cukup lama, hanya baru disadari semenjak berakhirnya pandemi dan kembali pada kondisi normal. Saat lockdown, langit Jakarta pernah sejernih kaca, bahkan Gunung Salak bisa terlihat dari Jakarta Utara. Namun, setelah kembalinya aktivitas masyarakat, tak disadari ternyata langit ibu kota menjadi lebih gelap. Serasa mendung akan hujan, tapi ternyata saat ini musim kemarau.

Kendaraan bermotor memang paling mudah untuk disalahakan sebagai penyebab pulusi udara, mengingat populasi kendaraan bermotor jauh lebih banyak dari jumlah penduduk ibu kota. Belum lagi ditambah dengan para penglaju dari daerah sekaligus dan para perantau yang membawa kendaraan pribadi dari daerah masing-masing. Sudah seringkali juga kita mendengar masyarakat yang disalahkan atas gaya hidup ini, tapi apakah sepenuhnya salah masyarakat? Aku rasa masyarakat cuma dijadikan kambing hitam atas permasalahan yang terjadi. Simple-nya adalah ketika ekonomi lemah, masyarakat diberi kesempatan untuk belanja kendaraan, ketika macet dan polusi udara masyarakat disalahkan atas gaya hidupnya menggunakan kendaraan pribadi.

Jakarta memang menjadi kota terbaik dalam pilihan bertransportasi publik. Moda transportasi dari yang tradisional hingga yang modern ada di Jakarta. Namun, banyaknya pilihan bukan berarti menjadikannya sebagai kota dengan sistem transportasi terbaik. Salah satu hal terpenting dalam sistem transportasi publik adalah jangkauan. Mungkin enggak sampai 50% area Jakarta terjangkau dengan transportasi publik. Selain itu ada aspek kenyamanan dan keamanan. Ya tentu sajalah orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan naik transportasi publik.

Mengambil contoh dari pengalaman pribadi. Dulu aku tinggal di Salemba, Jakarta Pusat yang dekat dengan Halte TransJakarta Salemba UI. Saat itu, aku bekerja di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dekat dengan Halte TransJakarta Masjid Agung. Tentu dengan keterjangkauan tersebut, aku memilih setiap hari naik TransJakarta walau harus berdempetan dan waktu tempuh yang lama. Tidak terpikirkan sama sekali untuk memiliki kendaraan pribadi apalagi akupun seorang perantauan. Namun, ketika aku memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke Pademangan Timur, Jakarta Utara dan bekerja di Pasar Baru, Jakarta Pusat, hal tersebut mau tidak mau aku harus memiliki kendaraan pribadi untuk mobilitas. Jika mengandalkan transportasi publik, tidak ada halte atau stasiun terdekat, jika menggunakan transportasi online sangat membuang-buang uang. Lebih baik spending untuk beli motor dibandingkan buang-buang duit buat biaya transportasi. Intinya, pilihan ini tidak dapat disalahkan kepada masyarakat sebagai bagian dari gaya hidup, malah seharusnya pemerintah bisa menyediakan fasilitas untuk mempermudah aktivitas dan mobilitas masyarakat. Toh, aktivitas masyarakat pun akan memberikan dampak positif pada pendapatan pemerintah ye kan?

Aku yakin juga sih, penyebab polusi udara di Jakarta ini memang karena kendaraan bermotor. Mengingat pabrik-pabrik besar sudah dipindah ke Bekasi dan Karawang serta Jakarta hanya memiliki 1 PLTU saja. Namun, memang bisa saja polutan dari industri dan PLTU bisa terbawa dan berkumpul meghiasi langit ibu kota. Menurutku, hal yang bisa dibenahi dulu adalah transportasi publik. Sudahlah lupakan moda transportasi yang canggih-canggih kaya MRT dan LRT, itu membutuhkan investasi dan pembangunan yang cukup lama. Perbaiki dulu aja TransJakarta, perluas jaringan, pastikan memiliki jalur tersendiri, dan tentunya sedikit demi sedikit konversi ke bus listrik. Enggak perlu lah menghias halte jadi seperti mall, masyarakat enggak terlalu butuh itu kok. Masyarakat cuma butuh pulang cepat dengan kepastian mendapat bus dan bisa turun sedekat mungkin dengan rumah. Kalo halte, jaringan,  bisnya banyak, semua itu dapat memecah kepadatan di halte yang sekarang mewah banget kok.

Progress Jerawat Membangkang


Hingga saat ini, permasalahan jerawatku belum juga usai. Sudah beberapa kali treatment ke dokter dan menetapkan skincare yang aku pakai sehari-hari, sudah aku lakukan. Meskipun begitu, sebenarnya sudah ada progress yang cukup baik walaupun belum sembuh sempurna seperti 2 tahun yang lalu. Dokter hanya bilang, mungkin ini stres. Aku terima saja, meskipun aku sudah mengelola stress dengan cukup baik, mengatur pola makan, dan istirahat yang cukup, tapi tetap saja komedo dan jerawat tak bosan hinggap di wajah hingga meninggalkan bekas yang tidak hilang-hilang.

Puncak permasalahan jerawatku itu terjadi di September - Desember 2022. Periode tersebut terjadi pasca aku terkena Covid-19 dan mulai lagi berolahraga. Sebelumnya pun aku cukup sering bergonta-ganti skincare yang mungkin memperparah kondisi kulit wajahku. Kondisi wajahku pada November 2022 seperti begini.

Kalau sekarang ingat dengan kondisi tersebut, aku sungguh ingin menangis. Parah sekali. Bahkan temanku saja bilang, seperti terkena penyakit ain. Setelah melihat kondisi tersebut aku mulai mengubah skincare-ku lagi. Aku mengubah semua ke produk Somethinc. Namun setelah habis, aku mengubahnya ke produk Dermies karena pada saat itu akupun melakukan treatment ke Dermies. Hingga akhir Maret 2023 yang lalu, aku rutin melakukan treatment ke Dermies setiap sebulan sekali. Mulai treatment anti darkspot, anti acne, hingga terakhir laser anti acne. Sempat membaik meskipun flek hitam sulit sekali hilang dan komedo di jidat masih tak enyah. Beberapa jerawat pun seringkali tumbuh. Kondisi wajahku saat ini seperti ini.
Beberapa flek hitam sulit kali hilang. Komedo di jidat pun sulit sekali hilang, padahal aku rutin melakukan uap dan exfoliating setiap minggu. Beberapa jerawat meradang tumbuh tanpa sebab. Aku pun mencoba mengelola stress dengan baik. Utamanya ada penerimaan atas kondisi wajahku ini. 

Aku berharap, kondisi wajahku terus membaik. Setidaknya tidak tumbuh jerawat dan komedo. Mungkin untuk mulus layaknya kulit remaja akan sangat sulit, mengingat akupun tidak muda lagi.


Telisik Komentar tentang RT dan RW


Tingkah salah satu oknum pengurus RW yang meminta THR untuk pengurus RW dengan menetapkan jumlah anggarannya tentu membuat gedek sebagian besar orang, termasuk aku salah satunya. Tingkah absurd pengurus RT atau RW memang seringkali membuat aku bertanya-tanya, seberapa penting adanya RT dan RW? Apakah bisa jika tidak perlu ada RT dan RW? Pemikiran atau pertanyaan tersebut aku tuangkan dalam sebuah komentar pada akun instagram tersebut. Ternyata eh ternyata, komentar tersebut memberikan berbagai reaksi dari netizen. Paling banyak adalah reaksi kontra. Namun, sangat disayangkan reaksi kontra tersebut dirasa tidak diimbangi oleh pemahaman yang jelas tentang maksud komentarku. Oleh karena itu mari kita bedah komentarnya dan aku coba jelaskan maksud dari komentar tersebut.


Pemikiranku tentang pembubaran RT dan RW itu bukan baru saja setelah ada berita tersebut. Sebenarnya sudah sejak lama aku pikirkan. Dimulai sejak aku berencana untuk pindah kependudukan ke tempat saat ini aku bekerja. Salah satu syaratnya adalah membuat surat pernyataan dari RT dan RW. Sebenarnya tidak sulit dan gratis, namun aku bertanya-tanya mengapa syarat tersebut harus dilakukan? Mengapa tidak langsung ke pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas dukcapil kabupaten? Ini kan jadinya menambah rentetan proses sehingga sangat membuang-buang waktu saja. Selain itu, kasus pemangkasan bantuan tunai dari pemerintah oleh pengurus RT dan RW menjadi keyakinanku dalam pembubaran RT dan RW. Tidak hanya itu, banyak bantuan yang diberikan pemerintah juga tidak tepat sasaran karena RT dan RW. Sebagai contoh, pemberian bantuan kompor gas. Keterlibatan RT dan RW seharusnya membuat pemberian bantuan kompor gas tersebut menjadi tepat sasaran. Namun, kenyataannya demi mencapai target penyaluran, ketidaktepatan penyaluran seringkali terjadi.

"Kepikiran" adalah kata pertama yang aku tulis. Hal ini dengan maksud bahwa aku punya pemikiran, ide, atau pendapat. Seharusnya sih  sah-sah saja jika seseorang memiliki pemikiran. Aku pun tidak pernah memaksakan pendapat aku benar atau harus dilaksanakan. Ini hanya sekedar pemikiran saja.

Sesuai dengan Permendagri No. 7 Tahun 1983, RT dan RW merupakan suatu organisasi masyarakat yang disepakati batasan wilayahnya sesuai dengan musyawarah. Tujuan RT dan RW adalah untuk dapat menjaga, melestarikan berbagai macam norma sehingga dapat meningkatakan kegotongroyongan dan kekeluargaan. Sampai di situ, aku sepakat dengan adanya RT dan RW selama mengurusi fungsi sosial. Namun, RT dan RW juga diberikan kewenangan dalam hal administrasi, khususnya dalam hal kependudukan. Kewenangan ini memberikan potensi kesemena-menaan pada pengurus RT dan RW yang membuatnya dapat menekan atau mempersulit urusan administrasi masyarakat. Nah, aku berpikir bahwa urusan administrasi itu biar dikembalikan ke pemerintah desa atau kelurahan saja karena mereka digaji untuk itu.

Aku pun tidak sepakat bahwa organisasi masyarakat itu tidak ada. Bagaimana pun kita hidup secara sosial, bermasyrakat, dan bertetangga, maka RT dan RW itu diubah saja menjadi kelompok atau paguyuban. Tujuannya sendiri agar masyarakat guyub, saling membantu, dan tidak adanya gesekan dalam berkehidupan sosial. Intinya adalah hanya melepas fungsi administrasi saja, namun agar terasa bedanya, maka aku menggantinya dengan istilah kelompok/paguyuban karena istilah RT atau RW sangat terasa otonom sekali.



Netizen yang kontra mengatakan hal-hal sebagai berikut:
  1. Kalo ngomong dipikir dulu, minimal survei
  2. BACOT
  3. Kelompok masyarakat? Ormas maksudnya?
  4. Coba dulu jadi pengurus RT dan RW, mereka sukarela
  5. Jangan menyamaratakan semua RT dan RW
Melihat komentar netizen juga cukup membuatku mengelus dada. Awal-awal aku coba balas dan jelaskan, tapi sepertinya memang percuma. Aku memang bukan orang yang pintar dan paham banget, tapi sebagai masyarakat boleh dong berkomentar, memberikan pemikiran atau ide. Aku tidak pernah menyatakan bahwa pendapat aku paling benar, ini murni pemikiran. Pemikiran ini juga bersifat spontan dengan mengingat beberapa kejadian. Aku tidak sedang menyusun skripsi atau kajian, apakah perlu sampai harus melakukan survei terlebih dahulu? Aku pun tidak pernah mengatakan kinerja semua RT dan RW itu buruk, mengapa banyak yang menganggap aku merendahkan RT dan RW? Aku merasa netizen ini terlalu baper karena aku menggunakan "bubar", apakah seolah-olah menghilangkan? Tentu tidak, aku sul untuk jadi kelompok masyarakat atau paguyuban. Tapi anehnya banyak yang berpikir membentuk ormas kaya FPI. Banyak sekali yang out of context. Akupun tahun kalo pengurus RT dan RW itu tidak digaji, makanya kalau tidak ada, tentu tidak akan ada beban bagi mereka juga. Kehidupan sosial juga biar kelompok masyarakat yang guyub saja yang menyelesaikan. Sebenarnya yang saya soroti itu adalah fungsi administrasi yang diberikan pada pengurus RT dan RW saja karena itu memberikan potensi kesemena-menaan.

Aku tidak anti terhadap permohonan THR. Di lingkunganku pun ada permohonan THR untuk petugas keamanan, kebersihan, dan teknisi. Bukan untuk pengurus RT atau RW. Permohonan tersebut pun diinisiasi oleh warga yang memang membentuk kelompok di dalam RT, RT tetap ada. Jumlah THR pun tidak ditentukan, tapi warga secara sukarela memberikan berapapun.

Sekali lagi, aku hanya menyampaikan pemikiran, bukan ngotot. Aku juga tidak punya kewenangan untuk membubarkan RT atau RW. Kalau aturannya RT dan RW masih ada, dibubarkan, atau menghapus fungsi administrasi, ya aku setuju-setuju saja. Aku hanya mengamati dan berpendapat, tidak memaksakan kehendak juga. Jadi buat netizen, sebelum menyuruh aku untuk berpikir dalam berkomentar, maka kalian juga bisa menelaah maksud dari komentar orang. Jangan asal baper jadi emosi, terus komentar enggak nyambung.



Just Update!

Jujur, antusiasme untuk mengaktifkan blog ini sudah berada di titik terendah. Bahkan niat untuk just update dan melancarkan penulisan pun su...