This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Fiksi Seru Supaya Kamu Lebih Bersyukur
Jangan Angkuh
Kadang manusia tidak sadar kalau dirinya angkuh.
Kadang manusia tidak sadar kalau dirinya merasa paling tahu.
Kadang manusia tidak sadar kalau duniawi itu hanya sementara.
Semakin bertambahnya usia, semakin bertambah pengalaman tentunya akan ada rasa menjadi 'si paling'. Tentu aku juga merasakan hal tersebut ketika merasa berada di fase 'puncak'. Namun untungnya, aku segera tersadar bahwa fase 'puncak' itu bukan apa-apa. Bahkan tidak pantas untuk dibanggakan, bahkan lebih berpotensi takabur. Masih banyak hal yang harus digabai dibanding harus bersukaria atas hal yang belum ada apa-apanya. Sadar tentunya bukan tiba-tiba saja, tetapi dengan diambil fase tersebut dan menjadi sebuah batu hiasan saja yang menjadi pelengkap walau tak jelas fungsinya apa.
Allah Maha Baik. Si batu hiasan ini meskipun tak dianggap di rumah sendiri, namun bisa berguna di tepat lain. Batu ini bisa menjadi komponen yang menggerakkan suatu sistem dan juga bisa menjadi pencerah pada batu-batu muda yang baru tercipta dan akan memasuki dunia baru. Selain itu, aku juga belajar menjadi seorang murid di sebuah kelas pelatihan dan olah raga. Hal ini menyadari bahwa setiap orang punya kemampuan masing-masing, setiap orang punya keahlian masing-masing, setiap orang belajar dari orang lain, setiap orang tidak bisa serakah memiliki berbagai kemampuan, setiap orang bisa menjadi guru maupun bisa menjadi murid. Artinya jangan pernah sombong atas kemampuan yang kita miliki. Berbagi boleh tapi jangan pernah merasa jadi "si paling". Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada lapisan tanah berikutnya. Boleh ambisius tapi jangan pernah merendahkan orang lain, boleh mengagumi orang lain tapi jangan sampai mengagungkan kecuali Rasullullah yang memang teladan bagi seluruh umat.
Memang, hampir semua yang ada di dunia ini tidak bisa kita kontrol, tidak bisa mengikuti sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi ingat kata Filosofi Teras, kita bisa mengontrol apa yang bisa kontrol. Kalau kita ingin menjadi nomor 1, kita bisa berjuang sebaik mungkin, bukan menjatuhkan saingan kita. Kalau kita tidak mau bergunjing, maka jauhilah orang yang bergunjing, bukan berusaha menutup mulut orang lain.
Benar kata orang, banyak belajar dan mencari ilmu kaya padi yang matang. Semakin berisi semakin merunduk, tidak sombong. Aku harus banyak belajar menjadi seperti padi karena pada dasarnya aku seperti padi yang ga matang-matang. Hehe.
Mata Kuliah Studi dalam Prodi PWK
Samsung Notes yang Tidak Terintegrasi
Waaaw, sudah cukup lama juga aku tidak update blog ini. Hal ini dikarenakan cukup banyak kerjaan yang sulit ditinggalkan. Predikat sebagai full-time blogger patut dipertanyakan nih. But, it's okay, mari kita mulai membahas hal-hal yang ringan terlebih dahulu.
Sebenarnya sih, tulisan ini merupakan bentuk kekecewaan atas suatu produk, yaitu Samsung Notes. Sebagai pengguna Android Samsung sejak 2019, Samsung Notes adalah satu-satunya aplikasi penulis catatan yang aku gunakan. Ketika di pertengahan 2020 aku memutuskan untuk membeli Tablet Samsung, tentunya semua catatan berbasis kertas, termasuk buku-buku hardcopy semuanya aku pindahkan ke Samsung Notes. Integrasi antara smartphone dan tablet tentu sudah jelas ada karena merupakan satu brand. Di sisi lain aku membutuhkan integrasi perangkat portabel tersebut dengan laptop. Pada saat itu, Samsung Notes masih bisa diinstal di perangkat windows. Aku pun tidak kesulitan membuka catatan dicatat di smartphone atau tablet di laptop ataupun sebaliknya. Semenjak itu produktivitasku cukup meningkat.
Sayangnya di pertengahan 2023 kemarin, ketika aku mau membuka Samsung Notes di laptop, catatanku tidak sinkron-sinkron. Sudah ditunggu sekitar 10 menit tetap tidak ada pembaharuan. Hingga terpaksa aku instal ulang dan muncul pop-up pemberitahuan bahwa Samsung Notes sudah tidak dapat diakses lagi di windows kecuali Samsung Galaxy Book. Sungguh kekecewaan yang luar biasa mengingat aku baru saja membeli laptop setahun yang lalu dan Samsung Galaxy Book tidak dijual resmi di Indonesia. Tentunya Samsung nilai Samsung jadi berkurang sedikit dari Apple yang semua produknya sudah dijual resmi di Indonesia. Jika seseorang hanya memiliki satu produk Apple, Apple masih memberikan kemudahan dengan memberikan akses Apple Notes lewat web sedangkan Samsung Notes tidak dapat diakses lewat web, hanya bisa pada aplikasi Samsung Notes yang terinstal di perangkat merk Samsung.
Sempat terpikirkan untuk migrasi semua catatan ke aplikasi lain, seperti Google Keep. Tapi melakukan migrasi dari Samsung Notes ke Google Keep tidak mudah. Perlu proses yang cukup lama karena harus mengkonversi satu per satu ke format PDF. Alhasil, aku tetap bertahan menggunakan Samsung Notes, namun untuk catatan yang dibuat di laptop aku save dalam format txt pada aplikasi Notepad dan disimpan dalam Google Drive yang terkoneksi dengan laptop.
Ya, cukup kecewa sih sebenarnya. Minimal Samsung bisa memberikan akses Samsung Notes atau Samsung Cloud via web. Menjual Samsung Galaxy Book di Indonesia juga mungkin salah satu alternatif, tapi tentu membeli laptop tidak seperti membeli kacang goreng. Mungkin jika laptop lama rusak bisa jadi pilihan tapi tentunya Samsung juga harus bersaing dengan brand lain dalam menjual laptopnya.
Polusi Udara dan Transportasi
Polusi udara yang terjadi di Jabodetabek mulai menjadi isu nasional dan menjadi bahan pembicaraan se-antero dunia. Sebenarnya polusi udara tersebut sudah terjadi cukup lama, hanya baru disadari semenjak berakhirnya pandemi dan kembali pada kondisi normal. Saat lockdown, langit Jakarta pernah sejernih kaca, bahkan Gunung Salak bisa terlihat dari Jakarta Utara. Namun, setelah kembalinya aktivitas masyarakat, tak disadari ternyata langit ibu kota menjadi lebih gelap. Serasa mendung akan hujan, tapi ternyata saat ini musim kemarau.
Kendaraan bermotor memang paling mudah untuk disalahakan sebagai penyebab pulusi udara, mengingat populasi kendaraan bermotor jauh lebih banyak dari jumlah penduduk ibu kota. Belum lagi ditambah dengan para penglaju dari daerah sekaligus dan para perantau yang membawa kendaraan pribadi dari daerah masing-masing. Sudah seringkali juga kita mendengar masyarakat yang disalahkan atas gaya hidup ini, tapi apakah sepenuhnya salah masyarakat? Aku rasa masyarakat cuma dijadikan kambing hitam atas permasalahan yang terjadi. Simple-nya adalah ketika ekonomi lemah, masyarakat diberi kesempatan untuk belanja kendaraan, ketika macet dan polusi udara masyarakat disalahkan atas gaya hidupnya menggunakan kendaraan pribadi.
Jakarta memang menjadi kota terbaik dalam pilihan bertransportasi publik. Moda transportasi dari yang tradisional hingga yang modern ada di Jakarta. Namun, banyaknya pilihan bukan berarti menjadikannya sebagai kota dengan sistem transportasi terbaik. Salah satu hal terpenting dalam sistem transportasi publik adalah jangkauan. Mungkin enggak sampai 50% area Jakarta terjangkau dengan transportasi publik. Selain itu ada aspek kenyamanan dan keamanan. Ya tentu sajalah orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan naik transportasi publik.
Mengambil contoh dari pengalaman pribadi. Dulu aku tinggal di Salemba, Jakarta Pusat yang dekat dengan Halte TransJakarta Salemba UI. Saat itu, aku bekerja di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dekat dengan Halte TransJakarta Masjid Agung. Tentu dengan keterjangkauan tersebut, aku memilih setiap hari naik TransJakarta walau harus berdempetan dan waktu tempuh yang lama. Tidak terpikirkan sama sekali untuk memiliki kendaraan pribadi apalagi akupun seorang perantauan. Namun, ketika aku memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke Pademangan Timur, Jakarta Utara dan bekerja di Pasar Baru, Jakarta Pusat, hal tersebut mau tidak mau aku harus memiliki kendaraan pribadi untuk mobilitas. Jika mengandalkan transportasi publik, tidak ada halte atau stasiun terdekat, jika menggunakan transportasi online sangat membuang-buang uang. Lebih baik spending untuk beli motor dibandingkan buang-buang duit buat biaya transportasi. Intinya, pilihan ini tidak dapat disalahkan kepada masyarakat sebagai bagian dari gaya hidup, malah seharusnya pemerintah bisa menyediakan fasilitas untuk mempermudah aktivitas dan mobilitas masyarakat. Toh, aktivitas masyarakat pun akan memberikan dampak positif pada pendapatan pemerintah ye kan?
Aku yakin juga sih, penyebab polusi udara di Jakarta ini memang karena kendaraan bermotor. Mengingat pabrik-pabrik besar sudah dipindah ke Bekasi dan Karawang serta Jakarta hanya memiliki 1 PLTU saja. Namun, memang bisa saja polutan dari industri dan PLTU bisa terbawa dan berkumpul meghiasi langit ibu kota. Menurutku, hal yang bisa dibenahi dulu adalah transportasi publik. Sudahlah lupakan moda transportasi yang canggih-canggih kaya MRT dan LRT, itu membutuhkan investasi dan pembangunan yang cukup lama. Perbaiki dulu aja TransJakarta, perluas jaringan, pastikan memiliki jalur tersendiri, dan tentunya sedikit demi sedikit konversi ke bus listrik. Enggak perlu lah menghias halte jadi seperti mall, masyarakat enggak terlalu butuh itu kok. Masyarakat cuma butuh pulang cepat dengan kepastian mendapat bus dan bisa turun sedekat mungkin dengan rumah. Kalo halte, jaringan, bisnya banyak, semua itu dapat memecah kepadatan di halte yang sekarang mewah banget kok.
Progress Jerawat Membangkang
Telisik Komentar tentang RT dan RW
Tingkah salah satu oknum pengurus RW yang meminta THR untuk pengurus RW dengan menetapkan jumlah anggarannya tentu membuat gedek sebagian besar orang, termasuk aku salah satunya. Tingkah absurd pengurus RT atau RW memang seringkali membuat aku bertanya-tanya, seberapa penting adanya RT dan RW? Apakah bisa jika tidak perlu ada RT dan RW? Pemikiran atau pertanyaan tersebut aku tuangkan dalam sebuah komentar pada akun instagram tersebut. Ternyata eh ternyata, komentar tersebut memberikan berbagai reaksi dari netizen. Paling banyak adalah reaksi kontra. Namun, sangat disayangkan reaksi kontra tersebut dirasa tidak diimbangi oleh pemahaman yang jelas tentang maksud komentarku. Oleh karena itu mari kita bedah komentarnya dan aku coba jelaskan maksud dari komentar tersebut.
- Kalo ngomong dipikir dulu, minimal survei
- BACOT
- Kelompok masyarakat? Ormas maksudnya?
- Coba dulu jadi pengurus RT dan RW, mereka sukarela
- Jangan menyamaratakan semua RT dan RW
Just Update!
Jujur, antusiasme untuk mengaktifkan blog ini sudah berada di titik terendah. Bahkan niat untuk just update dan melancarkan penulisan pun su...


















