Quarter Life Crisis: Apakah Aku Sedang Mengalaminya?


Di usia yang akan menjelang 29 tahun, sebenarnya saya sudah berada di tahap kestabilan dalam sisi finansial. Sudah mendapat pekerjaan tetap yang tak terguncang pandemi dan tempat tinggal yang cukup nyaman. Bisikan orang sekitar yang mendorong untuk melepas masa lajang pun bisa ditangkis karena menikah bukan prioritas hidup dan bukan kebutuhan saat ini. Masih ada impian-impian yang belum terwujud yang belum saya dapatkan. Pepatah yang mengatakan bahwa menikah dan punya anak membuka peluang rezeki tidak sepenuhnya salah. Tentunya dengan menikah dan punya anak membuat kemampuan berpikir dan berusaha akan terasah yang berdampak positif pada kondisi finansial. Namun, untuk saat ini saya lebih memprioritaskan kebahagian diri sendiri dan orang tua. Dan pilihan itu tidak salah.

Sebagai seorang pegawai, tentunya ada rasa ingin naik kelas dalam karir. Bagi saya, naik kelas bukan berarti naik jabatan dan menduduki jabatan tinggi melainkan kemampuan yang semakin terasah. Bisa mendalami dan menjadi expert serta menemukan dan mendapatkan pengetahuan baru pada bidang yang diminati adalah tujuan bekerja saat ini. Hal ini baru tersadar ketika sudah memasuki tahun ketiga dalam bekerja, namun tidak ada satupun pengembangan diri yang didapat, bahkan pegetahuan yang didapat dari pendidikan formal pun hanya tinggal dedaknya saja yang terasa. Sebagai lulusan magister yang menjabat sebagai seorang analis, pekerjaan saya hanya sebatas membuat surat, mengubungi stakeholder, membuat nota dinas, membuat paparan hasil comot dari stakeholder lain, dan kegiatan administrasi lainnya. Saya tidak menolak mengerjakan hal tersebut, tapi tidak ada input dari sisi substansi yang saya dapatkan. Sebagai manusia yang ingin maju, bekerja seperti ini sungguh sangat meresahkan dan melelahkan. Niat saya untuk keluar dari lingkaran setan ini sudah terpikir sejak satu tahun yang lalu. Namun baru saya usahakan sekarang.

Kebijakan untuk menghapus pejabat struktural eselon 3 dan 4 adalah sebuah kabar bahagia. Terjebak dalam eselon 3 dan 4 yang toxic, membuat penurunan kapasitas kinerja, ditambah lagi guncangan mental yang hebat. Meskipun masih dapat dikontrol, tetapi gangguan mental ini sulit untuk diperbaiki. Pemangkasan eselon 3 dan 4 akan membuat sifat bossy si pemegang jabatan akan hilang dan mental saya pun akan jauh lebih sehat. Sayangnya fungsionalisasi tersebut hanya seperti kabar angin yang tidak jelas. Informasi terakhir, fungsionalisasi untuk staf akan ditunda. Walau nanti statusnya sudah fungsional, sistem hierarki struktural akan tetap berlaku. Artinya, tekanan pekerjaan dan gangguan mental akan tetap terjadi pada saya.

Dalam Undang-Undang ASN dan beberapa buku terkait manajemen SDM yang saya baca, bekerja sesuai minat dan latar belakang adalah suatu kewajiban untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Atas dasar tersebut, tentunya saya punya hak untuk bekerja menyesuaikan minat. Untuk itu, saya memantapkan diri untuk mutasi ke bagian Analis Kebijakan dan menjadi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan dengan tujuan saya dapat bekerja secara independen, profesional, fleksibel, dan tanpa ada kompetisi dalam jabatan. Minat saya untuk mendalami kebijakan publik pun akan semakin terasah di sana. Seharusnya bagian SDM dalam suatu organisasi pekerjaan dapat mengakomodasi hal tersebut. Sungguh kecewa saat bagian SDM tidak dapat mengakomodasi keinginan saya. Saya hanya disuruh berupaya sendiri, apabila sudah disetujui oleh atasan masing-masing, barulah administrasinya dapat diurus di bagian SDM. Kecacatan sistem ini membuat saya cukup depresi. Namun, saya pun tidak menyerah untuk berusaha melakukan mutasi ke luar unit.

Alasan ketidaksesuaian passion dan butuh pengembangan diri dianggap klise oleh atasan saya. Saya dibuat merasa "tidak enak" atas keputusan saya tersebut. Saya dianggap dapat merusak sistem kepegawaian, egois, tidak sabaran, dan tidak bersyukur. Namun, omongan busuk itu tidak membuat saya gentar, saya semakin mantap untuk melakukan permohonan pindah tersebut. Sampai pada akhirnya permohonan saya benar-benar ditolak, ketika atasan saya meminta arahan dari Deputi. Alasannya karena semua akan fungsional. Itu saja. Disitu saya benar-benar kecewa, benci, marah, depresi, sekaligus sedih. Saya yakin bahwa atasan saya itu tidak menyampaikan alasan saya secara lengkap dan jelas. Sebagai orang dewasa saya merasa tidak dihargai, dihambat, dan dikurung dengan segudang pekerjaan yang tidak saya sukai. Tekanan mental yang cukup berat ini saya coba lalui. Berkonsultasi dengan psikolog secara online dan teman-teman yang lebih berpengalaman sudah saya lakukan. Setelah berkonsultasi, saya merasa lebih baik dan saya akan tetap berusaha mencapai apa yang saya inginkan.

Salah seorang teman berpendapat bahwa saya sedang mengalami quarter life crisis. Menurut Alodokter, quarter life crisis adalah

periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial

Berdasarkan ciri-cirinya, sepertinya saya mengalami krisis tersebut. Saya mulai mempertanyakan masa depan saya, apa saya harus begini tersebut, atau bagaimana? Setiap malam saya mengalami kesulitan tidur karena overthinking atas masa depan.

Sesungguhnya saya amat bersyukur atas nikmat pekerjaan yang saya dapat. Tapi saya yakin, bahwa Tuhan lebih menyukai hamba-Nya yang mau berusaha untuk memperbaiki diri. Benar sekali, usaha harus disertai dengan doa karena hanya Tuhan yang mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Sampai saat ini saya yakin, bahwa penolakan dari atasan bukan berarti Tuhan tidak meridhai kita atas jalan ini tapi menguji seberapa kuat usaha kita karena masih ada jalan lain yang bisa ditempuh.

Beberapa pesan yang ingin saya sampaikan pada cerita saya ini, yaitu:

  1. Jangan pernah menyerah untuk menggapai sesuatu. Langkah terbaik yang dipilih adalah pilihan kamu sendiri. Namun, jangan lupa berdoa karena Tuhan akan mengarahkanmu ke jalan yang terbaik.
  2. Jangan pernah meremahkan masalah psikologis karena itu kan berpengaruh terhadap fisik. Konsultasikan kepada psikolog atau orang yang bijak agar kamu lebih nyaman, tenteram, dan damai.
  3. Berempatilah. Jika kamu melihat temanmu atau kerabatmu mengalami masalah mental sekecil apapun, tolong berempatilah. Karena seringan apapun masalahnya menurutmu, bisa jadi itu hal yang berat bagi dia. Hargailah karena setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam mengahadapi masalah.

Komentar