This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bayar Pajak Kendaraan Online [Khusus Jawa Barat]





Teringat masa-masa dulu ketika harus mengantar mama ke Kantor Samsat untuk membayar pajak sepeda motor. Pada saat itu sangat memakan waktu yang cukup panjang. Pertama, tentunya waktu perjalanan dari rumah menuju Kantor Samsat. Kedua, mengantre beberapa antrian, diantaranya adalah saat memasukkan berkas dan saat membayar. Ketiga waktu perjalanan dari Kantor Samsat ke rumah. Sebelumnya, tentu harus mepersiapkan berkas-berkas dan uang pas. Proses itu tentunya sudah lawas, seiring berkembangnya teknologi, pembayaran secara daring merupakan suatu inovasi yang mempercepat proses kita dalam membayar pajak.

Sebagai pemilik kendaraan sepeda motor yang berada di lingkungan Provinsi Jawa Barat, tentunya akan sangat membuat sulit jika saya harus membayar pajak kendaraan bermotor secara langsung. Berhubung saat ini saya berdomisili di Jakarta. Sebenarnya bisa saja menitipkan pada tetangga depan rumah yang bekerja di Kantor Samsat, tapi tentunya lebih baik tidak merepotkan orang bukan? Di periode tahun ini, saya akan melakukan experience perdana pembayaran pajak secara daring meskipun sebenarnya elektronifikasi pembayaran pajak di Jawa Barat sudah diimplementasikan cukup lama.

Tentunya atas bantuan Google, experience perdana ini berhasil dilakukan dengan mulus tanpa ada kendala. Beberapa dokumen yang perlu dipersiapkan adalah KTP dan STNK. Hal tersebut buat jaga-jaga saja apabila kita lupa dengan nomor KTP, no polisi kendaraan, dan nomor rangka kendaraan. Langsung saja ke langkah-langkahnya ya!

1. Download dan install aplikasi Sambara dari Play Store

2. Buka aplikasi Sambara dan klik 'Info PKB dan Kode Bayar"

3. Masukan nomor polisi kendaraan, lalu klik 'Cari'

4. Info kendaraan dan pajak akan muncul, lalu klik 'Ya' pada Lanjut daftar online

5. Masukan nomor KTP dan 5 digit terakhir nomor rangka kendaraan, lalu klik 'Proses'

6. Akan muncul kode bayar, copy kode bayar tersebut

7. Pilih platform untuk membayar (BJB/ Tokopedia/ Bank Mandiri/ Kaspro/ Indomaret)

8. Lakukan pembayaran sesuai dengan platform yang dipilih

9. Pembayaran selesai, bukti bayar bisa diunduh di aplikasi Sambara

Pembayaran pajak kendaraan sudah selesai. Bukti pembayaran dalam bentuk elektronik dan itu sah seperti pada lembar kedua yang selalu bersama STNK. Sangat mudah bukan?

Sampai Jumpa 2020



Beratnya kehidupan di tahun 2020 memang dirasakan oleh seluruh manusia di belahan bumi manapun, termasuk saya pribadi. Di hari terakhir 2020 memang waktu yang tepat bagi saya sedikit melihat ke belakang, melihat dari awal hingga akhir tahun 2020 yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Walaupun berat, tapi banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil selama satu tahun ke belakang tersebut.

Keputusan untuk menyewa sebuah rumah di kawasan Matraman selama satu tahun menjadi keputusan yang saya sesali. Harapan awal dengan menyewa sebuah rumah akan membuat produktivitas, kenyamanan, dan keamanan saya menjadi lebih baik ternyata semua itu itu terjadi. Rasa ingin kembali menyewa sebuah kamar kos muncul dalam diri, namun hal tersebut tidak dapat mudah dilakukan karena sudah terlanjur menyewa rumah selama satu tahun. Hal tersebut terjadi karena bertemu dengan Ketua RT yang sombong dan mata duitan, pemilik kontrakan yang selalu menjual kesedihan untuk meminta berbagai hal, serta kondisi rumah yang panas dan airnya kotor. Ketidakbetahan muncul seketika di awal-awal bulan saat menempati rumah tersebut.

Beban pekerjaan pun terus menghimpit membuat saya cukup tertekan dan selalu mengeluh. Pasalnya, sebagai seorang staf seharusnya saya masih dalam bimbingan atasan langsung. Namun di beberapa kegiatan penting, atasan saya langsung tersebut menghilang dengan berbagai alasan. Hal tersebut membuat beban pekerjaan saya semakin besar. Keluh kesah selalu muncul sebagai dampak tekanan pekerjaan yang berlebih.

Dibalik itu semua, alhamdulillah, Covid-19 tidak memengaruhi pendapatan saya. Alhasil saya masih dapat hidup berkecukupan tanpa takut kekurangan. Tempat tinggal pun sudah dibayar selama satu tahun penuh sehingga tidak takut diusir karena kesulitan untuk membayar. Selain itu pula, gaya hidup yang sederhana membuat saya bisa menabung dan diberi kesempatan untuk membeli rumah walaupun dengan sistem kredit.

Tahun 2020 merupakan tahun ujian. Tekanan, kesabaran, kebahagiaan, dan keputusan menjadi hal-hal yang diuji. Hingga akhir tahun ini, saya belum merasa lulus tapi saya bisa melaluinya. Saya merasa lebih bijak dalam menghadapi berbagai perbedaan, lebih tenang dalam menghadapi tekanan, dan berpikir jernih dalam mengambil keputusan.

Besok, tahun 2021 kita tahu apakah pandemi ini masih terjadi atau tidak. Setidaknya dengan telah melewati 2020, kita jauh lebih siap dalam menghadapi kejadian berat di hari-hari berikutnya. Tentunya harapan agar 2021 menjadi tahun yang lebih baik, sangat diharapkan semua orang. Mari kita belajar dari tahun sebelunya dan menyongsong untuk tahun berikutnya.

Selamat tahun baru 2021.

Tahapan Kredit Rumah Milenial


Membeli rumah buat kaum milenial saat ini memang bukan perkara mudah, apalagi buat para perantau yang bekerja di ibu kota. Bisa dibilang mustahil bisa membeli rumah sendiri. Saya tekankan kembali bahwa keputusan membeli properti bagi kaum pas-pasan memang butuh keyakinan yang kuat. Mengingat bahwa rumah merupakan aset yang tingkat likuiditasnya rendah, tidak bergerak, dan butuh komitmen jangka panjang. Namun, jika kita sudah yakin maka bayangan kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat dihempas.

Berdasarkan pengalaman saya yang merupakan newbie dalam hal pembelian rumah secara kredit, saya akan sedikit sharing mengenai tahapan-tahapan kredit rumah bagi milenial.

1. Tentukan RUMAH

Di tahap pertama inilah keyakinan mulai diuji, yaitu yakin dengan rumah yang akan kita pilih. Sudah pasti dalam menentukan rumah harus mempertimbangkan lokasi, harga, dan pendapatan pastinya. 

2. Lakukan SURVEI

Tentunya dalam menambah keyakinan dalam memilih rumah maka perlu dilakukan survei. Survei ini dilakukan untuk melihat kondisi lingkungan, fasilitas, dan keamanan di rumah yang kita pilih tersebut. Selain itu, survei juga dilakukan untuk berkonsultasi dengan pihak marketing mengenai fasilitas pembiayaan apa yang dipilih sesuai dengan kemampuan finansial. Jika mampu dengan fasilitas kredit maka pilihkan KPR atau KPA.

3. Tentukan DP dan Bayar Uang Tanda Jadi (UTJ)

Setelah yakin dengan unit rumah yang akan kita pilih tentunya kita harus menentukan besar downpayment (DP) sesuai budget dan kemampuan. DP minimal sebesar 5% dari harga jual, namun bisa fleksibel sesuai dengan negosiasi dengan pihak pengembang. DP juga menentukan besaran cicilan yang akan dibayar setiap bulannya. Setelah keputusan mengenai besar DP dan cicilan ditetapkan, maka diwajibkan untuk membayar booking fee atau UTJ kepada pengembang. Hal tersebut dimaksudkan agar unit yang kita pilih tidak akan ditawar-tawarkan kembali ke calon konsumen lain. Tahapan ini uang yang kita keluarkan hanya untuk UTJ saja.

Setelah itu, kita dipersilahkan untuk menyiapkan dokumen-dokumen untuk akad kredit, seperti kartu identitas, kartu keluarga, slip gaji dan penghasilan, surat keterangan bekerja, dan bukti setoran pajak tahunan. Setelah dokumen-dokumen tersebut dikumpulkan kepada bank yang menyediakan fasilitas kredit, kita tinggal menunggu verifikasi dan cek SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) hingga pengajuan kredit kita disetujui oleh bank.

4. AKAD KREDIT

Ketika kita dipanggil oleh bank untuk melakukan akad kredit, artinya pengajuan kredit kita disetujui oleh bank. Pada saat akad kredit berlangsung, pihak bank menjelaskan besaran plafon pinjaman, bunga, dan sistem pembayaran kreditnya. Jika kita paham dan setuju, maka kita dipersilahkan untuk memaraf dan menandatangani dokumen yang sudah disiapkan oleh bank.

Perlu diperhatikan juga bahwa selama akad kredit kita tidak hanya tandatangan saja. Sebelumnya bank telah menginformasikan bahwa kita harus menyediakan biaya akad kredit yang besarnya sekitar 10 juta (bisa ditanyakan kembali ke bank penyedia kredit). Biaya akad kredit terdiri dari, biaya notaris bank, provisi, appraisal, asuransi, dan lainya.

5. Bayar DP dan Notaris

Setelah akad kredit, tentunya kita harus melunasi DP yang belum sempat terbayar. UTJ yang telah dibayarkan sebelumnya menjadi sebagian DP sehingga kita tinggal melunasi kekurangan DP yang disepakati. Jangan lupa, ada biaya notaris yang perlu kita bayar untuk kesepakatan antara penjual (pengembang) dan pembeli.

6. Serah Terima Kunci

Akhirnya, setelah biaya-biaya yang tidak kecil tersebut dibayarkan, maka saatnya serah terima kunci dari pengembang kepada kita selaku konsumen. Jangan lupa setelah serah terima kunci, perlu dicek juga unit rumah yang kita pilih. Jika ada kekurangan maka kita bisa klaim kepada pengembang untuk bisa diperbaiki.

7. Renovasi jika Diperlukan

Renovasi merupakan pilihan opsional. Tapi biasaya jika kita membeli unit rumah murah, tidak bisa tinggal bawa koper terus bobo. Perlu dilakukan beberapa renovasi yang tidak termasuk klaim kepada pengembang, seperti memmperdalam sumur air tanah, ganti keramik, cat dinding, pasang AC, dan lain sebagainya. Renovasi pun tidak bisa dibilang mengeluarkan biaya yang sedikit, setidaknya perlu disiapkan budget untuk renovasi.

Dan, inilah penutup dari tulisan ini. Kalian sudah punya rumah dan bisa ditinggali. Namun jangan lupa, jika kalian yang kredit tentunya masih ada komitmen untuk membayar cicilan sampai lunas. Tentunya perbankan tidak mempersulit kok jika kita punya rejeki berlimpah dan ingin melunasinya sebelum cicilan berakhir, itu sangat bisa.

Akhir kata, setiap keyakinan pasti ada jalan. Tidak mustahil buat kalian milenial dengan gaji pas-pasan bisa punya rumah sendiri. Saat ini perbankan telah memberikan berbagai kemudahan dengan memberikan kredit rumah sesuai dengan kemampuan milenial. Dan sekali lagi, keputusan untuk membeli rumah itu bukan perkara mudah. Konsultasikanlah kepada orang-orang berpengalaman agar keputusan dan keyakinan kita semakin matang.

Grasak- grusuk Beli Rumah




Bisa dibilang tulisan ini merupakan lanjutan dari series tentang kegalauan punya hunian yang telah berlangsung sejak tahun 2019 yang lalu. Secara singkat, pada tahun 2019 yang lalu ketika saya sudah dipastikan bekerja dan menetap di Jakarta, ada suatu keinginan untuk memiliki sebuah tempat hunian (Baca: Pilah-pilih Hunian di Jabodetabek). Keinginan tersebut sempat memudar karena ada wacana bahwa ibu kota akan pindah. Namun ketika saya memutuskan untuk menyewa sebuah rumah, terjadilah sebuah intrik yang membuat keinginan untuk mempunyai hunian sendiri mencuat kembali (Baca: Curhatan Rumah Sewa dan Hasrat Ingin Memberli Rumah; Ketidakberesan Sang Pemilik Kontrakan). 

Keruwetan-kurewetan tersebut semakin bertambah ketika mengalami permasalahan dengan teman satu kontrakan sehingga rasa ingin segera pergi sangat berkobar. Tentunya, Tuhan memberikan hidayah melalui ide untuk menyewa sebuah unit apartemen. Namun ide tersebut kemudian terus berkembang, hingga akhirnya saya memutuskan dengan mantap untuk membeli sebuah unit apartemen murah di wilayah Jakarta Utara.

Keyakinan untuk membeli sebuah unit apartemen tentunya bukan perkara mudah. Sehubungan saya bukan dari keluarga yang mempunyai harta yang tak habis dalam tujuh turunan, tentunya skema pembiayaan yang bisa saya lakukan adalah dengan mencicil alias Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Kemampuan finansial saya menjadi tolak ukur perdana, seberapa lama saya mampu mencicil. Saya pun telah menonton berbagai reviu terkait KPA, khususnya pengalaman orang-orang. KPA atau KPR merupakan komitmen jangka panjang, selain itu apartemen atau rumah merupakan aset yang tidak bergerak. Artinya selain kemampuan finansial, lokasi juga sangat menentukan agar komitmen jangka panjang tersebut dapat dijalankan dengan asyik tanpa ada rasa menyesal.

Setelah berkonsultasi dengan orang yang berpengalaman, khususnya orang tua sendiri, maka mantaplah saya berhutang pada bank selama 20 tahun untuk memiliki sebuah unit apartemen. Berhubung saya masih single, tentunya seluruh keputusan saya ambil sendiri dengan tujuan untuk kehidupan saya yang lebih baik. Ini merupakan pengalaman pertama saya dalam berkomitmen kepada bank dengan nilai pinjaman yang sangat besar. Alhamdulillah, seluruh proses akad kredit dan hal yang berhubungan dengan kenotariatan berjalan dengan lancar. Sebelumnya, saya cukup pusing juga karena harus menguras tabungan walaupun saya sudah mengambil nilai down payment terendah, yaitu 5% tetapi biaya akad dan lain-lain membuat saya sesak nafas. Intinya, memang segala biaya harus disiapkan dan jangan terkejut jika biaya tersebut membuat dompet Anda langsung kering-kerontang.

Setelah serah terima kunci, unit tersebut tidak dapat langsung dihuni. Namanya juga rumah murah, tentu harus direnovasi terlebih dahulu. Ini bukan apartemen premium yang tinggal bawa koper langsung huni. Tentu saja, saya harus menyiapkan budget lagi untuk merenovasi unit apartemen tersebut. Awalnya, saya memutuskan untuk melakukan renovasi dengan budget super minim. Namun terjadilah drama antara saya dengan papa. Papa mempunyai saran dan keinginan yang luar biasa baik demi kelayakan hidup anaknya yang akan tinggal di unit apartemen tersebut. Tapi tentuya, saran tersebut tidak dapat saya penuhi karena hal tersebut akan menyebabkan over-budget dari apa yang saya rencanakan. Namun setelah berpikir cukup panjang, akhirnya saya mencari alternatif pembiayaan lain dan berusaha memenuhi saran dari papa sebisanya.

Berhubung saya bukan orang Jakarta, tentunya saya harus berusaha sendiri dalam melakukan renovasi. Mulai dari mencari tukang hingga material yang dibutuhkan. Untungnya saya hidup bukan di zaman batu, tapi di zaman yang mana akses internet menjadi prioritas kehidupan. Seluruh kebutuhan renovasi, saya pesan secara online. Untungnya sampai saat ini, semuanya berjalan dengan lancar. Meskipun saya sangat merasa letih, apalagi harus disambi dengan bekerja. Namun, untungnya lagi ada libur panjang yang membuat saya bisa fokus dengan masalah renovasi ini.

Hingga saat ini renovasi masih berjalan dan telah berprogres hingga 50%. Jika semuanya telah selesai, saya akan bagikan video room tour unit saya. Semoga bisa membantu teman-teman yang punya budget pas-pasan dalam melakukan renovasi.

Mama Muda Dalam Birokrat

 

Penting dipahami bahwa saya tidak pernah membedakan gender dalam urusan pekerjaan. Setiap orang punya kesempatan untuk maju dan menjadi pemimpin. Begitu pula menjadi seorang pemalas. Tidak ada istilah yang cocok jadi pemimpin adalah laki-laki dan yang teliti adalah perempuan. Tidak ada istilah bahwa laki-laki jauh lebih malas dibanding perempuan. Tidak ada batasan gender dalam sifat manusia. Tulisan ini merupakan sebuah celotehan saya dengan tujuan untuk lebih memahami peranan wanita dalam dunia pekerjaan, khususnya di lingkungan birokrat. Saran dan kritik sangat terbuka untuk tulisan ini.

 

Apakah kalian pernah membaca buku Jurnal Ph.D. Mama karya Kanti Pertiwi, dkk? Dalam buku tersebut bercerita tentang berbagai kisah inspiratif yang datang dari para mama muda yang berjuang untuk sekolah di tengah keterbatasan waktu karena harus mengurus keluarga. Meskipun kisah-kisah tersebut merupakan perjuangan para mama, tapi saya yang seorang laki-laki pun merasakan dampak positif dari berbagai cerita perjuangan para mama muda tersebut. Saya sebut mama muda karena jiwa mereka masih sangat muda dan memiliki cita-cita yang luar biasa, namun mereka juga punya tanggung jawab sebagai ibu dalam keluarga. Apalagi jika anaknya masih kecil, cara berbagi waktu menjadi kemampuan terhebat bagaimana membagi antara menggapai cita-cita dan mengurus keluarga karena keduanya sama-sama penting.

 

Menjadi pegawai di lingkungan birokrat adalah keinginan bagi kebanyakan orang. Tak perlu disebutkan 'keenakan-keenakan negatif' yang banyak disukai orang-orang dan mungkin itu adalah alasan mengapa menjadi pegawai birokrasi banyak diinginkan. Dalam lima tahun terakhir ini, saya merasa rekruitmen pegawai pemerintah mulai membaik. Tesnya yang semakin sulit, akses 'orang dalam' pun cenderung nol. Seharusnya kualitas pegawai pemerintahan saat ini dapat diberi grade A karena berasal dari orang-orang terpilih, lulusan terbaik, bahkan dari kampus terbaik. Batas usia yang dibatasi dalam pendaftaran pun seharusnya akan menghasilkan pegawai birokrasi muda, fresh, dan memiliki semangat pemuda harapan bangsa yang ingin memajukan negeri.

 

Sewajarnya, setelah diterima sebagai pegawai birokrat tidak mengubah cara kerja, pun ketika memutuskan untuk berkeluarga. Menjadi seorang pegawai birokrasi bukan berarti suatu privilage bisa mengurus keluarga jauh lebih baik dibandingkan sebagai karyawan. Seharusnya baik pegawai birokrasi maupun karyawan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap tempat kerjanya. Bukan berarti harus mementingkan tempat kerja, tapi seyogyanya menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan keluarga karena kita bekerja untuk keluarga bukan? Sebagai pegawai pun kita diberikan hak yang cukup dengan diberikannya hari libur di akhir pekan dan cuti, termasuk cuti melahirkan bagi para ibu. Saya melihat bahwa cuti khusus bagi wanita bukan merupakan kompensasi tapi itu adalah hak asasi manusia. Jadi memang wajar.

 

Cukup dilematis juga bagi para mama muda yang memiliki bayi saat cuti melahirkannya sudah habis. Bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus anak. Melihat cerita-cerita dalam buku Jurnal Ph.D Mama, saya melihat bahwa para mama muda bisa melakukannya, bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus bayi yang memang tidak dapat jauh dari ibunya. Tidak hanya itu, saya pun melihat pengalaman dari beberapa rekan kerja yang mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, terkhusus saat anak-anaknya masih kecil.

 

Namun, memang ada saja yang memanfaatkan menjadi pegawai birokrasi sebagai cara untuk dapat menafaatkan waktu bersama keluarga. Ketika dia bersumpah menjadi pegawai birokrasi sepenuhnya dia mengabdi pada negeri, memang tidak dapat diartikan 100% waktu untuk negara tetapi setidaknya dapat membagi secara adil waktu untuk bekerja dan waktu untuk keluarga. Banyak kasus terjadi terkhusus bagi para mama yang memanfaatkan waktu untuk keluarga di jam kantor. Memang mengurus keluarga itu adalah hal yang baik dan positif, namun ingatkah ketika menerima pekerjaan tersebut ada kontrak yang terikat? Apalagi jika telah memegang suatu jabatan, namun saat dibutuhkan sangat sulit dihubungi, apakah itu termasuk dlaam moral hazard?

 

Banyak orang ingin memperoleh pekerjaan untuk memperbaiki kualitas hidup dan keluarganya. Terdapat kontrak antara pekerja dan pemberi kerja, dengan kata lain penerima kerja diberikan amanat untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Pemberi kerja pun akan memberikan hak-hak pada pekerja yang manusiawi. Jika pekerjaanmu ringan sehingga memiliki waktu luang di jam kantor bukan berarti dapat memanfaatkan waktu kantor untuk urusan di luar kantor termasuk keluarga.

Pengalaman Kost Di Jakarta


Sejak masuk kuliah di tahun 2011, saya memutuskan untuk menjadi perantau. Sebagai perantau tentu saja saya harus menyewa kamar kost untuk dapat tinggal. Setelah lulus dari kuliah dan meninggalkan Jogja, saya berhijrah dan menjadi perantau di Jakarta. Dalam tulisan ini, saya coba mengulas pengalaman saya dalam ngekost karena bisa dibilang saya cukup sering berpindah kost.

Bintaro, April - Mei 2016

Setelah berpindah dari pekerjaan yang lama, saya pun mendapat tawaran bekerja kembali di konsultan perencanaan. Saya dikontrak hingga proyek ini selesai, sekitar 2-3 bulan. Saya pun mendapatkan privilage dari kantor, yaitu kost selama dua bulan. Kost tersebut tidak jauh dari kantor yang berada di Jalan Kesehatan Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Saya tinggal berdua dalam satu kamar kost bersama rekan kantor yang kebetulan senior saya saat kuliah. Fasilitas yang ada dalam kost tersebut antara lain double bed, AC, lemari, dan meja kerja. Untuk kamar mandi, meja makan, dapur, dan televisi merupakan fasilitas bersama yang ada di luar kamar. Tiap kamar memiliki meteran listrik masing-masing sehingga kita bisa kontrol penggunaan listrik masing-masing. Hal yang disayangkan adalah kost tersebut tidak 24 jam. Lewat jam 10 malam, pagar kost sudah dikunci dan para penghuni tidak diberikan kunci tersebut. Apabila pulang lebih dari jam 10 malam, penghuni kost bisa melapor pada penjaga kost dan nanti akan dibukakan. Dibalik ketidakbebasan tersebut ada hal yang membuat bahagia ngekost di sana, yaitu rasa kekeluargaan antara penghuni kost. Kebetulan, saya dan rekan saya hanya dua laki-laki penguni kost sedangkan lima yang lainnya adalah perempuan. Beruntungnya lagi, tiga perempuan tersebut adalah ibu-ibu, jadi tiap minggunya kami patungan untuk konsumsi dan ibu-ibu itu masak untuk kami semua setiap harinya. Sayangnya, saya hanya ngekost selama dua bulan sesuai dengan kontrak dari kantor, jadi saya pun harus meninggalkan kost tersebut.

Kramat Sentiong, Januari - Juni 2017

Saat diterima menjadi mahasiswa S2 di salah satu universitas di Jakarta, tentu saya harus mempersiapkan diri untuk tinggal dan menetap di Jakarta. Sebenarnya, Bapak saya pun kost di Jakarta, namun saya memutuskan untuk ngekost di dekat kampus agar tidak ada biaya transportasi yang dikeluarkan. Kebetulan pula saya tidak memiliki kendaraan yang dapat digunakan. Cukup sulit untuk mencari kost sendiri, saya pun memanfaatkan hasil penelusuran di internet. Dapatlah kost yang terbilang cukup murah di Jalan Kramat Sentiong Gang 2 dengan harga Rp650 ribu per bulan.

Secara fisik kost dan lingkungan sekitarnya bisa digolongkan sangat baik. Namun ada hal yang tidak terduga di kost tersebut. Sang pemilik kost adalah seorang ibu yang sudah cukup sepuh namun fisiknya masih cukup baik. Setiap subuh antara jam 3 hingga jam 4, beliau selalu mengambil sampah yang ada di depan pintu setiap kamar kost. Tidak hanya mengambil sampah, tapi beliau juga sering marah dan berteriak tidak jelas. Saya sendiri tidak punya masalah dengan beliau, bahkan ketika bertemu beliau pun dia senyum. Namun, kebiasaannya berteriak itu cukup mengganggu. Akhirnya, saya memutuskan untuk pindah setelah bertahan selama 6 bulan di sana.

Paseban Timur, Juli 2017 - Desember 2018

Pada hari yang sama keluar dari kost di Kramat Sentiong saya langsung memutuskan untuk pindah ke daerah Salemba, tepatya di Jalan Paseban Timur Gang 14. Setelah hunting sekitar 2 hari dan sempat ditolak oleh salah satu kost karena tidak membayar DP terlebih dahulu, akhirnya saya menemukan kost yang tergolong murah juga. Saya mendapat kost dengan ukuran 5 x 4 meter yang tiap bulannya membayar 750 ribu. Untuk menghemat biaya, saya memutuskan mengajak teman untuk tinggal bersama. Harag kost-pun naik menjadi Rp900 ribu per bulannya.

Semenjak semester 2, lulus, hingga saya bekerja sebagai tenaga kontrak di salah satu instansi pemerintahan, kurang lebih saya bertahan selama 1,5 tahun. Pemiliknya sungguh baik, sering mengajak ngobrol, bahkan sering juga memberikan makanan. Setelah saya mendapat pekerjaan di tempat baru, saya memutuskan untuk pindah karena tidak ada tempat parkir motor. Saya berencana untuk menggunakan motor karena tempat kerja yang baru tidak terakses langsung oleh transportasi publik.


Matraman (kost), Desember 2018 - November 2019

Setelah memperoleh pekerjaan baru, tentu saya ingin meng-upgrade kost. Saya mendapat informasi dari teman saya, bahwa di daerah Matraman tepatnya di Jalan Penegak ada kost AC dengan harga perbulannya Rp1,7 juta sudah termasuk listrik. Pada saat itu, saya bersama teman saya di kosat sebelumnya untuk menyewa 1 kamar. Setidaknya biaya yang dikeluarkan tiap bulannya tidak terlalu mahal jika dibagi dua orang dan dapat kost ber-AC.

Sebenarnya nyaman-nyaman saja dan lingkungannya juga bagus. Hanya saja, karena satu kamar berdua, rasanya privasi kurang terjaga. Apalagi kami semakin lama bertambah usia dan membutuhkan ruang privat masing-masing. Setelah bertahan selama sebelas bulan, kami memutuskan pindah dan mencari kost lain dengan kamar masing-masing.

Matraman (kontrakan), November 2019 - November 2020

Masih bersama teman satu kost sebelumnya, kami menemukan informasi terkait rumah kontrakan di Matraman, hanya sekitar 200 meter dari kost lama. Rumah kontrakan tersebut dihargai Rp24 juta satu tahun dengan ruang tamu, dua kamar, dapur, dan kamar mandi. Rumah tersebut bukan berada di lahan tersendiri melainkan sebuah rumah tingkat. Lantai 1 diisi oleh pemilik rumah dan lantai 2 disewakan. Hal inilah yang membuat listrik dan pompa air masih menjadi satu. Selain itu, berbeda dengan kost sebelumnya yang tepat berada di Jalan Penegak dan memiliki garasi untuk parkir motor, kontrakan ini berada di jalan buntu. Karena berada di lantai 2, pastinya tidak memiliki teras sehingga motor harus parkir di gang.

Sampai dengan tulisan ini dibuat, saya mulai merasakan kekesalan selama di kontrakan ini. Apalagi saat masa COVID19 ini, saya lebih sering berada di rumah. Di awal pekan pertama saya tinggal di sana, saya sudah ditegur oleh Ketua RT dengan alasan tidak lapor. Berhubung saya dan teman saya adalah pekerja, tentu tidak banyak waktu untuk kami melapor. Seperti tempat kost sebelumnya kami hanya menitipkan fotocopy KTP pada pemilik kontrakan. Ketua RT tidak terima dengan cara seperti itu, intinya kami harus melapor dan bertatap muka dengan beliau. Sebenarnya saya terima saja jika ditegur dengan baik-baik, hanya saja cara beliau sungguh membuat saya kesal. Baru dua minggu tinggal di sana, sudah merasakan ingin pindah.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa listrik masih bergabung dengan pemilik kontrakan sehingga untuk pembayaran listrik, kami dipatok membayar Rp250 ribu tiap bulannya. Saya sudah merasa uang listrik tersebut sangat besar untuk dua orang yang tidak memiliki barang elektronik sama sekali. Pada saat itu, kami setuju saja untuk membayar sebesar tersebut, namun agar kami tidak rugi, kami memakai dua kipas angin dan satu kulkas. Hal yag paling mengejutkan adalah ketika pada masa pandemik yang mengharuskan kami melakukan WFH. Memang, selama WFH dipastikan kipas angin digunakan 24 jam, cukup sering charge laptop, dan teman saya membawa PC untuk bekerja yang sebenarnya tidak digunakan setiap hari. Namun, sang pemilik kost-an berkata bahwa listrik naik dan kami disuruh membayar Rp400 ribu setiap bulannya. Cukup kaget juga dengan biaya sebesar itu, namun pada saat itu saya memaklumi, dan sepakat untuk membayar sebesar itu namun hanya 2 bulan saat WFH saja. Raut wajah si pemilik kontrakan agak kecewa namun mengiyakan. Saya pun meminta pasang AC namun ditolak karena listriknya tidak kuat dan di rumah si pemilik pun sudah ada AC. Kecurigaan saya mulai besar, saat anak-anaknya WFH berarti AC di rumahnya terus menyala dan membuat biaya listrik naik. Artinya, biaya listrik yang saya bayarkan sebenarnya hanya men-subsidi pemakaian listrik sang pemilik yang jauh lebih besar. Saya pun menanyakan pada ibu saya dan rekan-rekan saya terkait penggunaan listrik. Dan jawaban mereka sungguh mengejutkan, penggunaan listrik yang hanya seperti kami pakai tidak mungkin mencapai 200 ribu.

Saat saya kembali WFO, tentu saya minta harga listrik kembali ke seperti semua. Namun, beliau hanya menurunkan 100 ribu dengan alasan penggunaan jetpump. Saya tidak terima karena jika dihitung-hitung penggunaan air, kami hanya berdua dan pemakaian pun masih sama seperti sebelum pandemik. Jika dibanding dengan penghuni rumahnya yang ada 4 orang tentu sangat tidak adil. Saya pun mengultimatum agar dia menunjukan kuitansi pembayaran listrik. Sayangnya dia tidak bisa menunjukan dan akhirnya dia menurunkan kembali harga listrik seperti kesepakatan di awal. Tentu saja, saya pun bilang bahwa tidak akan melanjutkan ngontrak di rumah ini. saya dan teman saya pun harus bertahan hingga November 2020 untuk dapat pergi dari kontrakan ini.

Dari sekian banyak tempat tinggal yang pernah saya coba di Jakarta, memang sangat sulit meperoleh tempat tinggal yang cocok. Ada harga ada kualitas, namun perlu juga mencocokan dengan isi dompet. Cerita ini hanya sekedar sharing saja. Tidak ada maksud untuk menjelekkan pihak manapun. Namun, dengan cerita ini diharapkan dapat berhati-hati dalam memilih tempat tinggal apalagi dengan komitmen yang cukup panjang seperti ngontrak. Kost bulanan itu lebih fleksibel, di saat kita merasa tidak cocok bisa langsung pindah ke tempat baru sedagkan untuk sewa tahunan tentunya sulit sekali untuk pindah jika tidak mau rugi. Tentunya fasilitas dan lingkungan adalah hal terpenting yang menjadi pertimbangan dalam memilih tempat tinggal, selain harga. Fasilitas dan kondisi lingkungan tentu akan menyesuaikan dengan harga yang kita bayar.

Ketidakberesan Sang Pemilik Kontrakan


Note: Tulisan ini berisi curahan hati sang penyewa rumah kontrakan. Mohon dimaklumi apabila tulisan ini mungkin menyudutkan pihak tertentu atau terkesan membela diri sendiri.

Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul Curhatan Rumah Sewa dan Hasrat Ingin Membeli Rumah, berisi salah satu alasan mengapa saya ingin pindah atau keluar dari kotrakan. Selain itu, ada alasan lain yang menambah hasrat tersebut, yaitu sang pemilik kontrakan.

Sang pemilik kontrakan sendiri adalah seorang single mother berusia sekitar 40 tahun. Dia tinggal di lantai satu rumahnya sedangkan lantai duanya saya sewa. Kami memanggilnya dengan sebutan Bunda. Bunda sendiri tinggal bersama ibunya yang sudah sepuh dan dua orang anaknya. Anak pertama seorang perempuan yang sudah bekerja di salah satu bank yang tidak jauh dari rumahnya dan anak keduanya seorang laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Saya tidak terlalu paham bagaimana keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi dari sedikit cerita yang disampaikan Bunda, bahwa keuangan keluarga bersumber dari uang kontrakan, penghasilan anak pertama, dan Bunda sendiri membantu dengan berjualan makanan ringan di depan rumahnya.

Di awal Maret, terjadi kejadian yang tidak terduga. Sepeda motor milik Bunda hilang dicuri. Kejadiannya dini hari saat semua orang sedang tidur. For your information, karena rumah Bunda itu halaman depannya sempit dan ada gerobak untuk dia berjualan cemilan, maka sepeda motornya diparkir di depan rumahnya, tepatnya di gang buntu untuk ke rumah sekitar. Sebenarnya tidak hanya sepeda motor beliau saja yang diparkir di gang tersebut, sepeda motor tetangga lain, termasuk sepeda motor saya yang persis berada di belakang sepeda motornya. Sepeda motor saya dan Bunda berjenis sama hanya berbeda warna. Apesnya, sepeda motor Bunda yang berhasl dibawa kabur maling. Berdasarkan cerita tetangga, seharusnya sepeda motor saya yang dicuri, namun karena alarmnya berbunyi, si maling beralih ke motor di depannya. Alhamdullillah masih rezeki saya. Tapi beberapa tetangga secara tersirat seakan kecewa kenapa bukan motor saya yang hilang. Setelah kejadian tersebut, tetangga sekitar sepakat untuk membuat pagar di depan gang tersebut. Setiap rumah termasuk saya patungan uang sebesar 150 ribu rupiah.

Setelah kejadian tersebut, munculah COVID-19 yang mana perekonomian berubah drastis, termasuk perekonomian keluarga Bunda. Bunda sudah tidak berjualan lagi seperti biasanya, mungkin dengan alasan lockdown sehingga tidak beraktivitas di luar rumah. Namun pada saat Ramadhan, seharusnya Bunda memanfaatkannya untuk berjualan karena di lingkungan kami, warga sekitar banyak yang memanfaatkan Ramadhan untuk berjualan menambah pundi-pundi agar dapur tetap membara. Maaf, saya merasa si Bunda ini tidak mau berusaha dan mencari penghasilan yang instan. Pasalnya, beliau meminta pekerjaan pada saya, apapun pekerjaannya. Secara berkala dia menghubungi saya, memohon-mohon untuk mendapat pekerjaan. Mohon maaf, bukannya saya tidak mau membantu, saya sendiri bukan pejabat hanya staf biasa, informasi lowongan pekerjaan yang masuk ke saya biasanya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, dan umumnya membutuhkan orang yang masih berusia muda. Ditambah lagi masa pendemi ini membuat kosongya informasi lowongan pekerjaan. Sejujurnya saya cukup terganggu dengan permintaan beliau.

Oh ya, sebelum memasuki bulan puasa, beliau juga pernah meminjam uang pada saya untuk membayar biaya kuliah anak pertamanya. Alasannya karena pada saat itu sudah masa lockdown sehingga kantor Pegadaian tutup sehingga beliau tidak dapat menggadaikan gelang emasnya. Karena kasihan, saya pun meminjamkan uang. Awalnya dia berjanji mengembalikan uang saat Pegadaian buka. Dua minggu kemudian dia berjanji mengembalikan uang saat uang asuransi motor yang hilang turun. Sebulan kemudian dia meyakinkan saya untuk melanjutkan mengontrak rumah agar hutangnya dipotong untuk biaya sewa tahun berikutnya. Bahkan dia meminta saya jika mempunyai uang berlebih, uang kontraknya bisa dibayarkan saat ini supaya jadi pengurang biaya sewa tahun berikutnya. Hal tersebut bersamaan ketika dia bilang bahwa uang listrik naik. Tentu saja saya tolak permintaannya tersebut.

Saya pun berkonsultasi kepada kedua orang tua saya dan beberapa senior berpengalaman. Seluruhnya sepakat bahwa ibu kontrakan tersebut mulai tidak beres. Ketidakberesan itu terlihat dari beberapa hal. Pertama, dia sudah tidak berjualan lagi padahal dia mengaku keuangan keluarganya mengalami kesulitan. Kedua, setelah dia berhasil meminta kenaikan uang listrik yang tidak masuk akal dengan alasan WFH, setelah WFH berakhir seharusnya dia mengembalikan tarif listrik ke perjanjian awal. Namun, dia hanya menurunkan 100 ribu. Artinya saya harus membayar listrik 300 ribu setiap bulannya. Ketiga, dia tetap tidak membayar kewajiban hutangnya saat ini.

Ketidakadilan pembagian pembayaran listrik membuat saya naik darah. Seperti tulisan saya sebelumya, barang-barang elektronik yang saya gunakan tidak terlalu banyak mengkonsumsi listrik. Berbeda dengan barang elektroniknya Bunda yang cukup bayak termasuk ada AC di dalamnya. Jika dia menghitung dari konsusi listrik jetpump pun seharusnya dia menghitungnya secara adil. Kontrakan yang saya sewa hanya berisi dua orang, artinya hanya dipakai mandi saja sedangkan rumah beliau diisi oleh empat orang yang dipakai mandi dan mencuci. 

Sejak awal saya memang merasa biaya listrik yang saya bayar tiap bulannya cukup meng-cover biaya listrik rumahnya. Apalagi saat tarif listrik mengalami kenaikan. Saya pun meminta beliau untuk menunjukkan bukti pembayaran listriknya. Namun, sayangnya dia tidak dapat menunjukkannya. Pada akhirnya, dia kembali menurunkan tarif listrik sesuai dengan perjanjian awal. Mengapa saya dapat berasumsi bahwa tarif listrik yang saya bayar tiap bulannya meng-cover listriknya? Hal ini dikarenakan dia sudah tidak berjualan lagi. Dapat diasumsikan penghasilan dari jualannya terihat tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan uang listrik yang dia dapatkan tentunya tidak berjualanpun tidak masalah. Selain itu, tidak dapat menunjukkan bukti pembayaran listrik, itu mengindikasi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Kemungkinan besar setiap bulannya memang saya yang meng-cover listrik seluruhnya. Setelah dia menyatakan kekalahannya, saya tetap meminta bukti pembayaran listrik. Karena  bukan suatu kemenangan yang ingin saya dapatkan melainkan saya hanya menginginkan keadilan. 

Pada saat yang sama, saya pun meng-ultimatum beliau. Saya tidak akan melanjutkan sewa rumah, menghentikan berlangganan internet, dan menagih hutang untuk cepat dibayarkan. Semua itu saya lakukan agar cepat terbebas dari sang pemilik kos yang tidak beres.

Just Update!

Jujur, antusiasme untuk mengaktifkan blog ini sudah berada di titik terendah. Bahkan niat untuk just update dan melancarkan penulisan pun su...