Sambo, Harga BBM, dan Kemunculan Bjorka



Gemes sekali sih melihat berita akhir-akhir ini. Seperti diatur kemunculannya beriringan. Entah ini konspirasi atau bukan, tapi seakan-akan, kasus demi kasus diatur untuk menutupi kasus sebelumnya. Netizen yang kita tidak tahu latar belakang pendidikannya pun, mulai berpikir macam-macam. Ya termasuk diriku yang cukup merasa janggal atas beragam kejadian yang ada di bumi pertiwi ini.


Kemunculan kaus Polisi Tembak Polisi  di pertengahan tahun 2022 ini sungguh mencengangkan publik. Pasalnya, kematian seorang Brigadir yang ditembak mati atas perintah atasannya dengan alasan pelecehan terhadap istri sang atasan dinilai tidak masuk akal. Kematian yang janggal, luka penyebab kematian yang janggal, hingga alasan yang cukup janggal membuat seseorang harus kehilangan nyawa. Hingga saat ini kasus tersebut masih dalam pembahasan dan belum menemukan titik temu. Berbagai teori konspirasi mulai bermunculan. Hingga akhirnya...


September 2022, pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM untuk jenis Solar, Pertalite, dan Pertamax. Di tengah kesulitan ekonomi yang dihadapi masyarakat akibat pandemi Covid-19, pemerintah dengan cepatnya menaikkan harga BBM dengan dalih mengikuti harga minyak dunia dan beban subsidi BBM yang sangat besar sehingga membebani APBN. Tentulah sebagian besar masyarakat kecewa akan keputusan tersebut. Mengingat BBM merupakan kebutuhan pokok yang dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok lainnya. Hal ini karena terkait distribusinya. Selain itu, mobilitas masyarakat pun terganggu karena naiknya tarif angkutan umum yang berbasis BBM. Transportasi massal publik yang murah dan bisa menjadi alternatif masyarakat dalam mobilisasi digarap kurang serius karena diserahkan ke pemerintah daerah dengan berbagai keterbatasan biaya. Gelombang massa yang berdemo terus terjadi di ibu kota maupun di daerah. Sisi lain yang membuat aku tercengang, ketika Menteri Keuangan mengeluarkan statement di Instagram pribadinya bahwa kenaikan harga BBM itu memberikan kesulitan ekonomi bagi masyarakat. Tanggapanku hanya : nah itu ibu tau, kenapa tidak memperjuangkan untuk tetap memberikan subsidi masyarakat? kenapa IKN terus dipaksa dibangun walau dengan APBN. Menurutku pembangunan IKN itu enggak urgent. Mending memperbaiki Jakarta supaya menjadi layak. Dibanding merusak hutan yang mungkin akan menjadi Jakarta berikutnya. Nanti bakal pindah kemana lagi kalo IKN di Kalimantan sudah rusak?


Walaupun kenaikan harga BBM ini sangat menyita perhatian masyarakat, tapi untungnya banyak media baik yang terus mengawal kasus polisi tersebut. Tentunya masyarakat juga sangat mendukung keadilan atas kematian Brigadir J. Apakah berita kenaikan harga BBM ini bertujuan supaya publik melupakan kasus Polisi Tembak Polisi? Bisa jadi.

Ditengah keriuhan dua kasus tersebut, munculah sesosok hacker yang menjebol data pengguna SIM untuk ponsel dari database-nya Kementerian Kominfo. Ya, Bjorka. Kemunculannya sangat mengangkan publik juga, dia menjual data pengguna SIM dan data pelanggan Indihome di situs forum jual beli khusus hacker. Kemudian dia juga membongkar data pribadi beberapa tokoh penting seperti Menteri Kominfo, Gubernur DKI Jakarta, dan Menko Marvest. Tidak hanya itu, dia juga membuka dalang pembunuhan atas kasus Munir. Sayangnya, banyak masyarakat yang beranggapan bahwa Bjorka ini adalah sosok pahlawan. Pemikiran ini aku anggap sangat bodoh jika itu bersumber dari masyarakat. Pasalnya masyarakat jelata juga jadi korban. Bagaimana kalau jadi korban pinjaman online? Mampu bayar? Kalau tokoh penting yang jadi korban pinjaman online masih bisa diusut. Sedangkan rakyat jelata? Jadi berhentilah memandang Bjorka sebagai pahlawan. Tapi kita berhak menuntut pada pemerintah yang tidak mampu melindungi data pribadi.


Kemunculan Bjorka yang berurutan ini seakan benar-benar disengaja. Setelah menonton beberapa ulusan dari Youtuber tentang Bjorka, aku semakin yakin bahwa Bjorka ini hanya tokoh yang dibuat agar masyarakat bisa ter-distract atas kasus-kasus yang terjadi belakangan ini? Apakah benar? Lalu tiba-tiba ada pemuda yang ditangkap karena dianggap Bjorka atau orang yang bekerjasama dengan Bjorka, satu di Madiun, satu di Cirebon. Sangat mudah sekali menangkap pelaku tersebut. Sang hacker sebelum menjadi menjual atau membeberkan suatu hal pastinya dia mampu melindungi dirinya sendir agar tidak tertangkap. Atau mengacak-acak sistem pelacakan simpelnya, masa dengan mudahnya ditangkap. Percaya gak sih pemuda tersebut hanya menjadi tumbal?


Semakin hari, rakyat jelata seperti kita hanya dibuat bingung oleh beragam kejadian ini. Terlalu banyak kebohongan dan manipulasi. Kepercayaan masyarakat terhadap institusi yang memegang kendali negara ini semakin berkurang. Padahal merekalah yang bertugas melindungi rakyat dan bekerja untuk kesejahteraan masyarakat. 

Komentar