This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Mari Mengenal Satgas P2DD



Sudah lama sekali saya tidak membuat tulisan mengenai pekerjaan. Jadi pada hari ini, saya coba share mengenai hal yang saya kerjakan sekitar 1,5 tahun terakhir ini. Kebetulan juga, pekerjaan ini merupakan salah satu kegiatan prioritas yang ada instansi tempat saya bekerja. Saya coba share kepada para pembaca yang mungkin belum mengetahui apa yang sedang dikerjakan pemerintah saat ini.

Upaya transformasi dalam transaksi keuangan pemerintah daerah dari tunai ke non-tunai sudah diinisiasi sejak tahun 2018. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Kemendagri yang dilakukan di 14 Pemda, terbukti bahwa elektronifikasi dalam transaksi keuangan Pemda, khususnya dalam pendapatan, mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini karena pendapatan yang diperoleh tercatat sehingga meminimalisir praktik-praktik kebocoran yang ada di lapangan.

Di pertengahan tahun 2019, munculah inisiasi untuk membentuk tim di pemerintah pusat untuk semakin menggaungkan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah, yang kita kenal ETPD saat ini. Berdasarkan hasil pembahasan beberapa kali diputuskan untuk membentuk Kelompok Kerja Nasional Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (Pokjanas P2DD) yang beranggotakan Menko Perekonomian, Mendagri, Gubernur BI, Menkeu, dan Menkominfo.  Penamaan P2DD diambil dengan tujuan untuk mempercepat dan memperluas digitalisasi daerah, jadi kedepannya diharapkan membuat Pemda menjadi lebih digital. Meskipun di lima tahun pertama ini, fokus Pokjanas P2DD adalah lebih ke ETPD tetapi kedepannya hal-hal yang terkait digitalisasi juga akan menjadi prioritas. Pokjanas P2DD ditetapkan pada 13 Februari 2020 melalui penandatanganan Nota Kesepahaman oleh para anggotanya.

Seiring dengan banyaknya masukan dari berbagai stakeholder, diputuskan untuk mengubah nama Pokjanas P2DD menjadi Satuan Tugas P2DD (Satgas P2DD) dan menambah anggota baru, yaitu Mensesneg, MenPANRB, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas. Untuk memperkuat regulasi dari Satgas P2DD, maka diterbitkanlah Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2021 tentang Satgas P2DD. Hal ini menjadi payung hukum  dalam implementasi P2DD. Dalam Keppres tersebut juga diamanatkan kepada kepala daerah untuk membentuk Tim P2DD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sebagai tim yang mengimplimentasikan P2DD di daerah.

Sebagai koordinator di tingkat pusat, Satgas P2DD bertugas mengomandoi TP2DD. Untuk itu, Satgas P2DD perlu melakukan asesmen terlebih dahulu mengenai kondisi, permasalahan, dan potensi daerah terkait ETPD. Hasil asesmen tersebut dapat digunakan sebagai perumusan kebijakan dalam implementasi ETPD. Satgas P2DD juga bertugas untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh TP2DD agar target yang diharapkan dapat tercapai. Tidak hanya itu, untuk menumbuhkan inovasi dalam digitalisasi daerah, Satgas P2DD sedang merumuskan kriteria penilaian untuk championship yang akan diikuti oleh seluruh Pemda setiap tahunnya. Dari seluruh tugas-tugas tersebut, tentunya Satgas P2DD mempunyai kewajiban untuk melaporkannya kepada Presiden.

Hingga saat ini, Satgas P2DD masih membangun pondasi agar P2DD menjadi stabil. Setelah terbitnya Keppres No. 3/2021, maka diperlakukan peraturan turunannya, yaitu Kepmenko Perekonomian No. 147/2021 dan Rancangan Permendagri tentang Pembentukan TP2DD dan Implementasi ETPD yang sampai saat ini masih dalam proses perumusan. Jika seluruh regulasi sudah terbit, maka rujukan pelaksanaan P2DD di daerah akan segera dijalankan. Tentunya harapan besar dari Satgas P2DD ini agar P2DD dapat segera ajeg, agar tujuan untuk meningkatakan kemandirian dan perekonomian daerah dapat terwujud.

Quarter Life Crisis: Apakah Aku Sedang Mengalaminya?


Di usia yang akan menjelang 29 tahun, sebenarnya saya sudah berada di tahap kestabilan dalam sisi finansial. Sudah mendapat pekerjaan tetap yang tak terguncang pandemi dan tempat tinggal yang cukup nyaman. Bisikan orang sekitar yang mendorong untuk melepas masa lajang pun bisa ditangkis karena menikah bukan prioritas hidup dan bukan kebutuhan saat ini. Masih ada impian-impian yang belum terwujud yang belum saya dapatkan. Pepatah yang mengatakan bahwa menikah dan punya anak membuka peluang rezeki tidak sepenuhnya salah. Tentunya dengan menikah dan punya anak membuat kemampuan berpikir dan berusaha akan terasah yang berdampak positif pada kondisi finansial. Namun, untuk saat ini saya lebih memprioritaskan kebahagian diri sendiri dan orang tua. Dan pilihan itu tidak salah.

Sebagai seorang pegawai, tentunya ada rasa ingin naik kelas dalam karir. Bagi saya, naik kelas bukan berarti naik jabatan dan menduduki jabatan tinggi melainkan kemampuan yang semakin terasah. Bisa mendalami dan menjadi expert serta menemukan dan mendapatkan pengetahuan baru pada bidang yang diminati adalah tujuan bekerja saat ini. Hal ini baru tersadar ketika sudah memasuki tahun ketiga dalam bekerja, namun tidak ada satupun pengembangan diri yang didapat, bahkan pegetahuan yang didapat dari pendidikan formal pun hanya tinggal dedaknya saja yang terasa. Sebagai lulusan magister yang menjabat sebagai seorang analis, pekerjaan saya hanya sebatas membuat surat, mengubungi stakeholder, membuat nota dinas, membuat paparan hasil comot dari stakeholder lain, dan kegiatan administrasi lainnya. Saya tidak menolak mengerjakan hal tersebut, tapi tidak ada input dari sisi substansi yang saya dapatkan. Sebagai manusia yang ingin maju, bekerja seperti ini sungguh sangat meresahkan dan melelahkan. Niat saya untuk keluar dari lingkaran setan ini sudah terpikir sejak satu tahun yang lalu. Namun baru saya usahakan sekarang.

Kebijakan untuk menghapus pejabat struktural eselon 3 dan 4 adalah sebuah kabar bahagia. Terjebak dalam eselon 3 dan 4 yang toxic, membuat penurunan kapasitas kinerja, ditambah lagi guncangan mental yang hebat. Meskipun masih dapat dikontrol, tetapi gangguan mental ini sulit untuk diperbaiki. Pemangkasan eselon 3 dan 4 akan membuat sifat bossy si pemegang jabatan akan hilang dan mental saya pun akan jauh lebih sehat. Sayangnya fungsionalisasi tersebut hanya seperti kabar angin yang tidak jelas. Informasi terakhir, fungsionalisasi untuk staf akan ditunda. Walau nanti statusnya sudah fungsional, sistem hierarki struktural akan tetap berlaku. Artinya, tekanan pekerjaan dan gangguan mental akan tetap terjadi pada saya.

Dalam Undang-Undang ASN dan beberapa buku terkait manajemen SDM yang saya baca, bekerja sesuai minat dan latar belakang adalah suatu kewajiban untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Atas dasar tersebut, tentunya saya punya hak untuk bekerja menyesuaikan minat. Untuk itu, saya memantapkan diri untuk mutasi ke bagian Analis Kebijakan dan menjadi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan dengan tujuan saya dapat bekerja secara independen, profesional, fleksibel, dan tanpa ada kompetisi dalam jabatan. Minat saya untuk mendalami kebijakan publik pun akan semakin terasah di sana. Seharusnya bagian SDM dalam suatu organisasi pekerjaan dapat mengakomodasi hal tersebut. Sungguh kecewa saat bagian SDM tidak dapat mengakomodasi keinginan saya. Saya hanya disuruh berupaya sendiri, apabila sudah disetujui oleh atasan masing-masing, barulah administrasinya dapat diurus di bagian SDM. Kecacatan sistem ini membuat saya cukup depresi. Namun, saya pun tidak menyerah untuk berusaha melakukan mutasi ke luar unit.

Alasan ketidaksesuaian passion dan butuh pengembangan diri dianggap klise oleh atasan saya. Saya dibuat merasa "tidak enak" atas keputusan saya tersebut. Saya dianggap dapat merusak sistem kepegawaian, egois, tidak sabaran, dan tidak bersyukur. Namun, omongan busuk itu tidak membuat saya gentar, saya semakin mantap untuk melakukan permohonan pindah tersebut. Sampai pada akhirnya permohonan saya benar-benar ditolak, ketika atasan saya meminta arahan dari Deputi. Alasannya karena semua akan fungsional. Itu saja. Disitu saya benar-benar kecewa, benci, marah, depresi, sekaligus sedih. Saya yakin bahwa atasan saya itu tidak menyampaikan alasan saya secara lengkap dan jelas. Sebagai orang dewasa saya merasa tidak dihargai, dihambat, dan dikurung dengan segudang pekerjaan yang tidak saya sukai. Tekanan mental yang cukup berat ini saya coba lalui. Berkonsultasi dengan psikolog secara online dan teman-teman yang lebih berpengalaman sudah saya lakukan. Setelah berkonsultasi, saya merasa lebih baik dan saya akan tetap berusaha mencapai apa yang saya inginkan.

Salah seorang teman berpendapat bahwa saya sedang mengalami quarter life crisis. Menurut Alodokter, quarter life crisis adalah

periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial

Berdasarkan ciri-cirinya, sepertinya saya mengalami krisis tersebut. Saya mulai mempertanyakan masa depan saya, apa saya harus begini tersebut, atau bagaimana? Setiap malam saya mengalami kesulitan tidur karena overthinking atas masa depan.

Sesungguhnya saya amat bersyukur atas nikmat pekerjaan yang saya dapat. Tapi saya yakin, bahwa Tuhan lebih menyukai hamba-Nya yang mau berusaha untuk memperbaiki diri. Benar sekali, usaha harus disertai dengan doa karena hanya Tuhan yang mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Sampai saat ini saya yakin, bahwa penolakan dari atasan bukan berarti Tuhan tidak meridhai kita atas jalan ini tapi menguji seberapa kuat usaha kita karena masih ada jalan lain yang bisa ditempuh.

Beberapa pesan yang ingin saya sampaikan pada cerita saya ini, yaitu:

  1. Jangan pernah menyerah untuk menggapai sesuatu. Langkah terbaik yang dipilih adalah pilihan kamu sendiri. Namun, jangan lupa berdoa karena Tuhan akan mengarahkanmu ke jalan yang terbaik.
  2. Jangan pernah meremahkan masalah psikologis karena itu kan berpengaruh terhadap fisik. Konsultasikan kepada psikolog atau orang yang bijak agar kamu lebih nyaman, tenteram, dan damai.
  3. Berempatilah. Jika kamu melihat temanmu atau kerabatmu mengalami masalah mental sekecil apapun, tolong berempatilah. Karena seringan apapun masalahnya menurutmu, bisa jadi itu hal yang berat bagi dia. Hargailah karena setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam mengahadapi masalah.

Terbebas dari Toxic Masculinity

 


Mengutip dari halaman popmama.com, toxic masculinity merupakan stereotype yang disandangkan pada seorang laki-laki bahwa seorang laki-laki itu harus tangguh, anti terhadap feminim, dan berkuasa. Tangguh artinya bahwa seorang laki-laki harus kuat secara fisik dan mental, serta tidak boleh menunjukan emosi cengeng. Anti terhadap feminim artinya bahwa seorang laki-laki tidak boleh menunjukan sisi feminim seperti manja dan menangis. Berkuasa artinya bahwa seorang laki-laki harus mempunyai kekuasaan dan terpandang.

Stereotype tersebut juga mengakar di kebudayaan Indonesia. Bagi anak laki-laki tentunya pernah mendengar nasihat orang tua bahwa kita tidak boleh cengeng, harus kuat, dan harus bisa melakukan berbagai aktivitas yang umumnya dilakukan oleh lelaki. Tentunya hal ini menjadi tekanan tersendiri dan menjadi racun bagi perkembangan pribadi seorang anak laki-laki.

Hal ini juga tentu saya rasakan sendiri saat masih anak-anak. Berada dalam lingkungan yang mengharuskan seorang anak laki-laki pandai berolahraga sedangkan fisik saya pada saat itu lebih kecil dibandingkan teman-teman sebaya, membuat saya terlihat lebih lemah. Di saat anak-anak yang lain bisa melakukan passing saat bermain voli dan shooting saat bermain basket, saya tidak bisa melakukan kedua hal tersebut. Alhasil, bukannya dibantu untuk belajar atau diberikan semangat, hanya cemooh yang saya dapat. Pastinya, saya disetarakan seperti anak perempuan yang dalam budaya kita dianggap lemah.

Perlu dipahami kembali bahwa laki-laki maupun perempuan adalah manusia. Hal yang membedakan adalah alat kelamin yang fungsinya saling melengkapi untuk berkembang biak. Memang secara bentuk fisik dan sifat ada ciri-ciri yang membedakan. Namun, keduanya tetap manusia yang berhak menjadi apapun sesuai dengan cita-citanya, meluapkan perasaan dengan cara menangis, dan bahagia dengan cara yang disukai. Tidak ada aturan bahwa laki-laki harus seperti ini dan perempuan harus seperti itu. Keduanya sama saja, punya hak dan kewajiban.

Jujur, saya tidak pernah memasang regulator yang menghubungkan tabung gas LPG ke kompor. Selama saya hidup bersama kedua orang tua, ibu saya tidak pernah mengajarkan cara memasang regulator. Ketika saya hidup sendiri, saya bercerita pada ibu saya melalui telepon. Sangat disayangkan ketika ibu mengatakan, "masa laki-laki enggak bisa masang gas?". Pelan-pelan saya nasihati ibu untuk tidak lagi mengatakan hal tersebut. Saya mengatakan bahwa ibu tidak pernah mengajari saya untuk memasang regulator sehingga sangat wajar jika saya takut terjadi apa-apa bila mengalami kesalahan dalam memasang regulator. Kemudian saya mengatakan pula bahwa tidak semua laki-laki itu adalah tukang gas, jadi tidak ada kewajiban manusia berjenis kelamin laki-laki harus bisa memasang regulator gas. Tidak hanya itu, saya pun menambahkan bahwa ibu berhak mengatakan hal tersebut jika ibu pernah mengajarkan saya bagaimana memasang regulator gas dan antisipasi jika terjadi permasalahan. Ibu pun diam beberapa saat, hingga akhirnya meyakinkan saya untuk belajar dan tidak perlu takut untuk memasang regulator gas karena cukup mudah untuk dilakukan.

Hal yang paling tidak dapat saya tahan adalah menangis. Saya menangis jika sedang mengalami kelelahan dan kekesalan karena aktivitas tertentu yang saya lakukan sendiri. Di tempat saya bekerja, saya punya rekan kerja paling mengerti dan koperatif. Beliau adalah seorang wanita yang usianya di atas saya. Saya sudah berkali-kali bercerita sambil berlinang air mata. Beliau paham bahwa saya sedang berada di puncak kelelahan dan kekesalan atas suatu pekerjaan. Sesekali saya mengucapkan maaf karena bercerita sampai menangis. Namun, beliau mengatakan bahwa setiap manusia berhak menangis untuk meluapkan emosi dan itu sangat lumrah. Setelah menangis maka akan terasa jauh lebih lega.

Tentunya, toxic masculinity ini bisa dipatahkan asal kita berani. Di usia dewasa ini, saya jauh lebih berani karena saya lebih didengar dan saya dapat menentukan apa yang ingin saya lakukan. Dengan kata lain, toxic masculinity dapat dipatahkan asalkan kita berani untuk mematahkannya.



Mengalami Gangguan Telinga, Segera Ke Dokter THT



Rasa gatal pada rongga telinga tentunya sangat mengganggu aktivitas. Apalagi jika memiliki karakter telinga yang mudah gatal dan mudah kotor, mengorek adalah hasrat yang sangat sulit dihindari. Mulai dari sekarang saya harap hentikan perilaku mengorek rongga telinga terlalu sering, apalagi jika terlalu dalam. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ini adalah pengalaman saya ketika mengalami rasa gatal di rongga telinga kiri. Secara refleks, menggaruk menggunakan kuku kelingking yang kebetulan panjang. Karena sadar bahwa kuku adalah bagian tubuh yang kotor, saya pun meneteskan obat tetes telinga yang dijual di pasaran sebagai antiseptik sekaligus pengencer kotoran telinga yang kering. Namun kali ini hal yang tidak diinginkan terjadi, keesokan harinya setelah bangun tidur, rongga telinga saya terasa bengkak dan sakit. Rasa sakit semakin hebat bila tersentuh secara fisik, contohnya ketika memakai helm, saat helm menekan daun telinga. Rasa sakit di telinga juga memengaruhi mood sehingga saya jauh lebih emosian pada saat itu.

Langkah cepat yang saya ambil adalah konsultasi dengan dokter secara online dengan menggunakan aplikasi Alodokter. Diagnosa dokter adalah kemungkinan saya mengalami radang telinga tengah (otitis media) atau radang telinga luar (otitis eksterna). Saya pun diberi resep obat yang terdiri dari obat tetes telinga, obat penahan rasa sakit, dan antibiotik yang dikonsumsi sehari sekali selama 10 hari. Saya pun harus menghentikan penggunaan obat tetes telinga yang dijual di pasaran.

Setelah mengkonsumsi obat selama 10 hari, rasa sakit sudah hilang. Namun digantikan rasa gatal yang luar biasa di bagian dalam. Tentu saja, pada bagian tersebut tidak dapat dikorek. Namun karena obat tetes telinga yang diresepkan dokter habis karena tumpah, akhirnya saya meneteskan obat tetes yang dijual di pasaran kembali. Malangnya, obat tetes tersebut yang seharusnya keluar kembali dari telinga, ini malah menyumbat rongga telinga dan membuat pendengaran berkurang. Hal ini membuat saya hanya mengandalkan telinga kanan untuk mendengar.

Saya merasa hal ini sudah sangat parah. Saya harus pergi langsung ke dokter THT untuk ditindak. Melalui aplikasi Alodokter, saya membuat janji dengan dokter THT di Rumah Sakit Gandaria Jakarta Selatan. Meskipun jauh dari tempat tinggal dan tempat kerja, saya memilih jadwal yang sesuai setelah saya pulang kerja.

Ketika diperiksa oleh dokter THT, ternyata ada cairan yang menyumbat telinga saya. Dokter pun tahu jika telinga saya sering dikorek. Cairan yang menyumbat tersebut disedot untuk dibersihkan. Dokter juga menyatakan bahwa ada sedikit jamur dan tidak boleh dikorek-korek lagi. Setelah dilakukan tindakan saya diresepkan obat untuk dikonsumsi sampai habis, yaitu obat tetes telinga berbahan asam cuka 2%, antibiotik, dan anti-alergi.

Saat ini, saya sudah tidak berani mengorek telinga setiap hari. Apabila gatal sebaiknya ditahan saja. Penggunaan cotton buds pun hanya di bagian terluar telinga, itu pun tidak boleh sering. Penggunaan obat tetes telinga yang dijual di pasaran pun sudah saya hentikan untuk telinga kanan yang baik-baik saja. Hal ini mungkin karena teksturnya yang kental membuatnya mudah terjebak di dalam rongga telinga, khususnya terjadi pada telingga yang sedang sakit.

Mengingat telinga merupakan organ vital bagi tubuh manusia, jika terjadi gangguan sebaiknya konsultasikan dengan dokter yang paham. Perkembangan teknologi membuat kemudahan untuk berkonsultasi dengan dokter. Maka dari itu, manfaatkan teknologi untuk berkonsultasi dengan ahlinya.

My Skincare Routine





Setiap orang memiliki kondisi kulit wajah yang berbeda-beda, tentunya dengan masalah yang berbeda pula. Beragam produk perawatan wajah yang dijual di pasaran dari yang murah hingga harga selangit, menjadi pilihan bagi konsumen. Harga memang menentukan kualitas tapi kadang harga tidak menentukan kecocokannya.

Memilih produk skincare memang tidak semudah memilih baju di toko. Coba-coba produk skincare tentunya sangat berisiko. Untungnya, saat ini kita berada pada era digital dengan kemudahan mengakses informasi. Review produk skincare dapat diakses dengan mudah, namun paling aman adalah pergi ke dokter kulit yang saat ini pun klinik-klinik kecantikan menjamur di berbagai daerah.

Saya mulai intens menggunakan skincare itu sejak kuliah. Pada saat itu merupakan tahun keempat saya berjerawat. Mungkin itu yang dinamakan jerawat masa puber. Sejak kuliah, saya hanya menggunakan sabun cuci muka Gatsby. Kemudian, wajah saya berangsur membaik, namun bekas jerawat masih memenuhi wajah saya. Katanya, air dan hawa panas Jogja memberikan efek positif bagi kulit saya, tapi karena saking panasnya kulit wajah saya menjadi kering dan perih. Semenjak itulah, saya lebih peduli terhadap kulit saya. Menambahkan pelembab dan whitening Ponds setelah mencuci muka dan menggunakan handbody Vaseline pada tangan dan kaki. Alhamdulillah, bekas jerawat menghilang dan kulit pun menjadi lebih lembab dan sehat.

Konsistensi tersebut akhirnya terkhianati ketika memasuki masa penulisan skripsi. Pola hidup yang kurang terjaga membuat saya berjerawat kembali. Produk yang saya gunakan selama 4 tahun tidak memberikan efek apa-apa. Akhirnya saya memberanikan diri untuk pergi ke Larissa, salah satu klinik kecantikan yang populer di Jogja. Pada treatment pertama saya, saya sungguh sangat puas. Seminggu setelah saya treatment kondisi kulit saya membaik, tidak ada jerawat dan flek hitam memudar walau tanpa produk seperti day cream dan night cream. Saya kembali konsisten dengan Gatsby, namun tidak dengan Ponds karena agak malas menggunakan krim.

Dua tahun kemudian, konsistensi tersebut terkhianati kembali. Saya mengalami stres yang berujung jerawatan. Berbagai produk saya coba mulai dari Acne, Ponds, Safi, Nivea, Senka, Hadalabo, Illuminare, dan lainnya tidak ada yang memberikan efek kesembuhan. Termasuk setelah saya kembali mencoba treatment di Larissa dan membeli produknya, tidak ada perubahan sama sekali. Akhirnya setelah produk-produk skincare itu habis, saya ke Alfamidi dan membeli Garnier Acno Fight sebagai sabun muka saya. Ajaibnya, jerawat-jerawat yang bersarang di wajah mulai jinak hingga akhirnya saya sembuh. Walaupun begitu jerawat baru seringkali tumbuh lebih cepat dibandingkan penyembuhannya. Hal ini dikarenakan muka saya mudah berkomedo yang kemudian menjadi jerawat.

Pada saat itu, saya merasa scrub pada produk Garnier Acne Fight itu cukup banyak. Namun belakangan terkahir ini saya merasa scrub-nya berkurang dan membuat saya lebih mudah berkomedo. Saya berpikir bahwa kulit saya harus 'dikasari' agar benar-benar bersih. Tergoda dengan Suhay Salim yang menggunkan Foreo, tapi setelah tahu harganya tentu saya urungkan. Untungnya saat saya jalan-jalan ke Miniso, saya melihat silicone brush untuk wajah yang harganya jauh, jauh, jauh lebih murah dibandingkan dengan Foreo. Saya langsung beli dan saya pakai. Produk tersebut sungguh memberikan dampak positif bagi wajah saya.

Untuk menghilangkan bekas jerawat yang membandel, akhirnya saya memperdalam produk Garnier. Selain menggunakan facial wash, saya pun menggunakan serum, krim siang, dan krim malam Garnier Vitamin C Yuzu. Alhamdulillah setelah pemakaian rutin dan tentunya tanpa stres memikirkan memikirkan jerawat, semua bekas jerawat saya hilang tanpa jejak. Namun, memang terkadang ada beberapa masalah karena wajah saya mudah berkomedo jika terkena SPF. Untungnya tidak menyebabkan radang yang berujung jerawat. Selain itu, dua bulan sekali juga saya melakukan facial di Larissa untuk membuang komedo-komedo jahat di wajah.

Ada beberapa teman yang melihat bahwa wajah saya bersih dan cukup glowing, serta menanyakan rahasia dari itu semua. Tentu saja saya memberikan semua informasi mengenai produk yang saya gunakan. Namun, saya pun mengingatkan bahwa produk skincare itu cocok-cocokan. Setiap orang punya tipe kulit yang berbeda dan kecocokan dengan bahan tertentu pada kulit wajahnya.

Bali Di Masa Pandemi Covid-19



Dikunjungan aku ke Bali yang kedua di masa pandemi Covid-19 ini, kondisi Bali khususnya wilayah Badung masih sepi. Tentunya terdapat perubahan pada saat November 2020 dan April 2021 ini. Tempat makan dan toko sudah mulai buka walau tak seramai hari biasanya. Hal tersebut dituturkan sekaligus dikeluhkan oleh driver yang aku pesan lewat aplikasi untuk mengantarkan aku ke beberapa lokasi di Bali.

Pandemi Covid-19 ini tentunya memang jadi guncangan terdahsyat bagi Bali yang sangat mengandalkan sektor pariwisata. Sektor pariwisata dan sektor lainnya yang berhubungan erat dengan pariwisata benar-benar lumpuh total selama satu tahun ini. Hal ini dikarenakan pembatasan aktivitas dan perjalanan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tentunya, Bali pernah mengalami guncangan juga, bom Bali dan erupsi Gunung Agung, namun sektor pariwisata dapat segera pulih.

Guncangan Covid-19 menjadi momen untuk berbenah bagi Bali. Pemerintah pusat maupun daerah berupaya semaksimalkan mungkin untuk pemulihan ekonomi Bali. Dua sektor yang diupayakan untuk bangkit adalah prtanian dan UMKM. Namun, pertumbuhan kedua sektor tersebut tak mampu mengungkit perekonomian Bali. Pertumbuhan sektor pertanian tentunya tidak sekencang sektor pariwisata, begitu pula dengan UMKM yang sangat terkait dengan sektor pariwisata.

Tapi secercah harapan masih ada pada sektor UMKM. Perkembangan teknologi digital tentunya memberikan kemudahan di sisi promosi dan transaksi pembayaran. Ekosistem ekonomi digital inilah yang dikembangkan agar sektor UMKM tetap hidup. Satu hal lagi yang penting adalah dari pemodalan. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan subsidi bunga pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan mengeluarkan produk KUR Super Mikro yang jumlah plafond-nya tidak dibatasi. KUR Super Mikro ini diprioritaskan untuk ibu rumah tangga, karyawan yang terkena PHK, dan karyawan yang bekerja di sektor pariwisata.

Bagi pelaku usaha formal tentunya terdapat insentif perpajakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Tentunya ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha dengan adanya relaksasi perpajakan. DJP Kantor Wilayah Bali telah melakukan sosialisasi pada berbagai media mengenai insentif perpajakan tersebut.

Upaya vaksinasi juga menjadi prioritas di Bali agar pariwisata bisa cepat pulih kembali. Aku pribadi sangat berharap Bali, Indonesia, bahkan seluruh dunia bisa kembali pulih atas pandemi ini. Pandemi Covid-19 ini menjadi pelajaran yang besar bagi kita semua.

Ide Kinyis untuk Rumah Minimalis

 


Bagi kalian yang memiliki budget pas-pasan tentunya akan berpikir dua kali untuk menghias rumah dengan gaya-gaya yang sedang trendy saat ini. Selain alat dan bahan, tentunya ada biaya jasa yang perlu dikeluarkan. Namun, bukan mustahil apabila kita dapat menghias rumah  dengan tangan kita sendiri. Istilah kerennya saat ini adalah DIY yang merupakan kepanjangan dari do it yourself. Tentunya kita dapat menghias rumah dengan tangan kita sendiri.

Salah satu keuntungan memiliki rumah yang kecil adalah tidak perlu banya membeli furnitur. Alasan utamanya keterbatasan ruang. Untuk ruang tamu, kita dapat menggunakan konsep lesehan. Cukup dengan karpet lebar yang menutupi seluruh ruang tamu, kita dapat berkumpul dengan keluarga dengan nilai tradisionalitas yang tinggi. Apabila di ruang tamu ada TV, maka gunakanlah TV layar datar yang ditempel di dinding dengan ketinggian yang sesuai dengan konsep lesehan. Bisa ditambahkan ambalan berbentuk kotak yang disimpan di lantai. Ambalan tersebut dapat menjadi media untuk menyimpan hiasan ataupun barang-barang terkait dengan TV.

Jika rumah tidak memiliki balkon untuk menjemur pakaian, manfaatkanlah jendela di ruang tamu. Gunakanlah jemuran lipat yang ditempel di dinding. Apabila jemuran tidak digunakan, maka dapat dilipat sehingga tidak mengganggu pemandangan apabila ada tamu.

Biasanya, lantai kamar mandi bawaan merupakan lantai dengan kualitas yang standar tidak ada serat-serat agar tidak licin. Jika mengganti keramik menjadi cara yang mahal, maka dapat diganti dengan menggunakan karpet anti-slip. Pilihlah beberapa lebih dari satu warna dan susunlah sesuai selera.

Beberapa furnitur di kamar mandi adalah cermin dan rak alat mandi. Pilihlah yang unik sesuai dengan selera dan konsep kamar mandi. Jangan lupa letakkan tanaman artifisial di dekat kloset agar terkesan sejuk dan natural.

Wall sticker dan wall panel sticker 3D adalah solusi untuk kalian yang malas mengecat. Dalam memiih stiker, tentunya harus disesuaikan dengan warna cat yang sudah ada. Pilihlah stiker yang cocok dengan warna cat bawaan dan sesuaikan dengan tema yang kalian pilih.

Tentunya tidak sulit untuk menghias rumah dengan menggunakan tangan sendiri. Masih banyak ide kinyis buat rumah minimalis yang dapat diterapkan. Apalagi sekarang banyak toko online yang menjual berbagai perlengkapan rumah unik sebagai pilihan kita dalam menghias rumah. Jadi let's do it yourself.

Cidera Kelingking yang Berkepanjangan

Hal-hal yang tidak diinginkan mungkin saja bisa terjadi kapanpun. Bahkan bagi orang yang aktivitasnya bersifat rutin. Dan inilah kejadian ya...