This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sampai Jumpa 2020



Beratnya kehidupan di tahun 2020 memang dirasakan oleh seluruh manusia di belahan bumi manapun, termasuk saya pribadi. Di hari terakhir 2020 memang waktu yang tepat bagi saya sedikit melihat ke belakang, melihat dari awal hingga akhir tahun 2020 yang penuh dengan tantangan dan rintangan. Walaupun berat, tapi banyak pelajaran dan hikmah yang dapat diambil selama satu tahun ke belakang tersebut.

Keputusan untuk menyewa sebuah rumah di kawasan Matraman selama satu tahun menjadi keputusan yang saya sesali. Harapan awal dengan menyewa sebuah rumah akan membuat produktivitas, kenyamanan, dan keamanan saya menjadi lebih baik ternyata semua itu itu terjadi. Rasa ingin kembali menyewa sebuah kamar kos muncul dalam diri, namun hal tersebut tidak dapat mudah dilakukan karena sudah terlanjur menyewa rumah selama satu tahun. Hal tersebut terjadi karena bertemu dengan Ketua RT yang sombong dan mata duitan, pemilik kontrakan yang selalu menjual kesedihan untuk meminta berbagai hal, serta kondisi rumah yang panas dan airnya kotor. Ketidakbetahan muncul seketika di awal-awal bulan saat menempati rumah tersebut.

Beban pekerjaan pun terus menghimpit membuat saya cukup tertekan dan selalu mengeluh. Pasalnya, sebagai seorang staf seharusnya saya masih dalam bimbingan atasan langsung. Namun di beberapa kegiatan penting, atasan saya langsung tersebut menghilang dengan berbagai alasan. Hal tersebut membuat beban pekerjaan saya semakin besar. Keluh kesah selalu muncul sebagai dampak tekanan pekerjaan yang berlebih.

Dibalik itu semua, alhamdulillah, Covid-19 tidak memengaruhi pendapatan saya. Alhasil saya masih dapat hidup berkecukupan tanpa takut kekurangan. Tempat tinggal pun sudah dibayar selama satu tahun penuh sehingga tidak takut diusir karena kesulitan untuk membayar. Selain itu pula, gaya hidup yang sederhana membuat saya bisa menabung dan diberi kesempatan untuk membeli rumah walaupun dengan sistem kredit.

Tahun 2020 merupakan tahun ujian. Tekanan, kesabaran, kebahagiaan, dan keputusan menjadi hal-hal yang diuji. Hingga akhir tahun ini, saya belum merasa lulus tapi saya bisa melaluinya. Saya merasa lebih bijak dalam menghadapi berbagai perbedaan, lebih tenang dalam menghadapi tekanan, dan berpikir jernih dalam mengambil keputusan.

Besok, tahun 2021 kita tahu apakah pandemi ini masih terjadi atau tidak. Setidaknya dengan telah melewati 2020, kita jauh lebih siap dalam menghadapi kejadian berat di hari-hari berikutnya. Tentunya harapan agar 2021 menjadi tahun yang lebih baik, sangat diharapkan semua orang. Mari kita belajar dari tahun sebelunya dan menyongsong untuk tahun berikutnya.

Selamat tahun baru 2021.

Tahapan Kredit Rumah Milenial


Membeli rumah buat kaum milenial saat ini memang bukan perkara mudah, apalagi buat para perantau yang bekerja di ibu kota. Bisa dibilang mustahil bisa membeli rumah sendiri. Saya tekankan kembali bahwa keputusan membeli properti bagi kaum pas-pasan memang butuh keyakinan yang kuat. Mengingat bahwa rumah merupakan aset yang tingkat likuiditasnya rendah, tidak bergerak, dan butuh komitmen jangka panjang. Namun, jika kita sudah yakin maka bayangan kesulitan-kesulitan tersebut akan dapat dihempas.

Berdasarkan pengalaman saya yang merupakan newbie dalam hal pembelian rumah secara kredit, saya akan sedikit sharing mengenai tahapan-tahapan kredit rumah bagi milenial.

1. Tentukan RUMAH

Di tahap pertama inilah keyakinan mulai diuji, yaitu yakin dengan rumah yang akan kita pilih. Sudah pasti dalam menentukan rumah harus mempertimbangkan lokasi, harga, dan pendapatan pastinya. 

2. Lakukan SURVEI

Tentunya dalam menambah keyakinan dalam memilih rumah maka perlu dilakukan survei. Survei ini dilakukan untuk melihat kondisi lingkungan, fasilitas, dan keamanan di rumah yang kita pilih tersebut. Selain itu, survei juga dilakukan untuk berkonsultasi dengan pihak marketing mengenai fasilitas pembiayaan apa yang dipilih sesuai dengan kemampuan finansial. Jika mampu dengan fasilitas kredit maka pilihkan KPR atau KPA.

3. Tentukan DP dan Bayar Uang Tanda Jadi (UTJ)

Setelah yakin dengan unit rumah yang akan kita pilih tentunya kita harus menentukan besar downpayment (DP) sesuai budget dan kemampuan. DP minimal sebesar 5% dari harga jual, namun bisa fleksibel sesuai dengan negosiasi dengan pihak pengembang. DP juga menentukan besaran cicilan yang akan dibayar setiap bulannya. Setelah keputusan mengenai besar DP dan cicilan ditetapkan, maka diwajibkan untuk membayar booking fee atau UTJ kepada pengembang. Hal tersebut dimaksudkan agar unit yang kita pilih tidak akan ditawar-tawarkan kembali ke calon konsumen lain. Tahapan ini uang yang kita keluarkan hanya untuk UTJ saja.

Setelah itu, kita dipersilahkan untuk menyiapkan dokumen-dokumen untuk akad kredit, seperti kartu identitas, kartu keluarga, slip gaji dan penghasilan, surat keterangan bekerja, dan bukti setoran pajak tahunan. Setelah dokumen-dokumen tersebut dikumpulkan kepada bank yang menyediakan fasilitas kredit, kita tinggal menunggu verifikasi dan cek SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) hingga pengajuan kredit kita disetujui oleh bank.

4. AKAD KREDIT

Ketika kita dipanggil oleh bank untuk melakukan akad kredit, artinya pengajuan kredit kita disetujui oleh bank. Pada saat akad kredit berlangsung, pihak bank menjelaskan besaran plafon pinjaman, bunga, dan sistem pembayaran kreditnya. Jika kita paham dan setuju, maka kita dipersilahkan untuk memaraf dan menandatangani dokumen yang sudah disiapkan oleh bank.

Perlu diperhatikan juga bahwa selama akad kredit kita tidak hanya tandatangan saja. Sebelumnya bank telah menginformasikan bahwa kita harus menyediakan biaya akad kredit yang besarnya sekitar 10 juta (bisa ditanyakan kembali ke bank penyedia kredit). Biaya akad kredit terdiri dari, biaya notaris bank, provisi, appraisal, asuransi, dan lainya.

5. Bayar DP dan Notaris

Setelah akad kredit, tentunya kita harus melunasi DP yang belum sempat terbayar. UTJ yang telah dibayarkan sebelumnya menjadi sebagian DP sehingga kita tinggal melunasi kekurangan DP yang disepakati. Jangan lupa, ada biaya notaris yang perlu kita bayar untuk kesepakatan antara penjual (pengembang) dan pembeli.

6. Serah Terima Kunci

Akhirnya, setelah biaya-biaya yang tidak kecil tersebut dibayarkan, maka saatnya serah terima kunci dari pengembang kepada kita selaku konsumen. Jangan lupa setelah serah terima kunci, perlu dicek juga unit rumah yang kita pilih. Jika ada kekurangan maka kita bisa klaim kepada pengembang untuk bisa diperbaiki.

7. Renovasi jika Diperlukan

Renovasi merupakan pilihan opsional. Tapi biasaya jika kita membeli unit rumah murah, tidak bisa tinggal bawa koper terus bobo. Perlu dilakukan beberapa renovasi yang tidak termasuk klaim kepada pengembang, seperti memmperdalam sumur air tanah, ganti keramik, cat dinding, pasang AC, dan lain sebagainya. Renovasi pun tidak bisa dibilang mengeluarkan biaya yang sedikit, setidaknya perlu disiapkan budget untuk renovasi.

Dan, inilah penutup dari tulisan ini. Kalian sudah punya rumah dan bisa ditinggali. Namun jangan lupa, jika kalian yang kredit tentunya masih ada komitmen untuk membayar cicilan sampai lunas. Tentunya perbankan tidak mempersulit kok jika kita punya rejeki berlimpah dan ingin melunasinya sebelum cicilan berakhir, itu sangat bisa.

Akhir kata, setiap keyakinan pasti ada jalan. Tidak mustahil buat kalian milenial dengan gaji pas-pasan bisa punya rumah sendiri. Saat ini perbankan telah memberikan berbagai kemudahan dengan memberikan kredit rumah sesuai dengan kemampuan milenial. Dan sekali lagi, keputusan untuk membeli rumah itu bukan perkara mudah. Konsultasikanlah kepada orang-orang berpengalaman agar keputusan dan keyakinan kita semakin matang.

Grasak- grusuk Beli Rumah




Bisa dibilang tulisan ini merupakan lanjutan dari series tentang kegalauan punya hunian yang telah berlangsung sejak tahun 2019 yang lalu. Secara singkat, pada tahun 2019 yang lalu ketika saya sudah dipastikan bekerja dan menetap di Jakarta, ada suatu keinginan untuk memiliki sebuah tempat hunian (Baca: Pilah-pilih Hunian di Jabodetabek). Keinginan tersebut sempat memudar karena ada wacana bahwa ibu kota akan pindah. Namun ketika saya memutuskan untuk menyewa sebuah rumah, terjadilah sebuah intrik yang membuat keinginan untuk mempunyai hunian sendiri mencuat kembali (Baca: Curhatan Rumah Sewa dan Hasrat Ingin Memberli Rumah; Ketidakberesan Sang Pemilik Kontrakan). 

Keruwetan-kurewetan tersebut semakin bertambah ketika mengalami permasalahan dengan teman satu kontrakan sehingga rasa ingin segera pergi sangat berkobar. Tentunya, Tuhan memberikan hidayah melalui ide untuk menyewa sebuah unit apartemen. Namun ide tersebut kemudian terus berkembang, hingga akhirnya saya memutuskan dengan mantap untuk membeli sebuah unit apartemen murah di wilayah Jakarta Utara.

Keyakinan untuk membeli sebuah unit apartemen tentunya bukan perkara mudah. Sehubungan saya bukan dari keluarga yang mempunyai harta yang tak habis dalam tujuh turunan, tentunya skema pembiayaan yang bisa saya lakukan adalah dengan mencicil alias Kredit Pemilikan Apartemen (KPA). Kemampuan finansial saya menjadi tolak ukur perdana, seberapa lama saya mampu mencicil. Saya pun telah menonton berbagai reviu terkait KPA, khususnya pengalaman orang-orang. KPA atau KPR merupakan komitmen jangka panjang, selain itu apartemen atau rumah merupakan aset yang tidak bergerak. Artinya selain kemampuan finansial, lokasi juga sangat menentukan agar komitmen jangka panjang tersebut dapat dijalankan dengan asyik tanpa ada rasa menyesal.

Setelah berkonsultasi dengan orang yang berpengalaman, khususnya orang tua sendiri, maka mantaplah saya berhutang pada bank selama 20 tahun untuk memiliki sebuah unit apartemen. Berhubung saya masih single, tentunya seluruh keputusan saya ambil sendiri dengan tujuan untuk kehidupan saya yang lebih baik. Ini merupakan pengalaman pertama saya dalam berkomitmen kepada bank dengan nilai pinjaman yang sangat besar. Alhamdulillah, seluruh proses akad kredit dan hal yang berhubungan dengan kenotariatan berjalan dengan lancar. Sebelumnya, saya cukup pusing juga karena harus menguras tabungan walaupun saya sudah mengambil nilai down payment terendah, yaitu 5% tetapi biaya akad dan lain-lain membuat saya sesak nafas. Intinya, memang segala biaya harus disiapkan dan jangan terkejut jika biaya tersebut membuat dompet Anda langsung kering-kerontang.

Setelah serah terima kunci, unit tersebut tidak dapat langsung dihuni. Namanya juga rumah murah, tentu harus direnovasi terlebih dahulu. Ini bukan apartemen premium yang tinggal bawa koper langsung huni. Tentu saja, saya harus menyiapkan budget lagi untuk merenovasi unit apartemen tersebut. Awalnya, saya memutuskan untuk melakukan renovasi dengan budget super minim. Namun terjadilah drama antara saya dengan papa. Papa mempunyai saran dan keinginan yang luar biasa baik demi kelayakan hidup anaknya yang akan tinggal di unit apartemen tersebut. Tapi tentuya, saran tersebut tidak dapat saya penuhi karena hal tersebut akan menyebabkan over-budget dari apa yang saya rencanakan. Namun setelah berpikir cukup panjang, akhirnya saya mencari alternatif pembiayaan lain dan berusaha memenuhi saran dari papa sebisanya.

Berhubung saya bukan orang Jakarta, tentunya saya harus berusaha sendiri dalam melakukan renovasi. Mulai dari mencari tukang hingga material yang dibutuhkan. Untungnya saya hidup bukan di zaman batu, tapi di zaman yang mana akses internet menjadi prioritas kehidupan. Seluruh kebutuhan renovasi, saya pesan secara online. Untungnya sampai saat ini, semuanya berjalan dengan lancar. Meskipun saya sangat merasa letih, apalagi harus disambi dengan bekerja. Namun, untungnya lagi ada libur panjang yang membuat saya bisa fokus dengan masalah renovasi ini.

Hingga saat ini renovasi masih berjalan dan telah berprogres hingga 50%. Jika semuanya telah selesai, saya akan bagikan video room tour unit saya. Semoga bisa membantu teman-teman yang punya budget pas-pasan dalam melakukan renovasi.

Mama Muda Dalam Birokrat

 

Penting dipahami bahwa saya tidak pernah membedakan gender dalam urusan pekerjaan. Setiap orang punya kesempatan untuk maju dan menjadi pemimpin. Begitu pula menjadi seorang pemalas. Tidak ada istilah yang cocok jadi pemimpin adalah laki-laki dan yang teliti adalah perempuan. Tidak ada istilah bahwa laki-laki jauh lebih malas dibanding perempuan. Tidak ada batasan gender dalam sifat manusia. Tulisan ini merupakan sebuah celotehan saya dengan tujuan untuk lebih memahami peranan wanita dalam dunia pekerjaan, khususnya di lingkungan birokrat. Saran dan kritik sangat terbuka untuk tulisan ini.

 

Apakah kalian pernah membaca buku Jurnal Ph.D. Mama karya Kanti Pertiwi, dkk? Dalam buku tersebut bercerita tentang berbagai kisah inspiratif yang datang dari para mama muda yang berjuang untuk sekolah di tengah keterbatasan waktu karena harus mengurus keluarga. Meskipun kisah-kisah tersebut merupakan perjuangan para mama, tapi saya yang seorang laki-laki pun merasakan dampak positif dari berbagai cerita perjuangan para mama muda tersebut. Saya sebut mama muda karena jiwa mereka masih sangat muda dan memiliki cita-cita yang luar biasa, namun mereka juga punya tanggung jawab sebagai ibu dalam keluarga. Apalagi jika anaknya masih kecil, cara berbagi waktu menjadi kemampuan terhebat bagaimana membagi antara menggapai cita-cita dan mengurus keluarga karena keduanya sama-sama penting.

 

Menjadi pegawai di lingkungan birokrat adalah keinginan bagi kebanyakan orang. Tak perlu disebutkan 'keenakan-keenakan negatif' yang banyak disukai orang-orang dan mungkin itu adalah alasan mengapa menjadi pegawai birokrasi banyak diinginkan. Dalam lima tahun terakhir ini, saya merasa rekruitmen pegawai pemerintah mulai membaik. Tesnya yang semakin sulit, akses 'orang dalam' pun cenderung nol. Seharusnya kualitas pegawai pemerintahan saat ini dapat diberi grade A karena berasal dari orang-orang terpilih, lulusan terbaik, bahkan dari kampus terbaik. Batas usia yang dibatasi dalam pendaftaran pun seharusnya akan menghasilkan pegawai birokrasi muda, fresh, dan memiliki semangat pemuda harapan bangsa yang ingin memajukan negeri.

 

Sewajarnya, setelah diterima sebagai pegawai birokrat tidak mengubah cara kerja, pun ketika memutuskan untuk berkeluarga. Menjadi seorang pegawai birokrasi bukan berarti suatu privilage bisa mengurus keluarga jauh lebih baik dibandingkan sebagai karyawan. Seharusnya baik pegawai birokrasi maupun karyawan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap tempat kerjanya. Bukan berarti harus mementingkan tempat kerja, tapi seyogyanya menyeimbangkan antara kehidupan pekerjaan dan keluarga karena kita bekerja untuk keluarga bukan? Sebagai pegawai pun kita diberikan hak yang cukup dengan diberikannya hari libur di akhir pekan dan cuti, termasuk cuti melahirkan bagi para ibu. Saya melihat bahwa cuti khusus bagi wanita bukan merupakan kompensasi tapi itu adalah hak asasi manusia. Jadi memang wajar.

 

Cukup dilematis juga bagi para mama muda yang memiliki bayi saat cuti melahirkannya sudah habis. Bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus anak. Melihat cerita-cerita dalam buku Jurnal Ph.D Mama, saya melihat bahwa para mama muda bisa melakukannya, bagaimana membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus bayi yang memang tidak dapat jauh dari ibunya. Tidak hanya itu, saya pun melihat pengalaman dari beberapa rekan kerja yang mampu membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga, terkhusus saat anak-anaknya masih kecil.

 

Namun, memang ada saja yang memanfaatkan menjadi pegawai birokrasi sebagai cara untuk dapat menafaatkan waktu bersama keluarga. Ketika dia bersumpah menjadi pegawai birokrasi sepenuhnya dia mengabdi pada negeri, memang tidak dapat diartikan 100% waktu untuk negara tetapi setidaknya dapat membagi secara adil waktu untuk bekerja dan waktu untuk keluarga. Banyak kasus terjadi terkhusus bagi para mama yang memanfaatkan waktu untuk keluarga di jam kantor. Memang mengurus keluarga itu adalah hal yang baik dan positif, namun ingatkah ketika menerima pekerjaan tersebut ada kontrak yang terikat? Apalagi jika telah memegang suatu jabatan, namun saat dibutuhkan sangat sulit dihubungi, apakah itu termasuk dlaam moral hazard?

 

Banyak orang ingin memperoleh pekerjaan untuk memperbaiki kualitas hidup dan keluarganya. Terdapat kontrak antara pekerja dan pemberi kerja, dengan kata lain penerima kerja diberikan amanat untuk melaksanakan tugasnya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Pemberi kerja pun akan memberikan hak-hak pada pekerja yang manusiawi. Jika pekerjaanmu ringan sehingga memiliki waktu luang di jam kantor bukan berarti dapat memanfaatkan waktu kantor untuk urusan di luar kantor termasuk keluarga.

Pengalaman Kost Di Jakarta


Sejak masuk kuliah di tahun 2011, saya memutuskan untuk menjadi perantau. Sebagai perantau tentu saja saya harus menyewa kamar kost untuk dapat tinggal. Setelah lulus dari kuliah dan meninggalkan Jogja, saya berhijrah dan menjadi perantau di Jakarta. Dalam tulisan ini, saya coba mengulas pengalaman saya dalam ngekost karena bisa dibilang saya cukup sering berpindah kost.

Bintaro, April - Mei 2016

Setelah berpindah dari pekerjaan yang lama, saya pun mendapat tawaran bekerja kembali di konsultan perencanaan. Saya dikontrak hingga proyek ini selesai, sekitar 2-3 bulan. Saya pun mendapatkan privilage dari kantor, yaitu kost selama dua bulan. Kost tersebut tidak jauh dari kantor yang berada di Jalan Kesehatan Raya, Bintaro, Jakarta Selatan. Saya tinggal berdua dalam satu kamar kost bersama rekan kantor yang kebetulan senior saya saat kuliah. Fasilitas yang ada dalam kost tersebut antara lain double bed, AC, lemari, dan meja kerja. Untuk kamar mandi, meja makan, dapur, dan televisi merupakan fasilitas bersama yang ada di luar kamar. Tiap kamar memiliki meteran listrik masing-masing sehingga kita bisa kontrol penggunaan listrik masing-masing. Hal yang disayangkan adalah kost tersebut tidak 24 jam. Lewat jam 10 malam, pagar kost sudah dikunci dan para penghuni tidak diberikan kunci tersebut. Apabila pulang lebih dari jam 10 malam, penghuni kost bisa melapor pada penjaga kost dan nanti akan dibukakan. Dibalik ketidakbebasan tersebut ada hal yang membuat bahagia ngekost di sana, yaitu rasa kekeluargaan antara penghuni kost. Kebetulan, saya dan rekan saya hanya dua laki-laki penguni kost sedangkan lima yang lainnya adalah perempuan. Beruntungnya lagi, tiga perempuan tersebut adalah ibu-ibu, jadi tiap minggunya kami patungan untuk konsumsi dan ibu-ibu itu masak untuk kami semua setiap harinya. Sayangnya, saya hanya ngekost selama dua bulan sesuai dengan kontrak dari kantor, jadi saya pun harus meninggalkan kost tersebut.

Kramat Sentiong, Januari - Juni 2017

Saat diterima menjadi mahasiswa S2 di salah satu universitas di Jakarta, tentu saya harus mempersiapkan diri untuk tinggal dan menetap di Jakarta. Sebenarnya, Bapak saya pun kost di Jakarta, namun saya memutuskan untuk ngekost di dekat kampus agar tidak ada biaya transportasi yang dikeluarkan. Kebetulan pula saya tidak memiliki kendaraan yang dapat digunakan. Cukup sulit untuk mencari kost sendiri, saya pun memanfaatkan hasil penelusuran di internet. Dapatlah kost yang terbilang cukup murah di Jalan Kramat Sentiong Gang 2 dengan harga Rp650 ribu per bulan.

Secara fisik kost dan lingkungan sekitarnya bisa digolongkan sangat baik. Namun ada hal yang tidak terduga di kost tersebut. Sang pemilik kost adalah seorang ibu yang sudah cukup sepuh namun fisiknya masih cukup baik. Setiap subuh antara jam 3 hingga jam 4, beliau selalu mengambil sampah yang ada di depan pintu setiap kamar kost. Tidak hanya mengambil sampah, tapi beliau juga sering marah dan berteriak tidak jelas. Saya sendiri tidak punya masalah dengan beliau, bahkan ketika bertemu beliau pun dia senyum. Namun, kebiasaannya berteriak itu cukup mengganggu. Akhirnya, saya memutuskan untuk pindah setelah bertahan selama 6 bulan di sana.

Paseban Timur, Juli 2017 - Desember 2018

Pada hari yang sama keluar dari kost di Kramat Sentiong saya langsung memutuskan untuk pindah ke daerah Salemba, tepatya di Jalan Paseban Timur Gang 14. Setelah hunting sekitar 2 hari dan sempat ditolak oleh salah satu kost karena tidak membayar DP terlebih dahulu, akhirnya saya menemukan kost yang tergolong murah juga. Saya mendapat kost dengan ukuran 5 x 4 meter yang tiap bulannya membayar 750 ribu. Untuk menghemat biaya, saya memutuskan mengajak teman untuk tinggal bersama. Harag kost-pun naik menjadi Rp900 ribu per bulannya.

Semenjak semester 2, lulus, hingga saya bekerja sebagai tenaga kontrak di salah satu instansi pemerintahan, kurang lebih saya bertahan selama 1,5 tahun. Pemiliknya sungguh baik, sering mengajak ngobrol, bahkan sering juga memberikan makanan. Setelah saya mendapat pekerjaan di tempat baru, saya memutuskan untuk pindah karena tidak ada tempat parkir motor. Saya berencana untuk menggunakan motor karena tempat kerja yang baru tidak terakses langsung oleh transportasi publik.


Matraman (kost), Desember 2018 - November 2019

Setelah memperoleh pekerjaan baru, tentu saya ingin meng-upgrade kost. Saya mendapat informasi dari teman saya, bahwa di daerah Matraman tepatnya di Jalan Penegak ada kost AC dengan harga perbulannya Rp1,7 juta sudah termasuk listrik. Pada saat itu, saya bersama teman saya di kosat sebelumnya untuk menyewa 1 kamar. Setidaknya biaya yang dikeluarkan tiap bulannya tidak terlalu mahal jika dibagi dua orang dan dapat kost ber-AC.

Sebenarnya nyaman-nyaman saja dan lingkungannya juga bagus. Hanya saja, karena satu kamar berdua, rasanya privasi kurang terjaga. Apalagi kami semakin lama bertambah usia dan membutuhkan ruang privat masing-masing. Setelah bertahan selama sebelas bulan, kami memutuskan pindah dan mencari kost lain dengan kamar masing-masing.

Matraman (kontrakan), November 2019 - November 2020

Masih bersama teman satu kost sebelumnya, kami menemukan informasi terkait rumah kontrakan di Matraman, hanya sekitar 200 meter dari kost lama. Rumah kontrakan tersebut dihargai Rp24 juta satu tahun dengan ruang tamu, dua kamar, dapur, dan kamar mandi. Rumah tersebut bukan berada di lahan tersendiri melainkan sebuah rumah tingkat. Lantai 1 diisi oleh pemilik rumah dan lantai 2 disewakan. Hal inilah yang membuat listrik dan pompa air masih menjadi satu. Selain itu, berbeda dengan kost sebelumnya yang tepat berada di Jalan Penegak dan memiliki garasi untuk parkir motor, kontrakan ini berada di jalan buntu. Karena berada di lantai 2, pastinya tidak memiliki teras sehingga motor harus parkir di gang.

Sampai dengan tulisan ini dibuat, saya mulai merasakan kekesalan selama di kontrakan ini. Apalagi saat masa COVID19 ini, saya lebih sering berada di rumah. Di awal pekan pertama saya tinggal di sana, saya sudah ditegur oleh Ketua RT dengan alasan tidak lapor. Berhubung saya dan teman saya adalah pekerja, tentu tidak banyak waktu untuk kami melapor. Seperti tempat kost sebelumnya kami hanya menitipkan fotocopy KTP pada pemilik kontrakan. Ketua RT tidak terima dengan cara seperti itu, intinya kami harus melapor dan bertatap muka dengan beliau. Sebenarnya saya terima saja jika ditegur dengan baik-baik, hanya saja cara beliau sungguh membuat saya kesal. Baru dua minggu tinggal di sana, sudah merasakan ingin pindah.

Seperti yang disampaikan sebelumnya, bahwa listrik masih bergabung dengan pemilik kontrakan sehingga untuk pembayaran listrik, kami dipatok membayar Rp250 ribu tiap bulannya. Saya sudah merasa uang listrik tersebut sangat besar untuk dua orang yang tidak memiliki barang elektronik sama sekali. Pada saat itu, kami setuju saja untuk membayar sebesar tersebut, namun agar kami tidak rugi, kami memakai dua kipas angin dan satu kulkas. Hal yag paling mengejutkan adalah ketika pada masa pandemik yang mengharuskan kami melakukan WFH. Memang, selama WFH dipastikan kipas angin digunakan 24 jam, cukup sering charge laptop, dan teman saya membawa PC untuk bekerja yang sebenarnya tidak digunakan setiap hari. Namun, sang pemilik kost-an berkata bahwa listrik naik dan kami disuruh membayar Rp400 ribu setiap bulannya. Cukup kaget juga dengan biaya sebesar itu, namun pada saat itu saya memaklumi, dan sepakat untuk membayar sebesar itu namun hanya 2 bulan saat WFH saja. Raut wajah si pemilik kontrakan agak kecewa namun mengiyakan. Saya pun meminta pasang AC namun ditolak karena listriknya tidak kuat dan di rumah si pemilik pun sudah ada AC. Kecurigaan saya mulai besar, saat anak-anaknya WFH berarti AC di rumahnya terus menyala dan membuat biaya listrik naik. Artinya, biaya listrik yang saya bayarkan sebenarnya hanya men-subsidi pemakaian listrik sang pemilik yang jauh lebih besar. Saya pun menanyakan pada ibu saya dan rekan-rekan saya terkait penggunaan listrik. Dan jawaban mereka sungguh mengejutkan, penggunaan listrik yang hanya seperti kami pakai tidak mungkin mencapai 200 ribu.

Saat saya kembali WFO, tentu saya minta harga listrik kembali ke seperti semua. Namun, beliau hanya menurunkan 100 ribu dengan alasan penggunaan jetpump. Saya tidak terima karena jika dihitung-hitung penggunaan air, kami hanya berdua dan pemakaian pun masih sama seperti sebelum pandemik. Jika dibanding dengan penghuni rumahnya yang ada 4 orang tentu sangat tidak adil. Saya pun mengultimatum agar dia menunjukan kuitansi pembayaran listrik. Sayangnya dia tidak bisa menunjukan dan akhirnya dia menurunkan kembali harga listrik seperti kesepakatan di awal. Tentu saja, saya pun bilang bahwa tidak akan melanjutkan ngontrak di rumah ini. saya dan teman saya pun harus bertahan hingga November 2020 untuk dapat pergi dari kontrakan ini.

Dari sekian banyak tempat tinggal yang pernah saya coba di Jakarta, memang sangat sulit meperoleh tempat tinggal yang cocok. Ada harga ada kualitas, namun perlu juga mencocokan dengan isi dompet. Cerita ini hanya sekedar sharing saja. Tidak ada maksud untuk menjelekkan pihak manapun. Namun, dengan cerita ini diharapkan dapat berhati-hati dalam memilih tempat tinggal apalagi dengan komitmen yang cukup panjang seperti ngontrak. Kost bulanan itu lebih fleksibel, di saat kita merasa tidak cocok bisa langsung pindah ke tempat baru sedagkan untuk sewa tahunan tentunya sulit sekali untuk pindah jika tidak mau rugi. Tentunya fasilitas dan lingkungan adalah hal terpenting yang menjadi pertimbangan dalam memilih tempat tinggal, selain harga. Fasilitas dan kondisi lingkungan tentu akan menyesuaikan dengan harga yang kita bayar.

Ketidakberesan Sang Pemilik Kontrakan


Note: Tulisan ini berisi curahan hati sang penyewa rumah kontrakan. Mohon dimaklumi apabila tulisan ini mungkin menyudutkan pihak tertentu atau terkesan membela diri sendiri.

Pada tulisan saya sebelumnya yang berjudul Curhatan Rumah Sewa dan Hasrat Ingin Membeli Rumah, berisi salah satu alasan mengapa saya ingin pindah atau keluar dari kotrakan. Selain itu, ada alasan lain yang menambah hasrat tersebut, yaitu sang pemilik kontrakan.

Sang pemilik kontrakan sendiri adalah seorang single mother berusia sekitar 40 tahun. Dia tinggal di lantai satu rumahnya sedangkan lantai duanya saya sewa. Kami memanggilnya dengan sebutan Bunda. Bunda sendiri tinggal bersama ibunya yang sudah sepuh dan dua orang anaknya. Anak pertama seorang perempuan yang sudah bekerja di salah satu bank yang tidak jauh dari rumahnya dan anak keduanya seorang laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Saya tidak terlalu paham bagaimana keluarga tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, tapi dari sedikit cerita yang disampaikan Bunda, bahwa keuangan keluarga bersumber dari uang kontrakan, penghasilan anak pertama, dan Bunda sendiri membantu dengan berjualan makanan ringan di depan rumahnya.

Di awal Maret, terjadi kejadian yang tidak terduga. Sepeda motor milik Bunda hilang dicuri. Kejadiannya dini hari saat semua orang sedang tidur. For your information, karena rumah Bunda itu halaman depannya sempit dan ada gerobak untuk dia berjualan cemilan, maka sepeda motornya diparkir di depan rumahnya, tepatnya di gang buntu untuk ke rumah sekitar. Sebenarnya tidak hanya sepeda motor beliau saja yang diparkir di gang tersebut, sepeda motor tetangga lain, termasuk sepeda motor saya yang persis berada di belakang sepeda motornya. Sepeda motor saya dan Bunda berjenis sama hanya berbeda warna. Apesnya, sepeda motor Bunda yang berhasl dibawa kabur maling. Berdasarkan cerita tetangga, seharusnya sepeda motor saya yang dicuri, namun karena alarmnya berbunyi, si maling beralih ke motor di depannya. Alhamdullillah masih rezeki saya. Tapi beberapa tetangga secara tersirat seakan kecewa kenapa bukan motor saya yang hilang. Setelah kejadian tersebut, tetangga sekitar sepakat untuk membuat pagar di depan gang tersebut. Setiap rumah termasuk saya patungan uang sebesar 150 ribu rupiah.

Setelah kejadian tersebut, munculah COVID-19 yang mana perekonomian berubah drastis, termasuk perekonomian keluarga Bunda. Bunda sudah tidak berjualan lagi seperti biasanya, mungkin dengan alasan lockdown sehingga tidak beraktivitas di luar rumah. Namun pada saat Ramadhan, seharusnya Bunda memanfaatkannya untuk berjualan karena di lingkungan kami, warga sekitar banyak yang memanfaatkan Ramadhan untuk berjualan menambah pundi-pundi agar dapur tetap membara. Maaf, saya merasa si Bunda ini tidak mau berusaha dan mencari penghasilan yang instan. Pasalnya, beliau meminta pekerjaan pada saya, apapun pekerjaannya. Secara berkala dia menghubungi saya, memohon-mohon untuk mendapat pekerjaan. Mohon maaf, bukannya saya tidak mau membantu, saya sendiri bukan pejabat hanya staf biasa, informasi lowongan pekerjaan yang masuk ke saya biasanya sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, dan umumnya membutuhkan orang yang masih berusia muda. Ditambah lagi masa pendemi ini membuat kosongya informasi lowongan pekerjaan. Sejujurnya saya cukup terganggu dengan permintaan beliau.

Oh ya, sebelum memasuki bulan puasa, beliau juga pernah meminjam uang pada saya untuk membayar biaya kuliah anak pertamanya. Alasannya karena pada saat itu sudah masa lockdown sehingga kantor Pegadaian tutup sehingga beliau tidak dapat menggadaikan gelang emasnya. Karena kasihan, saya pun meminjamkan uang. Awalnya dia berjanji mengembalikan uang saat Pegadaian buka. Dua minggu kemudian dia berjanji mengembalikan uang saat uang asuransi motor yang hilang turun. Sebulan kemudian dia meyakinkan saya untuk melanjutkan mengontrak rumah agar hutangnya dipotong untuk biaya sewa tahun berikutnya. Bahkan dia meminta saya jika mempunyai uang berlebih, uang kontraknya bisa dibayarkan saat ini supaya jadi pengurang biaya sewa tahun berikutnya. Hal tersebut bersamaan ketika dia bilang bahwa uang listrik naik. Tentu saja saya tolak permintaannya tersebut.

Saya pun berkonsultasi kepada kedua orang tua saya dan beberapa senior berpengalaman. Seluruhnya sepakat bahwa ibu kontrakan tersebut mulai tidak beres. Ketidakberesan itu terlihat dari beberapa hal. Pertama, dia sudah tidak berjualan lagi padahal dia mengaku keuangan keluarganya mengalami kesulitan. Kedua, setelah dia berhasil meminta kenaikan uang listrik yang tidak masuk akal dengan alasan WFH, setelah WFH berakhir seharusnya dia mengembalikan tarif listrik ke perjanjian awal. Namun, dia hanya menurunkan 100 ribu. Artinya saya harus membayar listrik 300 ribu setiap bulannya. Ketiga, dia tetap tidak membayar kewajiban hutangnya saat ini.

Ketidakadilan pembagian pembayaran listrik membuat saya naik darah. Seperti tulisan saya sebelumya, barang-barang elektronik yang saya gunakan tidak terlalu banyak mengkonsumsi listrik. Berbeda dengan barang elektroniknya Bunda yang cukup bayak termasuk ada AC di dalamnya. Jika dia menghitung dari konsusi listrik jetpump pun seharusnya dia menghitungnya secara adil. Kontrakan yang saya sewa hanya berisi dua orang, artinya hanya dipakai mandi saja sedangkan rumah beliau diisi oleh empat orang yang dipakai mandi dan mencuci. 

Sejak awal saya memang merasa biaya listrik yang saya bayar tiap bulannya cukup meng-cover biaya listrik rumahnya. Apalagi saat tarif listrik mengalami kenaikan. Saya pun meminta beliau untuk menunjukkan bukti pembayaran listriknya. Namun, sayangnya dia tidak dapat menunjukkannya. Pada akhirnya, dia kembali menurunkan tarif listrik sesuai dengan perjanjian awal. Mengapa saya dapat berasumsi bahwa tarif listrik yang saya bayar tiap bulannya meng-cover listriknya? Hal ini dikarenakan dia sudah tidak berjualan lagi. Dapat diasumsikan penghasilan dari jualannya terihat tidak terlalu besar, jika dibandingkan dengan uang listrik yang dia dapatkan tentunya tidak berjualanpun tidak masalah. Selain itu, tidak dapat menunjukkan bukti pembayaran listrik, itu mengindikasi bahwa ada sesuatu yang disembunyikan. Kemungkinan besar setiap bulannya memang saya yang meng-cover listrik seluruhnya. Setelah dia menyatakan kekalahannya, saya tetap meminta bukti pembayaran listrik. Karena  bukan suatu kemenangan yang ingin saya dapatkan melainkan saya hanya menginginkan keadilan. 

Pada saat yang sama, saya pun meng-ultimatum beliau. Saya tidak akan melanjutkan sewa rumah, menghentikan berlangganan internet, dan menagih hutang untuk cepat dibayarkan. Semua itu saya lakukan agar cepat terbebas dari sang pemilik kos yang tidak beres.

Insecure dalam Setiap Pribadi Manusia


Setiap manusia diciptakan dengan perbedaan dan keunikannya masing-masing. Namun, sistem sosial akan membuat perbedaan tersebut semakin kontras. Sebagai contoh adalah definisi cantik. Sudah jelas setiap orang di dunia ini memiliki visual wajah yang berbeda-beda, namun ketika cantik didefinisikan sebagai wanita yang memiliki kulit putih, tidak berjerawat, dan rambut panjang, membuat wanita yang tidak masuk dalam kriteria tersebut akan membandingkan dengan standar sosial tersebut. Standar tersebutlah yang mampu mengerdilkan tingkat kepercayaan diri seseorang. Hal ini karena orang tersebut akan merasa dianggap berbeda dan dibicarakan oleh orang lain. Inilah yang memunculkan rasa insecure dalam diri.

Sebenarnya sangat manusiawi jika orang memiliki rasa insecure dalam diri. Kembali lagi, karena tidak ada manusia yang sempurna dan manusia memiliki keunikannya masing-masing. Dan sah-sah saja, jika seseorang ingin memperbaiki diri untuk mengurangi rasa insecure-nya. Setidaknya dengan memperbaiki diri, tingkat kepercayaan diri akan meningkat, nilai-nilai positif akan tumbuh, dan potensi untuk stres akan berkurang. Perlu dicatat, rasa insecure akan meningkatkan stres dan akan menjadi penyakit mental. Memperbaiki diri jangan diartikan sebagai rasa tidak bersyukur atas apa yang didapatkan tetapi merupakan suatu treatment agar hidup menjadi lebih bahagia. Memang perlu kita sadari bahwa manusia itu tidak akan pernah puas pada yang didapatkatnya, untuk itu kita perlu membatasi diri mengenai seberapa besar perbaikan yang kita inginkan.

Sebagai contoh, seseorang yang memiliki rasa insecure karena giginya berantakan. Untuk menutupi hal tersebut, dia cenderung tidak terlalu lebar membuka mulutnya. Pada tahap berikutnya dia memasang kawat gigi. Setelah giginya menjadi rapi, dia pun menjadi lebih bahagia, dan itu adalah tahap terakhir dalam memperbaiki dirinya. Dia tidak melanjutkan tahap berikutnya, seperti membentuk gigi kelinci atau mem-veeneer giginya. Itulah contoh membatasi diri. Namun, jika dia meneruskan tahap berikutnya pun tidak masalah jika masih dalam tahap wajar. Akan menjadi ketidakwajaran, jika dia merasa tidak puas dan terus memperbaiki dirinya. Hal tersebut ada tendensi karena mendengar kata orang dan mengikuti standar sosial. Dia tidak menyadari bahwa apa yang dia lakukan malah menjauhkannya dari kebahagiaan. Pada tahap tersebut bisa dikatakan sebagai penyakit mental.

Setelah kita menyadari bahwa setiap orang mempunyai rasa insecure masing-masing termasuk diri sendiri. Alangkah lebih baiknya kita tidak membahas tentang fisik seseorang apalagi yang ada standar secara umum, seperti tingkat kecantikan atau ketampanan seseorang. Bayangkan apabila hal tersebut terjadi pada diri kita sendiri, tentu kita akan tersinggung dan marah.

Saya pribadi mempunyai rasa insecure pada salah satu bagian dari tubuh. Baru saat dewasa, saya menyadari bahwa bagian tubuh tersebut membuat saya merasa insecure, padahal hal tersebut sudah terjadi sejak saya masih kecil. Saya ingat ketika orang lain membahas bagian tersebut, saya selalu merasa marah dan tidak puas. Untungnya, bagian tersebut bisa diperbaiki. Memperbaiki bagian tersebut bertujuan untuk membuat saya bahagia bukan untuk menstandarkan fisik atau dipuji orang lain. Itulah yang membatasi saya untuk tidak melakukan perubahan-perubahan yang berlebihan.

Hati-hati Influencer



Salah satu Youtuber wanita yang sedang ramai dibicarakan bahkan namanya sempat menjadi trending topic di Twitter, tentu menggugah saya untuk mengomentari apa yang terjadi. Namanya menjadi trending topic karena membuat suatu statement yang cukup kontroversial, yaitu sikap ignorance dalam kondisi COVID-19 seperti saat ini dalam konten Youtuber GA. Tentu saja itu menjadi perbincangan para warganet yang umumnya menghujatnya.

Apapun pendapat pribadi seseorang sebenarnya sah-sah saja. Hanya saja yang menjadi masalah ketika seseorang tersebut telah menjadi influencer yang sangat berpengaruh dan diikuti oleh banyak pengikut. Seharusnya seorang influencer punya tanggung jawab moral atas apa yang dilakukan atau diucapkannya karena akan dinilai oleh masyarakat. Layaknya sebuah perusahaan yang punya tanggung jawab atas kegiatan produksinya melalui kegiatan CSR. Seorang influencer tidak hanya memproduksi konten demi memperoleh uang atau hanya sharing atas kesenangannya, tetapi harus memberikan sesuatu yang positif bagi para penontonnya.

Setelah video tersebut tayang dan menuai banyak kritik maupun celaan, akhirnya GA meminta maaf dan menghapus kontennya tersebut dari halaman Youtube-nya. Akhirnya, sang Youtuber wanita tersebut melakukan klarifikasi dan meminta maaf kepada seluruh masyarakat. Saya melihat klarifikasinya tersebut di konten Youtube Deddy  Corbuzier. Sang Youtuber tersebut menangis dan meminta maaf sambil menjelaskan kenapa statement tersebut dapat terlontar.

Selain memiliki tanggung jawab pada penontonnya, seseorang yang telah memantapkan diri menjadi seorang influencer harus memiliki mental yang kuat. Siap menghadapi pujian yang membuat terbang ke awang-awang dan hinaan yang serasa jatuh dari lantai 20. Jika berharap bahwa penonton itu cerdas, itu sangat salah besar karena penonton itu sangat banyak dan mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Harapan seperti itu tidak akan pernah tercapai bahkan di negara maju sekalipun. Untuk itu, content creator-lah yang harusnya memupuk mental, belajar tanggung jawab, dan menyebarkan nilai positif sejak awal. Jangan hanya memikirkan konten apa yang dapat meningkatkan viewer tetapi pikirkan konten apa yang bermanfaat dan dapat memberikan dampak positif. Oleh karena itu, ingatlah HATI-HATI INFLUENCER.

Curhatan Rumah Sewa dan Hasrat Ingin Membeli Rumah

Tahun lalu saya sudah pernah membahas mengenai rumah, yaitu Pilah Pilih Hunian di Jabodetabek. Informasi tersebut saya berikan, khususnya untuk pertimbangan bagi diri saya sendiri dalam memilih hunian yang tepat. Pada saat itu, hasrat untuk memiliki hunian tidak terlalu besar. Hal ini dikarenakan penghasilan saya masih belum cukup untuk dapat melakukan kredit rumah. Di samping itu, uang yang dapat saya tabung pun masih terlalu sedikit bila harus menambah beban dengan kredit rumah. Saat itu, saya merasa menyewa sebuah kamar kos atau rumah jauh lebih memberikan keuntungan bagi saya karena persentase saving jauh lebih besar. Ditambah lagi, belum ada kepastian yang jelas mengenai pindahnya ibu kota negara sehingga saya berpikir lebih baik memiliki rumah di lokasi ibu kota negara baru saja nanti.

Di tahun ini, mendadak rasa ingin memiliki sebuah rumah sendiri muncul kembali. Hal ini dipacu oleh keadaan yang tidak menentu. For your information, pada akhir November 2019 saya dan teman satu kos memutuskan untuk menyewa sebuah rumah seharga Rp24 juta per tahun dengan tambahan biaya Rp350 ribu per bulannya untuk listrik dan internet. Kami tidak merasa keberatan dengan biaya tersebut. Meskipun biaya perbulannya menjadi lebih besar dibandingkan dengan sewa kamar kos sebelumnya, tetapi kami memperoleh rumah dengan ruang tamu, 2 kamar, dapur, dan kamar mandi. Rumah tersebut bukan pure rumah tapak sendiri, tetapi rumah 2 lantai yang mana lantai 1 diisi oleh pemilik dan lantai 2 disewakan kepada kami sehingga meteran listriknya masih bergabung.

Rumah sewa ini memang tidak jauh dari tempat saya bekerja sehingga biaya transportasi menuju tempat kerja sangat minim. Namun, perlu modal untuk mengisi keperluan rumah ini, seperti kasur dan kipas angin. Ya, karena rumah ini kosongan dan tanpa AC. Hal ini tentu bukan masalah besar karena bisa dibilang kami hanya numpang tidur saja, jadi tidak begitu memerlukan AC. Walau memang harus penyesuaian kembali karena sebelumnya kamar kos yang kami sewa ada AC-nya. Kami pun tidak masalah dengan biaya listrik yang ditetapkan oleh pemilik rumah kontrakan walaupun kami berpikir itu terlalu tinggi. Pasalnya, kami hanya menggunakan dua kipas angin, itupun hanya dipakai saat kami berada di rumah saja. Tidak ada transparansi biaya listrik dari pemilik kontrakan. Agar tidak merasa rugi, saya membeli kulkas portabel dan air cooler.

Saat COVID-19 terjadi dan mengharuskan untuk work from home, ini membuat pola kehidupan di rumah menjadi berubah. Selama 24 jam kami berada di rumah, ditambah lagi teman saya membawa PC kantornya. Saya yakin listrik memang akan naik. Hal itu dibenarkan oleh pemilik kontrakan. Pemilik kontrakan meminta tambahan biaya listrik sebesar Rp150 ribu. Saya cukup kaget dengan kenaikan tersebut. Sepertinya sangat tidak masuk akal. Saya bandingkan dengan penggunaan listrik di rumah orang tua saya yang memiliki tv dan dua kulkas non-stop pun biaya listriknya hanya Rp300 ribuan. Hal yang membuat saya kecewa adalah ibu kontrakan meminta tambahan biaya tersebut sampai akhir tahun. Saya tentu menolak dan hanya ingin membayar selama WFH saja. raut wajah pemilik kontrakan pun terlihat kecewa. Pada saat itu, pemilik kontrakan memang sedang mengalami kesulitan keuangan. Bahkan dia bertanya terus apakah kami akan melanjutkan mengontrak tahun depan atau tidak. Apabila iya, jika kami punya sedikit rejeki bisa diberikan terlebih dahulu uangnya dan nanti dipotong untuk biaya sewa tahun depan.

Berdasarkan kisah tersebut, ini membuat hasrat untuk membeli rumah muncul kembali. Saya pun mulai mencari-cari rumah yang yang affordable dengan kemampuan finansial saya. Begitu pun teman saya, kejadian ini membuatnya ogah untuk melanjutkan sewa rumah. Apabila tidak dapat rumah pun, sudah pasti tahun depan akan pindah. Saat ini, saya prefer dengan rumah tapak. Walaupun lokasinya jauh sekali tapi biaya bulanannya lebih ringan dibandingkan apartemen atau rumah susun. Seperti yang kita ketahui bahwa apartemen atau rumah susun mengharuskan penghuninya untuk membayar biaya servis yang totalnya sekitar Rp1 jutaan. Hal ini tentu akan memberatkan kami yang penghasilannya masih di bawah Rp10 juta per bulan.

Setelah hunting beberapa perumahan yang ada di sebelah barat daya Jakarta, di antaranya di Parung Panjang dengan harga Rp300 jutaan dan Maja dengan harga Rp200 jutaan. Saat itu saya memilih daerah Parung Panjang karena lebih dekat dengan Jakarta. Setelah memperoleh price list, saya cukup optimis untuk dapat mengajukan KPR dengan tenor 20 tahun dan bisa pindah tahun depan. Namun setelah saya hitung-hitung lagi, saya agak ragu mampu menjalani kehidupan dengan adanya pengeluaran KPR tersebut. Pasalnya, biaya transportasi cukup tinggi, ditambah biaya makan, listrik, air, dan furnitur untuk mengisi rumah, ini membuat saving menjadi sangat minim. Biaya gaya hidup saya tergolong rendah bahkan bisa diminimalisir lagi, tapi dengan segala keterbatasan ini membuat hidup lebih terkekang. Uang cadangan untuk keperluan mendesak pun lebih sedikit, ditambah lagi tahun ini pendapatan pun di-press. Hal inilah yang menjadi kegalauan saya.

Saya pun memutuskan untuk menunda membeli rumah. Mungkin tahun depan kembali menyewa kamar kos atau mencari rumah kontrakan yang lebih murah. Memang salah menunda untuk membeli rumah tetapi memang perlu disesuaikan juga dengan isi dompet. Jika dipaksakan, bakal repot juga. Untuk itu, sebelum memutuskan untuk membeli sebuah unit hunian memang perlu diperhitungkan lagi biaya yang akan kita keluarkan nanti. Jangan sampai tidak ada saving sama sekali. Mulailah belajar memanaj keuangan dan mengontrol pengeluaran. Banyak akun-akun sosial media yang memberikan pelajaran gratis tentang hal tersebut. Dengan adanya kejadian COVID-19 ini, tentu kita jadi paham betapa pentingnya mengatur keuangan. Secara umum, saya dan teman saya tidak terlalu terdampak dari sisi penghasilan, bahkan kami jauh lebih hemat karena tidak ada pengeluaran transportasi, terbiasa masak sendiri, dan biaya sewa rumah sudah dibayar diawal. Namun, kami pun tetap menyiapkan biaya darurat jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

Hari Terakhir Penggunaan Otem



Apakah ada yang tahu apa itu Otem?

Otem adalah obat herbal yang terbuat dari madu alami. Otem ini digunakan untuk mata. Penggunaan Otem ini memang sangat perih sekali bahkan memberikan efek berdenyut sekitar satu menit setelah pemakaian. Penggunaan Otem juga pernah tayang di salah satu televisi swasta yang menyatakan bahwa Otem digunakan untuk gurah mata.

Perkenalan dengan Otem

Saya mengenal Otem pada tahun 2010. Pada saat itu, kakak saya memperkenalkan Otem sebagai obat herbal untuk membersihkan mata. Efek perih yang amat sangat membuktikan proses pengeluaran baksil yang ada di mata. Selain efek perih, mata juga akan merah dan sembab karena banyak sekali mengeluarkan air mata. Selain memberikan manfaat untuk membersihkan mata, Otem juga dapat megurangi minus. Penjelasan tersebut diperoleh dari pedagang obat herbal depan masjid dekat kampus kakak saya di daerah Bandung Utara.

Saya pun tertarik menggunakannya dengan tujuan mengurangi minus pada mata. Efek-efek yang dijelaskan kakak saya pun terbukti benar, rasa pedih, mata merah, dan berair sekitar satu menit membuat saya tak mampu membuka mata. Namun, setelah itu cukup memberi efek kesegaran. Setelah pemakaian selama satu tahun, minus mata saya berhasil turun dari -1,75 menjadi -1,5. Setelah itu saya tidak pernah menggunakannya lagi karena pada saat itu saya pindah ke Jogja dan membuat sulitnya akses untuk membeli Otem. 

*Pada saat itu toko online belum seramai sekarang

Menggunakan Otem Setelah 3 Tahun

Pada saat saya rutin menggunakan Otem, bisa dibilang saya terhindar dari penyakit mata yang biasa menyerang, seperti iritasi dan bintitan. Mata saya tergolong mata yang mudah iritasi. Terkena debu sedikit saja, bisa berjam-jam gatalnya, bahkan terkena hembusan nafas pun sering kali terjadi iritasi.

Setelah saya pindah ke Jogja, saya tidak pernah lagi menggunakan Otem, kurang lebih selama 3 tahun. Kemudian, saya memperoleh informasi bahwa Otem dijual oleh pedagang di depan Masjid Kampus. Saya langsung membelinya dan siap menggunakan Otem kembali. Setelah satu tahun pemakaian, tidak ada efek yang berarti. Setelah habis, saya tidak melanjutkan penggunaan Otem.

Kepo Kandungan Otem

Ketika saya tinggal di Jakarta, mata saya kembali bermasalah. Hal ini mungkin karena polusi yang cukup berat membuat mata saya mudah sekali mengalami iritasi. Teringat kembali akan Otem, saya pun berniat membelinya di Toko Online. Namun sebelum itu, saya cukup penasaran juga mengapa Otem berkhasiat untuk mata yang membuat saya menggunakan Otem cukup lama. Berdasarkan hasil pencarian, 100% Otem itu berbahan dasar madu. Karena pH madu tidak cocok dengan mata, maka menimbulkan rasa perih yang luar biasa. Belum ada penelitian yang menyebutkan bahwa Otem dapat menyembuhkan penyakit mata. Lebih baik penggunaan Otem dihindari karena rasa pedih tersebut merupakan bentuk iritasi yang amat dahsyat dan dapat berakibat buruk pada mata. Hanya itulah informasi yang saya peroleh. Dasar nakal, saya akhirnya tetap membeli dua botol Otem dari Toko Online karena sebelumnya mata saya baik-baik saja sehingga tak masalah saya menggunakannya kembali.

Akhir Cerita

Pada suatu hari, mata saya mengalami iritasi ringan. Karena obat tetes mata biasa tidak pernah berpengaruh pada mata saya, maka saya gunakan Otem. Sebelumnya saya pernah menggunakan Otem saat mengalami iritasi ringan dan itu tidak masalah bahkan membaik. Namun, hari itu berbeda. Setelah rasa perih kurang lebih satu menit, mata saya tetap merah, bahkan malah bertambah gatal. Gatal terjadi di balik kelopak mata atas dan juga bawah. Gatal itu amat sangat parah dan ternyata mata saya bengkak. Untungnya saya hanya menggunakan Otem sebelah mata saja. Saya langsung membilasnya dengan air dan mengompresnya. Gatal menurun tetapi masih terasa. Saya ingat masih memiliki obat tetes mata, langsung saya teteskan obat tetes tersebut, dan syukurlah rasa gatal mulai hilang namun merah dan bengkak masih ada.

Setelah itu, saya putuskan untuk tidak menggunakan Otem lagi. Mata saya mungkin sudah tidak cocok menggunakannya atau memang cairan Otem yang kental malah membuat kotoran menumpuk di balik kelopak mata dan sulit keluar. Tentu itu memberikan rasa gatal dan ganjalan di mata. Sungguh tidak enak. Alhasil, 1,5 botol Otem yang masih tersisa saya buang dan lebih baik saya menggunakan obat tetes mata yang sudah teruji penggunaan dan khasiatnya yang dijual di toko obat.

Saya yakin bahwa Otem memang bukan untuk mata. Ketidakcocokan zat tersebut bisa jadi dapat membuat kerusakan pada jaringan mata. Mungkin saja beberapa tahun lalu, mata saya baik-baik saja dan bisa recovery. Tapi mungkin untuk saat ini lebih baik kita menjaga mata kita dari zat-zat yang belum teruji penggunaanya. Walaupun itu obat herbal, jika berbahaya sebaiknya dihindari.

Buku-buku Penghibur Selama Karantina Mandiri

Satu bulan berada di rumah terus tanpa keluar memang sungguh membosankan. Walau kita work from home tapi suasana kerja di rumah dan di kantor itu sungguh berbeda. Ketika berada di rumah waktu kerja menjadi lebih fleksibel sehingga ada waktu-waktu tertentu yang membuat kita jenuh.

Hal ini sungguh terjadi pada diri saya sendiri. Jam kerja yang sangat fleksibel membuat banyak waktu di siang hari menjadi lebih banyak yang kosong. Hal ini karena pekerjaan dapat diselesaikan dengan cepat atau ada kerjaan mendadak yang dikerjakan pada malam hari. Untuk mengisi kekosongan tersebut, saya lakukan dengan membaca buku. Hal ini juga merupakan upaya untuk mengembalikan hobi membaca saya yang sudah pudar sejak beberapa tahun terakhir ini.

Setalah satu bulan karantina ada 5 buku yang sudah saya baca. Berikut sedikit ulasannya.

Komet dan Komet Minor
Kedua buku karya Tele Liye ini sudah saya beli sekitar setahun atau dua tahun yang lalu. Ya, karena berbagai halangan dan kesibukan membuat saya menunda membacanya. Sebenarnya, buku ini merupaka novel fiksi remaja dan merupakan serial yang cukup panjang. Iseng membaca seri pertama yang berjudul Bumi, membuat saya berlanjut hingga saat ini.

Buku ini menceritakan tentang Raib seorang anak keturunan Klan Bulan yang tinggal di Kaln Bumi layaknya manusia bumi. Petualangan Raib ditemani oleh Seli dan Ali yang merupakan teman sekolahnya. Mereka bertiga berpetualang ke kaln-kalan lain untuk menjaga kedamaian klan-klan karena ada seseorang yang berusaha untuk menguasai semuanya, yaitu Si Tanpa Mahkota.

Pertarungan Raib dan kawan-kawannya melawan Si Tanpa Mahkota berakhir di Buku Komet Minor ini. Si Tanpa Mahkota berhasil dikembalikan ke penjara dan kedamaian antar-klan pun dapat terjaga.

Catatan Najwa
Buku yang menceritakan perjalanan Mata Najwa sebagai acara talkshow terfavorit yang mengupas secara mendetil khususnya mengenai pemerintahan. Perjalanan Najwa Shihab yang telah menjadi pembawa acara Mata Najwa sejak 10 tahun lalu terangkum dalam quote-quote-nya yang khas dan menarik. Unek-unek masyarakat mengenai pemerintahan terwakilkan melalui Mata Najwa.

Max Havelaar
Atas rekomendasi teman kantor, Max Havelaar adalah buku yang ingin saya baca dan berhasil saya dapatkan di Google Play Book. Buku ini menceritakan sosok Havelaar yang merupakan Asisten Residen di Lebak pada masa kolonial. Havelaar ini merupakan seorang Belanda yang pintar dan baik serta ingin membuat rakyat Lebak sejahtera. Namun, kekuasaan Bupati Lebak dan bawahannya sangat membuat Havelaar kesal karena Bupati hanya memanfaatkan rakyat atas kekuasaannya. Hal itu membuat banyak rakyat Lebak yang menderita.

Havelaar berupaya melaporkan kesewenang-wenangan bupati kepada Residen Banten bahkan hingga ke Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Namun, laporannya itu disepelekan, hingga akhirnya Havelaar memilih mengundurkan diri dari jabatannya tersebut.

Perjalanan Dinas
Salah satu novel yang cukup menarik untuk dibaca, yaitu Perjalanan Dinas. Bercerita tentang seorang PNS yag melakukan perjalanan dinas dadakan dan menempuh waktu yang panjang. Kegalauan antara gengsi instansi, tanggungjawab sebagai atasan, dan pengabdian sebagai seoranng PNS. Takdir Tuhan yang tidak disangka-sangka memberikan pelajaran berharga dan membuat manusia mengambil keputusan yang terbaik.


Nah, itulah buku-buku yang telah saya baca saat ada waktu luang di rumah. Semoga bermanfaat.

Sedikit Upaya Peningkatan Kapasitas Di Tengah Wabah Virus Corona


Dua bulan setelah virus corona menjadi pandemi di Wuhan, memang seharusnya Indonesia harus segera mawas diri. Berbagai informasi telah menyebutkan bahwa virus ini sangat mudah menular. Virus tersebut keluar bersamaan dengan cipratan yang dikeluarkan oleh si penderita saat batuk. Virus ini juga dapat bertahan di udara bebas dalam kurun waktu yang cukup lama. Informasi terakhir yang saya baca, virus corona dapat bertahan paling lama sekitar 8 jam di udara bebas, walaupun hal tersebut tergantung dengan kondisi suhu dan kelembaban udara. Di awal kemunculan virus tersebut, pemerintah belum melakukan gerakan yang masif untuk menangulangi virus tersebut. Sejauh ini, hanya pemeriksaan suhu tubuh, karantina, dan penyemprotan disinfektan bagi para pendatang dari negara-negara yang diduga membawa virus tersebut. Sampai akhirnya beberapa orang yang terjangkit virus dan meluas hingga memakan korban meninggal barulah ada muncul upaya-upaya yang dilakukan. 

Dalam teori kebencanaan, risiko terburuk yang terjadi saat mengalami suatu bencana atau wabah dapat diminimalisir dengan kapasitas. Kapasitas adalah kemampuan masyarakat dalam menghadapi suatu bencana atau wabah. Bencana atau wabah pasti terjadi namun kerugian yang dialami dapat dikurangi apabila masyarakat siap dan mengetahui bagaimana cara menghadapinya.

Virus dapat berkembang biak dengan jumlah yang sangat banyak. Apalagi virus corona ini berdasarkan informasi telah bermutasi menjadi lebih kuat. Kita harus memahami juga bahwa pada gejala awal terkena virus ini, banyak yang menunjukan gejala flu ringan bahkan ada yang tidak memiliki gejala apapun. Adapula orang yang healthy carrier atau orang sehat namun memiliki virus di dalam tubuhnya dan dapat menularkannya ke orang lain. Oleh karena itu, pemerintah menyarankan physical distancing, menjaga jarak dengan orang lain hingga akhirnya diupayakan untuk berada di rumah saja untuk mengurangi interaksi langsung dengan orang lain.

Namun sayangnya, kapasitas masyarakat kita cukup lemah. Salah satu faktor dari kapasitas adalah filter dalam memperoleh informasi terkait virus corona. Banyak hoax tentang virus corona yang membuat kegelisahan. Kegelisahan yang berlebihan mengakibatkan stres dan akhirnya berdampak pada melemahnya daya tahan tubuh. Pengaruh dari kegelisahan sendiri adalah terjadinya panic buying. Hal ini terjadi karena ketakutan masyarakat kekurangan bahan pangan dan kebutuhan pokok lainnya. Tidak hanya itu, para pengepul pun ramai-ramai memborong masker dan handsanitizer karena tahu kedua barang ini akan dicari di masa-masa seperti saat ini. Oh ya satu lagi adalah kegelisahan yang diperparah karena kondisi cenderung memburuk. Hal ini membuat ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah semakin tinggi, kebencian hingga ubun-ubun kepala, hingga akhirnya merasa kegagalan dalam sistem pemerintahan.

Di rumah aja dan working from home merupakan anjuran simpel yang banyak sekali manfaatnya. Dengan kita hanya berada di rumah, risiko tertular menjadi semakin minim. Dengan berada di rumah, produktivitas tidak boleh kendor bahkan semakin banyak yang bisa kita lakukan. Selain bekerja, kita juga dapat berolah raga, bahkan istirahat pun akan semakin maksimal. Ditambah lagi tidak perlu panik dan stres secara berlebihan, itu merupakan cara-cara untuk dapat meningkatkan kapasitas diri untuk meminimalisir dari risiko terkena virus corona.

Pemerintah hanya menganjurkan, bukan melarang. Saya pun menyadari banyak  sekali masyarakat yang memperoleh upah harian, untuk itu diharapkan masyarakat yang keluar rumah bisa menggunakan alat pelindung diri yang cukup dan tetap menjaga jarak dengan orang lain. Hal inilah mengapa pemerintah tidak mengeluarkan kebijakan locked down sepenuhnya karena yang akan sangat berdampak adalah masyarakat dengan upah harian. Kenyataannya masih banyak masyarakat bandel, tidak mengenakan alat pelindung diri yang cukup, masih suka berkerumun bahkan sampai liburan, dan tidak sadar pentingnya menjaga jarak dengan orang lain. Ayo teman-teman semua, mari meningkatkan kapasitas masing-masing, ingatkan orang di sekitar kita juga, dan jangan lupa berdoa agar wabah ini segara berakhir. Selalu berpikir positif dan selalu jaga kesehatan. 

Planning without Financing is Nothing



Planning without financing is nothing


Setiap warga masyarakat pasti menginginkan prasarana dan sarana yang menunjang aktivitas mereka. Tidak hanya itu, keberadaan prasarana dan sarana pun menjadi kebanggaan karena dapat menjadi landmark dan branding sebuah daerah. Sebagai contoh, Jakarta punya MRT. Tentu merupakan sebuah kebanggaan bagi warga Jakarta memiliki moda transportasi modern dan tak kalah dengan kota-kota di negara maju.

Bagi masyarakat, rencana yang dibuat oleh pemerintah untuk membangun modernitas perkotaan adalah sesuatu yang ditunggu-tunggu. Mereka tidak berpikir bahwa setiap pembangunan memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Banyak masyarakat yang hanya ingin merasakan setelah pembangunan itu selesai tapi tidak menyadari bahwa proses dalam pembangunan tersebut juga penuh dengan luka.

Sebagai contoh adalah rencana pembangunan LRT yang ada di Bandung Raya. Masyarakat sangat antusias sekali bahkan bangga bahwa Bandung akan mempunya moda transportasi modern. Namun, rencana yang dibangun oleh pemerintah tidak langsung dieksekusi karena sumber pembiayaannya belum cukup. Jika mengandalkan APBD, pastinya tidak akan cukup dan penggunaan APBD diprioritaskan untuk hal lain. Karena infrastruktur itu bersifat jangka panjang, maka perlu ada skema pembiayaan lain yang tepat. Persiapan dalam penentuan skema pembiayaan dan proses pelaksanaan pembiayaannya itu memerlukan waktu yang tidak sedikit. Kenapa? Ya ini mau bangun infrastruktur bukan mau bikin gerobak gorengan. Maka perlu perencanaan dan persiapan yang matang dan tentunya harus ada persetujuan DPRD selaku perwakilan dari masyarakat.

Sayangnya, proses tersebut tidak diketahui oleh masyarakat. Masyarakat hanya mengetahui bahwa pemerintah gagal dalam merealisasikan infrastruktur yang diidam-idamkan masyarakat.

Buat masyrakat, ikuti dan awasi prosesnya. Karena yang digunakan itu adalah uang kita bersama. Pemerintah itu bukan jin yang hanya dengan sekali jentikan jari bisa terbangun kota yang megah. Lebih bijaksanalah.

Terhindar Dari Bullying


Melihat tayangan Prime Show with Ira Koesno yang membahas "Memutus Mata Rantai Bullying" beberapa hari yang lalu, membuat aku tergelitik ingin menceritakan pengalaman. Sebagai mantan korban perundungan level ringan, tentunya perlu usaha agar dapat terlepas bahkan memutuskan rantainya. Di masa aku bersekolah, istilah bullying atau perundungan memang belum populer seperti saat ini. Begitu pula dengan dampak dari bullying itu sendiri belum separah saat ini. Hal ini mungkin terjadi karena pada saat itu penyebaran berita belum semasif sekarang yang membuat korban bullying tertutupi.

Aku mengkategorikan bully-an yang pernah aku alami saat duduk di bangku SD adalah level paling ringan, yaitu masih sebatas ejekan. Sepertinya memang hanya bercandaan anak SD saja, tetapi itu cukup berpengaruh bagi psikologis aku. Pada saat aku masih SD, dapat dibilang fisik aku itu kecil dan pendek dibandingkan dengan teman-teman yang lain. Sehingga aku dipandang lemah dan seenaknya mengejek-ejek nama aku. Sebagai seorang anak laki-laki yang diberi nama layaknya seorang anak perempuan, menjadi pukulan juga buat aku. Ketika banyak hal di televisi seperti, Diva Tox (tokoh wanita jahat di serial Power Ranger), Diva Romeo (sebuah acara televisi perjodohan), dan Diva Dangdut (sebuah acara musik yang mencari bakat wanita-wanita penyanyi dangdut) emnjadi bahan ejekan buat aku. Sampai suatu saat aku menemukan arti nama Diva sesungguhnya di sebuah kamus pintar, cukup membuat aku depresi dan bertanya-tanya, kenapa aku diberi nama Diva? Untuk bocah usia tersebut sungguh menjadi beban tersendiri, setiap hari di sekolah diejek-ejek oleh teman dan terasa kesal dengan orang tua yang telah memberikan nama yang cukup asal. Untungnya, tidak ada keinginan untuk mengakhiri hidup, hanya ingin cepat-cepat mengakhiri masa SD. Satu orang yang sering mengejek-ejek Aku, adalah orang yang cukup berpengaruh di kelas.

Salah satu cara untuk mengurangi intensitas bullying adalah dengan cara berprestasi. Aku memang bukan ranking satu, tapi tergolong yang cukup tinggi nilainya. Hal itu membuat intensitas bullying mulai berkurang. Setelah melalui masa SD yang tergolong mencekam, aku mulai membuka lembaran baru di masa SMP. Berusaha mengubah nama panggilan menjadi Teguh, namun tidak berlangsung lama. Untungnya, saat SMP aku bergabung dengan ekstrakulikuler yang aku jalani selama duduk di bangku SMP. Bertemu dengan teman-teman yang layaknya keluarga, bahkan hari Minggu-pun terkadang ada kegiatan, membuat aku bisa lupa dengan depresi yang aku alami saat SD. Di kelas pun akumerasa tidak cocok dengan teman-teman yang lain. Tapi untungnya, berkat bergabung dengan ekstrakurikuler, aku melupakan hal-hal tersebut.

Masuk SMA, aku jauh lebih kuat lagi. Ketika pendaftaran, aku pernah melawan guru karena beliau membahas nama aku. Aku tidak terima, aku suruh guru tersebut tanya pada orang tua aku kenapa diberi nama itu. Memiliki prestasi yang cukup baik dan bergabung dengan ekstrakulikuler dengan teman yang menyenangkan membuat aku tidak dibully di selama SMA. Setelah lulus sekolah hingga saat ini, aku sudah tidak malu lagi menggunakan nama Diva bahkan banyak orang di sekitar aku pun, sudah tidak ada yang membahas mengenai kenapa aku bernama Diva.

Berdasarkan hal tersebut, menurut aku ada dua hal yang bisa kita lakukan agar dapat memutus rantai bullying di sekolah, yaitu:

1. Berprestasi

Jadilah siswa yang berprestasi. Kemampuan akademik kita yang bagus akan membuat kita disegani oleh teman-teman sekelas. Hal yang menjadi kunci adalah ketika kita berprestasi, maka secara otomatis kita akan dekat dengan guru. Guru bisa menjadi tameng agar pelaku bullying tidak akan berani pada kita.

2. Bergabung dengan Ekstrakulikuler atau Kegiatan Lainnya

Bergabung dengan ekstrakulikuler atau kegiatan di sekolah akan memaksimalkan aktivitas kita di sekolah, maka intensitas bertemu dengan si pelaku pun akan berkurang. Ditambah lagi, kita akan memiliki banyak teman. Semakin banyak teman kita, maka pelaku pun akan takut.

Untuk memutus rantai bullying memang harus ada keinginan dari dalam diri. Tapi ingat jangan menggunakan cara-cara kasar, gunakanlah cara-cara yang bermanfaat dan memberikan dampak positif pada kita. Karena untuk memadamkan api itu, harus menggunakan air.

Belajar Bahasa Inggris: Kuliah atau Belajar Sendiri?


Berbeda dengan orang lain, saya memang agak kesulitan dalam mempelajari bahasa, terkhusus Bahasa Inggris. Saya mempelajari Bahasa Inggris dari kelas 1 SD, sempat suka dan menikmati belajar, namun di tengah perjalanan ada satu hal yang membuat 'tidak suka' dan terpatri hingga saat ini. Kalau diceritakan ya, bisa satu episode sendiri. Setelah mengambil S2 dan bekerja, saya sudah menyadari pentingnya Bahasa Inggris, namun hingga saat ini sulit mencari waktu untuk belajar untuk memperlancar.

Upaya les academic writing sudah dilakukan, saya lulus, tapi seperti ada yang kurang. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil kuliah S1 Sastra Inggris. Rencana saya ini tentu sangat didukung oleh orang tua saya. Pada dasarnya, setelah saya bekerja dan menghasilkan uang sendiri, orang tua membebaskan apapun pilihan saya. Cukup bertolak belakang dengan dukungan orang tua saya, teman-teman di sekitar saya malah kurang support dengan keputusan saya ini. Hal ini sangat wajar karena orang-orang di sekitar saya ini pada dasarnya orang pintar dan cerdas yang mampu menguasai apapun dengan cepat.

Setelah mencari kampus, saya putuskan untuk memilih UT dengan program studi Sastra Inggris Bidang Penerjemahan. Alasan saya memilih UT adalah sebagai berikut:
  1. Hanya di bawah 2 juta per semester. Biaya tersebut jauh lebih kecil dibandingkan saya les di salah satu lembaga kursus.
  2. Saya suka belajar santai. Lama studi empat tahun membuat saya bisa memahami secara perlahan tapi pasti.
  3. Tanpa tatap muka adalah hal yang dicari oleh para pekerja yang punya waktu untu pergi ke kampus.
  4. Menjadi mahasiswa merupakan kunci akses ke jurnal-jurnal ilmiah yang bisa digunakan sebagai referensi apapun.
Setelah mencari informasi mulai dari proses pendaftaran hingga proses pembelajaran. Saya mantap untuk mendaftar UT. Saya daftar online di Desember 2019. Ternyata eh ternyata, tidak semudah yang dibayangkan. Setelah daftar online, tidak langsung jadi mahasiswa, ternyata saya harus menyerahkan berkas asli yang saya unggah di pendaftaran online. Pekan pertama Januari 2020 saya menyerahkan berkas-berkas tersebut ke UPBJJ yang saya pilih, yaitu UPBJJ Jakarta di Rawamangun. Setelah menyerahkan berkas-berkas tersebut saya disuruh datang lagi sekitar 7 hari kemudian untuk verifikasi berkas. One step closer menjadi mahasiswa lagi.

Pekerjaan yang cukup pada dan ditugaskan ke luar kota selama beberapa hari membuat saya belum melaksanakan verifikasi berkas. Baru 2 minggu kemudian, saya menyempatkan waktu untuk datang ke UPBJJ Jakarta. Sesampainya di sana, lobby sangat penuh dengan orang-orang. Saya tanya salah satu petugas loketnya, saya pun disuruh untuk mengambil nomor antrean. Karena tidak ada petugas yang berjaga di nomor antrean, saya mengambil semua nomor antrean yang ada. Setelah ada petugas, saya mengembalikan nomor antrean yang salah. Wow, saya harus menunggu 100 orang lagi.

Setelah diperhatikan, ternyata pergerakan nomor antrean itu sangat lama, sekitar 10 menit per nomor antrean. Saya sempatkan untuk menelpon ibu, tentang pendaftaran ini. Saya sempat bilang bahwa saya tidak jadi daftar karena antrenya lama, namun karena ibu sangat mendukung akhirnya saya tetap menunggu. Setelah menunggu sekitar 1 jam, loket tutup untuk istirahat. Petugas pun menyatakan bahwa lembar untuk verifikasi dikumpulkan saja, nanti akan dipanggil. Loket buka lagi 1 jam kemudian. Saya memutuskan untuk kembali ke kantor untuk makan siang dan mengerjakan pekerjaan. Saya putuskan kembali lagi sekitar jam 2 siang. 

Karena kondisi jalan yang cukup macet, saya baru sampai UPBJJ Jakarta sekitar pukul setengah 3 siang. Nomor antrean saya belum terlewat, masih menunggu sekitar 20 orang lagi. Setelah menunggu satu jam, nama saya tak kunjung dipanggil. Saat nomor antrean saya dipanggil, ternyata nama saya sudah dipanggil dari tadi siang. Tapi sayangnya, berkas saya hilang. Petugas di lantai 1 menyuruh saya untuk ke lantai 3. Sesampainya di lantai 3, berkas saya juga tidak ada. Petugas lantai 3 menyuruh saya kembali ke lantai 1. Petugas lantai 3 memarahi petugas lantai 1 karena langsung menyuruh saya ke lantai 3. Sekitar 30 menit berkas tak kunjung ketemu. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Alhasil saya memutuskan untuk kembali ke kantor dan tak jadi mendaftar kuliah.

Pada saat itu, saya tidak tahu kalau hari itu adalah hari terakhir pendaftaran kuliah. Calon mahasiswa membludak, pelayanan loket untuk calon mahasiswa baru hanya dibuka dua oranng. Verifikasi berkaspun sangat manual, ditumpuk-tumpuk di meja belakang. Hal itu pun terbukti dengan hilangnya berkas saya dan saling menyalahkan antar petugas lantai 1 dengan 3. Orang-orang yang mengantre bersama saya pun banyak yang mengeluhkan pelayanan. Namun, mereka tetap sabar dengan menunggu berjam-jam. 

Setelah kejadian ini, saya cukup kapok mendaftar kuliah dengan sistem seperti ini. Berkaca pada pendaftaran mahasiswa saat S1 dan S2 dulu, meskipun banyak orang tapi masih terkendali dan tidak membuat menunggu berjam-jam. Niatan untuk kuliah masih ada, hanya sulit mencari kampus dengan sistem tersebut, kebanyakan masih sistem tatap muka. Ide lainnya adalah belajar sendiri, membeli modul di toko buku, dan menyisihkan waktu untuk belajar. Saya mencoba sistem belajar mandiri ini mulai hari ini. Semoga saya bisa rutin dan lancar dalam berbahasa.

The Recap of 2025

  Tahun 2025 adalah tahun perubahan. Diawali dengan pindahnya ke unit kerja baru dengan jabatan baru. Meskipun keinginan pindah unit kerja t...