This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Just Update!

Jujur, antusiasme untuk mengaktifkan blog ini sudah berada di titik terendah. Bahkan niat untuk just update dan melancarkan penulisan pun sungguh menurun tajam. Ya memang benar, terkadang readers menentukan semangat kita dalam menulis. Apalagi saat ini, platform video jauh lebih menarik dibanding dengan membaca. Akupun sempat berkeinginan untuk mengubah isi blog ini dalam bentuk video, tapi tetap rasa malas selalu menghantui hehehe.

Tulisan ini hanya sebagai penanda, bahwa blog ini masih aktif dan aku berusaha untuk tidak menyia-nyiakan langganan domain setahun ini. Semoga ini juga jadi pengingat untuk bisa terus berkarya. Meskipun tidak ada yang melihat. Semangat.

Cidera Kelingking yang Berkepanjangan

Hal-hal yang tidak diinginkan mungkin saja bisa terjadi kapanpun. Bahkan bagi orang yang aktivitasnya bersifat rutin. Dan inilah kejadian yang aku alami.

Antusiasme berlatih yoga pada saat sedang yoga teacher training ternyata tidak konsisten saat menunjukkan sequence yang telah aku buat kepada guruku. Saat menunjukkan salah satu pose, yang biasanya mudah saja, namun pada detik itu tumpuanku sedikit bergoyang sehingga tak seimbang, pose itu ada Ardha Chandrasana atau Half Moon.

Half Moon merupakan salah satu pose balance atau keseimbangan yang bertumpu pada satu kaki, tubuh menghadap ke salah satu sisi, wajah menghadap ke satu sisi/tangan yang di atas/tangan yang di bawah, dan kedua tangan direntangkan ke atas dan ke bawah.

Tiba-tiba rasa lelah muncul, tumpuan kaki kananku melemah, dan akhirnya keseimbangan di tubuhku goyah. Untuk menahan beban tubuhku efleks tanganku menahan agar tidak terbanting, namun sialnya kelingking tanganku yang terbentur duluan. Dan rasanya sangat sakit sekali. Namun, aku menahan rasa sakit tersebut dan melanjutkan berlatih.

Setelah kejadian, rasa sakit sangat terasa, kelingking tanganku tidak bisa lurus. Namun aku biarkan saja. Aku pikir ini akan sembuh dengan sendirinya, mungkin seminggu atau dua minggu. Karena ssebelumnya aku pernah mengalami kejadian yang sama, namun itu terjadi pada kelingking kaki. Waktu itu pada saat jadi member, aku dipaksa untuk melakukan pose Astavakrasana atau Eight-angle pose. Pada saat itu, tubuhku belum terlalu kuat yang membuat kakiku terbanting dan kelingking yang terbanting duluan. Rasanya sangat sakit, kelingking langsung biru. Namun, tidak terlalu dirasa, bahkan sorenya aku masih bisa ikut Bodycombat meskipun beberapa gerakan aku harus melakukan regresi.

Sebulan berlalu, rasa sakit tak kunjung sembuh. Area sendi antara ruas pertama dan kedua kelingking terasa bengkak. Jika diraba, rasanya seperti ada benjolan di antara sendi, warna area tersebut pun merah. Ini membuat kelingkingku tak bisa lurus. Rasa sakit terjadi jika tidak sengaja mengalami kontak entah dengan tekanan besar maupun kecil. Rasanya kurang nyaman dalam beraktivitas. Akupun konsultasi dengan dokter ortopedi secara online. Kemungkinan yang terjadi adalah tendon robek, namu perlu dipastikan juga apakah ada patah atau retak tulang atau tidak, aku direkomendasikan untuk melakukan rontgen.

Karena tidak mau mengeluarkan biaya untuk rontgen, aku berencana untuk menggunakan BPJS dengan meminta rujukan ke Faskes 1. Namun, ketika melihat antrean di Puskesmas sangat tidak masuk akal, akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan biaya sendiri. Alhamdulillah hasilnya baik, tidak ada patah atau retakan di area sekitar.


Saat aku pulang ke rumah, aku dicek oleh pamanku yang bisa pijat. Sebenarnya sih emang tidak boleh dipijat ya, namun setelah ku bilang tidak ada patah tulang, katanya sih aman. Saat dipijat,katanya ada aliran darah yang tidak lanjar sehingga membengkak. Setelah dipijat, katanya 3 hari akan kempes dan bisa lurus kembali kelingkingnya.

Tapi kenyataannya tidak saudara-saudara. Bengkak berkurang, tapi masih ada rasa benjolan keras, area sendi masih merah, dan tetap bengkok. Akhirnya aku diamkan lagi saja.

Dua bulan berlalu, rasanya tidak ada progress. Setelah bercerita ke teman yang seorang perawat sekaligus instuktur pilates, aku disarankan untuk melakukan fisioterapi. Ya, aku langsung mencari tempat fisioterapi.

Dalam sebulan aku melakukan 3 kali fisioterapi. Treatmennya sama, area yang sakit diberi treatment ultrasound, bagian lengan direlaksasi, dan otot kelingking dilatih. Pada saat ultrasound itu rasanya cenut-cenut, ngilu, dan panas. Katanya itu membuktikan ada kerusakan jaringan. Ultrasound ini membantu mempercepat pertumbuhan jaringan lunak yang rusak. Rasa sakit dan ngilu menujukkan bahwa jaringan tersebut benar-benar rusak.



Setelah 3 kali treatment apakah sembuh? Masih belum, hanya saja rasa sakit berkurang, tapi masih ada jika tertekan berlebih. Kelingking tetap tidak bisa diluruskan, menurut terapis ini terjadi karena telat penanganan sehingga jaringan yang terbentuk adalah jaringan abnormal. Treatment masih perlu dilakukan dengan fokus mengurangi rasa sakit. Namun saat ini, aku berhenti dulu melanjutkan treatment karena biaya fisioterapis cukup menguras kantong. Hehe.

Untuk saat ini yang bisa aku lakukan adalah mengompres dingin dan panas sesekali. Lebih sering mengoleskan Zam-buk karena menurut rekomendasi teman itu bisa memberikan rasa nyaman di area sakit. Meskipun sudah 2 bulan aku menggunakannya masih tidak ada perubahan.

Sekian ceritaku, aku minta saran jika ada yang perlu aku lakukan. Terima kasih.

 

The Recap of 2025

 


Tahun 2025 adalah tahun perubahan. Diawali dengan pindahnya ke unit kerja baru dengan jabatan baru. Meskipun keinginan pindah unit kerja terwujud, namun tetap tidak sempurna yang dibayangkan. Ada saja ujian dan hambatannya. Sepenuhnya proses ini dinikmati sepenuhnya. Karena di dalam unit kerja baru ini, ada beberapa hal yang bisa mengembangkan potensi, seperti flashback di unit kerja sebelumnya pada tahun 2019-2020.

Selama tahun 2025 juga, ada langkah baru yang diambil, menjadi instruktur olah raga. Dua program yang diambil yaitu yoga dan Bodybalance. Setelah lulus 50 jam, langsung diberikan kesempatan mengajar sehingga ilmu yang sudah diperoleh tidak sia-sia. Rasanya 50 jam saja tidak cukup, ambilah 100 jam di Juni dan 200 jam di Desember, hingga lengkaplah seri dasar pondasi dalam mengajar yoga. Pada Maret, diberi kesempatan untuk mengikuti audisi trainee Bodybalance, lulus di Juli, dan bisa mengajar di Agustus. Hal ini merupakan pencapaian yang luar biasa buat diri ini yang awalnya tidak menyukai olah raga, hingga menjadi instruktur olah raga.

Karir di dunia akademik juga masih berlanjut. Tidak terasa sudah memasuki tahun ketiga menjadi seorang tutor. Di semester awal, dipercaya menjadi tutor 1 kelas tutorial online reguler, pembimbing 2 kelas studio/praktikum, dan korektor UAS 1 mata kuliah. Di semester kedua dipercaya menjadi tutor 2 kelas tutorial online, pembimbing 2 kelas studio/praktikum, dan pembahas 9 kelompok studio/praktikum. Selain itu, 1 research paper bisa berhasil terbit, meskipun hampir tertunda selama 1 tahun.

Namun, dibalik tercapainya kesempatan-kesempatan yang didapat, ujian kehidupan juga didapat. Ditinggalnya papah menjadi salah satu pukulan terberat karena tidak terbayangkan diri ini akan mengalami kehilangan salah satu orang tua. Pencapaian yang sudah didapatkan ini rasanya hampa. Layaknya anak yang ingin mendapat pujian dan rasa bangga dari orang tua, kini tidak bisa dirasakan. Diri ini pun teringat dengan hal-hal yang diinginkan sesungguhnya oleh orang tua namun belum terpenuhi hingga akhir hidupnya. Ada sedikit rasa kekesalan dalam diri, namun diri ini sadar belum bisa memenui hal tersebut dalam waktu dekat karena satu dan lain hal.

Sejauh ini, bangga dengan diri sendiri. Bangga atas pencapaian, bangga punya keluarga yang selalu mendukung apapun keinginan amnaknya, bangga punya teman-teman sekitar yang selalu memberikan dukungan dan punya positive vibes.

Terima kasih tahun 2025. Sungguh tahun yang berbeda dibandingkan 2022-2024, seperti terjadi reformasi dalam diri. Tahun 2026 ini semoga lebih baik, lebih cemerlang, dan tentunya bisa menghadapi berbagai ujian dengan baik.

Sampai Jumpa di Surga Allah ya Pah!


Sabtu pagi, 28 Juni 2025, aku bangun pagi karena di hari itu aku akan melakukan training Yoga 100 jam di Sunter. Semua berlangsung seperti biasa, aku belajar dan bercengkerama dengan trainee lainnya. Setelah kegiatan selesai, aku pulang sekitar pukul 16.30. Perjalanan sore itu cukup tersendat, padahal seharusnya dari Sunter ke Pademangan itu tidak jauh. Aku menghabiskan waktu sekitar 45 menit perjalanan karena pada hari ini memang sedang berlangsung PRJ sehingga Jalan Benyamin Sueb sangat padat merayap. Sepanjang perjalanan pulang, beberapa kali ponselku bergetar, namun tidak aku hiraukan karena aku masih fokus mengendarai motor. Sesampainya di parkiran depan rumah, telepon kembali berdering, nama mama di layar ponsel, langsung ku angkat.

Sambil menangis terisak-isak, mama hanya bilang, "De pulang, papa kritis".

Aku hanya menjawab, "iya pulang sekarang".

Telepon langsung ditutup oleh mama. Akupun masuk ke dalam rumah. Sambil bingung harus bagaimana. Pikiranku seketika blank, namun aku masih sadar. Aku hanya bingung, apakah aku harus mandi dulu, apakah aku ke Gambir, atau aku harus bagaimana? Setelah menghirup nafas yang panjang, aku memutuskan untuk mandi dulu, memasukkan beberapa pakaian dalam dan beberapa barang yang penting untuk di bawa, mematikan seluruh listrik, dan mencabut regulator gas. Aku berpikir, sepertinya aku akan lama di Bandung. Setelahs emuanya beres, aku memutuskan untuk naik motor ke Stasiun Halim dan ke Bandung naik kereta cepat. Dengan harapan aku bisa naik kereta yang jam 18.30. Aku beli tiket on the spot saja karena khawatir terlambat dan hangus tiketnya.

Sepanjang perjalanan perjalanan menuju Stasiun Halim, pikiranku kosong tapi aku masih sadar bahwa aku sedang mengendarai motor. Di flyover Jatinegara, gerimis mulai terasa. Aku memutuskan untuk menggunakan jas hujan. Sesampainya di stasiun aku langsung mencari mesin tiket. Ternyata tidak tersedia kereta jam 18.30 padahal aku sampai di jam 18.15. Akupun memlili kereta jam 19.00. Sepanjang perjalanan aku menelpon temanku dan meceritakan kondisi papa sesuai dengan apa yang diceritakan oleh mama terakhir di telpon. Sesampainya di Stasiun Padalarang, informasi papa telah meninggal dikirim oleh salah satu sepupuku. Mulai saat itu, dunia terasa berjalan sangat lambat.

Perjalanan dari Stasiun Padalarang ke Stasiun Bandung dan dari Stasiun Bandung ke rumah sakit terasa lama sekali. Pikiranku kosong, satu yang kupertanyakan, kok bisa aku mengalami hal ini. Meskipun sudah sedewasa ini, aku masih merasa anak kecil yang punya orang tua yang tidak akan pernah mati. Sedewasa apapun yang aku lakukan saat ini tetapi aku masih anaknya papah mamah selamanya dan tak akan pernah terpisahkan. Ya tapi semua ini pasti terjadi. Pasti ada yang namanya kematian. Aku berjalan dari gerbang rumah sakit tanpa tahu arah. Hal yang ku tahu adalah Gedung Cancer, tempat ayahku biasa di rawat. Naluriku tidak salah, di sebelah Gedung Cancer, tepat jalan menuju basement, sudah berkumpul saudara-saudaraku.Aku diantarkan ke dalam basement, tepatnya ke ruang jenazah. Mama dan kakakku sudah duduk, aku diantarkan untuk melihat jenazah papaku yang sudah terbujur kaku.

Sepanjang perjalanan menuju rumah, pikiranku masih kosong. Aku ikut prosesi memandikan, melihat saat dikafani, dan menyolatkan di rumah, pikiranku masih kosong. Ini adalah kondisi yang belum pernah terjadi sama sekali. Ketika ada tenda depan rumah serta keluarga dan tetangga berkumpul. Aku belum bisa mencerna semua kejadian ini.

Keeskoan paginya, setelah mandi dan bersiap diri. Aku ikut masuk mobil jenazah untuk dibawa ke masjid untuk di solatkan. Sesampainya di masjid dan jenazah papahku sudah disimpan di masjid, barulah tangisku pecah ruah. Saat mengambil air wudhu aku baru tersadar bahwa aku ditinggalkan oleh salah satu orang tuaku. Saat solat dan perjalanan ke pemakaman pun tangisku tak berhenti. Aku masih tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku teringat saat-ssat terakhir masih jenguk papa ke rumah sakit. Aku teringat kebaikan tetangga dan keluarga yang telah sigap membantu. Kejadian ini sungguh memberikan aku banyak pelajaran. Karena terlalu banyak mengeluarkan air mata, kepalaku jadi terasa berat. Saat ditawari untuk masuk liang lahat, aku tidak kuat dan memilih melihat dari atas.

Selama tujuh hari aku berada di rumah. Cuti yang aku rencanakan untuk bersama keluarga, makan bersama, menjadi cuti berkabung dan memang menemani mama. Untuknya masih ada saudara yang menginap di rumah dan setiap harinya ada saja orang yang melayat. Namun, pasti akan ada hari di mana mama akan sendiri lagi, menjalani kehidupan seperti biasa. Termasuk aku yang harus kembali ke Jakarta untuk berkerja.

Sampai awal Agustus ini memang kegiatanku cukup padat setiap harinya sehingga aku tidak bisa pulang ke Bandung setiap minggunya. Namun, nanti di 40 hari papaku aku akan cuti panjang dan mulai kedepannya aku akan pulang ke Bandung 2 minggu sekali.

Sekian cerita ini. Sejujurnya cerita ini sudah aku konsepkan sejak H+7 kematian papahku. Tapi terlalu sedih untuk diceritakan dan baru diselesaikan pada hari ini. Meskipun sempat berkaca-kaca lagi. Mengingat semua kejadian kemarin yang sangat terasa cepat.

Life as Tutor UT





Salah satu cita-citaku yang sampai saat ini belum tercapai adalah menjadi seorang dosen. Aku senang belajar dan berbagi kepada orang lain serta menggali hal-hal baru khususnya di bidang keilmuan yang aku suka. Hanya saja, ada berbagai kendala yang membuat cita-citaku ini terhambat, terutama karena pekerjaanku saat ini. Tidak ada waktunya untuk mengajar dan tidak ada kesempatannya. Selain itu, ada hal-hal lain yang terutama terkait kapabilitas yang belum dapat aku penuhi. Namun, syukur alhamdulillah, berkat info dari teman dan juga keinginan yang kuat untuk mempertahankan ilmu saat sarjana, aku diberi kesempatan menjadi tutor di UT. Tidak terasa pula, saat ini sedang menjalani semester yang kelima, atau sudah 2 tahun lebih aku menjadi Tutor.

Apa itu Tutor?

Pada prinsipnya kuliah di UT itu adalah belajar mandiri. Oleh karena itu, untuk menunjang hal tersebut, UT mempunyai program bantuan belajar dengan nama Tutorial Online atau disingkat Tuton. Tuton ini layaknya website e-learning pada umumnya, di mana mahasiswa dapat mengakses website tersebut. Dalam website tersebut berisi 8 sesi pertemuan yang tiap sesinya dibuka setiap minggunya. Setiap sesi berisi materi yang dapat dipelajari secara mandiri, kuis, dan diskusi yang harus dikerjakan oleh mahasiswa. Selain itu, terdapat tugas juga yang hanya tersedia di sesi 3, 5, dan 7.

Fungsi Tutor sebagai fasilitator pembelajaran bertugas untuk memberikan feedback dan penilaian atas diskusi dan tugas yang dikerjakan oleh mahasiswa. Tambahan tugas tutor lainnya adalah membuat video pengantar di setiap sesinya. Secara umum, tutor tidak mengajar tetapi lebih ke mematik diskusi, meskipun seringkali upaya mematiknya jarang direspons oleh mahasiswa.

Tutor direkrut secara terbuka oleh UT yang dibuka kepada dosen maupun praktisi minimal lulusan Magister. Pihak UT secara aktif selalu membuka lowongan tutor beberapa bulan sebelum sesi pertama tuton dimulai sesuai kebutuhannya.

Pada program studi Perencanaan Wilayah dan Kota yang memiliki mata kuliah praktikum, tidak hanya Tutor, tetapi ada pula yang namanya Pembimbing Studio. Sama seperti Tutor, hanya ada tugas tambahan untuk Pembimbing Studio, yaitu melakukan bimbingan secara online setiap minggunya, bimbingan dilakukan dengan cara pemberian materi, diskusi, dan menyakan update progress pengerjaan studio. Bimbingan studio ini dilakukan selama 12 sesi.

Menjadi tutor ini menjadi salah satu side hustle yang memberikan kenyamanan buat hidupku. Keilmuan-ku di PWK terus terasah karena terus berdiskusi dengan mahasiswa, mencari sumber-sumber materi yang terupdate, dan memang pada dasarnya aku menyukai bidang ini. Kemampuanku dalam berkomunikasi dan presentasi terus terasah karena di pekerjaan utamaku, kemampuan tersebut tidak terlalu terasah karena mengingat masih ada hierarki, jabatan, dan pembagian kerja yang membatasi itu semua.

Penghasilan?

Tentu tidak dapat diharapkan dengan sungguh-sungguh penghasilan sebagai Tutor ini. Jika dibayangkan dengan dosen ya sangat jauh. Tapi memang tujuanku menjadi Tutor adalah terus mengasah keilmuan dan memanfaatkan waktu luang.

Sampai saat ini, aku masih ingin sekali untuk menjadi dosen. Kapabilitas yang masih sangat kurang dalam diri aku pun, aku coba untuk terus diperbaiki dan ditingkatkan, Selain itu, keinginan untuk bersekolah kembali pun masih ada meskipun sedikit menurunkan tingkat ambisinya.

Update Kehidupan 2025



Hi everyone!

Sudah lama sekali aku tidak membuat tulisan di blog ini. Sepertinya aku sudah mulai bosan haha. Tapi sehubungan aku sudah berlangganan domain per tahun, jadi apa salahnya aku lanjutkan blog ini meskipun tidak ada pembaca dan kurang menarik dengan platform lain.

Berbicara tentang kehidupan, memang sungguh up and down. Aku yakin jalan yang diberikan Tuhan itu pasti yang terbaik, meskipun sungguh di luar ekspektasi manusia seperti aku ini. 

Flashback cerita tentang tidak diberdayakannya timku di kantor memang membuat super overthinking dan merasa sungguh useless tiap berangkat ke kantor. Berbagai upaya untuk pindah unit kerja pun banyak sekali mengalami tantangan. Aku yang sudah lulus jabatan Perencana Ahli Pertama pun tak kunjung dilantik. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk kuliah lagi. Ya, kuliah lagi! Aku memutuskan untuk mengambil Sastra Inggris di salah satu universitas swasta di Jakarta dengan program kelas karyawan. Alasannya adalah mengingat kemampuan my english yang sangat minim membuat jauh untuk bersaing mendapatkan beasiswa dan mencari peluang kerja lain. Selain itu, aku terpikirkan untuk ambil freelance as an english teacher. Namun, aku hanya bertahan selama 3 bulan sebagai mahasiswa. Bukan pelajarannya yang sulit, tetapi fleksibilitas yang ditawarkan di kelas karyawan tidak sesuai iklannya. Setiap malam ada tugas yang harus dikerjakan dengan jangka waktu yang singkat, tidak sampai seminggu dan hari Sabtunya ada perkuliahan tatap muka dari jam 8 pagi hingga 3 sore. Sempitnya waktu istirahat membuatku mengibarkan bendera putih dan memutuskan untuk meninggalkan impianku sebagai english teacher.

Setelah itu, aku memutuskan untuk ambil Yoga Teacher Training. Mungkin aku tidak bakat di bidang akademik, maka aku memutuskan utnuk mengambil bidang olah raga. Sebenarnya sejak tahun lalu sudah banyak yang menyarankan aku untuk ambil training tersebut, melihat progresku yang cukup baik di olah raga yoga. Waktu itu aku masih ragu dan baru yakin di November 2024. Akhirnya aku ambil training yang dimulai Januari 2025 dan lulus di Februari 2025. Alhamdulillah, karirku sebagai yoga teacher langsung dimulai, meskipun aku baru dapat dua kelas reguler, 1 di gym dan 1 bersama teman-teman kantorku.

Dibalik banyak dukungan dari teman-temanku sebagai yoga teacher, tetap saja ada orang-orang berhati busuk terhadapku. Ya meskipun ini masih hanya anggapanku saja karena aku malas untuk mengkonfirmasi apakah orang itu benar-benar cemburu padaku ini atau tidak. Tapi ya sudahlah, tak aku pikirkan dan tak perlu aku ceritakan juga sikap orang tersebut.

Salah satu hal yang tak terduga juga adalah di Desember 2024 aku dilantik sebagai Perencana Ahli Pertama. Tentu sangat senang karena pastinya aku dapat keluar dari kandang macan, tapi yang tidak terduga adalah aku ditempatkan di unit kerja yang tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Tidak hanya aku, teman-teman bahkan pimpinan yang sudah menyetujui aku pindah pun tercengang mengenai unit kerjaku sekarang. Benar-benar di luar dugaan! Namun, aku tidak mau menanyakan alasan, aku sudah lelah, aku sudah tidak mau berurusan dengan orang SDM. Pasrah saja. Aku yakin ini tempat terbaikku, meskipun tentu saja ada tantangannya, ada daging jadi yang membuat unit kerja ini mengalami sedikit sakit.

Satu hal lagi yang membuat tercengang para PNS di Indonesia, yaitu efisiensi yang diterapkan oleh Bapak Presiden Baru. Hal ini membuat keterbatasan anggaran dalam kegiatan dan tentunya hilangnya tambahan penghasilan bagi PNS. Jadi para PNS ini hanya mengandalkan take home pay yang tidak seberapa. Jujur, secara pribadi aku tidak kaget karena aku sudah merasakan efisiensi dari tahun 2023, semejak aku dipindahkan ke bdiang sektor riil. Kegiatan sektor riil tidak diprioritaskan sehingga tidak diberikan anggaran sama sekali untuk berkegiatan. Bedanya kalau dulu efisiensi dilakukan oleh pimpinan eselon 2 dan dirasakan oleh timku saja sedangkan sekarang dilakukan oleh presiden jadi sangat dirasakan bagi para PNS jelata.

Untungnya lagi, semenjak diefisiensikan di tahun 2023, aku sudah berusaha mencari tambahan di luar kantor, mulai menjadi tutor UT hingga pernah menjadi freelance di lembaga think-thank. Sekarang ditambah sebagai yoga teacher. Cukup untuk tambahan penghasilan di masa mode penghematan ini. 

Salah satu keinginanku yang belum tercapai adalah bisa kuliah jenjang doktoral. Aku sudah berencana untuk ambil Ilmu Lingkungan di UI agar semua kegiatan freelance-ku masih tetap berjalan. Tapi tentunya kemampuanku untuk memperoleh beasiswa masih jauh di bawah standar. Sempat menyerah dan merasa cukup dengan pendidikan magister ini. Tapi aku akan mencoba lagi saat aku sudah dilantik menjadi Perencana Ahli Muda tahun depan. Semoga ada jalannya, semoga tidak dipersulit, dan semoga ilmu dan amal ini bisa membawa aku ke surganya Allah. Aamiin.

Oh ya, satu hal lagi yang membuatku cenat-cenut adalah mengenai kondisi papa. Semenjak tidak bekerja lagi di awal 2024, hingga saat ini kondisinya semakin drop. Masih bisa beraktivitas namun tidak sekuat sebelumnya. Setiap sebulan atau dua bulan sekali harus ke rumah sakit untuk transfusi darah. Hasil pemeriksaan menunjukan bahwa papa kena leukemia. Secara finansial memang tidak berpengaruh karena full cover BPJS, tapi aku sangat shock. Desember 2023 itu papa masih sehat dan aktif bekerja, tapi di awal 2024 langsung sakit dan akhirnya memutuskan resign. Dan sampai saat ini keadaannya tak kunjung membaik. Terakhir, upaya kemoterapi belum bisa dilakukan karena trombositnya masih sangat rendah. Aku sendiri bingung harus berbuat apa. Aku yang di Jakarta tidak bisa sering ke Bandung juga. Aku hanya bisa support keuangan saja karena papa dan mama sudah tidak bekerja. Untungnya aku masih diberi kelebihan rejeki untuk membantu orang tua, namun jika dipaksa untuk menikah uangnya tidak ada. Semoga orang tua, keluarga, dan teman-temanku memahami alasanku menunda menikah dan kebetulan belum kepingin menikah juga hehe.

Mungkin buat teman-teman yang mengikuti aku di instagram, terlihat bahwa aku happy dengan aktivitasku seperti tidak ada beban. Tidak seperti itu sebenanrnya. Aku sudah tidak mau posting hal-hal yang negatif yang dapat menjadi beban pikiran. Jadi aku selalu posting yang positif-positif saja. Biar teman-temanku tidak khawatir. Aku selalu mencari cara bagaimana menyelesaikan beragam persoalan. Karena aku yakin Tuhan akan selalu membantu hamba-Nya yang dalam kesusahan.

Oktober - Keputusan Ajaib Di Luar Idealisme

Oktober ini bisa dibilang masa di mana aku banyak mengambil keputusan. Tentunya keputusan untuk masa depanku yang semoga bisa menjadi lebih baik ke depannya.

Di awali dengan masa depan kantor yang sangat tidak jelas, apalagi semenjak kepemimpinan baru, tentu saja tempat kerjaku ini harus direorganisasi. Harapan untuk bisa dilantik menjadi JF dalam waktu dekat sangat gelap untuk dilaksanakan. Kelulusan uji kompetensi sejak 7 bulan yang lalu sepertinya hanya akan menjadi kenang-kenangan yang akan segera kadaluarsa. Kekecewaanku terhadap manajemen pegawai sepertinya sudah dalam tahap mati rasa hingga aku merasa bodo amat.

Kekecewaan tersebut menimbulkan inisiasi baru dalam hidup. Rasa idelisme yang aku pupuk dari semenjak lulus kuliah, yaitu bekerja harus di bidang sesuai dengan titel sarjanaku, akan aku kubur dalam-dalam. Aku yakin bahwa Allah akan memberikan rezeki dari berbagai jalan tidak dari jalan yang aku pikirkan. Mulai sekarang, setiap ada jalan dan kesempatan harus dicoba, siapa tahu itulah jalan menggapai rezeki.

Salah satu keputusan besarku yang pertama adalah mengambil kuliah sarjana lagi. Ide ini sudah aku pikirkan sejak tahun 2020 dan baru terlaksana di tahun 2024 ini. Berbagai pertanyaan dan hujatan tentu aku dapatkan, tapi aku tetap ambil keputusan ini sebagai salah satu jalan untuk menjemput kesempatan rezekiku. Aku mengambil program sarjana Sastra Inggris di salah satu kampus swasta di Jakarta. Tujuan utamanya tentu untuk mendukung keinginanku untuk mengambil program doktoral. Bisa lancar menulis dan berbicara. Tapi aku juga ingin menjadi guru les Bahasa Inggris sebagai kegiatan freelance-ku kelak.

Keputusanku lainnya adalah mengambil training untuk menjadi Yoga Teacher. Memang pelatihannya dimulai awal tahun 2025, tapi memang keputusannya harus di mulai di Oktober ini. Aku langsung melunasi pembayaran untuk pelatihan nanti. Menjadi guru yoga juga menjadi incaranku sebagai freelancer.

Kedua ide itu muncul begitu saja sebagai bentuk stress realease-ku. Aku rasa keluar dari idealisme membantuku lebih sehat dalam berpikir. Tentunya keputusan ini selalu didukung oleh teman-temanku. Bahkan sebelum aku mulai pelatihan yoga, sudah ada dorongan untuk mengambil program olah raga lain. Namun tentunya, keputusan itu harus dipikirkan sebaik mungkin. Aku pun harus menyiapkan fisikku lebih hebat lagi.

Aku sangat bersyukur sekali diberi kesempatan ini oleh Allah. Semoga aku bisa menjalaninya dengan baik dan memanfaatkan semua pemebrian Allah yang ada di tubuhku ini dengan baik.

Kekhawatiran Komunikasi

Sehubungan aku lagi membaca buku berjudul Intercultural Communication, jadi terpikir untuk membahas sedikit tentang komunikasi. Lebih tepatnya proses pembelajaran komunikasi yang terjadi dalam diri aku. Aku pikir ini menjadi penting baik bagi proses pengembangan diri maupun pengembangan pada anak-anak yang akan kita miliki.

Ketika mencoba melakukan asesmen terkait kekhawatiran dalam komunikasi, hampir semua jawabannya adalah sangat khawatir. Artinya, aku mengalami kekhawatiran yang sangat tinggi ketika harus bertemu dan berkomunikasi dengan orang lain. Rasa khawatir itu lebih ke takut apa yang aku inginkan dalam komunikasi itu tidak tercapai.

Misalnya, aku gugup ketika akan bertemu dengan atasan. Sebelum bertemu sering kali aku berlatih dulu apa yang akan aku sampaikan. Bahkan jika rasa takutku sangat tinggi, aku memilih untuk tidak bertemu atasan. Padahal tujuan aku ingin bertemu atasan untuk meminta izin cuti. Rasa takut ini tidak terjadi pada semua atasan, hanya atasan tertentu yang menurutku memiliki mood swing.

Contoh lainnya adalah ketika bertemu dengan orang yang tidak dikenal. Semisal aku tersesat aku lebih percaya google dibandingkan bertanya. Ada ketakutan berbicara ngalor ngidul dan ditanya hal-hal personal yang tidak aku ingin jawab. Kadang pula aku merasa dicurigai oleh orang lain ketika aku mau bertanya sesuatu.

Satu contoh lagi adalah ketika aku harus menjelaskan hal yang tidak aku pahami dengan baik. Rasa takutku pada orang yang bertanya detil dan aku tidak dapat menjawabnya. Rasa takut dianggap bodoh pun sangat besar. Sehingga aku cukup menghindari komunikasi semacam itu.

Tapi dibalik itu semua. Aku ingin bisa berbicara dan menjelaskan sesuatu pada orang banyak. Hanya saja untuk berkomunikasi dengan orang yang belum dikenal atau yang tidak selevel butuh persiapan yang lebih matang.

Dalam bukunya Neuliep yang berjudul Intercultural Communication A Contextual Approach, mengatakan ada empat tipe kekhawatiran komunikasi, yaitu:

  1. Kebiasan atau sifat seseorang. Pada dasarnya orang itu memang punya sifat yang tertutup selama bertahun-tahun. Inilah yang menyebabkan orang ini khawatir jika akan melakukan komunikasi dengan orang lain.
  2. Kekhawatiran karena konteks tertentu. Jika ada tema atau pembahasan tertentu orang ini akan menjadi panik dalam berkomunikasi.
  3. Kekhawatiran karena audiensnya.
  4. Kekahwatiran yang tergantung situasi, ini gabungan antaran kekhawatiran konteks dan audiens.
Dari keempat tipe tersebut, aku tergolong keempatnya. Jika melihat ke belakang, aku cenderung orang yang tertutup dan membatasi diri dalam berkomunikasi. Padahal aku ingin sekali bisa menjadi orang yang ekstrover. Hanya ada satu hal yang mengganjal dalam diri, yaitu nama.

Sebentar, kalau bahas ini aku harus inhale and exhale dulu.

Yes, aku memiliki nama yang umumnya diberikan kepada seorang anak perempuan. Di masa kecil khususnya sekolah dasar, benteng antara laki-laki dan perempuan itu sangat tinggi. Jadi apabila ada suatu gender memakan atribut gender lainnya, itu akan menjadi bulan-bulanan anak sekolah. Yes, it's happen to me. Ketika seorang anak laki-laki menggunakan nama anak perempuan, ditambah acara televisi saat itu mendukung bahwa namaku itu seharusnya digunakan oleh seorang perempuan. Pada waktu itu, orang tuaku tak bisa membantu apa-apa termasuk menguatkan anak laki-lakinya. Hal ini membuat muncul ketidakpercayaan diri yang amat besar khususnya setiap harus memperkenalkan diri dan menyebutkan nama.

Semakin dewasa tentu rasa kekhawatiran itu semakin berkurang. Namun, tentu mengingat masa-masa sebelumnya yang mana aku diejek, kemudian ada rasa sesal akibat hal itu membuat banyak impianku menjadi orang yang bisa berkarya menjadi terpendam. Hal tersebut membuat rasa percaya diri saat dewasa tetap tidak maksimal. Takut salah itu sering terjadi, jadinya merembet dan menyentuk tipe kekhawatiran nomor 2 hingga 4.

Aku tahu sekali, semua ini bisa diubah pelan-pelan. Namun butuh proses, karena benar kata psikolog yang pernah aku temui, semua ini karena pola asuh yang bisa menjadi trauma tersendiri bagi individu sepertiku. Memang aku bisa bertahan dari gempuran orang-orang yang selalu bilang, "kamu bisa div, itu mudah". Yes, i know i can change and be well-communicate. Tapi semua itu butuh proses dan tidak seperti kalian yang bisa dengan mudah mendapatkan apa yang kalian inginkan.

Sedikit menyentil orang tua yang memberikan nama asal pada anaknya. Aku tahu kalian sungguh kreatif, tapi tolong, berilah nama yang baik untuk anak. Jangan aneh-aneh. Berpikirlah ke depan, apakah dengan nama seperti itu, anak akan mendapat tekanan dari teman-temannya atau tidak. Hal ini harus dipikirkan untuk masa depan si anak.

Aku tidak menyalahkan orang tuaku memberikan nama padaku. Aku memakluminya karena keterbatasan informasi pada saat itu. Aku mencoba lebih percaya diri dengan menggunakan nama itu, tapi memang terkadang bekas luka sering terasa ketika ada yang mempertanyakan, "Kenapa namanya Diva?", "Aku pikir Diva itu perempuan". Tapi untuk saat ini, aku menganggap mereka yang mempertanyakan hal tersebut sebagai candaan semata, meskipun terkadang membuat sedikit sesak.

Suka Duka Nge-gym

Hai sobat.

Kali ini aku mau cerita tentang suka duka menjadi member sebuah gym. Setelah 3 tahun nge-gym sepertinya aku belum menceritakan pengalamanku ini. Pernah satu kali cerita tentang pengalaman konsumsi susu protein di sini: Coba-coba Susu Protein. Tulisan ini akan menjadi pelengkap seri tentang pengalaman kebugaran.

Ketertarikan nge-gym itu sebenarnya sudah lama aku ingin, salah satu kendala terbesar adalah tidak ada teman. Bagi orang yang kurus kerontang, masuk ke tempat gym itu rasanya seperti di-judge oleh orang-orang yang badannya sudah ideal. Belum lagi stigma negatif tentang pria-pria di pusat kebugaran sangat kencang di telinga. Hal tersebut membuat keinginanku untuk berolahraga indoor menjadi goyah. Ditambah lagi sebelum bekerja, tentu belum ada uang untuk mendaftar member gym. Memang dulu sekali, sekitar tahun 2013 atau 2014, aku pernah menjadi member gym bersama 5 orang temanku. Waktu itu harganya cukup ramah di kantong mahasiswa, ya tapi hanya bertahan 1 bulan karena tidak ada yang melanjutkan membershipnya.

Akhirnya setelah sekian lama, dipertengahan 2021, di usia yang akan memasuki 29, aku merasa olah raga itu cukup penting. Pasca pandemi Covid-19, pinggang, leher, dan hampir seluruh bagian tubuh rasanya kaku dan sering sekali pegal-pegal. Kebetulan ada juga teman yang mau join gym juga. Jadi kami bisa menggunakan paket berdua dengan harga yang lebih murah untuk membership selama 1 tahun. Sayangnya, belum sempat join, temanku itu tidak jadi membayar membershipnya, akhirnya aku tetap melanjutkan nge-gym sendiri. Tentunya dengan bantuan Personal Trainer karena aku buta sekali mengenai dunia gym. Meskipun aku merasa sangat terlambat, apalagi jika melihat anak-anak usia 20 tahunan, badannya sudah bagus-bagus. 

Tidak ada body goals, aku hanya ingin lebih fit. Tapi ya tentu punya badan bagus juga bonus yang ingin aku dapat, ya setidaknya ada buktinya lah ya. Memang aku bukan orang yang suka memposting foto selfie untuk memperlihatkan progress selama aku nge-gym. Tapi memang, secara fisik dari Juni - Desember 2021, tidak ada perubahan yang berarti. Hal ini dikarenakan sempat berhenti latihan akibat diberlakukan kembali PPKM. Mulai Januari - September 2022, aku melakukan latihan mandiri sesuai ilmu yang diberikan oleh PT-ku.

Hasil nge-gym selama satu tahun sudah pasti badan lebih fit, segar, dan kuat tapi secara fisik tidak ada perubahan sama sekali. Padahal, aku mengkonsumsi susu protein juga sampai mengalami masa jerawatan yang cukup parah. Dan satu hal yang bikin aku kesal banget adalah ketika ada yang bilang: "Lu udah nge-gym setahun kok ga ada perubahan? Lu kenapa jerawatan parah gitu?". Pertanyaan tamparan yang sungguh menyakitkan ulu hati dan sanubari, sampai aku mengalami mental down dan malas buat nge-gym lagi karena merasa useless. Ditambah lagi, di tempat gym lama itu, aku juga sudah mulai mengalami ketidakbetahan karena loker ruang ganti yang ada kecoak kecil-kecilnya dan mantan PT-ku meminjam uang tanpa mengembalikannya sampai hari ini. Fix aku off nge-gym.

Seminggu sebelum membership-ku habis, aku terkena Covid dan harus isolasi mandiri di rumah. gejala-gejala kurang fit, badan kaku, dan pegal-pegal terjadi lagi. Sepertinya aku harus kembali berolahraga. Ini juga momen yang tepat aku pindah tempat gym. Di September 2022, aku resmi jadi member tempat gym baru yang lebih dekat dengan rumah, meskipun peralatannya sedikit dan clubnya kecil, aku enjoy nge-gym di sana. banyak variasi gerakan yang bisa aku lakukan berbekal ilmu PT-ku dulu. Meskipun kadang suka iri melihat member-member sana yang badannya sudah pada jadi. Tapi tetap aku percaya diri karena ini bukan pertama kalinya aku nge-gym, sebelumnya sudah 1 tahun kan?

Selama perjalan nge-gym itu, aku menyadari bahwa setiap individu punya sistem tubuh yang berbeda-beda. Bagaimana dalam kecepatan metabolisme, pembentukan otot, endurance, dan lain sebagainya. Dan aku sebagai salah satu orang yang lambat itu semua. Konsumsi susu protein secara teratur, ditambah dengan tribulus dan creatine tidak membuat otot lebih cepat berkembang, tidak membuat strenght dan endurance lebih cepat meningkat. Hal yang meningkat hanya hopeless, hingga akhirnya aku mencoba beralih ke kelas cardio karena semakin sering latihan beban, hanya membuat aku tambah stress ditambah dengan melihat orang lain yang progress-nya sangat-sangat cepat.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai tertarik dengan kelas. Mulai dari Kpop Dance, Core, Zumba, Muaythai, Bodycombat, Yoga, Pilates, Strong Nation, Poundfit, dan Bodypump. Aku mulai nyaman di kelas karena aku cuma mengikuti arahan instruktur saja, tanpa peduli melihat orang lain. Berbeda dengan latihan alat, yang setiap kali latihan serasa di-judge member lain. Seiring berjalannya waktu mengikuti kelas, benefit yang aku dapatkan adalah lebih meningkatnya stamina dan yang pasti punya banyak teman. Aku tidak sepenuhnya meninggalkan latihan beban, aku terus berusaha mengimbanginya meskipun lebih banyak cardionya. Tapi dengan pola latihan seperti ini aku lebih nyaman. Memang rasa insecure masih ada karena just a little progress yang aku rasakan tapi aku enjoy.

Beberapa hal yang aku pelajari setelah hampir 3 tahun rutin berolahraga, antara lain:

  1. Olahraga itu investasi masa depan. Semakin bertambahnya usia, tentu tubuh kita akan terus mengamai penuruman kualitas. Dengan berolahraga, penyakit-penyakut yang biasanya terasa di usia senja bahkan ada yang mengalaminya di usia produktif bisa terhindar. Tentunya enggak cuma dengan berolahraga saja, tetapi harus diimbangi dengan makan-makanan yang sehat serta pikiran yang positif.
  2. Setiap orang punya tubuh yang berbeda-beda. Aku menyadari masa kecilku yang penuh keterbatasan membuat asupan nutrisiku tidak sempurna. Hal inilah yang membuat perkembangan tubuhku juga cenderung lambat, termasuk dalam proses pembentukan otot. Aku masih berupaya menghilangkan pikiran negatif setiap melihat orang-orang yang sudah jadi. Percayalah bahwa orang-orang tersebut juga punya proses, aku pun begitu meskipun mungkin lebih lama dari mereka.
  3. Teman, ya itu benefit yang tidak masuk dalam goals tapi aku dapatkan. Teman-teman yang suportif, mau berjuang bersama. Apapun tujuan mereka saat jadi member, tidak membuat kami terpecah. Memang namanya pertemanan pasti ada yang aneh, tapi untuknya secara umum teman-teman yang bertahan sampai sekarang cukup baik.
Saat ini, aku mulai mengubah jadwal latihanku. Hal ini dikarenakan kepadatan aktivitas. Aku tidak tahu apakah pola latihan seperti ini benar atau tidak karena atas ke-hopeless-an selama ini, aku jadi tidak punya target apapun dalam berolahraga. Senin-Jumat aku latihan beban setelah pulang kantor sekitar 60 menit. Kamis dan Jumat setelah latihan beban aku ikut kelas Bodycombat. Sabtu off. Minggu kelas Bodypump dan Core. Sebelumnya, setiap malam aku ikut Bodycombat, namun untuk sekarang tergantung kekosongan jadwal aktivitasku. Semoga aku tetap sehat dan selalu positive thinking. Hahaha.

Salam sehat.

Rekomendasi Parfum Murah, Tahan Lama, dan Wanginya Enak Banget


Soal parfum aku ga terlalu neko-neko yang penting wanginya pas. Manly tapi enggak terlalu mencolok dan norak juga baunya. Wanginya bikin nyaman di setiap hidup, termasuk harganya aman di dompet. Hehe. 

Berikut beberapa rekomendasi parfum yang sering aku beli karena wanginya emang nyaman banget. Harga tentu masih terjangkau dan pastinya awet juga asal pakainya masih masuk akal ya.

1. Miniso - Garden of Mirror

Garden of Mirror ini punya dua varian, yaitu Noir dan Bleu. Keduanya aku suka banget, wanginya manly, enggak terlalu tajam, enggak alay, dan enggak sweet. Varian Noir unsur manly-nya lebih unggul sedangkan varian Bleu lebih segar dan fresh.

2. Miniso - Tea Series EDP

Tea Series ini tergolong parfum wanita, tapi menurutku lebih ke unisex sih, soalnya wangi sweetnya low banget. Lebih banyak wangi segarnya. Tea Series ini punya 2 varian, yaitu Green Tea dan White Tea. Dua-duanya seger banget. Enggak ada salahnya cowok pakai ini.

3. Miniso - Mystic EDT

Alternatif lain kalo enggak dapet EDP, bisa pake EDT ini. Series Mystic ini punya dua varian, yaitu Mountain Night dan Ocean Breeze. Dua-duanya enak banget, tapi bedanya kalau yang Mountain Night lebih kalem sedangkan Ocean Breeze lebih seger dan ceria.

4. Olere

Nah kalau yanng sekarang lagi aku pake adalah Olere. Olere ini punya banyak varian, tapi yang paling enak menurutku itu yang varian Eden dan City Sway. 

Mungkin parfum emang preferensi, tergantung maisng-masing orang sukanya bagaimana. Bagiku yang menyukai wangi yang manly tapi tidak terlalu tajam dan tidak terlalu sweet, pilihan-pilihan di atas bisa jadi rekomendasi kamu yang lagi mencari parfum.

Fiksi Seru Supaya Kamu Lebih Bersyukur


Beberapa bulan belakangan ini, aku lagi senang baca fiksi. Dari beberapa yang aku baca, ada lima novel fiksi yang aku suka dan aku jadikan pengingat supaya bisa lebih banyak bersyukur.Pada aat itu aku sedang merasa sendu, memikirkan alur kehidupan yang begitu berliku dan stagnan. Dengan membaca cerita fiksi ini, aku sedkit bisa mengurangi overthinking dan membuat lebih bersyukur bahwa masih ada orang-orang yang mengalami kehidupan yang lebih sulit dari aku meskipun hanya dalam cerita fiksi. Wkwkwkwk.

Kami (Bukan) Sarjana Kertas - J. S. Khairen

Bercerita tentang sebuah remaja yang bernama Ogi yang hidup di keluarga miskin dan tidak mempunyai kemampuan akademik yang baik. Namun, masih punya keinginan untuk kuliah meskipun di kampus antah-berantah yang sangat tidak favorit. Pilihan kuliah di kampus tersebut ya karena biaya kuliahnya sangat murah namun demikian tetap sulit untuk dibayar karena kemiskinan yang dialaminya. Berbagai kesulitan dialami Ogi dan hampir ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Sampai akhirnya Ogi harus di drop out karena kualitas akademiknya selama beberapa semester tidak memenuhi kualifikasi. Namun, semesta berkata lain, Ogi diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan IT dan akhirnya bisa ditarik untuk bekerja di perusahaan IT internasional.

Kami (Bukan) Jongos Berdasi - J. S. Khairen

Masih kelanjutan dari Kami (Bukan) Sarjana Kertas, dalam novel ini lebih fokus ke teman-temannya Ogi setelah lulus dari kampus antah-berantah tersebut. Perjuangan memperoleh pekerjaan harus dihadapi mengingat kualifikasi bekerja bagaikan mau melamar menjadi pahlawan super. Namun, memang rejeki tidak akan kemana, hanya perlu sabar dan ber-ikhtiar.

Sisi Tergelap Surga - Brian Khrisna

Di balik hingar bingar Kota Jakarta, masih ada perkampungan yang isinya orang-orang pinggiran yang bertahan hidup pun masih sangat sulit. Pekerjaan apapun diambil, tanpa mempedulikan halal atau haram, yang penting bisa makan untuk hidup keesokan harinya. Fiksi ini menceritakan kehidupan dari sisi Jakarta lain tersebut. Buat kita yang bisa hidup sederhana pasti akan sangat bersyukur dibandingkan orang-orang yang buat makan besok aja masih berpikir cari uang dari mana.

Romansa Stovia - Sania Rasyid

Mengambil latar belakang di masa Hindia Belanda, novel ini menceritakan perjuangan orang-orang pribumi untuk menjadi seorang dokter yang tentunya butuh waktu, uang, dan perjuangan untuk mendapatkan gelar tersebut. Tidak hanya itu persahabatan dan cinta pun menjadi ujian yang bisa kitya ambil pelajaran dalam kehidupan nyata.

Anak Kos Dodol Kumat Lagi - Dewi 'Dedew' Rieka

Keseruan anak-anak kos yang ajaib tapi kompak juga sangat seru buat dinikmati. Apalagi buat kita yang kulihanya harus merantau. Kenangan tentang masa-masa kos, perkuliahan, dan perjalaan menjadi seorang yang dewasa membuat kita belajar akan rasa syukur.

Masih banyak lagi tentunya fiksi-fiksi yang bisa jadi referensi buat kita untukmenjadi lebih bersyukur. Jika ada rekomendasi fiksi lagi, silahkan tulis di kolomkomentar ya. 

Jangan Angkuh


Kadang manusia tidak sadar kalau dirinya angkuh.

Kadang manusia tidak sadar kalau dirinya merasa paling tahu.

Kadang manusia tidak sadar kalau duniawi itu hanya sementara.

Semakin bertambahnya usia, semakin bertambah pengalaman tentunya akan ada rasa menjadi 'si paling'. Tentu aku juga merasakan hal tersebut ketika merasa berada di fase 'puncak'. Namun untungnya, aku segera tersadar bahwa fase 'puncak' itu bukan apa-apa. Bahkan tidak pantas untuk dibanggakan, bahkan lebih berpotensi takabur. Masih banyak hal yang harus digabai dibanding harus bersukaria atas hal yang belum ada apa-apanya. Sadar tentunya bukan tiba-tiba saja, tetapi dengan diambil fase tersebut dan menjadi sebuah batu hiasan saja yang menjadi pelengkap walau tak jelas fungsinya apa.

Allah Maha Baik. Si batu hiasan ini meskipun tak dianggap di rumah sendiri, namun bisa berguna di tepat lain. Batu ini bisa menjadi komponen yang menggerakkan suatu sistem dan juga bisa menjadi pencerah pada batu-batu muda yang baru tercipta dan akan memasuki dunia baru. Selain itu, aku juga belajar menjadi seorang murid di sebuah kelas pelatihan dan olah raga. Hal ini menyadari bahwa setiap orang punya kemampuan masing-masing, setiap orang punya keahlian masing-masing, setiap orang belajar dari orang lain, setiap orang tidak bisa serakah memiliki berbagai kemampuan, setiap orang bisa menjadi guru maupun bisa menjadi murid. Artinya jangan pernah sombong atas kemampuan yang kita miliki. Berbagi boleh tapi jangan pernah merasa jadi "si paling". Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada lapisan tanah berikutnya. Boleh ambisius tapi jangan pernah merendahkan orang lain, boleh mengagumi orang lain tapi jangan sampai mengagungkan kecuali Rasullullah yang memang teladan bagi seluruh umat.

Memang, hampir semua yang ada di dunia ini tidak bisa kita kontrol, tidak bisa mengikuti sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi ingat kata Filosofi Teras, kita bisa mengontrol apa yang bisa kontrol. Kalau kita ingin menjadi nomor 1, kita bisa berjuang sebaik mungkin, bukan menjatuhkan saingan kita. Kalau kita tidak mau bergunjing, maka jauhilah orang yang bergunjing, bukan berusaha menutup mulut orang lain.

Benar kata orang, banyak belajar dan mencari ilmu kaya padi yang matang. Semakin berisi semakin merunduk, tidak sombong. Aku harus banyak belajar menjadi seperti padi karena pada dasarnya aku seperti padi yang ga matang-matang. Hehe.

Mata Kuliah Studi dalam Prodi PWK

 


Apa itu mata kuliah STUDIO? Mengapa ada mata kuliah STUDIO dalam program studi Perencanaan Wilayah dan Kota? Apa saja yang dipelajari dan dilakukan? Beberapa pertanyaan tersebut mungkin ada dalam benak mahasiswa yang mengambil mata kuliah studio. Penjelasan singkat ini, semoga dapat membantu pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga saat menjalani mata kuliah tersebut, kita bisa memahami esensi dari mata kuliah tersebut.

Samsung Notes yang Tidak Terintegrasi

Waaaw, sudah cukup lama juga aku tidak update blog ini. Hal ini dikarenakan cukup banyak kerjaan yang sulit ditinggalkan. Predikat sebagai full-time blogger patut dipertanyakan nih. But, it's okay, mari kita mulai membahas hal-hal yang ringan terlebih dahulu.

Sebenarnya sih, tulisan ini merupakan bentuk kekecewaan atas suatu produk, yaitu Samsung Notes. Sebagai pengguna Android Samsung sejak 2019, Samsung Notes adalah satu-satunya aplikasi penulis catatan yang aku gunakan. Ketika di pertengahan 2020 aku memutuskan untuk membeli Tablet Samsung, tentunya semua catatan berbasis kertas, termasuk buku-buku hardcopy semuanya aku pindahkan ke Samsung Notes. Integrasi antara smartphone dan tablet tentu sudah jelas ada karena merupakan satu brand. Di sisi lain aku membutuhkan integrasi perangkat portabel tersebut dengan laptop. Pada saat itu, Samsung Notes masih bisa diinstal di perangkat windows. Aku pun tidak kesulitan membuka catatan dicatat di smartphone atau tablet di laptop ataupun sebaliknya. Semenjak itu produktivitasku cukup meningkat.

Sayangnya di pertengahan 2023 kemarin, ketika aku mau membuka Samsung Notes di laptop, catatanku tidak sinkron-sinkron. Sudah ditunggu sekitar 10 menit tetap tidak ada pembaharuan. Hingga terpaksa aku instal ulang dan muncul pop-up pemberitahuan bahwa Samsung Notes sudah tidak dapat diakses lagi di windows kecuali Samsung Galaxy Book. Sungguh kekecewaan yang luar biasa mengingat aku baru saja membeli laptop setahun yang lalu dan Samsung Galaxy Book tidak dijual resmi di Indonesia. Tentunya Samsung nilai Samsung jadi berkurang sedikit dari Apple yang semua produknya sudah dijual resmi di Indonesia. Jika seseorang hanya memiliki satu produk Apple, Apple masih memberikan kemudahan dengan memberikan akses Apple Notes lewat web sedangkan Samsung Notes tidak dapat diakses lewat web, hanya bisa pada aplikasi Samsung Notes yang terinstal di perangkat merk Samsung.

Sempat terpikirkan untuk migrasi semua catatan ke aplikasi lain, seperti Google Keep. Tapi melakukan migrasi dari Samsung Notes ke Google Keep tidak mudah. Perlu proses yang cukup lama karena harus mengkonversi satu per satu ke format PDF. Alhasil, aku tetap bertahan menggunakan Samsung Notes, namun untuk catatan yang dibuat di laptop aku save dalam format txt pada aplikasi Notepad dan disimpan dalam Google Drive yang terkoneksi dengan laptop.

Ya, cukup kecewa sih sebenarnya. Minimal Samsung bisa memberikan akses Samsung Notes atau Samsung Cloud via web. Menjual Samsung Galaxy Book di Indonesia juga mungkin salah satu alternatif, tapi tentu membeli laptop tidak seperti membeli kacang goreng. Mungkin jika laptop lama rusak bisa jadi pilihan tapi tentunya Samsung juga harus bersaing dengan brand lain dalam menjual laptopnya.

Polusi Udara dan Transportasi



Polusi udara yang terjadi di Jabodetabek mulai menjadi isu nasional dan menjadi bahan pembicaraan se-antero dunia. Sebenarnya polusi udara tersebut sudah terjadi cukup lama, hanya baru disadari semenjak berakhirnya pandemi dan kembali pada kondisi normal. Saat lockdown, langit Jakarta pernah sejernih kaca, bahkan Gunung Salak bisa terlihat dari Jakarta Utara. Namun, setelah kembalinya aktivitas masyarakat, tak disadari ternyata langit ibu kota menjadi lebih gelap. Serasa mendung akan hujan, tapi ternyata saat ini musim kemarau.

Kendaraan bermotor memang paling mudah untuk disalahakan sebagai penyebab pulusi udara, mengingat populasi kendaraan bermotor jauh lebih banyak dari jumlah penduduk ibu kota. Belum lagi ditambah dengan para penglaju dari daerah sekaligus dan para perantau yang membawa kendaraan pribadi dari daerah masing-masing. Sudah seringkali juga kita mendengar masyarakat yang disalahkan atas gaya hidup ini, tapi apakah sepenuhnya salah masyarakat? Aku rasa masyarakat cuma dijadikan kambing hitam atas permasalahan yang terjadi. Simple-nya adalah ketika ekonomi lemah, masyarakat diberi kesempatan untuk belanja kendaraan, ketika macet dan polusi udara masyarakat disalahkan atas gaya hidupnya menggunakan kendaraan pribadi.

Jakarta memang menjadi kota terbaik dalam pilihan bertransportasi publik. Moda transportasi dari yang tradisional hingga yang modern ada di Jakarta. Namun, banyaknya pilihan bukan berarti menjadikannya sebagai kota dengan sistem transportasi terbaik. Salah satu hal terpenting dalam sistem transportasi publik adalah jangkauan. Mungkin enggak sampai 50% area Jakarta terjangkau dengan transportasi publik. Selain itu ada aspek kenyamanan dan keamanan. Ya tentu sajalah orang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi dibandingkan naik transportasi publik.

Mengambil contoh dari pengalaman pribadi. Dulu aku tinggal di Salemba, Jakarta Pusat yang dekat dengan Halte TransJakarta Salemba UI. Saat itu, aku bekerja di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan yang dekat dengan Halte TransJakarta Masjid Agung. Tentu dengan keterjangkauan tersebut, aku memilih setiap hari naik TransJakarta walau harus berdempetan dan waktu tempuh yang lama. Tidak terpikirkan sama sekali untuk memiliki kendaraan pribadi apalagi akupun seorang perantauan. Namun, ketika aku memutuskan untuk pindah tempat tinggal ke Pademangan Timur, Jakarta Utara dan bekerja di Pasar Baru, Jakarta Pusat, hal tersebut mau tidak mau aku harus memiliki kendaraan pribadi untuk mobilitas. Jika mengandalkan transportasi publik, tidak ada halte atau stasiun terdekat, jika menggunakan transportasi online sangat membuang-buang uang. Lebih baik spending untuk beli motor dibandingkan buang-buang duit buat biaya transportasi. Intinya, pilihan ini tidak dapat disalahkan kepada masyarakat sebagai bagian dari gaya hidup, malah seharusnya pemerintah bisa menyediakan fasilitas untuk mempermudah aktivitas dan mobilitas masyarakat. Toh, aktivitas masyarakat pun akan memberikan dampak positif pada pendapatan pemerintah ye kan?

Aku yakin juga sih, penyebab polusi udara di Jakarta ini memang karena kendaraan bermotor. Mengingat pabrik-pabrik besar sudah dipindah ke Bekasi dan Karawang serta Jakarta hanya memiliki 1 PLTU saja. Namun, memang bisa saja polutan dari industri dan PLTU bisa terbawa dan berkumpul meghiasi langit ibu kota. Menurutku, hal yang bisa dibenahi dulu adalah transportasi publik. Sudahlah lupakan moda transportasi yang canggih-canggih kaya MRT dan LRT, itu membutuhkan investasi dan pembangunan yang cukup lama. Perbaiki dulu aja TransJakarta, perluas jaringan, pastikan memiliki jalur tersendiri, dan tentunya sedikit demi sedikit konversi ke bus listrik. Enggak perlu lah menghias halte jadi seperti mall, masyarakat enggak terlalu butuh itu kok. Masyarakat cuma butuh pulang cepat dengan kepastian mendapat bus dan bisa turun sedekat mungkin dengan rumah. Kalo halte, jaringan,  bisnya banyak, semua itu dapat memecah kepadatan di halte yang sekarang mewah banget kok.

Progress Jerawat Membangkang


Hingga saat ini, permasalahan jerawatku belum juga usai. Sudah beberapa kali treatment ke dokter dan menetapkan skincare yang aku pakai sehari-hari, sudah aku lakukan. Meskipun begitu, sebenarnya sudah ada progress yang cukup baik walaupun belum sembuh sempurna seperti 2 tahun yang lalu. Dokter hanya bilang, mungkin ini stres. Aku terima saja, meskipun aku sudah mengelola stress dengan cukup baik, mengatur pola makan, dan istirahat yang cukup, tapi tetap saja komedo dan jerawat tak bosan hinggap di wajah hingga meninggalkan bekas yang tidak hilang-hilang.

Puncak permasalahan jerawatku itu terjadi di September - Desember 2022. Periode tersebut terjadi pasca aku terkena Covid-19 dan mulai lagi berolahraga. Sebelumnya pun aku cukup sering bergonta-ganti skincare yang mungkin memperparah kondisi kulit wajahku. Kondisi wajahku pada November 2022 seperti begini.

Kalau sekarang ingat dengan kondisi tersebut, aku sungguh ingin menangis. Parah sekali. Bahkan temanku saja bilang, seperti terkena penyakit ain. Setelah melihat kondisi tersebut aku mulai mengubah skincare-ku lagi. Aku mengubah semua ke produk Somethinc. Namun setelah habis, aku mengubahnya ke produk Dermies karena pada saat itu akupun melakukan treatment ke Dermies. Hingga akhir Maret 2023 yang lalu, aku rutin melakukan treatment ke Dermies setiap sebulan sekali. Mulai treatment anti darkspot, anti acne, hingga terakhir laser anti acne. Sempat membaik meskipun flek hitam sulit sekali hilang dan komedo di jidat masih tak enyah. Beberapa jerawat pun seringkali tumbuh. Kondisi wajahku saat ini seperti ini.
Beberapa flek hitam sulit kali hilang. Komedo di jidat pun sulit sekali hilang, padahal aku rutin melakukan uap dan exfoliating setiap minggu. Beberapa jerawat meradang tumbuh tanpa sebab. Aku pun mencoba mengelola stress dengan baik. Utamanya ada penerimaan atas kondisi wajahku ini. 

Aku berharap, kondisi wajahku terus membaik. Setidaknya tidak tumbuh jerawat dan komedo. Mungkin untuk mulus layaknya kulit remaja akan sangat sulit, mengingat akupun tidak muda lagi.


Telisik Komentar tentang RT dan RW


Tingkah salah satu oknum pengurus RW yang meminta THR untuk pengurus RW dengan menetapkan jumlah anggarannya tentu membuat gedek sebagian besar orang, termasuk aku salah satunya. Tingkah absurd pengurus RT atau RW memang seringkali membuat aku bertanya-tanya, seberapa penting adanya RT dan RW? Apakah bisa jika tidak perlu ada RT dan RW? Pemikiran atau pertanyaan tersebut aku tuangkan dalam sebuah komentar pada akun instagram tersebut. Ternyata eh ternyata, komentar tersebut memberikan berbagai reaksi dari netizen. Paling banyak adalah reaksi kontra. Namun, sangat disayangkan reaksi kontra tersebut dirasa tidak diimbangi oleh pemahaman yang jelas tentang maksud komentarku. Oleh karena itu mari kita bedah komentarnya dan aku coba jelaskan maksud dari komentar tersebut.


Pemikiranku tentang pembubaran RT dan RW itu bukan baru saja setelah ada berita tersebut. Sebenarnya sudah sejak lama aku pikirkan. Dimulai sejak aku berencana untuk pindah kependudukan ke tempat saat ini aku bekerja. Salah satu syaratnya adalah membuat surat pernyataan dari RT dan RW. Sebenarnya tidak sulit dan gratis, namun aku bertanya-tanya mengapa syarat tersebut harus dilakukan? Mengapa tidak langsung ke pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas dukcapil kabupaten? Ini kan jadinya menambah rentetan proses sehingga sangat membuang-buang waktu saja. Selain itu, kasus pemangkasan bantuan tunai dari pemerintah oleh pengurus RT dan RW menjadi keyakinanku dalam pembubaran RT dan RW. Tidak hanya itu, banyak bantuan yang diberikan pemerintah juga tidak tepat sasaran karena RT dan RW. Sebagai contoh, pemberian bantuan kompor gas. Keterlibatan RT dan RW seharusnya membuat pemberian bantuan kompor gas tersebut menjadi tepat sasaran. Namun, kenyataannya demi mencapai target penyaluran, ketidaktepatan penyaluran seringkali terjadi.

"Kepikiran" adalah kata pertama yang aku tulis. Hal ini dengan maksud bahwa aku punya pemikiran, ide, atau pendapat. Seharusnya sih  sah-sah saja jika seseorang memiliki pemikiran. Aku pun tidak pernah memaksakan pendapat aku benar atau harus dilaksanakan. Ini hanya sekedar pemikiran saja.

Sesuai dengan Permendagri No. 7 Tahun 1983, RT dan RW merupakan suatu organisasi masyarakat yang disepakati batasan wilayahnya sesuai dengan musyawarah. Tujuan RT dan RW adalah untuk dapat menjaga, melestarikan berbagai macam norma sehingga dapat meningkatakan kegotongroyongan dan kekeluargaan. Sampai di situ, aku sepakat dengan adanya RT dan RW selama mengurusi fungsi sosial. Namun, RT dan RW juga diberikan kewenangan dalam hal administrasi, khususnya dalam hal kependudukan. Kewenangan ini memberikan potensi kesemena-menaan pada pengurus RT dan RW yang membuatnya dapat menekan atau mempersulit urusan administrasi masyarakat. Nah, aku berpikir bahwa urusan administrasi itu biar dikembalikan ke pemerintah desa atau kelurahan saja karena mereka digaji untuk itu.

Aku pun tidak sepakat bahwa organisasi masyarakat itu tidak ada. Bagaimana pun kita hidup secara sosial, bermasyrakat, dan bertetangga, maka RT dan RW itu diubah saja menjadi kelompok atau paguyuban. Tujuannya sendiri agar masyarakat guyub, saling membantu, dan tidak adanya gesekan dalam berkehidupan sosial. Intinya adalah hanya melepas fungsi administrasi saja, namun agar terasa bedanya, maka aku menggantinya dengan istilah kelompok/paguyuban karena istilah RT atau RW sangat terasa otonom sekali.



Netizen yang kontra mengatakan hal-hal sebagai berikut:
  1. Kalo ngomong dipikir dulu, minimal survei
  2. BACOT
  3. Kelompok masyarakat? Ormas maksudnya?
  4. Coba dulu jadi pengurus RT dan RW, mereka sukarela
  5. Jangan menyamaratakan semua RT dan RW
Melihat komentar netizen juga cukup membuatku mengelus dada. Awal-awal aku coba balas dan jelaskan, tapi sepertinya memang percuma. Aku memang bukan orang yang pintar dan paham banget, tapi sebagai masyarakat boleh dong berkomentar, memberikan pemikiran atau ide. Aku tidak pernah menyatakan bahwa pendapat aku paling benar, ini murni pemikiran. Pemikiran ini juga bersifat spontan dengan mengingat beberapa kejadian. Aku tidak sedang menyusun skripsi atau kajian, apakah perlu sampai harus melakukan survei terlebih dahulu? Aku pun tidak pernah mengatakan kinerja semua RT dan RW itu buruk, mengapa banyak yang menganggap aku merendahkan RT dan RW? Aku merasa netizen ini terlalu baper karena aku menggunakan "bubar", apakah seolah-olah menghilangkan? Tentu tidak, aku sul untuk jadi kelompok masyarakat atau paguyuban. Tapi anehnya banyak yang berpikir membentuk ormas kaya FPI. Banyak sekali yang out of context. Akupun tahun kalo pengurus RT dan RW itu tidak digaji, makanya kalau tidak ada, tentu tidak akan ada beban bagi mereka juga. Kehidupan sosial juga biar kelompok masyarakat yang guyub saja yang menyelesaikan. Sebenarnya yang saya soroti itu adalah fungsi administrasi yang diberikan pada pengurus RT dan RW saja karena itu memberikan potensi kesemena-menaan.

Aku tidak anti terhadap permohonan THR. Di lingkunganku pun ada permohonan THR untuk petugas keamanan, kebersihan, dan teknisi. Bukan untuk pengurus RT atau RW. Permohonan tersebut pun diinisiasi oleh warga yang memang membentuk kelompok di dalam RT, RT tetap ada. Jumlah THR pun tidak ditentukan, tapi warga secara sukarela memberikan berapapun.

Sekali lagi, aku hanya menyampaikan pemikiran, bukan ngotot. Aku juga tidak punya kewenangan untuk membubarkan RT atau RW. Kalau aturannya RT dan RW masih ada, dibubarkan, atau menghapus fungsi administrasi, ya aku setuju-setuju saja. Aku hanya mengamati dan berpendapat, tidak memaksakan kehendak juga. Jadi buat netizen, sebelum menyuruh aku untuk berpikir dalam berkomentar, maka kalian juga bisa menelaah maksud dari komentar orang. Jangan asal baper jadi emosi, terus komentar enggak nyambung.



Pinjaman yang Berujung Emosi



Sampai aku memutuskan menulis di blog ini, berarti kekecewaanku sudah mencapai puncak, emosiku mulai merangkak naik. Namun, aku hanya bisa melampiaskannya di sini, terlalu membuang energi kalau aku harus menceritakannya ke teman-teman dan marah-marah ke pihak bank.


Seperti yang aku ceritakan sebelumnya pada tulisan Migrasi ke Perbankan Syariah, Perlahan tapi Pasti, aku melakukan pinjaman ke salah satu bank syariah yang ada di Indonesia. Tujuan pinjamanku adalah untuk melakukan take over  dari KPR. Tentunya aku pinjam lebih dari sisa pokok hutang yang harus aku bayar. Hal ini sebagai antisipasi biaya-biaya lain yang akan timbul akibat pelunasan sebelum jatuh tempo. Ditambah lagi ada kebutuhan untuk menambal dalam membeli sebidang tanah atau renovasi rumah.


Sehubungan dengan kejujuranku ini, permohonaku dibagi menjadi dua pinjaman yang direalisasikan melalui dua akad kredit. Akad kredit yang pertama adalah akad take over sebesar 3/4 dari total pinjaman dan akad yang kedua adalah akad top up sebesar 1/4 total pinjaman. Pada saat akad pun aku memutuskan untuk memotong biaya asuransi dari pinjaman. Keesokan harinya dana talangan biaya asuransi, pinjaman take over, dan pinjaman top up masuk ke rekeningku. Tak lama dari itu, dana talangan ansuransinya terpotong sebagai tanda pembayaran asuransi. Pihak bank pun menghubungiku untuk mengembalikan dana talangan tersebut. Aku pun langsung mentransfer sejumlah biaya asuransi tersebut.


Hal yang paling mengherankan, ketika aku mengecek saldo, jumlahnya tidak sesuai. Setelah aku cek portofolionya, ternyata terdapat saldo terblokir. Setelah dikonfirmasi, ternyata saldo terblokir itu terdiri  dari pinjaman top up ditambah dua kali angsuran. Kalau dua kali angsuran diblokir, aku masih sangat mewajarinya karena pengalaman KPR kemarin memang seperti itu. Tapi kalau pinjaman top up-nya diblokir, ini benar-benar tidak habis pikir. Aku menambah pinjaman dengan tujuan sebagai antisipasi, kalau ternyata diblokir, bagaimana cara aku melunasi KPR. Aku pun protes kepada pihak bank. Jawabannya adalah pembukaan blokir akan dilakukan jika aku memberikan surat lunas KPR. Emosiku masih bisa terkendali, oke berarti aku harus buru-buru melunasi KPR.


Atas saran dari teman, karena aku melakukan pembayaran cicilan KPR tepat waktu, aku bisa mengajukan keringanan pelunasan. Keringanan tersebut berupa pengurangan biaya administrasi, denda, dan biaya lainnya. Setelah sekitar semingguan pengajuanku tidak ada tindaklanjutnya, akhirnya aku datangi bank pemberi KPR. Ternyata pengajuan keringananku belum di-acc. Akhirnya aku memutuskan untuk melakukan pelunasan tanpa keringanan. Akhirnya, aku mendapat surat keterangan lunas dan berkas-berkas lain yang menjadi jaminan permohonan KPR-ku.


Tanpa ba bi bu, aku langsung menghubungi pihak bank syariah dan berencana mau menyampaikan surat keterangan lunas dan SK kerja yang belum sempat aku kirimkan. Pihak bank menyampaikan bahwa bisa dikirim via Whatsapp. Akupun langsung mengirimkannya. Tamun setelah beberapa hari tidak ada perkembangan yang signifikan. Besaran saldo terblokir masih sama. Pihak bank pun tidak membalas pesanku. Karena saking kesalnya, aku datangi kantor bank tersebut. Dan hasilnya adalah NIHIL. Pihak bank yang berkontak denganku tidak ada di kantor, pihak CS hanya formalitas saja komunikasi denganku. Sungguh sia-sia dan membuang-buang waktu.


Sejujurnya aku tidak terlalu butuh pinjaman top up ini karena niat untuk membeli tanah atau renovasi rumah sudah aku kubur dalam-dalam, ditambah aku sudah melunasi KPR-ku dengan biaya tambahan dengan menggunakan uang aku sendiri. Tapi setiap kubuka menu pinjaman dalam mobile banking, tertera jumlah pinjaman dan jumlah yang harus aku bayar hingga jatuh tempo. Dan jumlah yang harus aku bayar hampir dua kali lipat jumlah yang aku pinjam. Jika terus dibiarkan terblokir sama saja aku hanya memberi makan orang bank secara cuma-cuma. Jika aku minta untuk dilunaskan pun, aku harus membayar denda sebesar dua kali cicilan, dan itu sama saja seperti ngasih duit cuma-cuma buat orang bank, padahal masa cicilanku baru 2 bulan.


Sumpah ini ZALIM banget. Jahat banget. Mempermainkan orang dengan uang. Sangat mencari keuntungan dari orang yang pinjam uang. Aku sampai capek banget mau ngurusnya. Semoga Allah yang balas deh. Sekian ceritaku, untuk lebih jelasnya, aku coba berikan kronologinya.


Kronologi

5 - 13 Januari - pengumpulan berkas pinjaman ke bank syariah

17 Januari - pinjaman disetujui sekaligus akad

18 Januari - dana talangan asuransi cair

20 Januari - pinjaman take over dan top up cair, dana talangan asuransi dikembalikan

24 Januari - pengajuan permohonan pelunasan KPR dan keringanan biaya administrasi ke bank konvensional

25 Januari - konfirmasi saldo terblokir

21 Februari - pelunasan KPR tanpa keringanan

22 Februari - penyampaian pelunasan KPR kepada bank syariah

24 Februari - konfirmasi tindak lanjut bukti lunas (tidak direspons)

3 Maret - Datang ke bank untuk menanyakan tindak lanjut tapi tidak ada hasil dan solusi

6 Maret - Pihak bank menyampaikan bahwa pengajuanku sudah dilakukan beberapa hari yang lalu

15 Maret - Pihak bank menanyakan ketersediaan waktu untuk mengambil SK kerja

31 Maret - Aku menanyakan ke pihak bank kapan mengambil SK kerja dan beliau menjawab bahwa Senin, 4 April akan ke kantor.

4 Mei - Aku mengajukan pelunasan pinjaman top-up

15 Mei - SK dan surat lunas dari bank sebelumnya sudah diambil

6 Juni - Saya tanyakan kapan perhitungan pelunasannya selesai karena sampai saat ini belum ada kabar

1 Juli - Cicilan top-up masih terdebet dari rekeningku. Aku cukup emosi dan menghubungi orang bank untuk segera mengurusnya karena jika tidak aku akan melakukan pengaduan.

3 Juli - Aku melaporkan keluhan melalui e-mail dengan menceritakan semua kronologinya dan bukti chat dengan marketing bank

4 Juli - Pinjaman top-up sudah terlunasi. Hal tersebut terlihat pada bagian portofolio pinjaman sudah tidak ada. Dalam hal ini aku sangat merasa dirugikan. Meskipun ada ketentuan denda pelunasan pinjaman adalah dua kali cicilan, tapi pelunasanku ini dibilang "terpaksa" karena pinjaman yang terblokir. Nilai kerugian yang aku alami adalah cicilan 6 kali ditambah Rp150.000 terhadap pinjaman yang tidak aku sentuh sama sekali.

1 Agustus - Marketing menanyakan apa kesahalahannya.

3 Agustus - Aku menerima e-mail bahwa laporan pengaduanku sedang dalam tindak lanjut.

Migrasi ke Perbankan Syariah, Perlahan tapi Pasti

Sesungguhnya setiap manusia ingin memperbaiki diri walau hanya sedikit.


Sebagai seorang yang tidak seratus persen idealis, rasa untuk berjalan di jalan yang ideal tentu selalu ada walau tidak harus sempurna. Salah satu yang aku pikirkan pada akhir tahun 2022 yang lalu adalah terkait masalah finansial. Segala sesuatu yang berhubungan dengan keuangan, ingin aku pindahkan ke syariah. Memang banyak yang bilang sistem keuangan syariah itu sama saja seperti sistem keuangan konvensional. Namun setidaknya, upaya aku menjauhi riba bisa jadi amalan baik buat aku sendiri. Jika dosa riba keuangan konvensional adalah satu, mungkin dosa riba keuangan syariah adalah setengah. Wallahualam, semoga Allah mengampuni segala dosaku.


Saat ini pula, aku mempunyai KPR di salah satu bank konvensional selama 20 tahun. Saat ini memasuki tahun ketiga cicilan dengan bunga flat. Hingga kurang lebih dua setengah tahun ini, aku merasa tidak keberatan dengan cicilan. Namun, aku agak was-was ketika memasuki tahun keempat karena akan memasuki bunga floating yang besarannya tidak menentu. Pahit-pahitnya adalah jika bunganya mencapai maksimal, yaitu sekitar 10-12%. Tentunya itu sangat mencekik penghasilanku. Hal yang sangat membuat sedih adalah uang yang selama ini aku bayarkan kurang lebih sekitar 20% dari hutang, ternyata hanya berkurang 3% dari hutang. Artinya selama ini aku hanya membayar bunga.


Aku melakukan riset kecil-kecilan, baik dari internet maupun bertanya ke teman. Ternyata memang benar, skema kredit di bank konvensional, di awal cicilan memang porsi bunga lebih besar dibandingkan dengan pokok sedangkan di akhir porsi bunga akan lebih kecil dibanding dengan pokok. Namun, dengan bunga floating, tentunya pengeluaran untuk cicilan akan tidak terkontrol. Aku pun mencari tahu skema pembiayaan di perbankan syariah. Cicilan di perbankan syariah itu flat selama tenor. Namun banyak yang bilang, jumlah yang dibayarkan hingga lunas besarannya sama saja seperti perbankan konvensional bahkan bisa lebih besar. Tapi sekali lagi, besaran cicilannya tetap, sehingga kita tahu besaran yang harus kita keluarkan tiap bulannya.


Setelah berpikir panjang, berdiskusi bersama orang tua, dan teman yang paham terkait hal tersebut. Akhirnya aku yakin untuk memindahkan semua urusan keuangan ke perbankan syariah. Langkah pertama yang aku lakukan adalah memindahkan rekening payroll ke bank syariah. Kebetulan kantorku bekerjasama dengan salah satu bank syariah. Setelah melakukan pembukaan rekening, aku langsung mengurus proses mutasi rekening payroll. Memang tidak langsung, pengajuanku di Januari, baru Maret gajiku masuk rekening syariah.


Langkah kedua, aku mengajukan pinjaman ke bank syariah yang bekerjasama dengan kantorku. Keuntungannya adalah kredit yang aku ajukan tanpa agunan, namun konsekuensinya aku terjebak di kantor dalam waktu yang cukup panjang. Proses pinjaman ini tidak terlalu lama dan aku pun tidak buru-buru juga. Langkah ketiga adalah melakukan pelunasan di bank konvensional. Langkah terakhir adalah menutup semua rekening bank konvensional yang sudah tidak dipergunakan lagi.


Untuk kepentingkan keuangan, tentunya aku tidak menutup diri pada bank konvensional. Aku hanya mempersempit perbankan dalam pengelolaan keuanganku. Rencananya aku hanya menggunakan satu rekening bank syariah dan satu rekening bank digital. Untuk lembaga keuangan non-bank, aku menggunakan beberapa layanan dompet digital untuk belanja.


Semoga rencanaku ini bisa berjalan mulus dan niat baikku ini bisa menjadi catatan kebaikan. Aamiin ya robbalalaamiin.


Oh ya, sebagai tambahan, aku juga mau cerita tentang proses kredit di bank syariah dan pelunasan di bank konvensional. Semoga pengalaman ini bisa menjadi masukan buat teman-teman ya.


Kredit di Bank Syariah


Setelah memindahkan rekening payroll ke bank syariah, aku coba cari informasi terkait kredit tanpa agunan yang biasanya ditawarkan ke para pegawai. Akhirnya aku bertemu dengan marketing kredit. Syarat yang ditawarkan cukup mudah dan bisa diurus kurang lebih selama satu minggu.


Sebut saja sisa  pokok hutangku itu 80. Karena khawatir ada biaya-biaya lain dalam proses pelunasan di bank konvensional, aku pinjam 100 di bank syariah. Ini juga merupakan pengalaman pertama take over kredit, maka ketika pinjamannya dibagi dua, aku setuju-setuju saja. Jadi, akadnya nanti dua kali, akad take over kredit sebesar 80 dan akad top up sebesar 20.


Waktu itu, aku dipaksa akad cepat. Jam 6 sore, aku datang ke cabang untuk melakukan akad kredit. Saat akad aku juga dikasih pilihan, untuk pembayaran asuransinya. Aku memilih asuransinya dipotong dari pinjaman.


Selang beberapa hari, pinjamanku cair, 80 dan 20 masuk ke rekening secara berurutan. Tapi mengapa saldo efektifku hanya 78. Setelah melihat rincian rekening ternyata sebesar 22 masuk pada saldo terblokir. Seingatku pada saat akad, yang diblokir itu hanya 1 atau 2 kali cicilan. Setelah dikonfirmasi ternyata pinjaman top-up diblokir. Baru akan dibuka setelah pinjaman di bank konvensional dinyatakan lunas.


Sejujurnya aku agak kecewa dengan aturan ini. Hanya saja aku tidak marah, ya mungkin terlewat saat akad. Tapi ya, akadnya juga dipaksa sore itu juga, lagi ngantuk-ngantuknya. Minta minggu depannya, pihak bank ga mau. Masalahnya, kalo total biaya yang harus dibayar pada bank konvensional itu kurang bagaimana? Ya, akupun masih punya sisa tabungan untuk biaya administrasi bank konvensional. Tapi kan aku minjem uang lebih itu buat antisipasi, kalo ujung-ujungnya pake duit sendiri, ngapain aku top-up?


Pelunasan di Bank Konvensional


Setelah pinjaman di bank syariah cair, aku langsung mengajukan permohonan pelunasan ke bank konvensional.


Pertama, aku menghubungi marketing yang dulu membantu proses KPR. Aku disuruh mengirimkan email surat permohonan ke pusat.


Oh ya, selain surat permohonan pelunasan, aku juga mengirimkan surat permohonan keringanan biaya administrasi dalam pelunasan (PSJT dan lainnya jika ada). Menurut temanku, kita bisa mengajukan keringanan selama catatan kredit kita aman dan selalu bayar tepat waktu.


Sorenya, dari pusat mengirimkan email balasan yang menyuruhku untuk mengirimkan surat permohonan itu ke kantor cabang karena pinjamanku diurus di kantor cabang. Akupun langsung mengirimkan email ke kantor cabang.


Besoknya, emailku dibalas. Isinya menyuruhku untuk mengirimkan surat asli ke kantor cabang. Aku pun mengirimkan berkas tersebut via ojek online.


Sekitar dua atau tiga hari kemudian, pihak kantor cabang menghubungiku. Aku diberikan informasi bahwa pengajuanku sedang diproses. Aku disarankan menunggu hingga dihubungi kembali.


Selang 3 minggu tidak ada konfirmasi sama sekali. Aku semakin tidak sabar setelah membaca keresahan yang sama di internet. Mayoritas menyarankan untuk mendatangi langsung kantor perbankan tersebut karena jika tidak serasa dipersulit. Waktu terus berjalan, cicilan pun terus berjalan.


Akhirnya aku memutuskan untuk memindahkan uang 80 ke bank konvensional terlebih dahulu. Setelah itu, aku berangkat menuju bank. Setelah sampai di bank pun, rasa sedikit emosi cukup berkecamuk dalam diri. Sampai lobby, aku disuruh naik ke lantai 3. Sesampainya di lantai 3, aku disuruh ke lantai 3 selatan tapi harus turun dulu ke lantai 2, jalan di lorong yang panjang, baru naik lagi ke lantai 3. Sesampainya di lantai 3, aku disuruh jalan ke bagian utara. Aku sempat nge-gas sih karena capek, takutnya aku balik lagi ke tempat semula. Ternyata tidak sih, setelah jalan cukup panjang, akhirnya aku menemukan pelayanannya. Aku menulis nama  dan rekening pinjaman dan menunggu beberapa saat.


Kemudian petugas datang dan bilang, "kredit masnya lancar, seharusnya cukup kirim email saja". Sambil menahan emosi aku bilang kalo udah kirim email 3 minggu yang lalu, beserta permohonan keringanannya, tapi belum ada konfirmasi lagi. Terus dia bilang kalo KPR aku kewenangannya ada di cabang, jadi aku harus ke cabang yang ada di lantai 2 gedung tersebut. Aku diantar ke lantai 2, melewati lorong panjang yang sudah aku lewati, sesampainya di lantai 2, tempat aku akad kredit dulu, dan tidak jauh dari lobby pertama aku masuk, aku ditinggal oleh petugas yang sebelumnya, dan aku bertemu dengan orang yang menelpon 3 minggu yang lalu.


Permohonan keringananku belum disetujui. Dia juga bilang lupa menghubungi aku. Aku dikasih pilihan untuk melunasi tanpa keringanan atau dengan keringanan namun harus sabar entah sampai kapan. Akupun diberi kesempatan untuk berpikir, tinggal WA saja jika sudah ada keputusan. Setelah aku berpikir, bertanya pada orang tua, bertanya pada teman, akhirnya aku putuskan untuk melunasi tanpa keringanan. Besoknya aku WA untuk melunasi. Sorenya, saldoku sudah terpotong sebesar sisa pokok ditambah PSJT 2,5%. Tinggal mengambil berkas-berkas penting seperti bukti lunas, sertifikat sementara, dan lainnya.

Just Update!

Jujur, antusiasme untuk mengaktifkan blog ini sudah berada di titik terendah. Bahkan niat untuk just update dan melancarkan penulisan pun su...