This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Bangun Daerah dengan Pinjaman Daerah


Upaya membangun daerah terus dilakukan oleh pemerintah. Namun, itu semua membutuhkan dana yang tidak sedikit, khususnya untuk pembangunan infrastruktur. Padahal infrastruktur merupakan kebutuhan dasar. Pendapatan asli daerah umumnya tidak mampu membiayai pembangunan infrastruktur. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan sumber pembiayaan lain. Salah satunya adalah dengan meminjam. Karena infrastruktur sama dengan belanja modal, maka ketika infrastruktur tersebut digunakan pendapatan daerah pun akan meningkat dan dapat membayar pinjaman tersebut.

Sayangnya, pinjaman atau hutang memang selalu dipandang negatif. Bagaimana tidak, angsuran besaran pinjaman dan bunganya dianggap membebankan masyarakat. Apalagi jika dikaitkan dengan hukum atas riba. Dengan kata lain, masyarakat menganggap pemerintah yang menghutang tapi masyarakat yang harus membayar. Pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah, namun tidak bisa digeneralisasikan seperti itu juga. Sesungguhnya pemerintah berupaya menyediakan infrastruktur sebagai kebutuhan dasar masyarakat. Namun, dana yang dimiliki tidak mencukupi dan banyak peminjam yang mau meminjamkan uangnya untuk pembangunan, maka pinjaman adalah jalan yang dinilai tepat. Mohon maaf, saat ini mari kita kesampingkan terlebih dahulu hukum atas riba dan melihat substansi mengenai pinjaman daerah.

Pemerintah daerah dapat melakukan pinjaman daerah sebagai alternatif pendanaan APBD untuk menutupi desfisit APBD, pengeluaran pembiayaan, dan kekurangan arus kas. Sepenuhnya merupakan inisiatif pemerintah daerah yang terpenting taat peraturan perundang-undangan. Dengan kata lain, pemerintah daerah tidak dapat serta merta melakukan pinjaman, ada syarat-syarat tertentu yang dipenuhi. Hal ini juga terkait antisipasi kredit macet. Maka dari itu, pemerintah daerah harus transparan, akuntabel, efisien dan efektif, serta memengang prinsip kehati-hatian karena semua arus kas akan tercatat dalam APBD. Tentu pemerintah daerah harus sadar atas proyek apa yang akan dibangun dan kapasitas fiskal yang dimiliki.

Pemerintah daerah harus melakukan kesepakatan dengan pemberi pinjaman. Pemberi pinjaman bisa dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, lembaga keuangan bank, maupun lembaga keuangan bukan bank. Namun, pemerintah tidak dapat melakukan pinjaman langsung ke luar negeri. Dalam kesepakatan tersebut dibuat perjanjian pinjaman yang perlu persetujuan Menteri Keuangan yang menilai berdasarkan batas maksimal kumulatif pinjaman daerah. Besar pinjaman pun tidak boleh melebihi besar penerimaan APBD tahun sebelumnya.

Syarat lainnya yang harus dipenuhi oleh pemerintah daerah dalam melakukan pinjaman adalah tidak boleh mempunyai tunggakan atas pengembalian pinjaman yang bersumber dari pemerintah. Selain itu, dalam melakukan pinjaman jangka menengah dan jangka panjang, pemerintah daerah harus mendapat persetujuan dari DPRD dan mendapat pertimbangan dari Menteri Dalam Negeri. Untuk memperoleh persetujuan dari DPRD, Menteri Keuangan, dan Menteri Dalam Negeri diperlukan syarat-syarat yang tidak sedikit. Namun, itu semua akan terpenuhi sesuai dengan urgensi pemerintah daerah yang akan melakukan pinjaman.

Pemerintah daerah berupaya semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya dalam membangun infrastuktur. Pemerintah daerah menyadari bahwa uang yang dimiliki daerah tidak mampu untuk membiayai proyek infrastruktur. Tuntutan kebutuhan masyarakat membuat pinjaman menjadi alternatif yang bisa dilakukan. Dalam melakukan pinjaman pun banyak syarat yang harus dilakukan pemerintah daerah, khususnya menyadari diri mengenai kapasitas fiskalnya. Tentu saja pemerintah daerah memerlukan dukungan dari masyarakatnya. Utamanya menjadi lebih produktif saat infrastruktur yang dibangun tersebut sudah melayani masyarakat dengan baik.

Balada Pria di Transportasi Publik




Ketika seorang pria menggunakan transportasi publik, dia tidak mempunyai hak atas tepat duduk. Hal ini dikarenakan sistem telah membentuk satu komponen prioritas, yaitu wanita. Saya tidak tahu, apakah ini hanya terjadi di Indonesia atau terjadi di negara berkembang lainnya, atau bahkan hal ini terjadi di negara maju.

Secara aturan, terdapat empat orang prioritas yang wajib diberikan tempat duduk di transportasi publik, yaitu lansia, difabel, ibu yang sedang hamil, dan ibu yang menggendong anak. Namun, sistem membentuk satu komponen lagi dalam deretan prioritas, yaitu wanita.

Saya tidak bermaksud men-diskredit-kan wanita. Tapi kenyataanya, wanita seolah-olah menjadi jajaran dalam daftar prioritas. Contoh riilnya adalah seperti kejadian yang saya alami sendiri di KRL. Ketika saya naik KRL, saya mendapati tempat duduk kosong tanpa berebut, saat itu kondisi kereta lengang. Tidak ada lagi tempat duduk kosong dan ada beberapa penumpang yang berdiri di dekat pintu. Di stasiun berikutnya masuklah beberapa orang penumpang, salah satunya adalah seorang wanita pekerja sekitar umum 30 tahunan. Dia berdiri di depan saya. Saya sangat merasa kalau wanita ini memberikan isyarat bahwa dia ingin duduk. Tapi saya tidak beranjak, toh dia wanita muda dan bukan prioritas. Jikalau dia sedang hamil, pasti dia bilang atau dia berjalan menuju kursi prioritas di ujung gerbong. Dia menatap saya lama dan setelah dia tidak berhasil, dia berjalan menuju ujung gerbong dan berdiri di depan seorang pria. Tak kuat, akhirnya pria itu berdiri dan memberikan kursi pada wanita tersebut.

Contoh riil kedua adalah ketika saya sedang naik bus TransJakarta. Pada saat itu, penumpang cukup ramai dan saya pun berdiri. Ketika bus berhenti, ada beberapa penumpang yang turun. Ketika bus berjalan kembali, tiba-tiba terjadilah keributan di kursi bagian belakang. Seorang pria dan seorang wanita berebut satu kursi kosong. Seorang pria bersitegas bahwa dia yang berhak memperoleh kursi tersebut karena dia lebih tua sedangkan seorang wanita bersitegas bahwa dia yang berhak memperoleh kursi tersebut karena dia seorang wanita. Para penumpang yang duduk di bagian belakang hanya melerai dan memanggil petugas. Sang petugas pun akhirnya hanya melerai tanpa memberikan solusi karena dia pun serba salah jika membela salah satu pihak. Salah satu penumpang mencoba menyelesaikan masalah dengan keputusan "...Bapak ngalah aja karena Bapak laki-laki...". Salah satu penumpang lainnya akhirnya berdiri dan memberikan tempat duduknya.

Sistem seperti ini dapat membuat partisipasi pria dalam menggunakan transportasi publik menjadi rendah. Hal ini dapat meningkatkan penggunaan kendaraan pribadi. Saya memang belum melakukan survei tentang hal ini. Tapi beberapa kali saya mengamati, hal tersebut memang terbukti. Saat saya menggunakan angkutan kota di Bandung, Jakarta, dan Tangerang, hampir 90% penumpangnya adalah wanita. Begitu pula ketika saya menggunakan kendaraan bermotor, hampir 90% yang menggunakan kendaraan bermotor adalah seorang pria. Apakah penggunaan kendaraan bermotor tidak hanya dipengaruhi oleh prinsip efisiensi atau adakah tekanan di transportasi publik karena 'sistem' ini? 

Setelah lama menggunakan kendaraan pribadi, akhirnya saya menggunakan transportasi publik kembali. Di masa-masa sekarang ini, tekanan publik akan sistem tersebut jauh lebih mencekam. Hal ini bisa terjadi jika saya tetap idealis hanya akan memberikan kursi pada 4 prioritas dan tidak memberikan pada wanita sehat. Bisa saja ada yang merekam kemudian diunggah ke dunia maya dan menjadi viral. Hujatan netizen bisa saja melayang ke saya dan menjadi pisau belati yang mematikan.

Ancaman agen-agen lambe turah ini juga sangat mengancam kita semua. Seperti contoh, seorang wanita muda sedang duduk di kursi KRL. Tiba-tiba ada wanita tua yang berdiri dihadapannya. Wanita muda itu menawari wanita tua itu untuk duduk, namun wanita tua itu menolak dengan alasan sudah terlalu lama duduk dan ingin berdiri. Wanita muda tersebut, akhirnya meninggalkan kursinya dan pindah ke gerbong lain. Hal ini tentu merupakan langkah yang tepat karena hengpong jadul bisa saja merekam dan memberikan keterangan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Sistem ini juga mengajari pria untuk melakukan taktik baru, yaitu pura-pura tidur. Duduk di kursi dan dalam dua detik langsung tidur. Dibangunkan pun tidak akan bangun karena memang pura-pura. Tentu ini adalah sikap yang sangat salah untuk menghindari tekanan. Keburukan tidak boleh dibalas dengan keburukan.

Memang tidak sedikit wanita yang menolak sistem tersebut. Namun, jauh lebih banyak wanita yang merasa diuntungkan dengan sistem tersebut bahkan banyak pria yang tunduk pada sistem tersebut. Kita sadar bahwa pola pikir masyarakat masih terbelakang tapi kita bisa mengubahnya dengan kesadaran kita sendiri. 

Lika-liku Hutang Piutang


Cerita tentang tukang hutang memang tidak pernah ada habisnya. Ada saja berbagai cerita yang saya dengar dan semakin memperkuat keyakinan untuk tidak memberikan hutang kepada siapapun tanpa terkecuali.

Apakah keluarga inti dikecualikan? Tidak! Untuk keluarga inti tidak perlu dihutangi, berikan saja langsung tanpa minta untuk dikembalikan.

Meminjam kepada teman memang menjadi pilihan banyak orang. Sudah jelas tanpa ada bunga, jaminan, dan jatuh tempo. Bilapun ada janji waktu pelunasan, tapi masih bisa dinego dengan "pertemanan". Tidak ada jaminan semakin meningkatkan potensi untuk kabur. Jadi, risiko terbesar adalah bagi pemberi pinjaman. 

Berbeda bila kita meminjam dengan keluarga. Walaupun sama tanpa ada bunga, jaminan, dan jatuh tempo, tapi secara langsung nama keluarga menjadi jaminan. Sekalinya peminjam kabur, pemberi pinjaman dapat menagih ke keluarganya terdekat. Upaya peminjam untuk kabur sangatlah sulit.

Kadang kitapun tak tega melihat teman atau sahabat sendiri yang benar-benar sedang mengalami kesulitan keuangan. Namun sesulit apapun yang terlihat, lebih baik tidak. Beberapa pengalaman membuktikan, teman yang bilangnya membutuhkan uang untuk makan atau motornya rusak, tapi tidak digunakan untuk urgensinya tersebut. Mereka pernah kepergok sedang makan di tempat mewah atau berada di diskotik pada hari yang sama mereka meminjam uang.

Hal ini juga sama seperti cerita PNS yang dicor di makam oleh seorang temannya yang honorer. Setelah sang PNS itu menagih hutang si honorer yang meminjam uang untuk membeli mobil di sebuah lelang. Mobilnya tidak ada karena uangnya dipakai untuk foya-foya.

Tapi bagaimana kalau sudah terlanjur meminjamkan uang? Sebesar apapun, coba ikhlaskan dan jadikan pelajaran untuk tidak pernah untuk meminjamkan uang lagi. Hal ini pernah terjadi juga pada saya. Seorang teman SMA yang sudah lama tidak berhubungan, tiba-tiba menghubungi lewat Facebook. Saya balas 3 hari sekalipun dia tetap menghubungi saya untuk meminjam uang. Karena atas dasar kasihan, saya beri pinjam sebesar 200 ribu. Sudah hampir 2 bulan tidak dikembalikan dan dia tidak pernah mengontak saya lagi. Saya ikhlaskan karena setelah lulus SMA dia hidupnya cukup susah.

Kejadian serupa pernah terjadi pada teman saya. Dia meminjamkan uang pada temannya hingga sejumlah jutaan rupiah. Namun ketika ditagih si peminjam jauh lebih galak, ngata-ngatain miskin dan tidak sabaran. Ketika dinasihati dengan agama dan akhiratpun tidak mempan. Saya beri nasihat untuk diikhlaskan, tapi pemberi pinjaman sepertinya tidak ikhlas karena jumlahnya yang besar dan dia merasa kerja kerasnya sangat tidak dihargai.

Namun, ada pula teman saya yang memberi pinjaman dan mencoba ikhlas tidak dibayar setelah saya sarankan untuk ikhlas. Saya tidak mau membuat teman saya ini menyesal karena telah memberikan pinjaman tapi lebih menyarakan untuk ikhlas dan tidak akan pernah meminjamkan uang lagi. Kasusnya adalah teman kerjanya meminjam uang sebesar 1 juta untuk makan. Karena makan adalah kebutuhan utama, otomatis teman saya iba dan memberikan pinjaman. Setelah memperoleh banyak info yang beredar, ternyata si peminjam adalah si tukang hutang. Banyak kredit yang dia ambil. Salah satunya adalah kredit mobil untuk orang tuanya. Apakah harus membeli barang mewah untuk membahagiakan orang tua sedangkan kita sendiri harus pinjam sana-sini untuk barang pokok?

Saya pun pernah meminjam uang yang cukup besar pada teman dan itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya. Pada saat itu, ponsel saya rusak dan harus membeli yang baru. Saya belum berpenghasilan tapi sangat membutuhkan ponsel. Iseng-iseng saya pinjam uang pada teman sebesar 2 juta. Dipinjemi tapi dia ngomel-ngomel karena jumlah uang saya pinjem menurutnya terlalu besar. Setelah membeli ponsel seharga 2 juta saya sangat merasa tidak nyaman. Saya menjanjikan untuk membayar minggu depan. Ada ancaman pada saat itu. Akhirnya saya bilang ke orang tua dan meminjam uang untuk membayar hutang pada teman. Minggu depannya orang tua meminjamkan uang cash pada saya. Tanpa pikir panjang saya berikan uang tersebut untuk membayar hutang. Semenjak itu saya tidak pernah mau meminjam uang pada teman lagi.

Meminjam uang tanpa bunga, jaminan, dan jatuh tempo itu berlaku pada orang tua. Tanpa menjanjikan waktunya kapan, saya hanya bilang akan membayar pada saat honor kerjaan cair. Dua bulan kemudian honor kerjaan cair dan saya langsung membayarnya.

Sedekat apapun kita pada teman jangan pernah sekalipun meminjamkan uang. Karena uang itu candu, sekalinya minjam pasti akan keterusan dan semakin sulit ditagih. Semakin keras menagih, si peminjam akan jauh lebih keras untuk tidakau membayar. Jangan pernah ada rasa kasihan untuk itu. Jika alasannya untuk makan, lebih baik ajak makan bareng dan bayari. Jangan pernah berikan uang tunai. Belum tentu penggunaannya sesuai dengan urgensi. Apabila terlanjur, silahkan coba untuk mengikhlaskan dan berdoa untuk memperoleh penggantinya yang lebih baik lagi.

Budayakan pula menabung. Saat kita butuh uang secara mendesak, kita punya cadangan. Jika tidak, pilihlah keluarga inti untuk dipinjami, tapi tetap harus dibayar ya. Dilihat sisi positifnya, meminjam pada bank juga adalah salah satu yang tepat. Setidaknya ada jatuh tempo kapan kita membayar yang membuat kita patuh dan tidak terlena dengan uang yang kita pinjam. 

Cerita Jatuh Bangun Kehidupan


Setiap orang punya jalan hidup yang berbeda-beda. Jatuh dan bangun adalah hal yang biasa dialami. Semua lika-liku kehidupan itu hanya diri sendiri yang memahami. Banyak orang lain di luar sana merasa jalan hidup kita lurus dan mudah dalam menggapai impian. Hal ini sangat saya rasakan. Banyak orang melihat jalan hidup saya sangat lurus dan lancar tanpa ada kendala. Kenyataannya, saya sudah tidak memikirkan apa yang saya impikan, cukup bagaimana caranya melalui kehidupan ini yang terus berjalan tiap detik ini saja sungguh sangat melelahkan.

Apa yang dipikirkan orang lain tersebut memberikan pelajaran pada diri saya. Ketika orang lain berpikir jalan saya begitu lurus, saya pun tidak boleh berpikir jalan orang lain pun lurus dan sangat indah. Yakinlah bahwa setiap orang punya proses masing-masing dan orang tersebut pasti sangat kuat usahanya. Selain itu, biarkanlah cerita perjuangan ini jadi motivasi khususnya bagi diri sendiri karena setiap jalan cerita kehidupan memberikan kenangan indah tersendiri.

Pada tulisan kali ini, saya akan menceritakan secara singkat tentang kehidupan pribadi. Bahwa memang benar, hidup itu up and down serta apa yang diinginkan kita mungkin kurang baik atau kurang tepat diperoleh menurut Tuhan. Namun, yakinlah bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik pada umatnya jika mau mencoba, berdoa, dan berusaha. Tak ada usaha yang mengkhianati hasil.

Kegagalan Masuk SMP Favorit

Sejak umur 1 tahun saya tinggal di Kabupaten Bandung. Namun urusan sekolah, mama yang menentukan. Meskipun kami hidup dengan kesederhanaan, mama tidak mau menyekolahkan anak-anaknya dekat rumah karena kualitasnya. Bahkan, Kota Cimahi yang jauh lebih dekat dengan rumah, mama tidak mau, pokoknya anak-anak harus sekolah di Kota Bandung walaupun biaya sekolahnya lebih mahal ditambah lagi ada ongkos perjalanan karena rumah dan sekolah cukup jauh.

Saya bersekolah di SD negeri yang berada di pusat kota dengan waktu perjalanan sekitar 1,5 jam dari rumah bila naik angkutan umum. Mama-papa memang tidak terlalu mengintervensi kehidupan sekolahku karena pada saat itu papa harus kehilangan pekerjaanya dan mama harus berjualan di pasar. Pesan terpenting yang diberikan adalah bahwa anaknya harus belajar sesuai dengan kemampuannya tanpa ada paksaan untuk menjadi ranking 1. Saya pun belajar biasa saja, namun memang menjadi salah satu siswa yang terbaik di kelas walau tidak ranking 1.

Cara berpikir mama dalam memilih sekolah terpatri dalam diri saya. Sejak saat itu, saya sudah menentukan ingin bersekolah di SMP dan SMA terbaik nomor 2 di Kota Bandung. Tidak memilih yang nomor 1 karena sadar diri. Namun, setelah saya berusaha semaksimal mungkin untuk masuk ke sekolah favorit itu, ternyata gagal. Saya hanya bisa masuk sekolah pilihan dua, ya walaupun sekolah itu masih favorit tapi saya sungguh kecewa.

Ketika ditempatkan di SMP, sebenarnya saya masuk kelas unggulan nomor dua  tapi kekecewaan gagal masuk SMP yang diinginkan masih mendarah daging sehingga prestasi di kelas VII tidak memuaskan. Bahkan saya masuk 5 terendah di kelas.

Hal yang perlu disyukuri adalah ketika saya memutuskan untuk ikut ekstrakurikuler PMR. Sebenarnya itu bukan ekskul pilihan saya, namun akhirnya bisa loyal hingga lulus SMP. Hal ini dikarenakan saya mendapatkan teman-teman yang sudah seperti keluarga. Kekecewaan masuk SMP itu sirna karena adanya teman-teman yang sangat baik melebihi teman-teman saat saya SD.

Kegagalan Masuk SMA Favorit

Prestasi saya saat SMP mulai meningkat. Dari sinilah kepercayaan diri masuk SMA kluster 2 mulai membara. Pada saat itu, sistem pendidikan di Kota Bandung memperbolehkan calon siswa memilih tiga pilihan yang tiap pilihannya harus dalam satu kluster. Tiap pilihan secara berhierarki sesuai dengan hierarki kluster. Pemilhan kluster 2 sebagai pilihan pertama sudah tepat karena hasil UN saya standar. Pada saat UN, saya sangat menyesal karena benar-benar mengerjakannya sendiri. Tidak mengikuti saran orang lain yang katanya memperoleh kunci jawaban. Penyesalan itu bertambah menjadi kekesalan karena nilai UN itu mendorong saya masuk pada pilihan ketiga yang ada di kluster 4. Otomatis saya masuk sekolah yang tidak favorit. Pada saat itu, saya ditawari masuk SMA terbaik di Cimahi melalui jalur kenalan papa. Tapi saya menolak karena saya lebih memilih sekolah di Bandung. Saya semakin menyesal karena menyadari sekolah terbaik di Cimahi itu selevel dengan sekolah kluster 1 di Bandung.

Saat di SMA saya berusaha mensyukurinya. Hal ini terbukti saya mendapat sahabat baik, bisa menjadi siswa berprestasi, dan dipercaya oleh guru untuk mengikuti event-event tertentu. Saya pun kembali bangkit dari keterpurukan dan belajar dengan sungguh-sungguh. Pada kelas X saya bisa mencapai ranking 1, namun tidak di kelas XI dan XII. Hal ini karena ada salah satu siswa yang melakukan gratifikasi kepada wali kelas supaya dia bisa ranking 1. Pada saat itu saya tidak peduli karena masuk kuliah tidak dinilai dari peringkat. Hal ini dikarenakan saya sudah memutuskan untuk mengikuti SNMPTN. Saya tidak berusaha seperti siswa lain yang memohon untuk mark-up nilai untuk PMDK karena program studi yang ditawarkan lewat jalur PMDK tidak menarik minat saya.

Kegagalan Masuk Universitas Negeri dan Ketidakpercayaan Diri Memilih Program Studi

Memang ada rasa kesal ketika melihat hasil UN SMA yang rerata 80. Apalagi jika dibandingkan dengan teman saya yang prestasinya lebih rendah yang nilai UN-nya di atas saya. Namun, saya mencoba membela diri. Hal terpenting adalah lulus SMA karena masuk kuliah tidak ditentukan dengan nilai UN.

Kekesalan saya semakin berkecamuk ketika hasil SNMPTN menyatakan saya tidak lolos satupun dari dua pilihan. Sungguh sangat menjengkelkan. Ditambah lagi suara-suara yang menyatakan keanehan bahwa orang seperti saya bisa gagal ujian. Namun, orang tua saya tetap memberikan semangat. Ketika saya memutuskan untuk tidak kuliah dan fokus untuk SNMPTN tahun depan, orang tua menolak dengan keras. Saya harus kuliah walau harus di universitas swasta. Kekecewaan membuat saya buta sehingga pilihan prodi saya serahkan pada orang tua. Saya diarahkan untuk mengambil teknik mesin di kampus swasta. Saya pun lolos dan jadi mahasiswa teknik mesin. 

Sebenarnya, saya tidak terlalu cocok dengan teknik mesin. Tapi, saya terus mengikuti proses perkuliahan. Sampai semester 2 saya memperoleh IP di atas 3,5. Di semester 3 saya memutuskan untuk ambil SKS penuh dan disetujui oleh dosen pembimbing. Namun, mama saya menawarkan kesempatan lain untuk mengikuti SNMPTN lagi. Awalnya saya tidak mau, namun mama memaksa untuk ikut. Akhirnya saya putuskan untuk ikut. Pilihan universitas dan prodi sepenuhnya adalah keputusan saya. Mama tidak ikut campur. Atas dasar pertimbangan tahun lalu, niat ambil kembali prodi teknik mesin atau teknik sipil harus digagalkan. Saya putuskan untuk ambil Teknik Planologi di Yogyakarta. Saat pengumuman, ternyata saya berhasil lolos. Orang tua sangat senang meskipun mama agak kecewa ketika saya harus pergi merantau. Namun, orang tua yakin bahwa itu pilihan terbaik anaknya.

Saat pertama kali belajar mengenai teknik planologi, ada rasa ketidaksesuaian diri dengan prodi yang diambil. Di tahun pertama, IP saya hanya 3,3 tidak sesuai dengan target. Di semester berikutnya saya mencoba memperbaiki diri dan bisa lulus 8 semester degan predikat cumlaude.

Belum Adanya Kesempatan Untuk Menjadi Pegawai Tetap dan Keputusan Untuk Mengambil Magister

Setelah lulus kuliah, saya ditawari bekerja kontrak di konsultan perencanaan di Bandung. Ini merupakan kesempatan emas untuk kembali ke Bandung. Kontraknya hanya 4 bulan. Setelah kontrak berakhir, iming-iming sang manajer untuk mengajak saya dalam proyek memang hanya iming-iming. Setelah itu, saya menganggur, mencoba melamar sana-sini, pergi ke jobfair. Pada saat itu, saya masih memegang teguh untuk bekerja di bidang yang sesuai. Inginnya bekerja di BUMN konstruksi atau pengembang, namun selalu gagal.

Saat uang benar-benar habis, untungnya senior saya mengajak untuk bergabung di konsultan lagi dengan kontrak 2 bulan. Saya iyakan walau harus hijrah ke Jakarta. Setelah kontrak berakhir, orang tua menyarankan untuk mengambil magister dengan biaya sendiri. Saya menolak dan ingin mencari beasiswa terlebih dahulu. Saya mencoba mendaftar LPDP, namun gagal karena TOEFL tidak memadai. Akhirnya saya mengambil tawaran dibiayai orang tua. Namun saya memilih kampus di Jakarta yang biayanya cukup mahal. Walau agak keberatan orang tua akhirnya setuju. Saya meyakinkan bahwa saya akan dapat beasiswa Kemendikbud karena TOEFL saya sesuai. Sayangnya ketika saya mendaftar beasiswa tersebut, Kemendikbud mengubah batas bawah nilai TOEFL dari 450 ke 500, otomatis saya gagal.

Pilihan kampus Jakarta dengan pertimbangan agar saya bisa sambil bekerja. Dalam memilih prodi pun saya pikirkan matang-matang. Saya keluar dari zona nyaman dan memutuskan untuk kuliah ekonomi terapan di prodi Perencanaan dan Kebijakan Publik. Ketika berhasil diterima di program magister sungguh sangat senang, namun ternyata ini adalah tantangan baru dalam hidup saya. Saya harus belajar ekonomi yang membuat otak melilit, saya harus hidup dengan segala keterbatasan karena uang bulanan dari orang tua hanya 2 juta termasuk kost, dan mencari pekerjaan untuk menambah pundi-pundi. Selama kuliah saya tidak mendapat pekerjaan, sempat ditolak di perusahaan swasta, dan diterima menjadi guru privat. Menjadi guru privat pun tidak semudah itu karena pelajaran yang saya ampu tidak banyak diminta oleh siswa, ditambah lagi pengajar laki-laki tidak diminati. Pencarian beasiswa pun tidak berhenti, ada tawaran beasiswa Tanoto Foundation bagi mahasiswa on-going. Saya berhasil hingga tahap interview dan setelah itu saya kembali menelan pil kepahitan karena saya gagal memperoleh beasiswa. 

Untungnya ditengah liburan semester, saya kembali ditawari membantu konsultan perencanaan dengan kontrak selama 2 bulan. Setidaknya ada tambahan pundi-pundi dalam tabungan saya.

Terus Mencoba Melamar

Saya memutuskan untuk lulus kuliah di semester 3 dan itu berhasil. Jeda waktu menunggu wisuda yang tiga bulan lagi sungguh sangat lama apalagi dalam keadaan menganggur. Saya mencoba melamar sana-sini di berbagai perusahaan termasuk di instansi pemerintah. Selama 3 bulan itu ada satu panggilan kerja dari instansi pemerintah. Saya disuruh mempersiapkan diri untuk wawancara via Skype dengan nomor urutan ke-7. Namun, saya tidak dipanggil lagi karena sudah ada kandidat yang terpilih lebih dahulu.

Kegiatan saya hanya merevisi tesis hingga selesai, mengikuti seminar tenaga kerja, atau mengikuti seminar hasil di kampus. Pada saat itu uang sudah sangat menipis. Saya sudah mendaftarkan 2 konferensi dengan mengirimkan tesis saya. Konferensi di Yogyakarta harus saya tidak hadiri karena keterbatasan ongkos menuju sana. Saya hanya hadir yang di Bogor.

Sehari sebelum gladiresik wisuda atau dua hari sebelum acara konferensi di Bogor, saya ditelpon oleh salah satu instansi pemerintah untuk hadir wawancara. Saya pun memastikan hadir sesuai jadwal, yaitu jam 9 dan izin jam 13 ada gladiresik wisuda. Setelah wawancara, akhirnya saya pun diterima di instansi tersebut dan dapat bekerja di awal September 2018. Walaupun gajinya kecil, saya terima saja. Saya melupakan latar belakang pendidikan, gaji sebelumnya, dan apapun itu karena ini pertama kalinya saya bekerja langsung di instansi pemerintahan dan supaya tidak menganggur.

Di tengah perjalanan saya bekerja, dibukalah penerimaan CPNS 2018. Tentu ini ini menjadi salah satu yang wajib dicoba. Saya pun mencobanya dengan mendaftar sebagai analis perekonomian dengan kualifikasi S2 ekonomi regional. Untungnya, nama prodi di ijazah yang berbeda dengan kualifikasi tidak menjadi masalah. Pada saat itu ada kepasrahan gagal seleksi berkas, namun bila ada adu argumen saya siap karena kekhususan yang saya ambil saat kuliah adalah ekonomi perencanaan kota dan daerah.

Tahap berikutnya adalah Seleksi Kompetensi Dasar (SKD). Sudah belajar mati-matian ternyata saya hanya memperoleh predikat P2, artinya salah satu kelompok ujian tidak sesuai dengan passing grade, namun lolos secara nilai total. Hal ini dikarenakan nilai Tes Karakteristik Pribadi (TKP) di bawah passing grade. Masih ada harapan untuk lulus tapi sangat kecil. Saya lupakan kesempatan jadi PNS. Ternyata SKD saya lulus dan bisa mengikuti tes psikologi dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB). Hasil tes psikologi hanya pihak penyelenggara saja yang mengetahui sedangkan hasil SKB langsung muncul setelah ujian selesai. Dan hasilnya, saya hanya memperoleh skor 45%. Pupus sudah harapan menjadi PNS. Ketika hasil akhir diumumkan, ternyata saya lulus dengan predikat P2/L. Saya bersyukur karena akhirnya bisa menjadi pegawai tetap.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, PNS bukanlah cita-cita tapi suatu kesempatan. Pendidikan dan pekerjaan yang telah saya lakukan selalu berhubungan dengan pemerintah dan masyarakat membuat pilihan PNS sebagai salah satu pekerjaan yang saya coba. Tapi ujian tidak berhenti di situ. Substansi yang saya bayangkan dengan kenyataan ternyata bertolak belakang. Saya perlu effort yang lebih ekstra untuk mengikutinya. Overthinking menjadi kelemahan saya, membuat 5 bulan pertama saya merasa blank bekerja. Ditambah lagi dengan ketidakjelasan informasi dan keterbatasan fasilitas di instansi pemerintah yang baru ini membuat gairah kerja dan belajar saya melemah.

Saat ini, saya mencoba berpikir ulang tentang apa yang saya alami dan saya dapatkan selama hidup. Saya merasa kurang bersyukur atas nikmat yang diberikan. Saya mencoba mensyukuri dan ikhlas. Ternyata itulah kuncinya. Overthinking diminimalisir dan saya bisa bekerja menjadi lebih baik. Saya ikhlas dan pasrah pada takdir Tuhan. Sampai sekarang saya bahagia bisa bekerja di instansi tersebut karena memiliki rekan kerja yang baik. Memang pasti ada drama di setiap perkantoran, khususnya di level atas. Namun, itu semua dapat dihindari yang penting memperkuat di level staf.

Pilah Pilih Hunian Di Jabodetabek



Bekerja dan menetap dalam jangka waktu panjang di Jakarta pasti akan memerlukan sebuah rumah untuk tempat tinggal. Namun, banyak penelitian yang menyebutkan bahwa milenial sekarang sudah tak mampu membeli rumah di Jakarta. Hal itu benar terjadi karena harga rumah komersial di Jakarta sudah sangat mahal. Adapun rumah subsidi yang disediakan pemerintah, syaratnya sangat banyak bahkan sampai antre untuk mendapatkannya. Ada pula yang menyebutkan gaya hidup milenial yang terlalu berfoya-foya membuat mereka sulit untuk mendapatkan rumah di Jakarta. Semakin konsumtif, maka tabungan mereka pun semakin sedikit. Hal ini membuat kemampuan mereka untuk memperoleh rumah semakin rendah. Bisa juga gaya hidup konsumtif mereka dipengaruhi oleh suatu kepasrahan karena harga rumah yang sangat tinggi.

Sebagai generasi milenial yang sudah merantau di Jakarta sejak 3 tahun yang lalu, membuat saya berkeinginan untuk memiliki rumah di Jakarta. Sudah sejak beberapa bulan ini, saya mulai menimbang-nimbang untuk menentukan rumah. Apakah rumah vertikal atau rumah tapak serta pilihan apakah di pusat Jakarta atau di luar Jakarta. Hal itu tentu saya pertimbangkan dengan kemampuan finansial dan banyaknya aktivitas di tempat saya bekerja.

Dalam mempertimbangkan itu semua, tentu saya tidak melakukannya sendiri. Ada beberapa pendapat teman yang saya minta. Ada dua pendapat yang cukup bertolak belakang, yaitu apartemen di Jakarta atau rumah tapak di luar Jakarta. Kedua pilihan itu cukup memusingkan saya juga. Hal inilah yang perlu ditimbangkan baik-baik secara ekonomi. 

Rumah Tapak Di Luar Jakarta

Kenikmatan memiliki rumah yang menapak di atas tanah sudah terpatri oleh seluruh orang Indonesia. Hal ini wajar sekali karena Indonesia dihadiahi tanah yang luas sekali sehingga mudah untuk membangun apa saja. Namun, harga pasar tetap berlaku. Semakin dekat dengan pusat kota maka harga tanah akan semakin mahal, begitu pula sebaliknya. Hal ini terbukti dengan gairah pembangunan rumah di wilayah pinggiran Jakarta oleh pengembang swasta maupun BUMN. Untuk rumah sederhana hingga menengah hanya dipatok 500 juta ke bawah. Tentu ini sangat menjangkau para milenial. Tak perlu khawatir, akses menuju ke sana tidak seperti menjelajahi hutan belantara. Commuterline sudah menjangkau wilayah pinggiran. Begitu pula dengan jalan tol yang membuat banyak angkutan umum bisa lebih mudah menuju Jakarta.

Dibalik kenikmatan murahnya harga rumah tentu perlu diimbangi dengan ongkos akses yang bisa dibilang lebih mahal. Meskipun harga tiket commuterline dan Trans Jakarta yang menjangkau wilayah pinggiran itu cukup murah. Namun, ada ongkos ojek online yang harus dibayar menuju atau dari statiun/halte. Belum lagi harus berebutan dengan penumpang lainnya. Waktu perjalanan bisa jadi jauh lebih panjang. Banyak energi yang terbuang dan waktu untuk bertemu keluarga pun menjadi lebih sedikit. Jika tidak kuat, mungkin kita bisa sakit dan ada biaya kesehatan yang perlu disiapkan.

Apartemen Di Dalam Jakarta

Harga rumah di Jakarta memang sangat gila-gilaan. Harga di bawah 500 juta, kita hanya bisa dapat apartemen tipe studio yang sangat tidak layak untuk hidup berkeluarga. Jika menginginkan tipe 1 kamar perlu menambah kocek sekitar 100 juta, apalagi tipe 2 kamar perlu menambah sekitar 200 juta. Walhasil hanya tipe studio saja yang bisa terjangkau.

Memiliki apartemen yang dekat dengan kantor memang sangat menguntungkan. Khususnya biaya transportasi dan kesehatan bisa diminimalisir. Namun, biaya service bulanan apartemen itu harganya cukup mahal juga. Hal inilah yang menjadi keraguan bagi orang yang mau tinggal di apartemen. Belum lagi banyak fasilitas yang harus di-share bersama penghuni lainnya, namun fasilitas tersebut memang tidak akan didapatkan jika membeli rumah tapak, seperti kolam renang, parkir, dan lainnya.

Jadi...

Pilhan tersebut memang tergantung kebutuhan kita. Saya pribadi, lebih memilih apartemen di dalam Jakarta. Ongkos transport akan saya alokasikan ke biaya service apartemen. Saat ini saya pun masih tinggal sendiri jadi belum terlalu butuh rumah yang cukup luas. Apabila saya mempunya kemampuan yang lebih, tentu saya kan mencari rumah yang lebih luas untuk keluarga saya nanti dan apartemennya dapat menjadi aset untuk disewakan. Satu hal yang cukup penting adalah pilihlah pengembang apartemen  yang bagus. Umumnya, pengembang akan menentukan pula siapa pengelolanya. Pengembang yang baik akan memilih pengelola yang baik pula. Pengelola yang baik akan membawa kedamaian bagi para penghuninya.

Jadi, kamu mau pilih rumah bentuk apa? Di Jakarta atau luar Jakarta?

Barang-barang yang Akhirnya Jadi Sampah



Salah satu godaan jika sedang punya uang adalah berbelanja. Barang yang biasanya diinginkan sebenarnya hanya kebutuhan sesaat. Kebutuhan sesaat dengan ekspektasi  tinggi yang dapat mengubah menjadi sesuatu yang luar biasa. Namun, tidak mau bermodal besar karena masih terpikir rasa kebutuhan sesaat. Alhasil, lebih memilih barang dengan harga murah tersebut.

Aplikasi marketplace adalah surga dari barang-barang yang saya inginkan tersebut. Berbagai pilihan barang dengan harga murah bisa kita komparasikan antar toko. Tinggal memilih toko mana yang memiliki rating paling tinggi dan harga paling cocok. Namun sayang, banyak barang yang sudah dibeli malah memberikan kekecewaan. Tidak berfungsi, tidak sesuai dengan ekspektasi, cepat rusak, memberikan rasa tidak nyaman, dan masih banyak kekecewaan lain sering saya rasakan. Bahkan bisa dibilang tidak kapok untuk membeli barang-barang tersebut.

Berikut adalah daftar dari barang-barang tersebut.

1. Smartwatch V8

Sudah lama tak memiliki jam tangan, ada rasa ingin memiliki yang baru. Smartwatch adalah salah satu benda yang sangat futuristik pada saat itu. Ditambah lagi fitur yang terkoneksi dengan smartphone membuat sangat ingin untuk dibeli. Namun, budget yang pas-pasan membuat rasa ingin membelinya selalu kandas di tengah jalan. Tak sengaja saat melihat jajaran benda di flash sale yang salah satunya adalah smartwatch. Langsung saya beli tanpa pikir panjang mengenai merknya dengan harga sekitar Rp70 ribu. Sempat melihat produk ini tanpa merk, buatan China, dengan spesifikasi yang cukup menarik pada gambarnya, yaitu ada kameranya dan sensor untuk mendukung aktivitas kesehatan.

Ketika barang sampai, ku harus banyak memaklumi. Apa yang kau harapkan dari smartwatch dengan harga under 100k? Hasil kamera sudah pasti tidak jelas karena resolusinya di bawah VGA. Sensornya tidak ada, jendulan sensor hanya ada pada gambar, tidak ada pada benda aslinya. Touchscreen namun tidak presisi sehingga butuh usaha yang besar untuk dapat menyentuhnya. Notifikasi hanya memunculkan "you have notification" dan tidak dapat membaca apa isi notifikasinya. Secara keseluruhan, ini bukan smartwatch, tapi featured phone yang dibuat dalam bentuk jam tangan.

Kurang lebih 1 minggu saya menggunakan smartphone ini. Menjelang ajal si smartphone, dia mengalami penggemukan di bagian baterai. Mungkin karena overcharge. Baterai yang bisa dilepas itu sampai tidak dapat dipasang kembali karena tidak muat masuk dalam smartwatch. Akhirnya, smartwatch tersebut harus dibuang ke tempat sampah.

2. Bluetooth Speaker

Hobi mendengar musik dan menonton film dengan suara keras melalui laptop, membuat saya menginginkan speaker untuk dikoneksikan dengan laptop. Speaker sekarang memang sudah banyak yang nirkabel, maka dari itu munculah keinginan untuk memilikinya. Bluetooth speaker yang dijual di toko online pada umumnya dijual dengan harga di atas Rp100 ribu. Tak sengaja, saya melihat bluetooh speaker dengan harga Rp45 ribu. Tanpa pikir panjang saya masukan keranjang belanja dan membayarnya menggunakan mobile banking.

Sesampaianya di tangan, muncul rasa kecewa yang sangat besar. Benar-benar hanya bluetooth speaker yang datang, tanpa ada kabel untuk charging. Hal yang membuat tambah jengkel adalah lubang charger-nya bukan micro USB, tapi mini USB untuk ponsel zaman dulu dan saya tidak punya kabelnya. Alhasil, speaker itu tidak dapat digunakan selama seminggu karena saya harus membeli kabel USB yang cocok terlebih dahulu.

Bluetooth speaker akhirnya dapat digunakan. Suaranya bagus, menggelegar, dan keras. Hampir setiap hari saya gunakan untuk mendengarkan musik. Namun, lama kelamaan daya tahan baterainya menurun. Kurang dari 1 jam sudah melemah, akhirnya saya putuskan untuk selalu menghubungkannya ke daya. Kurang dari satu bulan, akhirnya bluetooth speaker tersebut tidak dapat dicharge hingga akhirnya mati total.

3. Heles Harnic HC780 - Sisir Catok Rambut

Kepercayaan saya terhadap produk Heles masih sangat besar, ketika saya membeli catokan pada tahun 2012 lalu. Pada tahun 2017 saya menemukan bahwa Heles punya catokan yang berbentuk sisir. Dengan ekspektasi membuat rambut menjadi lurus dengan sekali sisir, akhirnya saya putuskan untuk membeli sisir catok ini. Dengan harga yang mendekati Rp200 ribu, saya beli walau perlu menunggu cukup lama karena dikirim dari Surabaya.

Hampir seminggu saya menunggu barang ini dengan harapan yang sangat tinggi. Ketika ditancapkan ke listrik dan suhu diatur, saya sudah membayangkan rambut saya akan lurus. Namun, ketika dipakai, helaian rambut saya tidak masuk ke dalam jari-jari sisir. Hal ini mungkin karena rambut saya terlalu pendek dan kaku sehingga sulit untuk disisir, ditambah lagi jari-jari sisir tergolong sangat besar. Hal ini dikarenakan karet pelindungnya yang berfungsi sebagai pelindung agar panas alat tidak terkena kulit kepala. Akhirnya, sisir tersebut hanya tergeletak tidak berguna.

4. Men Comb Straightener

Keinginan memiliki rambut lurus dan rapi muncul kembali. Ketika iklan mengenai sisir catok khusus untuk pria muncul di instagram, langsung saya mencari di aplikasi marketplace. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memilih dengan harga sekitar Rp60 rupiah. Tidak terpikir ini barang asli atau palsu, padahal sudah jelas kalau harga aslinya sekitar Rp300 ribu. 

Seperti barang lainnya, ekspektasi memiliki rambut lurus rapi sudah di depan mata. Namun kenyataan berkata lain, ketika digunakan tidak membuat rambut lurus, rambut malah panas dan semakin kering. Tanda kekeringan rambut terlihat dari semakin memerahnya rambut. Akhirnya, si alat hanya jadi pajangan saja.

5. Alat Penyedot Komedo

Dua minggu terakhir ini, wajah saya kembali berjerawat yang tidak diketahui penyebabnya apa. Jerawat itu hanya tumbuh di bagian jidat saja. Berawal dari komedo hingga akhirnya membengkak dan berjerawat. Berbagai krim telah dicoba tetap saja komedo-komedo itu muncul. Pernah ada niatan untuk membeli penyedot komedo seharga Rp300 ribu di toko offline langganan. Namun, itu pupus karena teman saya menyarankan beli yang harganya murah karena itu berfungsi dengan baik. Alhasil, saya membeli di online shop dengan harga Rp70 ribu.

Sesampainya di tangan, saya keheranan karena alat ini tidak bisa nyala. Setelah di-charge alat pun masih tetap tak bisa nyala. Namun, ketika sambil di-charge lalu dinyalakan, alatnya berfungsi. Saat saya tanyakan ke tokonya, ternyata alat ini tipe yang memang harus dicolok listrik untuk dapat digunakan. Agak aneh memang, melihat kabel listriknya layaknya charger ponsel yang panjangnya tidak seberapa. Alat ini tidak menyedot secara sempurna. Bahkan di beberapa bagian wajah malah membuat wajah kemerahan bahkan hingga berdarah. Akhirnya, kutaruh alat penyedot komedo itu dan tak digunakan lagi.

Tiga dari lima alat tersebut masih ada, tersimpan rapi tak berguna. Ketika saya memandangi alat tersebut, saya hanya merasakan penyesalan tiada tara. Mengetahui hal tersebut, lebih baik saya membeli di toko terpercaya meskipun harus merogoh kocek 4-5 kali lipatnya tapi itu terjamin. Tidak hanya kelima barang itu saja, tetapi masih ada beberapa barang lain yang saya beli namun tak berguna. Tak perlu saya sebutkan semua karena itu menyakitkan.

Dari sini saya belajar, bahwa lebih baik membeli barang dengan harga yang mahal namun berfungsi dengan baik dan awet dibandingkan dengan yang harganya murah, tak terjamin kualitasnya, dan akhirnya hanya menjadi sampah.

Nostalgia 12 Ponsel Saksi Perjalanan Hidup




Bagi generasi 90-an akan sangat terasa sekali perkembangan ponsel mulai dari masa kanak-kanak hingga dewasa kini. Kita pasti mengalami masa di mana ponsel berbentuk kotak kaku, layarnya kecil tapi body-nya besar, dan ada antenanya. Hingga dewasa ini, ponsel minim tombol fisik dengan layar yang sangat luas dengan kecanggihan teknologinya. Di sini, saya coba mengenang ponsel-ponsel yang pernah saya miliki. Berikut daftarnya:



Ericsson T10s

Ponsel dengan bentuk kotak, layar kecil, berantena, dan memiliki flip cover menutupi keypad sebenarnya cukup untuk dipakai pada masanya. Fungsinya hanya untuk telepon dan SMS saja, tidak seperti ponsel nokia yang sudah hadir pada saat itu dan memiluiki fitur tambahan seperti games. Ponsel ini saya pakai waktu SD dan digunakan untuk gaya-gaya-an. Tidak sering digunakan untuk menelpon dan SMS. Ponsel ini merupakan secondhand  dari tante yang diberikan pada mama. Namun, anak SD seperti saya ingin juga merasakan punya ponsel sehingga tak jarang saya membawa ponsel ini ke sekolah.

Nokia 3330

Pada awal masuk SMP, saya merengek ingin dibelikan ponsel. Alhasil, papa membelikan ponsel second Nokia 3330. Nokia 3330 ini masih saudara dengan 3315 dengan tambahan fitur yang jauh lebih menarik seperti gambarnya sudah bisa animasi, bisa unduh gambar dan ringtone, dan ada internet GPRS yang tidak pernah digunakan. Saking senangnya dengan ponsel ini, seringkali bermain games hingga baterai habis atau sambil di-charge. Alhasil baterai ponsel ini drop dan cepat habis. Pada saat itu games favorit yang sering dimainkan adalah Snake 2 dan Space Impact. Sayangnya, ponsel ini bertahan kurang dari satu tahun karena kecopetan di angkot.

Sony Ericsson J210i

Hiatus dari perponselan selama 1 tahun lebih, akhirnya di kelas 3 SMP setelah menabung, saya bisa membeli ponsel sendiri. Ya, walaupun hanya Sony Ericsson J210i, ponsel mini yang sudah polyponic dan memiliki infrared untuk bertukar ringtone dan gambar. Walau tanpa kamera, warna silver dari ponsel ini bikin elegan. Pada saat itu, sudah banyak teman-teman yang memiliki ponsel sehingga komunikasi lebih sering via SMS.

Siemens

Pergantian ponsel ke Siemens ini sebenarnya karena tawaran papa untuk tukar tambah. Karena Siemens ini bisa dikatakan lebih canggih dari Sony Ericsson J210i, maka saya pun setuju untuk menukarnya. Untuk tipe, saya lupa. Secara ukuran memang tidak begitu jauh, tapi memorinya jauh lebih besar, dan paling utama ada kameranya. Ya, walaupun kameranya beresolusi VGA, setidaknya ada upgrade dari ponsel sebelumnya.

BenQ Siemens E61

Ponsel ini pun merupakan hasil tukar tambah yang dilakukan dengan ponsel sebelumnya. Hal yang membuat tertarik dengan ponsel ini adalah karena sudah support MP3 dan memiliki slot miniSD. Ponsel ini saya pakai saat kelas 2 SMA. Setiap berangkat ke sekolah pasti sambil mendengarkan musik. Namun sayangnya, ponsel ini tidak digunakan lagi karena tercebur ke bak saat mandi.

Haier

Haier ini merupakan ponsel pendamping pada saat saya masih menggunakan BenQ Siemens. Iming-iming sepupu membuat saya membeli ponsel yang di-bundling dengan Smartfren. Ponsel ini juga dapat digunakan sebagai modem ke laptop dan kita dapat berselancar di dunia maya. Pada saat itu, internet sudah dapat dijangkau dengan mudah walaupun dengan kecepata 200kpbs.

LG L70

Saking sudah tak tahannya ingin mengaktifkan nomor GSM, akhirnya saya minta dibelikan ponsel baru sama papa. Ya walaupun hanya dapat ponsel second setidaknya, nomor GSM sinyalnya lebih baik dibanding dengan nomor CDMA. Saya diberi LG. Ponsel ini berbentuk kotak, memiliki kamera VGA, support MP3 dengan slot microSD, dan ada infrared untuk transfer file. Untuk tipenya, saya sudah lupa.

Blueberry

Pada masa ini, mulai banyak masuknya ponsel China yang meniru ponsel terkenal seperti Blackberry. Salah satunya yang saya pakai adalah Blueberry. Ponsel ini didapatkan papa dari kantor dan akhirnya diberikan pada saya. Blueberry saya pakai untuk menggantikan LG yang tidak bisa dipakai untuk memutar musik karena slot charger yang sekaligus slot handsfree rusak. Blueberry yang saya miliki berwarna putih, dual SIM, ada slot microSD, dan slot audio 2,5mm serta tentunya keypad yang sudah qwerty. Inilah awal mulanya, saya terbiasa dengan qwerty keyboard.

Samsung Corby 2

Setelah menabung, saya memutuskan untuk membeli Samsung Corby 2. Ponsel touch screen yang memiliki kamera 2MP, bluetooh, WI-Fi, dan slot microSD, namun sayang bukan android. Ponsel ini muncul dan saya beli sebelum android booming. Jadi ya, agak cukup menyesal dalam membelinya. Untungnya, pada saat itu Whatsapp belum terlalu populer.

Blackberry Pearl 8230

Kepopuleran BBM dan Whatsapp membuat harus ada ponsel pendamping. Teman-teman kuliah sudah membuat grup WA angkatan yang segala informasi disimpan di sana. Kebetulan papa sudah tidak memakai Blackberry Pearl-nya, akhirnya saya minta dan menggunakannya. Lumayanlan untuk sekedar BBM dan WA.

LG L70

Blackberry Pearl yang semakin lama hanya bertahan 2-3 jam, akhirnya saya memutuskan untuk membeli ponsel baru, yaitu LG L70. Ponsel dengan layar 4,5 inchi, kamera belakang 5MP,  kamera depan VGA, dual SIM, dan masih 3G menjadi ponsel android pertama saya. Saya pakai ponsel ini di tahun ke 3 kuliah. Ponsel ini bertahan selama 3 tahun sampai akhirnya harus jatuh ke becekan yang membuatnya mati untuk selamanya.

Xiaomi Redmi 4x

Tidak  memiliki ponsel di zaman sekarang memang sangat menyulitkan. Setelah LG L70 wafat, perlu ada penggantinya. Saya memilih Xiaomi Redmi 4x karena harganya yang tidak terlalu mahal dan fitunya yang cukup lengkap. Saya membeli ponsel tersebut dengan minjam ke teman, kemudian minjam ke mama untuk membayar hutang ke teman, hingga kahirnya saya bayar ke mama dengan uang gaji yang telat cair. Sampai saat ini, tepatnya 2 tahun lebih saya menggunakan ponsel ini. 

Peta Kajian Kerjasama Daerah


Peta Kajian Kerjasama Daerah, itulah judul yang saya ambil dalam tugas Rancangan Aktualisasi dalam Latihan Dasar CPNS Golongan III. Karya ini telah saya presentasikan pada akhir Mei 2019 didepan penguji, mentor, dan coach, serta berhasil membawa kelulusan bagi saya.

Ide awal rancangan aktualisasi ini berasal dari kemampuan saya yang saya kombinasikan dengan tugas dan fungsi di tempat kerja. Perlu diingat bahwa Latsar ini menghasilkan inovasi dalam lingkup bidang atau sub-direktorat dan menekankan nilai-nilai ANEKA sebagai pondasi dasar seorang PNS yang tidak didapatkan oleh PNS masa lalu. Maka dari itu, Peta Kajian Kerjasama Daerah ini akan sangat membantu Bidang Ekonomi Daerah khususnya dalam mengerjakan tugasnya sebagai penyusun kebijakan pengembangan ekonomi daerah.

Peta Kajian Kerjasama Daerah ini juga ternyata memberikan manfaat pada Bidang Sektor Riil yang masih dalam satu lingkup Eselon 2, yaitu Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Daerah dan Sektor Riil. Peta ini dapat menjadi basis data keasdepan sehingga data apapun yang ingin divisualisasikan dalam bentuk peta dapat diproses dengan mudah dan cepat. Untuk itu, peta ini harus terus dijaga keberlanjutannya agar menjadi basis data yang lengkap.

Masalah Parkir Di Lingkungan Terpelajar



Kantor saya yang berada di daerah Lapangan Banteng, dapat dibilang merupakan kawasan orang-orang terpelajar dan berpendidikan. Namun, perilaku dalam memarkirkan motor sangat tidak terpelajar. Banyak dari mereka yang tidak mau parkir di bagian belakang karena jauh dari pintu keluar, sehingga lebih sering menemukan motor-motor yang parkir di jalur parkiran. Jalur parkiran itu adalah jalur yang seharusnya steril untuk keluar masuk kendaraan. Parkir di jalur parkiran memang sangat mudah, masuk tinggal simpan tak perlu mengatur posisi motor, tapi sangat menyusahkan buat motor yang mau keluar. Pasti ada saja yang tersangkut. Perlu di ketahui, besaran jalur parkiran yang dibuat hanya sekitar 1 meter. Motor yang parkir di jalur tersebut sudah pasti berada di depan motor yang parkir dengan mobil. Hal itu tentu sangat menjengkelkan karena motor yang sudah parkir secara benar, tidak dapat keluar karena dihalangi oleh yang parkir di jalur parkiran. Hal yang paling membuat murka adalah ketika motor yang parkir di jalur tersebut dikunci stang.  
Baru saja kemarin saya dan temen-temen mengalaminya, ketika harus keluar untuk melaksanakan rapat di luar kantor. Sangat sulit untuk keluar parkiran karena ada motor matic besar, parkir memakan banyak bagian jalur, dan dikunci stang. Butuh tenaga dua orang untuk menggeser-geser motor besar tersebut. Rasanya kesal sekali dan ingin membalikkan motor itu. Saya sampai saat ini juga bingung dengan pola pikir orang-orang di lingkungan ini. Harusnya sebagai orang yang punya pikiran dan terpelajar, dia tidak merugikan orang lain dengan cara parkir yang benar. Bila, benar-benar terpaksa untuk parkir di jalur tersebut, setidaknya jangan dikunci stang biar orang dapat memindahkannya dengan mudah.

Sangat disayangkan bagi kita negara yang menganut sistem yang mengambil kebaikan dari liberalisme dan sosialisme, malah terjebak pada egoisme diri sendiri yang tidak memikirkan hak-hak orang lain dan selalu berpikir akan dimaafkan secara kekeluargaan. Jangan sampai pikiran tersebut malah menjadi bumerang sehingga terjadi kerusakan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan atau adanya penyakit hati. Ya, sebenarnya sudah terjadi seperti lecet-lecet, komponen kendaraan yang lepas, atau komponen kendaraan yang bengkok tanpa tahu siapa yang dapat diminta pertanggungjawabannya.

Cobalah untuk berperilaku lebih tertib. Berpikirlah untuk tidak merugikan orang lain supaya kita tidak dirugikan. Sama.seperti jika kita seenaknya, maka orang lain pun akan seenaknya. Sebagai salah satu pegawai di lingkungan yang terpelajar, cobalah belajar untuk tertib, tidak egois, dan tidak merugikan orang lain karena kita sendiri yang alan menerima manfaatnya.

Cerita Latsar CPNS


Setelah empat bulan berlalu, akhirnya akupunya kesempatan buat menceritakan pengalaman selama Latsar. Latsar merupakan kepanjangan dari Latihan Dasar yang wajib dilaksanakan oleh setiap CPNS sebagai bekal awal dalam menanamkan prinsip yang harus dimiliki setiap ASN. Hal ini wajib diterapkan setelah menjadi PNS yang merupakan bagian dari abdi negara.

Februari 2019, akusudah menjadi bagian dari instansi pemerintahan pusat yang aku pilih. Beruntungnya, aku dapat mengikuti Latsar di batch 1, tepatnya Maret 2019. Bisa dibilang, hanya beberapa minggu aku ditempatkan di unit kerja, aku langsung meninggalkan kantor dan masuk asrama sekitar 1 bulan.

Selama mengikuti Latsar, sebenarnya antusiasme aku sangat rendah. Hal ini dikarenakan banyak pikiran-pikiran yang mengganggu, khususnya masalah finansial karena pada saat itu tabunganku mulai habis dan pemasukan masih dirapel 3 bulan kedepan. Selain itu, setiap harinya selalu dijejali oleh materi yang sangat banyak dan kegiatan dalam satu hari sangat padat, waktu istirahat yang sangat sempit sehingga rasanya badan ini sangat lelah sekali. Sangat berbeda dengan teman-temanku lainnya yang sangat semangat setiap menerima materi.

Di minggu terakhir asrama, akhirnya badanku drop. Kepala sakit, badan pegal, dan mual. Beberapa kali kegiatan di lapangan seperti olah raga dan apel, tidak dapat aku ikuti. Pada saat ujian tulis akhir pun, aku masih dalam keadaan kurang fit dan aku dinyatakan gagal. Untuk itu, aku harus melakukan remedial. Remedial bukan sekedar remedial, tapi aku juga harus menerima hinaan dari salah satu rekan Latsar. Cukup menyakitkan, tapi aku terus melanjutkan Latsar ini sampai selesai. Untungnya, saat sidang Proposal Proyek Aktualisasi, tidak ada masalah yang berarti. Apapun hasilnya kelak, aku terima apa adanya.

Setelah sidang proposal selesai, saatnya masuk tahap aktualisasi di kantor. Sekitar 1,5 bulan aku kembali masuk kantor sambil menyelesaikan Proyek Aktualisasi. Kenyataannya selama di kantor, cukup sulit mengerjakan proyek aktualisasi karena hampir tiap minggu aku dinas luar kota atau dalam kota untuk menghadiri suatu kegiatan. Untungnya, aku punya kekuatan deadliner sehingga aku bisa menyelesaikannya sebelum sidang akhir aktualisasi. Dengan judul "Peta Kajian Kerjasama Daerah" yang nanti akan aku share juga, aku dapat mempresentasikannya dengan  baik. Dan hal yang paling tidak terduga, aku menjadi peringkat 4 terbaik dari Golongan III. Aku sangat tidak menyangka hal itu. Teman-teman saya di Golongan III semua bergembira, cuma anak-anak Golongan II saja yang menyangsikan prestasi aku ini. Sebagai informasi, Latsar ini diikuti oleh dua golongan, yaitu Golongan III dan II. Kegiatan ibadah, olah raga, dan apel diikuti bersama-samatetapi untuk kelas materi dipisahkan.

Dari semua suka duka sepanjang Latsar, intinya adalah aku harus banyak bersyukur. Bukan cuma ujian otak dan fisik saja, tetapi mental pun diuji. Intinya adalah bahwa apapun yang kita kerjakan lakukanlah sebaik mungkin sesuai dengan kemampuan kita. Jangan pernah memaksakan untuk jadi yang sempurna, sesuaikanlah dengan kondisi yang kita miliki. Perlu diingat bahwa usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Proposal: Aktivitas Penumpang Commuterline Di Stasiun Gang Sentiong


Kereta beserta jalurnya memang merupakan salah satu ketertarikan saya. Selain sebagai alat transportasi massal, kereta juga memiliki keunikan di sisi sejarah dan sangat berpengaruh terhadap perkembangan kota. Untuk itu, saat ada tugas untuk membuat proposal penelitian kualitatif, kereta menjadi salah satu tema yang unik untuk dibahas. Kebetulan pada saat itu saya tinggal di dekat dengan Stasiun Gang Sentiong, keunikan stasiun beserta para penumpangnya menjadi minat gue untuk diteliti. Ini hanya proposal dan belum ada kelanjutannya untuk diteliti. Mungkin suatu saat ada gerakan hati untuk melanjutkan penelitian ini.

Pemilihan Tiket Elektronik Bagi Penumpang Commuterline Jabodetabek


Pemilihan Tiket Elektronik Bagi Penumpang Commuterline Jabodetabek merupakan riset yang saya buat untuk tugas mata kuliah Metode Pengambilan Keputusan I pada semester 1 tahun 2017 lalu. Riset ini menekankan pada metode yang digunakan dan kebijakan yang diambil. Sampel yang digunakan hanya sedikit karena waktu yang digunakan dalam mengambil kuesioner sangat terbatas. Metode yang digunakan adalah Analythical Hierarchy Process (AHP) merupakan metode pengambilan keputusan berdasarkan preferensi responden dengan membandingkan dua objek dalam satu indikator secara struktural. Responden dalam AHP umumnya merupakan seorang expert di bidang tertentu. Namun, dalam riset ini saya menjadikan masyarakat biasa sebagai expert dalam memilih penggunaan tiket elektronik untuk menentukan kebijakan penggunaan tiket elektronik.

Permintaan Rumah Sederhana di Wilayah Peri Urban Kota Jakarta


Ini merupakan karya akhir tesis yang saya buat di program studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik. Judul yang saya ambil ini berdasarkan isu yang saat  ini terjadi, yaitu sulitnya akses rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di pusat kota sehingga banyak dari mereka yang lebih memilih membeli atau menyewa rumah di wilayah peri urban Kota Jakarta (Bodetabek). Penelitian ini menangkap karakteristik MBR dalam membeli atau menyewa rumah yang mana pertimbangan mengeluarkan untuk biaya rumah dipengaruhi oleh konsumsi non-makanan dan biaya transportasi. Kemudian, pemilihan rumah milik atau rumah sewa diproyeksikan permintaannya paling tinggi di wilayah barat.

Bagian dari tesis ini disubmit ke konferensi internasional dan seminar nasional pada tahun 2018 lalu dan sudah prosdingnya sudah terbit.

Dayehkolot Riverfront City


Dayeuhkolot Riverfront City merupakan karya yang saya buat untuk tugas akhir atau skripsi program studi Perencanaan Wilayah dan Kota tahun 2015 yang lalu. Perencanaan ini dibuat untuk menyelesaikan permasalahan banjir yang selalu terjadi di Kota Dayeuhkolot yang selalu berulang setiap tahunnya dan kebetulan sedang terjadi pada saat itu. Perencanaan ini lebih menekankan pada perencanaan fisik dengan mengedepankan manfaat dari sisi ekonomi dan sosial.

The Recap of 2025

  Tahun 2025 adalah tahun perubahan. Diawali dengan pindahnya ke unit kerja baru dengan jabatan baru. Meskipun keinginan pindah unit kerja t...