This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

The Sandwich Generation



Mengutip dari Kompas, sandwich generation adalah

...sebutan yang diberikan kepada individu yang harus mencukupi kebutuhan ekonomi banyak pihak dalam waktu bersamaan, mencakup dari diri sendiri, keluarga intinya dan orang tua.

Tentunya menjadi suatu hal yag berat bagi seseorang yang harus menanggung kehidupan banyak orang, bukan karena kesediaan diri sendiri tapi suatu keharusan dan tuntutan dari berbagai pihak. Sedih sekali ketika mendengar berbagai curhatan netizen dalam kanal Youtube-nya Rachel Goddard. Akupun sepakat dengan pernyataan Rachel Goddard bahwa mungkin cukup sulit untuk berhenti dari tradisi ini, tapi kita dapat memutus ke generasi di bawah kita. Satu hal lagi yang penting adalah kita harus berani berkata TIDAK jika kita tidak mampu melakukannya.

Sangat setuju juga bahwa anak itu bukan investasi keluarga. Keputusan memiliki anak itu ada di tangan kedua orang tuanya, maka bertanggung jawablah atas keputusan itu. Anak tidak bisa memilih ingin dilahirkan atau tidak. Ketika anak sudah dewasa dan bekerja bukan berarti anak menjadi ladang gandum untuk kemakmuran orang tuanya, tapi anak menjadi individu sendiri dalam memenuhi kebutuhan hidup masa dewasanya. Bukan berarti ketika orang tua sudah tidak bisa melakukan apa-apa, kita sebagai melupana mereka. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan. Rasa kemanusiaan yang membuat adanya hubungan antar manusia tetap langgeng dari lahir hingga mati. Mengurus orang tua sampai wafat adalah bukti cinta dan rasa kemanusiaan.

Kita dapat juga belajar dari hewan, sebagai contoh adalah kucing. Ketika seekor kucing berkembang biak, sepenuhnya itu adalah keputusan dua kucing dewasa. Secara naluri, induk kucing merawat anak-anak kucing sendiri dari mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Ketika anak-anak kucingnya sudah dewasa, induknya melepas begitu saja. Sepenuhnya kehidupan dipegang oleh kucing yang sudah dewasa itu tanpa ada campur tangan induk kucing dan tanpa ada tuntutan untuk mengurus induk kucing. Walaupun begitu, antar-kucing yang hidup bersama bisa saling menyayangi tanpa berselisih satu sama lain.

Bisa dibilang aku bukan termasuk sandwich generation. Aku juga tidak tahu mengapa orang tuaku memutus mata rantai ini, mungkin karena generasi sebelum orang tuaku pun tidak menerapkan hal ini. Orang tuaku bilang bahwa keputusan memiliki anak, yaitu aku, adalah sepenuhnya keputusan mereka sebagai orang tua. Tugas mereka sebagai orang tua tentunya memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak sebagai masa depanku. Sekali lagi, keputusan memberikan kehidupan dan pendidikan yang layak sepenuhnya keputusan mereka tanpa mengharapkan imbal balik. Jika aku di masa depan menjadi orang sukses, mereka tidak mengharapkan apa-apa, mereka hanya bangga bahwa tanggung jawab mereka sebagai orang tua sudah berhasil membawaku ke gerbang kesuksesan, selebihnya merupakan tanggung jawab aku sendiri.

Sebagai manusia yang memiliki rasa kemanusiaan, tentunya secara ikhlas aku mau memberikan hasil jerih payahku kepada kedua orang tuaku. Tentunya ini karena mereka telah merawatku dari kecil hingga saat ini. Tapi bukan karena untuk balas budi karena apa yang aku beri tidak akan cukup membalas semua kebaikan yang diberikan kedua orang tuaku. Hal ini dilakukan sepenuhnya karena rasa sayang kepada sesama manusia, khususnya keluarga tempat aku bernaung. Tapi enath kenapa, kedua orang tuaku selalu menolak dengan alasan lebih baik uang disimpan saja untuk modal aku dalam membina keluarga baru.

Aku sungguh bersyukur mempunyai keluarga yang tidak menjadikan anak-anaknya sebagai investasi masa depan. Karena ketika aku sudah dewasa, apalagi di era dengan perkembangan teknologi dan informasi yang sangat pesat, persaingan di pasar tenaga kerja sunggulah ketat. Tidak hanya perang kemampuan tetapi perang orang dalam pun sangat kuat. Artinya, akupun memiliki beban yang cukup berat untuk dapat mencari nafkah untuk diri sendiri. Jika ditambah dengan beban orang lain, tentunya aku perlu berpikir lebih kuat untuk dapat mencari tambahan penghasilan. Itupun kalau dapat, jika tidak? Untungnya, orang tua dengan keuangan yang sudah stabil mapu menghidupi kehidupannya sendiri setelah elepas anaknya sudah dewasa. Kebanggan mereka ketika aku menjadi orang yang sukses tapi mereka tidak mengharapkan sesuap apapun dari hasil jerih payahku. Namun, kondisi seperti ini tentu tidak membuatku gelap mata. Aku hanya bisa memberikan sesuatu yang receh kepada orang tuaku setidaknya mereka senang, seperti membelikan makanan, membawakan oleh-oleh, dan lain sebagainya. Mereka jauh mengharapkan rasa cinta seorang anak dari aku dibandingkan uang setiap bulannya. Mereka sangat paham kehidupan dewasa saat ini cukup berat dan membutuhkan uang yang cukup banyak.

Semangat terus untuk orang yang berjuang untuk dirinya sendiri dan orang lain. Kalian manusia hebat.

Cerita Diklat: Planning and Budgeting



Sungguh aku bahagia ketika diumumkan menjadi peserta pendidikan dan pelatihan planning and budgeting yang diadakan oleh Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Perencana Bappenas. Sebenarnya aku sudah melakukan pendaftaran di Maret 2021, namun baru diumumkan November 2021. Hal yang menambah kebahagiaanku adalah pengampu dari pelatihan ini adalah Magister Perencanaan Wilayah dan Kota UGM yang tentunya adalah dosen-dosenku waktu S1 dulu.

Diklat tersebut dilaksanakan selama dua minggu atau lebih tepatnya selama 10 hari kerja, dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore. Tentunya ini jadwal yang cukup padat, ditambah lagi diklat dilakukan secara online sehingga mengharuskan aku untuk work from home (WFH) agar tidak diganggu oleh pekerjaan kantor dan bisa fokus dengan kegiatan diklat.

Diklat yang aku ambil adalah planning and budgeting, tujuannya agar aku semakin memahami proses perencanaan dan penganggaran ketika menentukan kegiatan yang akan dilaksanakan dalam unit kerja. Peserta yang ikut dalam diklat ini hampir seluruhnya dari kementerian/lembaga di pusat. Kebetulan untuk batch-ku ini merupakan batch ke dua yang pesertanya dari pemerintah pusat semua sedangkan untuk batch pertama, pesertanya dari pemerintah daerah.

Di awal materi, kami diajari bagaimana menganalisis rencana nasional. Dalam hal ini adalah Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang kemudian dijabarkan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Setelah memahami rencana nasional, kemudian diturunkan ke Rencana Strategis Kementerian/Lembaga. Rencana inilah yang menjadi dasar penentuan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan oleh masing-masing kementerian/lembaga.

Setiap harinya kita dijejali dengan materi dan tugas yang cukup banyak. Tapi untungnya pengampu materi telah menyusun agenda dengan baik sehingga tidak melebihi jam diklat yang telah ditentukan. Secara keseluruhan diklat ini sungguh memberikan wawasan baru terutama dalam hal perencanaan kegiatan. Karena hingga saat ini, dalam perencanaan kegiatan tidak pernah memikirkan output dan outcome yang disesuaikan dengan rencana-rencana di atasnya. Setelah ini, mungkin dalam penentuan kegiatan di unit kerja akan menggunakan kerangka kerja logis agar lebih terarah output dan outcome-nya.

My Second Home, Jogja: Sebuah Perjalanan Wisata Kuliner untuk Menenangkan Diri

Jogja itu adalah rumahku. Rumah keduaku. Satu kota untuk healing terbaik dari berbagai kepenatan yang sudah kualami selama ini. Setelah tugas-tugasku selesai dan menemukan waktu yang terbaik untuk mengambil cuti. Akhirnya aku putuskan untuk mengambil cuti dan lari dari hiruk pikuk ibu kota yang beberapa bulan ini cukup mengecewakan terutama terkait perasaan 😂.

Aku memutuskan berangkat dari Jakarta pada Sabtu pagi dan kembali di hari Selasa. Aku pikir empat hari adalah waktu yang cukup untuk berlibur dan cocok di dompet juga walaupun sesungguhnya berlibur di Jogja itu paling sebentar adalah satu minggu. Namun, aku masih sadar diri bahwa banyak pekerjaan yang bakal keteteran jika aku tinggalkan terlalu lama.

Of course, aku berencana berlibur dengan konsep budget dengan tujuan wisata kuliner. Tidak ada objek wisata manapun yang akan aku kunjungi karena memang tujuanku adalah makan. Mengunjungi tempat makan yang biasa aku kunjungi pada saat kuliah, ditambah kafe-kafe estetik yang saat ini sedang pamor di kota gudeg ini.

Dua minggu sebelumnya, aku telah memesan tiket kereta api Bengawan relasi Pasar Senen - Lempuyangan dengan harga Rp74.000. Kereta dengan konsep tempat duduk 3-2 dan berhadapan bukan hal yang aneh buatku, aku sudah terbiasa menggunakan kereta ekonomi agar dua minggu sekali bisa pulang ke Bandung. Tempat favoritku adalah kursi di gang untuk tiga orang yang berhadapan dengan kursi untuk dua orang, alhasil kakiku bisa selonjoran tanpa ada orang di depanku. Satu hari sebelum keberangkatan, aku tes antigen terlebih dahulu di Stasiun Pasar Senen dengan harga Rp45.000 sebagai syarat perjalanan.

Tidak hanya itu, aku pun telah memesan tiket kereta api Jayakarta relasi Lempuyangan - Pasar Senen seharga Rp180.000, sewa motor 3 hari lebih seharga Rp200.000, dan hotel 3 malam di Zest Hotel. Aku memilih menyewa motor agar lebih fleksibel ke mana-mana. Jalanan Jogja pun sudah hapal di luar kepala, maka aku tidak akan tersesat. Pilihan Zest Hotel adalah hotel budget terbaik, fasilitas yang mumpuni walau tanpa sarapan, setidaknya aku bisa istirahat dengan tenang dan menyimpan barang secara aman. Perjalanan pulang aku pilih kelas premium karena aku akan membawa barang-barang jastip (jasa titip), maka aku butuh space yang lebih dan aman.

Sesampainya di Stasiun Lempuyangan, mas-mas yang menyewakan motor sudah standby menungguku. Setelah melakukan transaksi aku langsung menunggangi beat hitam di jalanan Jogja menuju hotel. Suasana yang sungguh aku rindukan bertahun-tahun yang lalu. Ketika perkuliahan memecah pikiran dan night riding adalah kunci ketenangan. Ya walaupun sesampainya di Jogja itu masih sore sih, tapi riding-nya sama lah ya 😆. 

Setelah check-in hotel, sebagai seorang yang aktif sosial media, perlu dong update location. Ter-posting-lah sebuah foto Stasiun Lempuyangan di IG story. Tak lama kemudian, teman KKN-ku, Irfan, bertanya tentang posisiku. Sebelumnya aku memang telah menghubungi Irfan kalau akan berkunjung ke Jogja dan dia bersedia menemaniku satu hari saja karena dia punya kesibukan. Irfan pun langsung menuju ke hotel tempatku menginap dan perjalanan wisata kuliner di mulai dari sore itu.

Makanan yang paling aku idamkan dan sudah lama aku tak makan adalah Loompia-Boom. Namun sayang,  ketika sampai di lokasi ternyata hanya melayani take away. Akhirnya ku memilih makan di warung belakangnya, yaitu Warung Inyong yang berada di Pogung Rejo, Sinduadi, Mlati, Sleman, salah satu yang jadi favoritku juga. Warung Inyong merupakan tempat makanan favorit mahasiswa selain harganya murah, suasananya pun sungguh asri. Terdapat dua area tempat makan yang bisa dipilih, yaitu area lesehan di atas rumah panggung yang terbuat dari bambu dan area duduk biasa dengan kursi di sisi-sisi rumah panggung tersebut. Makanan yang disajikan pun seperti ayam, nila, bawal, bebek, tempe, dan tahu yang dapat digoreng atau dibakar, selain itu ada pula cah kangkung, cah jamur, terong goreng, sayur lodeh, dan sayur asem.

Setelah kenyang dengan makanan berat, it's coffee time! Perubahan Jogja setelah ditinggal beberapa tahun memang sangat kentara sekali, khususnya jumlah tempat ngopi alias tempat nongkrongnya. Mulai yang sederhana hingga yang fancy. Setelah berkeliling akhirnya memilih Bricks Cafe yang ada di Jalan Damai, Ngaglik, Sleman. Kafe ini memang sungguh mentereng dari pinggir jalan, sampai tidak sadar bahwa seberangnya persis adalah kontrakanku dulu waktu masih kuliah. Fasad dari luar sekaligus interiornya memang motif bata semua, namun ini sungguh terlihat estetik dan layak menjadi objek foto.

Setelah ngopi sambil ngobrol ngalor ngidul, perut pun kembali keroncongan. Aku teringat Nasi Goreng Notaris di depan kantor notaris kawasan Kota Baru, Yogyakarta. Sayangnya, pukul 20.30 Nasi Goreng Notaris sudah gulung tikar dan beberes. Akhirnya, kami memutuskan untuk ke Nasi Goreng Padmanaba, masih di kawasan Kota Baru namun ada di depan SMA Negeri Padmanaba alias SMA Negeri 3 Kota Yogyakarta. Dengan memesan dua nasi ukuran biasa dan dua teh manis membuat kami kekenyangan. Rasanya yang masih sama seperti bertahun-tahun yang lalu. Rindu sekali nongkrong bareng teman-teman satu jurusan di sini.

Keesokan paginya, masih bersama Irfan, kami berniat sarapan di Gudeg Mbah Lindu di Jalan Sosrowijayan, Kota Yogyakarta. Sayangnya, kami kehabisan dan memilih gudeg yang lain di sekitaran situ. Setelah itu, kami menuju Tempo Gelato di Jalan Prawirotaman. Ini memang gelato terbaik yang pernah kucoba seumur hidup. Pastinya tidak akan pernah terlewatkan untuk mampir setiap ke Jogja.

Siangnya, Irfan harus pulang. Aku memutuskan untuk kembali ke hotel dan tidur siang. Setelah bangun tidur, akupun kelaparan. Sebenarnya aku ingin ngemil Bingke Pontianak yang suka nongkrong di Hotel Wilis, namun pas aku mampir ternyata sudah tidak ada. Akhirnya, ku memutuskan untuk makanan berat di Bungong Jeumpa di Jalan Kaliurang, perempatan Kentungan, Depok, Sleman. Cukup banyak yang aku pesan, mulai dari ayam gulai, roti canai, dan es teh manis. Setelah kenyang, aku kembali ke hotel. Tiba-tiba Dyah, teman KKN-ku yang lain menghubungi dan mengajak bertemu. Dyah minta ditemani ke Tempo Gelato dulu, aku pun mengantarkannya ke Tempo Gelato Jalan Taman Siswa karena siangnya aku sudah makan gelato, aku cuma bisa melihatnya saja. Setelah itu, kami memutuskan untuk jajan di angkringan kopi Joss yang ada di depan Stasiun Tugu Yogyakarta. Aku memesan segelas kopi susu joss, dua buah nasi kucing, dan lima sate sambil mendengarkan Dyah bercerita tentang hidupnya yang sedang mengalami quarter life crisis.

Keesokan paginya, aku ngidam sekali makan di Kindai. Kindai itu adalah restoran masakan khas Banjar. Kindai ada di Jalan Jembatan Merah, Gejayan, Depok, Sleman. Aku memesan nasi kuning ayam telor dan teh hangat. Siangnya aku bertemu dengan teman baru, Pak Heri yang kebetulan sedang berlibur sendiri ke Jogja dan kebetulan lagi dia orang Bandung juga. Kami memutuskan untuk kulineran bersama. Saat makan siang, kami memutuskan untuk ke Raminten yang ada di Jalan Faridan M. Noto, Kota Baru, Kota Yogyakarta. Seperti biasa aku memesan ayam koteka, nasi, seger sumyah, dan es krim. Setelah kenyang, kami memutuskan untuk ngopi di Kebon Ndalem Coffee yang tepat berada di persimpangan Tugu Jogja. Kami memilih tempat duduk yang menghadap langsung ke arah Tugu sambil mengobrol.

Setelah capek seharian, aku memutuskan kembali ke hotel untuk istrahat. Malamnya aku dan Pak Heri menuju Oseng-oseng Mercon Bu Narti yang ada di Jalan K.H. Ahmad Dahlan, Ngampilan, Kota Yogyakarta. Sumpah dulu suka banget makan oseng-oseng mercon apalagi yang nasinya ngambil sendiri sepuasnya. Tapi aku lupa nama oseng-oseng merconnya karena pada saat itu jalur pedestrian di utara Jalan Ahmad Dahlan sedang diperbaiki jadinya beberapa oseng-oseng mercon pindah tidak tahu ke mana. Setelah kepedesan dengan oseng-oseng mercon, kami menuju Djoeragan Susu yang ada di Jalan Bantul, Kota Yogyakarta. Aku memesan STMJ dan pisang bakar.

Tidak terasa liburanku akan segera berakhir. Pagi-pagi aku memutuskan untuk makan di Lotek Pandega yang ada di Jalan Pandega Marta, Pogung Lor, Depok, Sleman. Ini juga salah satu lotek favorit yang terjangkau untuk kantong mahasiswa. Setelah itu aku langsung berbelanja titipan teman di Jakarta, yaitu Bakpia Kurnia Sari, Bapiaku, Mamahke Jogja, dan Roti Sisir Jogja. Kemudian kembali ke hotel untuk istirahat sejenak hingga waktu check out.

Setelah check-out, aku dan Pak Heri berencana makan siang di Warung Pohon Omah Sawah yang ada di Jalan Parangtritis, Bantul. Perjalanan memang cukup jauh ditambah aku harus membawa barang-barang. Tapi tak masalah karena lapar, aku tetap semangat. Aku baru pertama kali ke warung tersebut dan suasananya asri banget, memang pakai konsep garden resto gitu. Kami memesan satu paket ingkung potong. Paket tersebut sebenarnya bisa dimakan oleh 3-4 orang, tapi kami yakin bisa menghabiskannya dan terbukti tidak bersisa sama sekali.

Setelah kenyang dan menurunkan makanan ke usus, kami memutuskan kembali ke kota mencari tempat ngopi. Setelah googling, kami menemukan Kopine Eyang yang ada di Jalan Panembahan, Kraton, Kota Yogyakarta. Kami ngbrol ngalor ngidul sambil menunggu petang. Kopi susu adalah minuman favoritku di warung kopi. Setelah pukul 6 sore, kami harus berpisah karena aku harus kembali ke Jakarta menggunakan kereta dengan keberangkatan pukul 19.30. Akupun harus rapid test dulu sebelum memasuki area stasiun. Pak Heri pun pulang ke Bandung hari itu juga, namun dengan keberangkatan pukul 22.00.

Perjalanan wisata kulinerku berakhir. Walau masih banyak destinasi yang belum sempat dikunjungi, tapi aku sungguh bahagia karena penenangan diriku berhasil di rumah keduaku. Jogja adalah rumahku meskipun aku tinggal hanya empat tahun di sana tapi rasanya seperti berada di kampung halaman sendiri. Jogja, my second home.

Rasa yang Berakhir Pilu



Berada di usia matang bukan berarti siap menghadapi kehidupan berumah tangga yang menjadi standar kehidupan di tanah air ini. Memiliki pengalaman gagal adalah suatu trauma yang mendalam sehingga ketidaksiapan selalu menjadi alasan untuk menunda. Walaupun pengalaman tersebut hanya sebatas cinta monyet yang terlihat remeh oleh sebagian besar orang. Tidak hanya itu, kurang terpenuhinya keinginan di masa kecil membuat ada suatu keharusan untuk mencapai keinginan yang dapat dipenihi di masa dewasa.

Mencoba beberapa kali peruntungan dalam menjalin hubungan di semester tahun ini dan semuanya gagal. Sudah tidak ada rasa semangat lagi untuk menjalin hubungan dengan orang baru. Hal yang dirasakan saat ini hanyalah, pasrah. Kadang terucap, menjomlo seumur hidup pun tak masalah. Setiap kali selalu bertanya, apakah berumah tangga itu suatu kewajiban? Apakah masalah dalam berumah tangga itu suatu hal yang lumrah? Apakah menghindari masalah tersebut dengan tidak menikah adalah suatu kesalahan?

Sesungguhnya sudah sangat lelah memikirkan hal ini. Ingin rasanya merdeka dari pikiran dan tekanan terkait hal tersebut dari orang lain. Pada dasarnya sesama manusia ada hubungan simbiosis tapi bisakah sesama manusia tidak mencampuri kehidupan pribadi manusia lainnya?



Coffee Maker Miniso

 


Karena french press sudah rusak, saya membeli coffee maker dari Miniso. Tujuannya untuk menyeduh kopi tanpa ada ampasnya. Setelah beberapa hari digunakan, oke banget sih. Tapi memang kapasitasnya cukup kecil. Hanya menghasilkan setengah gelas kopi saja. Tapi itu tidak masalah sih buat saya yang harus menambahkan susu pada kopi hitam.

Review singkat Coffee Maker bisa dilihat dilihan di Reels di bawah ini ya.

Meja Lipat Lesehan

 


Review singkat bisa dilihat di Reels Instagram:




Karena ingin bekerja sambil lesehan, akhirnya saya membeli meja lipat lesehan. Meja ini berbahan dasar serbuk kayu dan berbentuk bulat jadi lebih estetik.

Diameternya 55 cm dan tingginya 30 cm. Cukup untuk laptopan buat orang yang tidak terlalu tinggi. Bahannya juga stabil. 

Foldable Bluetooth Keyboard



Video review singkat ayo cek di Reels Instagram!


Akhirnya saya menemukan satu produk yang sudah saya idam-idamkan sejak lama, yaitu Foldable Bluetooth Keyboard.

Kenapa sejak lama? Kan sebenarnya produk ini juga sudah lama ada?

Ya pada saat itu, bluetooth keyboard jenis tersebut belum banyak di pasaran dan harganya masih di atas 300 ribuan. Oleh karenanya saya membeli bluetooth keyboard yang harganya lebih murah dan masih menggunakan baterai jenis AA.

Di suatu kesempatan saya mendapatkan toko online yang menjual Foldable Bluetooth Keyboard dengan harga 250 ribuan. Langsung saya check-out.

Di masa pandemi sebelum PPKM darurat ini berlangsung, kadang saya pergi ke kafe atau kedai kopi untuk mencari suasana baru di luar rumah. Tentunya selain protokol kesehatan yang ketat, gadget pun harus selalu ada, apalagi jika ada pekerjaan dadakan. Karena saya malas membawa laptop, maka sebagai gantinya saya membawa tablet dan tentunya bluetooth keyboard.

Lalu kenapa harus Foldable Bluetooth Keyboard?

Tiga hal penting kenapa saya memilih jenis bluetooth keyboard tersebut dan meninggalkan bluetooth keyboard lama saya.

1. Punya Mouse pad!

Saya merasa terlalu effort untuk memindahkan kursor dengan menyentuh layar tablet. Dengan adanya mouse pad meskipun kecil, cukup mempermudah saya tanpa harus menggerakan tangan cukup jauh.

2. Habis daya tinggal di-charge

Tentunya tidak perlu membeli baterai jika keyboard kehabisan daya. Tinggal sambungkan ke adapter dan daya keyboard akan mengisi otomatis. Namun sayang, port daya masih micro-USB di zaman yang sudah banyak menggunakan port type-C.

3. Bisa dilipat menjadi 3 bagian

Nah, inilah yang membedakan dengan keyboard lainnya. Terdapat dua lipatan yang membuat keyboard ini terbagi menjadi tiga. Tentunya setelah dilipat, keyboard ini menjadi lebih ringkas dan dibawa kemana-mana menjadi lebih mudah.

Mari Mengenal Satgas P2DD



Sudah lama sekali saya tidak membuat tulisan mengenai pekerjaan. Jadi pada hari ini, saya coba share mengenai hal yang saya kerjakan sekitar 1,5 tahun terakhir ini. Kebetulan juga, pekerjaan ini merupakan salah satu kegiatan prioritas yang ada instansi tempat saya bekerja. Saya coba share kepada para pembaca yang mungkin belum mengetahui apa yang sedang dikerjakan pemerintah saat ini.

Upaya transformasi dalam transaksi keuangan pemerintah daerah dari tunai ke non-tunai sudah diinisiasi sejak tahun 2018. Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan oleh Bank Indonesia dan Kemendagri yang dilakukan di 14 Pemda, terbukti bahwa elektronifikasi dalam transaksi keuangan Pemda, khususnya dalam pendapatan, mampu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini karena pendapatan yang diperoleh tercatat sehingga meminimalisir praktik-praktik kebocoran yang ada di lapangan.

Di pertengahan tahun 2019, munculah inisiasi untuk membentuk tim di pemerintah pusat untuk semakin menggaungkan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah, yang kita kenal ETPD saat ini. Berdasarkan hasil pembahasan beberapa kali diputuskan untuk membentuk Kelompok Kerja Nasional Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (Pokjanas P2DD) yang beranggotakan Menko Perekonomian, Mendagri, Gubernur BI, Menkeu, dan Menkominfo.  Penamaan P2DD diambil dengan tujuan untuk mempercepat dan memperluas digitalisasi daerah, jadi kedepannya diharapkan membuat Pemda menjadi lebih digital. Meskipun di lima tahun pertama ini, fokus Pokjanas P2DD adalah lebih ke ETPD tetapi kedepannya hal-hal yang terkait digitalisasi juga akan menjadi prioritas. Pokjanas P2DD ditetapkan pada 13 Februari 2020 melalui penandatanganan Nota Kesepahaman oleh para anggotanya.

Seiring dengan banyaknya masukan dari berbagai stakeholder, diputuskan untuk mengubah nama Pokjanas P2DD menjadi Satuan Tugas P2DD (Satgas P2DD) dan menambah anggota baru, yaitu Mensesneg, MenPANRB, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas. Untuk memperkuat regulasi dari Satgas P2DD, maka diterbitkanlah Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2021 tentang Satgas P2DD. Hal ini menjadi payung hukum  dalam implementasi P2DD. Dalam Keppres tersebut juga diamanatkan kepada kepala daerah untuk membentuk Tim P2DD di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, sebagai tim yang mengimplimentasikan P2DD di daerah.

Sebagai koordinator di tingkat pusat, Satgas P2DD bertugas mengomandoi TP2DD. Untuk itu, Satgas P2DD perlu melakukan asesmen terlebih dahulu mengenai kondisi, permasalahan, dan potensi daerah terkait ETPD. Hasil asesmen tersebut dapat digunakan sebagai perumusan kebijakan dalam implementasi ETPD. Satgas P2DD juga bertugas untuk melaksanakan sosialisasi dan edukasi kepada seluruh TP2DD agar target yang diharapkan dapat tercapai. Tidak hanya itu, untuk menumbuhkan inovasi dalam digitalisasi daerah, Satgas P2DD sedang merumuskan kriteria penilaian untuk championship yang akan diikuti oleh seluruh Pemda setiap tahunnya. Dari seluruh tugas-tugas tersebut, tentunya Satgas P2DD mempunyai kewajiban untuk melaporkannya kepada Presiden.

Hingga saat ini, Satgas P2DD masih membangun pondasi agar P2DD menjadi stabil. Setelah terbitnya Keppres No. 3/2021, maka diperlakukan peraturan turunannya, yaitu Kepmenko Perekonomian No. 147/2021 dan Rancangan Permendagri tentang Pembentukan TP2DD dan Implementasi ETPD yang sampai saat ini masih dalam proses perumusan. Jika seluruh regulasi sudah terbit, maka rujukan pelaksanaan P2DD di daerah akan segera dijalankan. Tentunya harapan besar dari Satgas P2DD ini agar P2DD dapat segera ajeg, agar tujuan untuk meningkatakan kemandirian dan perekonomian daerah dapat terwujud.

Quarter Life Crisis: Apakah Aku Sedang Mengalaminya?


Di usia yang akan menjelang 29 tahun, sebenarnya saya sudah berada di tahap kestabilan dalam sisi finansial. Sudah mendapat pekerjaan tetap yang tak terguncang pandemi dan tempat tinggal yang cukup nyaman. Bisikan orang sekitar yang mendorong untuk melepas masa lajang pun bisa ditangkis karena menikah bukan prioritas hidup dan bukan kebutuhan saat ini. Masih ada impian-impian yang belum terwujud yang belum saya dapatkan. Pepatah yang mengatakan bahwa menikah dan punya anak membuka peluang rezeki tidak sepenuhnya salah. Tentunya dengan menikah dan punya anak membuat kemampuan berpikir dan berusaha akan terasah yang berdampak positif pada kondisi finansial. Namun, untuk saat ini saya lebih memprioritaskan kebahagian diri sendiri dan orang tua. Dan pilihan itu tidak salah.

Sebagai seorang pegawai, tentunya ada rasa ingin naik kelas dalam karir. Bagi saya, naik kelas bukan berarti naik jabatan dan menduduki jabatan tinggi melainkan kemampuan yang semakin terasah. Bisa mendalami dan menjadi expert serta menemukan dan mendapatkan pengetahuan baru pada bidang yang diminati adalah tujuan bekerja saat ini. Hal ini baru tersadar ketika sudah memasuki tahun ketiga dalam bekerja, namun tidak ada satupun pengembangan diri yang didapat, bahkan pegetahuan yang didapat dari pendidikan formal pun hanya tinggal dedaknya saja yang terasa. Sebagai lulusan magister yang menjabat sebagai seorang analis, pekerjaan saya hanya sebatas membuat surat, mengubungi stakeholder, membuat nota dinas, membuat paparan hasil comot dari stakeholder lain, dan kegiatan administrasi lainnya. Saya tidak menolak mengerjakan hal tersebut, tapi tidak ada input dari sisi substansi yang saya dapatkan. Sebagai manusia yang ingin maju, bekerja seperti ini sungguh sangat meresahkan dan melelahkan. Niat saya untuk keluar dari lingkaran setan ini sudah terpikir sejak satu tahun yang lalu. Namun baru saya usahakan sekarang.

Kebijakan untuk menghapus pejabat struktural eselon 3 dan 4 adalah sebuah kabar bahagia. Terjebak dalam eselon 3 dan 4 yang toxic, membuat penurunan kapasitas kinerja, ditambah lagi guncangan mental yang hebat. Meskipun masih dapat dikontrol, tetapi gangguan mental ini sulit untuk diperbaiki. Pemangkasan eselon 3 dan 4 akan membuat sifat bossy si pemegang jabatan akan hilang dan mental saya pun akan jauh lebih sehat. Sayangnya fungsionalisasi tersebut hanya seperti kabar angin yang tidak jelas. Informasi terakhir, fungsionalisasi untuk staf akan ditunda. Walau nanti statusnya sudah fungsional, sistem hierarki struktural akan tetap berlaku. Artinya, tekanan pekerjaan dan gangguan mental akan tetap terjadi pada saya.

Dalam Undang-Undang ASN dan beberapa buku terkait manajemen SDM yang saya baca, bekerja sesuai minat dan latar belakang adalah suatu kewajiban untuk mencapai efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Atas dasar tersebut, tentunya saya punya hak untuk bekerja menyesuaikan minat. Untuk itu, saya memantapkan diri untuk mutasi ke bagian Analis Kebijakan dan menjadi Jabatan Fungsional Analis Kebijakan dengan tujuan saya dapat bekerja secara independen, profesional, fleksibel, dan tanpa ada kompetisi dalam jabatan. Minat saya untuk mendalami kebijakan publik pun akan semakin terasah di sana. Seharusnya bagian SDM dalam suatu organisasi pekerjaan dapat mengakomodasi hal tersebut. Sungguh kecewa saat bagian SDM tidak dapat mengakomodasi keinginan saya. Saya hanya disuruh berupaya sendiri, apabila sudah disetujui oleh atasan masing-masing, barulah administrasinya dapat diurus di bagian SDM. Kecacatan sistem ini membuat saya cukup depresi. Namun, saya pun tidak menyerah untuk berusaha melakukan mutasi ke luar unit.

Alasan ketidaksesuaian passion dan butuh pengembangan diri dianggap klise oleh atasan saya. Saya dibuat merasa "tidak enak" atas keputusan saya tersebut. Saya dianggap dapat merusak sistem kepegawaian, egois, tidak sabaran, dan tidak bersyukur. Namun, omongan busuk itu tidak membuat saya gentar, saya semakin mantap untuk melakukan permohonan pindah tersebut. Sampai pada akhirnya permohonan saya benar-benar ditolak, ketika atasan saya meminta arahan dari Deputi. Alasannya karena semua akan fungsional. Itu saja. Disitu saya benar-benar kecewa, benci, marah, depresi, sekaligus sedih. Saya yakin bahwa atasan saya itu tidak menyampaikan alasan saya secara lengkap dan jelas. Sebagai orang dewasa saya merasa tidak dihargai, dihambat, dan dikurung dengan segudang pekerjaan yang tidak saya sukai. Tekanan mental yang cukup berat ini saya coba lalui. Berkonsultasi dengan psikolog secara online dan teman-teman yang lebih berpengalaman sudah saya lakukan. Setelah berkonsultasi, saya merasa lebih baik dan saya akan tetap berusaha mencapai apa yang saya inginkan.

Salah seorang teman berpendapat bahwa saya sedang mengalami quarter life crisis. Menurut Alodokter, quarter life crisis adalah

periode saat seseorang berusia 18–30 tahun merasa tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang. Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial

Berdasarkan ciri-cirinya, sepertinya saya mengalami krisis tersebut. Saya mulai mempertanyakan masa depan saya, apa saya harus begini tersebut, atau bagaimana? Setiap malam saya mengalami kesulitan tidur karena overthinking atas masa depan.

Sesungguhnya saya amat bersyukur atas nikmat pekerjaan yang saya dapat. Tapi saya yakin, bahwa Tuhan lebih menyukai hamba-Nya yang mau berusaha untuk memperbaiki diri. Benar sekali, usaha harus disertai dengan doa karena hanya Tuhan yang mengetahui apa yang terbaik buat diri kita. Sampai saat ini saya yakin, bahwa penolakan dari atasan bukan berarti Tuhan tidak meridhai kita atas jalan ini tapi menguji seberapa kuat usaha kita karena masih ada jalan lain yang bisa ditempuh.

Beberapa pesan yang ingin saya sampaikan pada cerita saya ini, yaitu:

  1. Jangan pernah menyerah untuk menggapai sesuatu. Langkah terbaik yang dipilih adalah pilihan kamu sendiri. Namun, jangan lupa berdoa karena Tuhan akan mengarahkanmu ke jalan yang terbaik.
  2. Jangan pernah meremahkan masalah psikologis karena itu kan berpengaruh terhadap fisik. Konsultasikan kepada psikolog atau orang yang bijak agar kamu lebih nyaman, tenteram, dan damai.
  3. Berempatilah. Jika kamu melihat temanmu atau kerabatmu mengalami masalah mental sekecil apapun, tolong berempatilah. Karena seringan apapun masalahnya menurutmu, bisa jadi itu hal yang berat bagi dia. Hargailah karena setiap orang punya kemampuan yang berbeda-beda dalam mengahadapi masalah.

Terbebas dari Toxic Masculinity

 


Mengutip dari halaman popmama.com, toxic masculinity merupakan stereotype yang disandangkan pada seorang laki-laki bahwa seorang laki-laki itu harus tangguh, anti terhadap feminim, dan berkuasa. Tangguh artinya bahwa seorang laki-laki harus kuat secara fisik dan mental, serta tidak boleh menunjukan emosi cengeng. Anti terhadap feminim artinya bahwa seorang laki-laki tidak boleh menunjukan sisi feminim seperti manja dan menangis. Berkuasa artinya bahwa seorang laki-laki harus mempunyai kekuasaan dan terpandang.

Stereotype tersebut juga mengakar di kebudayaan Indonesia. Bagi anak laki-laki tentunya pernah mendengar nasihat orang tua bahwa kita tidak boleh cengeng, harus kuat, dan harus bisa melakukan berbagai aktivitas yang umumnya dilakukan oleh lelaki. Tentunya hal ini menjadi tekanan tersendiri dan menjadi racun bagi perkembangan pribadi seorang anak laki-laki.

Hal ini juga tentu saya rasakan sendiri saat masih anak-anak. Berada dalam lingkungan yang mengharuskan seorang anak laki-laki pandai berolahraga sedangkan fisik saya pada saat itu lebih kecil dibandingkan teman-teman sebaya, membuat saya terlihat lebih lemah. Di saat anak-anak yang lain bisa melakukan passing saat bermain voli dan shooting saat bermain basket, saya tidak bisa melakukan kedua hal tersebut. Alhasil, bukannya dibantu untuk belajar atau diberikan semangat, hanya cemooh yang saya dapat. Pastinya, saya disetarakan seperti anak perempuan yang dalam budaya kita dianggap lemah.

Perlu dipahami kembali bahwa laki-laki maupun perempuan adalah manusia. Hal yang membedakan adalah alat kelamin yang fungsinya saling melengkapi untuk berkembang biak. Memang secara bentuk fisik dan sifat ada ciri-ciri yang membedakan. Namun, keduanya tetap manusia yang berhak menjadi apapun sesuai dengan cita-citanya, meluapkan perasaan dengan cara menangis, dan bahagia dengan cara yang disukai. Tidak ada aturan bahwa laki-laki harus seperti ini dan perempuan harus seperti itu. Keduanya sama saja, punya hak dan kewajiban.

Jujur, saya tidak pernah memasang regulator yang menghubungkan tabung gas LPG ke kompor. Selama saya hidup bersama kedua orang tua, ibu saya tidak pernah mengajarkan cara memasang regulator. Ketika saya hidup sendiri, saya bercerita pada ibu saya melalui telepon. Sangat disayangkan ketika ibu mengatakan, "masa laki-laki enggak bisa masang gas?". Pelan-pelan saya nasihati ibu untuk tidak lagi mengatakan hal tersebut. Saya mengatakan bahwa ibu tidak pernah mengajari saya untuk memasang regulator sehingga sangat wajar jika saya takut terjadi apa-apa bila mengalami kesalahan dalam memasang regulator. Kemudian saya mengatakan pula bahwa tidak semua laki-laki itu adalah tukang gas, jadi tidak ada kewajiban manusia berjenis kelamin laki-laki harus bisa memasang regulator gas. Tidak hanya itu, saya pun menambahkan bahwa ibu berhak mengatakan hal tersebut jika ibu pernah mengajarkan saya bagaimana memasang regulator gas dan antisipasi jika terjadi permasalahan. Ibu pun diam beberapa saat, hingga akhirnya meyakinkan saya untuk belajar dan tidak perlu takut untuk memasang regulator gas karena cukup mudah untuk dilakukan.

Hal yang paling tidak dapat saya tahan adalah menangis. Saya menangis jika sedang mengalami kelelahan dan kekesalan karena aktivitas tertentu yang saya lakukan sendiri. Di tempat saya bekerja, saya punya rekan kerja paling mengerti dan koperatif. Beliau adalah seorang wanita yang usianya di atas saya. Saya sudah berkali-kali bercerita sambil berlinang air mata. Beliau paham bahwa saya sedang berada di puncak kelelahan dan kekesalan atas suatu pekerjaan. Sesekali saya mengucapkan maaf karena bercerita sampai menangis. Namun, beliau mengatakan bahwa setiap manusia berhak menangis untuk meluapkan emosi dan itu sangat lumrah. Setelah menangis maka akan terasa jauh lebih lega.

Tentunya, toxic masculinity ini bisa dipatahkan asal kita berani. Di usia dewasa ini, saya jauh lebih berani karena saya lebih didengar dan saya dapat menentukan apa yang ingin saya lakukan. Dengan kata lain, toxic masculinity dapat dipatahkan asalkan kita berani untuk mematahkannya.



Mengalami Gangguan Telinga, Segera Ke Dokter THT



Rasa gatal pada rongga telinga tentunya sangat mengganggu aktivitas. Apalagi jika memiliki karakter telinga yang mudah gatal dan mudah kotor, mengorek adalah hasrat yang sangat sulit dihindari. Mulai dari sekarang saya harap hentikan perilaku mengorek rongga telinga terlalu sering, apalagi jika terlalu dalam. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Ini adalah pengalaman saya ketika mengalami rasa gatal di rongga telinga kiri. Secara refleks, menggaruk menggunakan kuku kelingking yang kebetulan panjang. Karena sadar bahwa kuku adalah bagian tubuh yang kotor, saya pun meneteskan obat tetes telinga yang dijual di pasaran sebagai antiseptik sekaligus pengencer kotoran telinga yang kering. Namun kali ini hal yang tidak diinginkan terjadi, keesokan harinya setelah bangun tidur, rongga telinga saya terasa bengkak dan sakit. Rasa sakit semakin hebat bila tersentuh secara fisik, contohnya ketika memakai helm, saat helm menekan daun telinga. Rasa sakit di telinga juga memengaruhi mood sehingga saya jauh lebih emosian pada saat itu.

Langkah cepat yang saya ambil adalah konsultasi dengan dokter secara online dengan menggunakan aplikasi Alodokter. Diagnosa dokter adalah kemungkinan saya mengalami radang telinga tengah (otitis media) atau radang telinga luar (otitis eksterna). Saya pun diberi resep obat yang terdiri dari obat tetes telinga, obat penahan rasa sakit, dan antibiotik yang dikonsumsi sehari sekali selama 10 hari. Saya pun harus menghentikan penggunaan obat tetes telinga yang dijual di pasaran.

Setelah mengkonsumsi obat selama 10 hari, rasa sakit sudah hilang. Namun digantikan rasa gatal yang luar biasa di bagian dalam. Tentu saja, pada bagian tersebut tidak dapat dikorek. Namun karena obat tetes telinga yang diresepkan dokter habis karena tumpah, akhirnya saya meneteskan obat tetes yang dijual di pasaran kembali. Malangnya, obat tetes tersebut yang seharusnya keluar kembali dari telinga, ini malah menyumbat rongga telinga dan membuat pendengaran berkurang. Hal ini membuat saya hanya mengandalkan telinga kanan untuk mendengar.

Saya merasa hal ini sudah sangat parah. Saya harus pergi langsung ke dokter THT untuk ditindak. Melalui aplikasi Alodokter, saya membuat janji dengan dokter THT di Rumah Sakit Gandaria Jakarta Selatan. Meskipun jauh dari tempat tinggal dan tempat kerja, saya memilih jadwal yang sesuai setelah saya pulang kerja.

Ketika diperiksa oleh dokter THT, ternyata ada cairan yang menyumbat telinga saya. Dokter pun tahu jika telinga saya sering dikorek. Cairan yang menyumbat tersebut disedot untuk dibersihkan. Dokter juga menyatakan bahwa ada sedikit jamur dan tidak boleh dikorek-korek lagi. Setelah dilakukan tindakan saya diresepkan obat untuk dikonsumsi sampai habis, yaitu obat tetes telinga berbahan asam cuka 2%, antibiotik, dan anti-alergi.

Saat ini, saya sudah tidak berani mengorek telinga setiap hari. Apabila gatal sebaiknya ditahan saja. Penggunaan cotton buds pun hanya di bagian terluar telinga, itu pun tidak boleh sering. Penggunaan obat tetes telinga yang dijual di pasaran pun sudah saya hentikan untuk telinga kanan yang baik-baik saja. Hal ini mungkin karena teksturnya yang kental membuatnya mudah terjebak di dalam rongga telinga, khususnya terjadi pada telingga yang sedang sakit.

Mengingat telinga merupakan organ vital bagi tubuh manusia, jika terjadi gangguan sebaiknya konsultasikan dengan dokter yang paham. Perkembangan teknologi membuat kemudahan untuk berkonsultasi dengan dokter. Maka dari itu, manfaatkan teknologi untuk berkonsultasi dengan ahlinya.

My Skincare Routine





Setiap orang memiliki kondisi kulit wajah yang berbeda-beda, tentunya dengan masalah yang berbeda pula. Beragam produk perawatan wajah yang dijual di pasaran dari yang murah hingga harga selangit, menjadi pilihan bagi konsumen. Harga memang menentukan kualitas tapi kadang harga tidak menentukan kecocokannya.

Memilih produk skincare memang tidak semudah memilih baju di toko. Coba-coba produk skincare tentunya sangat berisiko. Untungnya, saat ini kita berada pada era digital dengan kemudahan mengakses informasi. Review produk skincare dapat diakses dengan mudah, namun paling aman adalah pergi ke dokter kulit yang saat ini pun klinik-klinik kecantikan menjamur di berbagai daerah.

Saya mulai intens menggunakan skincare itu sejak kuliah. Pada saat itu merupakan tahun keempat saya berjerawat. Mungkin itu yang dinamakan jerawat masa puber. Sejak kuliah, saya hanya menggunakan sabun cuci muka Gatsby. Kemudian, wajah saya berangsur membaik, namun bekas jerawat masih memenuhi wajah saya. Katanya, air dan hawa panas Jogja memberikan efek positif bagi kulit saya, tapi karena saking panasnya kulit wajah saya menjadi kering dan perih. Semenjak itulah, saya lebih peduli terhadap kulit saya. Menambahkan pelembab dan whitening Ponds setelah mencuci muka dan menggunakan handbody Vaseline pada tangan dan kaki. Alhamdulillah, bekas jerawat menghilang dan kulit pun menjadi lebih lembab dan sehat.

Konsistensi tersebut akhirnya terkhianati ketika memasuki masa penulisan skripsi. Pola hidup yang kurang terjaga membuat saya berjerawat kembali. Produk yang saya gunakan selama 4 tahun tidak memberikan efek apa-apa. Akhirnya saya memberanikan diri untuk pergi ke Larissa, salah satu klinik kecantikan yang populer di Jogja. Pada treatment pertama saya, saya sungguh sangat puas. Seminggu setelah saya treatment kondisi kulit saya membaik, tidak ada jerawat dan flek hitam memudar walau tanpa produk seperti day cream dan night cream. Saya kembali konsisten dengan Gatsby, namun tidak dengan Ponds karena agak malas menggunakan krim.

Dua tahun kemudian, konsistensi tersebut terkhianati kembali. Saya mengalami stres yang berujung jerawatan. Berbagai produk saya coba mulai dari Acne, Ponds, Safi, Nivea, Senka, Hadalabo, Illuminare, dan lainnya tidak ada yang memberikan efek kesembuhan. Termasuk setelah saya kembali mencoba treatment di Larissa dan membeli produknya, tidak ada perubahan sama sekali. Akhirnya setelah produk-produk skincare itu habis, saya ke Alfamidi dan membeli Garnier Acno Fight sebagai sabun muka saya. Ajaibnya, jerawat-jerawat yang bersarang di wajah mulai jinak hingga akhirnya saya sembuh. Walaupun begitu jerawat baru seringkali tumbuh lebih cepat dibandingkan penyembuhannya. Hal ini dikarenakan muka saya mudah berkomedo yang kemudian menjadi jerawat.

Pada saat itu, saya merasa scrub pada produk Garnier Acne Fight itu cukup banyak. Namun belakangan terkahir ini saya merasa scrub-nya berkurang dan membuat saya lebih mudah berkomedo. Saya berpikir bahwa kulit saya harus 'dikasari' agar benar-benar bersih. Tergoda dengan Suhay Salim yang menggunkan Foreo, tapi setelah tahu harganya tentu saya urungkan. Untungnya saat saya jalan-jalan ke Miniso, saya melihat silicone brush untuk wajah yang harganya jauh, jauh, jauh lebih murah dibandingkan dengan Foreo. Saya langsung beli dan saya pakai. Produk tersebut sungguh memberikan dampak positif bagi wajah saya.

Untuk menghilangkan bekas jerawat yang membandel, akhirnya saya memperdalam produk Garnier. Selain menggunakan facial wash, saya pun menggunakan serum, krim siang, dan krim malam Garnier Vitamin C Yuzu. Alhamdulillah setelah pemakaian rutin dan tentunya tanpa stres memikirkan memikirkan jerawat, semua bekas jerawat saya hilang tanpa jejak. Namun, memang terkadang ada beberapa masalah karena wajah saya mudah berkomedo jika terkena SPF. Untungnya tidak menyebabkan radang yang berujung jerawat. Selain itu, dua bulan sekali juga saya melakukan facial di Larissa untuk membuang komedo-komedo jahat di wajah.

Ada beberapa teman yang melihat bahwa wajah saya bersih dan cukup glowing, serta menanyakan rahasia dari itu semua. Tentu saja saya memberikan semua informasi mengenai produk yang saya gunakan. Namun, saya pun mengingatkan bahwa produk skincare itu cocok-cocokan. Setiap orang punya tipe kulit yang berbeda dan kecocokan dengan bahan tertentu pada kulit wajahnya.

Bali Di Masa Pandemi Covid-19



Dikunjungan aku ke Bali yang kedua di masa pandemi Covid-19 ini, kondisi Bali khususnya wilayah Badung masih sepi. Tentunya terdapat perubahan pada saat November 2020 dan April 2021 ini. Tempat makan dan toko sudah mulai buka walau tak seramai hari biasanya. Hal tersebut dituturkan sekaligus dikeluhkan oleh driver yang aku pesan lewat aplikasi untuk mengantarkan aku ke beberapa lokasi di Bali.

Pandemi Covid-19 ini tentunya memang jadi guncangan terdahsyat bagi Bali yang sangat mengandalkan sektor pariwisata. Sektor pariwisata dan sektor lainnya yang berhubungan erat dengan pariwisata benar-benar lumpuh total selama satu tahun ini. Hal ini dikarenakan pembatasan aktivitas dan perjalanan untuk mencegah penyebaran Covid-19. Tentunya, Bali pernah mengalami guncangan juga, bom Bali dan erupsi Gunung Agung, namun sektor pariwisata dapat segera pulih.

Guncangan Covid-19 menjadi momen untuk berbenah bagi Bali. Pemerintah pusat maupun daerah berupaya semaksimalkan mungkin untuk pemulihan ekonomi Bali. Dua sektor yang diupayakan untuk bangkit adalah prtanian dan UMKM. Namun, pertumbuhan kedua sektor tersebut tak mampu mengungkit perekonomian Bali. Pertumbuhan sektor pertanian tentunya tidak sekencang sektor pariwisata, begitu pula dengan UMKM yang sangat terkait dengan sektor pariwisata.

Tapi secercah harapan masih ada pada sektor UMKM. Perkembangan teknologi digital tentunya memberikan kemudahan di sisi promosi dan transaksi pembayaran. Ekosistem ekonomi digital inilah yang dikembangkan agar sektor UMKM tetap hidup. Satu hal lagi yang penting adalah dari pemodalan. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan subsidi bunga pada Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan mengeluarkan produk KUR Super Mikro yang jumlah plafond-nya tidak dibatasi. KUR Super Mikro ini diprioritaskan untuk ibu rumah tangga, karyawan yang terkena PHK, dan karyawan yang bekerja di sektor pariwisata.

Bagi pelaku usaha formal tentunya terdapat insentif perpajakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Tentunya ini menjadi angin segar bagi para pelaku usaha dengan adanya relaksasi perpajakan. DJP Kantor Wilayah Bali telah melakukan sosialisasi pada berbagai media mengenai insentif perpajakan tersebut.

Upaya vaksinasi juga menjadi prioritas di Bali agar pariwisata bisa cepat pulih kembali. Aku pribadi sangat berharap Bali, Indonesia, bahkan seluruh dunia bisa kembali pulih atas pandemi ini. Pandemi Covid-19 ini menjadi pelajaran yang besar bagi kita semua.

Ide Kinyis untuk Rumah Minimalis

 


Bagi kalian yang memiliki budget pas-pasan tentunya akan berpikir dua kali untuk menghias rumah dengan gaya-gaya yang sedang trendy saat ini. Selain alat dan bahan, tentunya ada biaya jasa yang perlu dikeluarkan. Namun, bukan mustahil apabila kita dapat menghias rumah  dengan tangan kita sendiri. Istilah kerennya saat ini adalah DIY yang merupakan kepanjangan dari do it yourself. Tentunya kita dapat menghias rumah dengan tangan kita sendiri.

Salah satu keuntungan memiliki rumah yang kecil adalah tidak perlu banya membeli furnitur. Alasan utamanya keterbatasan ruang. Untuk ruang tamu, kita dapat menggunakan konsep lesehan. Cukup dengan karpet lebar yang menutupi seluruh ruang tamu, kita dapat berkumpul dengan keluarga dengan nilai tradisionalitas yang tinggi. Apabila di ruang tamu ada TV, maka gunakanlah TV layar datar yang ditempel di dinding dengan ketinggian yang sesuai dengan konsep lesehan. Bisa ditambahkan ambalan berbentuk kotak yang disimpan di lantai. Ambalan tersebut dapat menjadi media untuk menyimpan hiasan ataupun barang-barang terkait dengan TV.

Jika rumah tidak memiliki balkon untuk menjemur pakaian, manfaatkanlah jendela di ruang tamu. Gunakanlah jemuran lipat yang ditempel di dinding. Apabila jemuran tidak digunakan, maka dapat dilipat sehingga tidak mengganggu pemandangan apabila ada tamu.

Biasanya, lantai kamar mandi bawaan merupakan lantai dengan kualitas yang standar tidak ada serat-serat agar tidak licin. Jika mengganti keramik menjadi cara yang mahal, maka dapat diganti dengan menggunakan karpet anti-slip. Pilihlah beberapa lebih dari satu warna dan susunlah sesuai selera.

Beberapa furnitur di kamar mandi adalah cermin dan rak alat mandi. Pilihlah yang unik sesuai dengan selera dan konsep kamar mandi. Jangan lupa letakkan tanaman artifisial di dekat kloset agar terkesan sejuk dan natural.

Wall sticker dan wall panel sticker 3D adalah solusi untuk kalian yang malas mengecat. Dalam memiih stiker, tentunya harus disesuaikan dengan warna cat yang sudah ada. Pilihlah stiker yang cocok dengan warna cat bawaan dan sesuaikan dengan tema yang kalian pilih.

Tentunya tidak sulit untuk menghias rumah dengan menggunakan tangan sendiri. Masih banyak ide kinyis buat rumah minimalis yang dapat diterapkan. Apalagi sekarang banyak toko online yang menjual berbagai perlengkapan rumah unik sebagai pilihan kita dalam menghias rumah. Jadi let's do it yourself.

Standar Sosial



Seiring bertambahnya usia, mulai banyak tuntutan-tuntutan dari orang sekitar mengenai "standar sosial" yang harus segera dilakukan. Bukan membela diri dengan menolak standar tersebut, tapi mungkin karena mereka lebih beruntung sehingga standar tersebut dapat dipenuhi lebih cepat.

Saya sepenuhnya menikmati naik-turun kehidupan ini, meski kadang ada rasa iri kenapa tidak seperti mereka. Ya, setiap proses hidup seseorang itu berbeda-beda dan perbedaan itulah yang membuatnya unik.

Masih ada banyak hal yang ingin saya capai sampai saya merasa stabil dan bisa mengikuti standar sosial tersebut. Orang tua pun sesungguhnya mengerti, tidak banyak menuntut, bahkan mengutamakan kebahagiaan saya pribadi.

Bahkan untuk saat ini saya merasa terjebak pada dunia remaja dan tidak mau mengikuti standar seperti apa yang dilakukan orang dewasa. Saya tidak tau apakah ini baik atau buruk. saya merasa saya harus bahagia tanpa mengikuti standar sosial yang ada.

Pentingnya Menjaga Kesehatan Gigi


 

Mungkin untuk sebagian besar orang yang belum memiliki masalah pada gigi atau mulutnya, menjaga kesehatan gigi dan mulut bukan menjadi prioritas bahkan diabaikan. Saya sendiri adalah orang yang tidak terlalu peduli pada kesehatan gigi. Saya pikir hanya dengan menyikat gigi saja sudah cukup. Namun semua itu berubah ketika saya mengalami permasalahan pada gigi sekitar 6 tahun yang lalu. Rasa sakit yang amat sangat ditambah bengkak yang cukup mengganggu membuat keseharian saya sangat terganggu.

Pada saat itu, gigi geraham paling belakang saya tumbuh. Gusi gigi geraham tersebut meradang dan mengeluarkan nanah. Rasa sakit dan bau yang tidak sedap keluar dari mulut saya. Untungnya, pada saat itu ada teman KKN yang kuliah jurusan pendidikan dokter gigi, alhasil saya bisa konsultasi gratis dengannya. Menurutnya, peradangan pada gusi di bagian tersebut sangat wajar namun jika sampai mengeluarkan nanah berarti ada infeksi yang terjadi. Hal ini mungkin karena letaknya paling belakang yang mana banyaknya sisa makanan yang tidak terbuang membuat adanya infeksi di bagian tersebut. Saya pun disarankan untuk mengeceknya ke dokter gigi sekaligus meminta foto rontgent untuk melihat pertumbuhan gigi tersebut. Sebagai informasi, gigi geraham belakang yang tumbuh pada saat itu adalah bagian atas sebelah kiri.

Setelah memeriksanya ke dokter gigi, benar saja terjadi infeksi di bagian gusi yang tumbuh. Untuk pertumbuhan giginya belum terlihat sehingga tindakan apakah gigi geraham tersebut perlu dicabut atau tidak, belum dapat diputuskan. Saya diberikan resep obat penahan rasa sakit dan dianjurkan untuk menggunakan obat kumur setelah sikat gigi. Obat kumur akan memmbersihkan lebih dalam pada bagian-bagian gigi dan mulut yang tidak terjangkau oleh sikat gigi.

Bersyukur, setelah mengkonsumsi obat penahan rasa sakit dan menggunakan obat kumur, berangsur-angsur gusi tersebut tidak sakit dan bengkak pun mengempes. Semenjak itu, menggunakan obat kumur menjadi rutinitas yang tak pernah terlewatkan.

Masalah selanjutnya yang saya alami adalah selalu terjadi pendarahan saat sikat gigi. Saya merasa kekuatan saya tidak berlebihan dalam menyikat, namun selalu saja ada darah yang keluar. Setelah konsultasi kembali dengan teman yang mengambil kuliah jurusan pendidikan dokter gigi, kemungkinan karang gigi saya sudah menumpuk sehingga terjadi pembengkakan di gusi. Pembengkakan itulah yang membuat pendarahan jika sedang menyikat gigi. Jika dilihat dengan mata telanjang, saya rasa tidak ada karang gigi yang menempel, begitu pula gusi yang tidak terlihat bengkak. Namun, saya tetap disarankan untuk melakukan pembersihan karang gigi atau scalling.

Sesuai dengan anjuran tersebut, saya pun melakukan scalling untuk pertama kalinya di sebuah klinik praktik dokter gigi di Jakarta Selatan. Menurut dokter gigi yang melakukan eksekusi pembersihan karang gigi, karang gigi saya sangat banyak dan menyebabkan gusi mengalami bengkak. Darah akibat karang gigi pun sangat banyak. Saya harus berkumur sebanyak 3 - 4 kali karena saking banyaknya karang gigi dan darah. Apalagi gigi bagian bawah cenderung tidak rapi jadi sangat mudah sisa makanan menyangkut dan menjadi karang gigi. Saya pun disarankan untuk scalling setiap 6 bulan sekali, berkumur dan menggunakan benang gigi dalam finalisasi pembersihan gigi secara rutin.

Hingga saat ini saya cukup concern mengenai kesehatan gigi dan mulut. Karena benar saja, beberapa teman saya yang karang giginya cukup tebal, mulutnya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Tentunya selain tidak sehat, itu juga mengganggu orang lain.

Setelah membiasakan diri untuk mengjaga kebersihan mulut secara ekstra, permasalahan pada gigi dan mulut minim sekali terjadi. Apabila mengalami sariawan pun cukup cepat penyembuhannya. Tentunya dengan gigi dan mulut yang sehat, penyakit lain pun sangat minim menyerang. Karena mulut sebagai pintu gerbang utama makanan yang masuk ke tubuh kita. Selain itu, nafas pun akan terasa segar dan tidak mengganggu orang lain.

The Recap of 2025

  Tahun 2025 adalah tahun perubahan. Diawali dengan pindahnya ke unit kerja baru dengan jabatan baru. Meskipun keinginan pindah unit kerja t...